
Cefi membuka matanya, alarm sudah berbunyi dan menunjukkan pukul 04.30 WIB. Sejak bertengkar dengan Baron, dia memang memutuskan untuk tidur saja di kamarnya sampai pagi. Dia menoleh ke sisi kanan dan kirinya. Tidak ada Baron di sana. Itu tandanya Baron tidak tidur di sisinya.
"Dia udah pergi?" Tanya Cefi kepada dirinya sendiri.
Cefi pun langsung masuk ke kamar mandi dan mandi, lalu memakai seragam dan melaksanakan salat subuh. Setelahnya dia pun langsung keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke bawah. Di bawah, Baron terlihat masih tertidur di atas sofa. Dia menatap kesal ke arah Baron kemudian pergi ke dapur.
Cefi memilih memasak mi instan untuk sarapannya. Di sana sisa dua mi goreng instan. Ntah mengapa meski dia sangat kesal dan benci pada Baron dia tetap membuatkan mi goreng instan untuk Baron.
Cefi tak berminat untuk sarapan di rumah. Dia lebih memilih memasukkan mi goreng instan ke kotak bekalnya.
Lalu yang untuk Baron dia meletakkan di atas piring. Dia memilih untuk berjalan ke arah Baron. Meletakkan air putih dan juga mi goreng instan di atas meja.
Kemudian, dia naik ke atas. Meletakkan seragam guru Baron di atas tempat tidur, lalu turun membawa tasnya. Dia berjalan pelan-pelan agar Baron tidak bangun kemudian dia langsung berjalan menuju ke jalan raya setelah menutup pintu pagar.
Cefi berangkat ke sekolah di pagi-pagi buta.
***
Selama Baron menjelaskan di depan, Cefi tidak mau sama sekali memperhatikan Baron. Mendengar suaranya saja sudah malas. Dia hanya memilih untuk menggambar di bagian belakang buku tulisnya. Menggambar bunga secara absurd untuk mengisi kebosanannya.
"Gimana? Mudah kan?" Tanya Baron.
Teman-teman Cefi menggelengkan kepalanya begitu saja. Cefi tak peduli. Baron melirik Cefi, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Jujur, Baron belum bisa menemukan cara mengajar yang baik untuk anak kelasan Cefi.
"Pak Baron, cerita aja dong!"
"Nah, iya tuh. Nggak usah belajar, Pak! Cerita pengalaman bapak aja."
"Cerita horor gak papa, Pak."
Seusai pelajaran Baron, tiba-tiba Ibu Nur masuk ke kelas. Semua teman-teman Cefi menghela napas karena mereka semua tau apa yang akan dikatakan oleh wali kelasnya itu. Seusai memberi salam, beliau berdiri di depan, di tengah-tengah.
"Ibu itu nggak ngerti sama jalan pikiran kalian. Kenapa sih kalian selalu bikin onar sama guru? Kalian itu udah kelas 12. Kenapa nggak mau belajar? Kemarin ibu dengar laporan kalau Pak Heri keluar kelas kalian, tapi kalian nggak manggil. Bu Tintin terangin kalian gak mau jelasin. Hampir semua guru ngeluh sama ibu tau nggak?" Kata Ibu Nur.
"Kalian harusnya malu dong sama anak MIA. Mereka belajarnya rajin, jadi gurunya juga enak ngajarnya. Semenjak ibu ngajar di MIA, ibu juga selalu semangat gak kayak masuk ke kelas ini." Ibu Nur masih memberikan ceramah. Ah, bukan. Itu marah-marah.
Semuanya lelah, tak terkecuali Cefi, "Kita juga capek, Bu. Dimarahin terus." Jawab Cefi.
Semua teman-teman Cefi menoleh pada Cefi. Mereka memang sangat senang kalau Cefi sudah berbicara karena semua yang keluar dari mulut Cefi seperti menyuarakan apa yang mereka rasakan.
