
Andrea langsung mendorong laki-laki yang ada di atasnya dan langsung berlari mengambil baju dan memakainya. Cefi meneteskan air matanya, di dalam kepalanya dia jadi merasa jijik sekali dengan Andrea, bagaimana mungkin Andrea melakukan hal itu dengan seorang pria yang belum menikah dengannya?
Cefi tidak memperhatikan laki-laki itu. Pandangannya hanya tertuju pada Andrea saja.
Andrea terlihat bergegas mau pergi dari sana, lalu Cefi buru-buru menangkap pergelangan tangan Andrea.
“Mau ke mana lo?” tanya Cefi.
“Minggir!” seru Andrea.
“Setelah lo sama keluarga lo ngambil semua harta gue, lo masih bisa nyuruh gue minggir? Di mana bokap lo? Kemana Om Soni! Kenapa kalian jahat banget sama gue?! apa salah gue? Apa yang gue lakuin sampe kalian tega banget sama gue?!” seru Cefi sambil berteriak kepada Andrea.
“Gue nggak tau.” jawab Andrea.
Andrea hendak pergi lagi namun Baron sudah mengunci pintu. Andrea tidak bisa kabur. Matanya menatap kesal ke arah Baron, cinta yang selama ini tumbuh untuk Baron lenyap begitu saja, dia sudah menjadi benci pada laki-laki itu karena laki-laki itu lebih memilih Cefi sebagai pasangan hidupnya, padahal ketika berada di kampus, Andrea selalu melakukan apapun kepada Baron, meskipun Baron tidak menatapnya.
Andrea masih sangat ingat mengenai bagaimana dirinya yang selalu memberikan makanan di atas motor Baron, dia melakukannya dengan sukarela tanpa Baron tahu bagaimana jika dirinya yang mengirimkan makanan tersebut. Andrea mencintai Baron secara diam-diam.
Obsesi memiliki Baron berubah menjadi benci, ketika dia mengetahui kalau Baron menikahi sepupunya sendiri yang dia rasa tidak ada baik-baiknya dibanding dirinya, dia juga merasa kesal karena sudah dipermalukan sebelumnya. Meskipun dia salah namun dia tidak mau dipermalukan.
“Mau ke mana lo? Bilang dulu di mana bokap sama nyokap lo!” seru Cefi.
“Gue nggak tau!” seru Andrea.
PLAK!
Cefi langsung menampar Andrea, semua amarah di dalam dadanya harus dilepaskan begitu saja, dia merasa kesal sekali kepada Andrea, apa sulitnya mengatakan kepadanya mengenai di mana keberadaan orang tuanya? Ah, tapi Andrea ini memang terlibat kan?
“Bilang sama gue! Di mana Om Soni sama TAnte Sonya!” seru Cefi berang.
__ADS_1
Baron hanya diam saja, membiarkan istrinya meluapkan amarahnya, dibanding melihat istrinya menangis menahan beban, dia lebih baik melihat istrinya marah seperti ini. Biarlah, biarlah istrinya meluapkan apa yang ada di dalam kepalanya. Setidaknya itu akan membuat hati istrinya menjadi lega.
“Eh, gue nggak tau apa masalahnya tapi gue rasa, kalian gak bisa - …” kata laki-laki yang merupakan teman Riza yang tadi sedang melakukan ‘itu’ dengan Andrea.
“Biarin mereka menyelesaikan urusannya.” kata Baron.
Laki-laki itu pun pasrah, meski tidak tahu mengerti mengenai apa yang sebenarnya terjadi tapi dia tetap mengizinkan orang-orang asing dan juga seniornya mensidak partner kencannya.
“Bilang sama gue! di mana orang tua lo?!” seru Cefi.
“Gue nggak tau. Mereka ninggalin gue. Gue juga nggak tau mereka ada di mana!” seru Andrea.
“Bohong! Lo jangan bohong sama gue! Cepet bilang di mana Om Soni! Kalian benar-benar biadab! Makan duit anak yatim piatu. Hidup kalian nggak akan berkah!” seru Cefi.
“Buat apa gue bohong sama lo? Gue bener-bener nggak tau. Kalau gue emang ikut sama mereka, gue pasti udah sama mereak, udah di sana dan pindah tempat kuliah. Tapi gue masih di sini, karena gue emang dibuang sama keluarga gue.” kata Andrea.
Riza menggelengkan kepalanya di tempatnya, namun meski pun ingin sekali mengatakan sesuatu namun dia menahannya.
“Ngapain gue bohong sama o?! gue juga lagi nyari orang tua gue! Gue juga pengen tahu di mana mereka, gue juga pengen tahu alasan kenapa gue ditinggal sendirian!” seru Andrea.
Cefi terdiam, dia tidak tahu harus mengatakan apa. Di satu sisi dia tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Andrea namun di sisi lain, kalau Andrea memang mengatakan hal yang benar, itu artinya nasib Andrea sungguh malang.
“Coba telepon ayah dan ibu kamu!” pinta Baron.
Andrea pun mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi nomor yang tertulis nama ‘papa’ namun nomor tersebut tidak aktif, dia sudah tiga kali melakukannya namun nomor itu masih tidak aktif juga.
Kemudian Andrea pun menghubungi kontak yang bertuliskan ‘mama’ kemudian menghubungi nomor tersebut. Dan ternyata nomor itu juga tidak aktif. Seperti sebelumnya, Andrea juga mengulangi panggilan sampai tiga kali.
Setelah memberitahukan kepada semua orang kalau nomor kedua orang tuanya tidak aktif,Andrea pun langsung menoleh ke arah Cefi.
__ADS_1
“Liat kan? Gue anaknya sendiri aja dibuang.” kata Andrea.
“Kenapa waktu lo liat gue, lo langsung lari?!” seru Cefi penuh selidik, dia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Andrea.
“Ya karena gue tau kalau orang tua gue udah membawa uang asuransi itu. ELo pasti mau minta pertanggung jawaban sama gue, tapi gue nggak bisa, gue bahkan nggak tau, gue juga dibuang sama keluarga gue sendiri, gue nggak tau nyokap sama bokap gue di mana.” kata Andrea.
Cefi terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Andrea. Mau bagaimana pun sepertinya Andrea mengatakan hal yang sebenarnya. Cefi memang polos dan sungguh keterlaluan baiknya. Dia bahkan sampai berpikir kalau Andrea meang mengatakan hal yang sebenarnya, maka hidup Andrea tentulah sedang hancur-hancurnya.
“Kamu serius tidak tahu di mana keberadaan orang tua kamu?” tanya Baron kepada Andrea.
Andrea pun menganggukkan kepalanya dengan mantap, “Serius, Kak. Untuk apa bohong?” kata Andrea, kemudian dia memalingkan pandangannya ke arah lain.
Baron terdiam, dia bisa membaca pikiran seseorang, “Kalau gitu, kita salah sasaran, Sayang. Bukan Andrea yang kita cari. Dia nggak bisa kasih informasi apa-apa soal orang tuanya.” kata Baron kepada Cefi.
“Tapi, Mas …” kata Cefi.
“Sepertinya dia mengatakan hal yang sejujurnya, kalau dia memang jujur, nasibnya lebih menyedihkan dari kita, Sayang. Dia bahkan gak punya teman berbagi, nggak kayak kita, seenggaknya kita punya pasangan satu sama lain yang bisa nguatin di saat-saat kritis.” kata Baron.
Cefi pun menghela napas. Riza di tepatnya hanya diam saja.
Baron membuka pintu kos-kosan tersebut. Andrea pun langsung pergi begitu saja.
“Bang, kenapa dilepasin?” tanya Riza.
“Kejar, Za, dia bohong. Kita jadiin dia umpan, dia pulang pasti ke orang tuanya.” kata Baron dengan serious.
Cefi kini mengerti maksud suaminay yang membiarkan Andrea lepas begitu saja.
“Sorry udah ganggu acara lo.” kata Baron kepada teman Riza.
__ADS_1
Kemudian Riza, dan juga Baron dan Cefi langsung berjalan menuju ke motor dan mulai mengejar Andrea yang sudah menghilang. Andrea adalah satu-satunya kunci yang tahu keberadaan orang tuanya.