__ADS_1
"Kamu lagi kamu lagi. Kamu nggak takut tinggal kelas lagi?" Tanya Ibu Nur berang.
Cefi menghela napas, "Ibu tau nggak kalau cara ngajar ibu sama Pak Baron itu enakan Pak Baron? Padahal dia cuma guru magang tapi ngajarnya lebih keren dari pada ibu." Tanya Cefi.
Ibu Nur langsung menatap Cefi, "Kenapa kamu membanding-bandingkan saya dengan guru lain? Kita berbeda. Tentu saja. Kita punya cara masing-masing dalam menyampaikan materi. Jangan kamu sama ratakan!" Seru Ibu Nur kesal.
"Nah, itu juga yang kita rasakan, Bu. Ibu aja nggak mau dibanding-bandingin sama guru lain, apa lagi kita? Kita juga sama, Bu. Gak suka dibanding-bandingin sama anak MIA. Kalau kita bodoh ya cari lah metode pengajaran yang baik. Jangan malah ngebandingin terus. Sedikit-sedikit masuk kelas ngebandingin kita trus ngambek keluar kelas. Gituuu terus semua guru. Kita juga bingung dan males jadinya, Bu." Kata Cefi.
Ibu Nur pun kesal karena merasa dipermalukan di depan kelas. "Kamu benar-benar, ya, Cefi. Ibu nggak mau lagi jadi wali kelas kalian." Kata Ibu Nur.
Ibu Nur pun keluar. Semua orang langsung menatap Cefi. Mereka membenarkan ucapan Cefi namun sepertinya kalau sudah begini sudah keterlaluan.
"Ini kita apa nggak keterlaluan, Cef?"
"Kalau menurut gue emang kudu ganti sih. Kita gak cocok sama Ibu Nur."
"Trus siapa yang cocok jadi wali kelas kita?"
"Tadi suhu udah nyebutin nama Pak Baron. Udah Pak Baron aja walaupun kalau ngomong ngeselin tapi kayaknya dia gak pernah banding-nandingin kita dah."
"Iya cara ngajarnya juga sebenernya enak. Kitanya aja yang emang bebal males dengerin."
"Heh, gak bisa lah. Dia juga cuma guru magang. Lagian gue tadi cuma bikin perumpamaan kali gak bener-bener muji dia." Kata Cefi meluruskan.
"Apa panggil Bu Nur aja? Kita minta maaf?"
"Emang kita salah apa?"
"Oiya nggak salah sih. Tapi kan guru coi."
"Ntar aja udah tunggu kelasan kita dipanggil aja."
Istirahat pun datang. Kabar tentang Cefi yang membuat Bu Nur keluar kelas dan mengundurkan diri jadi wali kelas membuat sekolah heboh lagi.
"Sok ngartis banget sih. Kemaren bikin geger ciuman. Sekarang bikin geger bikin guru ngundurin diri."
"Emang bala anaknya."
Cefi lebih memilih mengabaikan ucapan dari teman-teman yang tidak menyukainya di kantin. Teman-teman Cefi menatap Cefi yang memang sedang jadi pendiam. Dia hanya bicara ketika mendebat Bu Nur saja. Cefi pun menenggelamkan kepalanya di antara tangannya.
__ADS_1
"Ngomong apa lo soal temen gue?" Dara melabrak meja siswa kelas MIA yang sedang menggunjingkan Cefi.
Namun Amel dan juga Putri langsung meminta Dara sedikit bersabar. Yang penting mereka harus menemani Cefi tidak perlu memikirkan hal yang tidak penting. Dara duduk lagi.
"Emang mereka tuh mulutnya jahat banget. Minta banget dijahit." Kata Dara.
Kepala Cefi terasa pusing. Dia bahkan tidak mau makan somay yang diberikan oleh ketiga temannya itu.
"Iya, mana pernah heboh kan karena orang tuanya meninggal kecelakaan. Kayaknya sekolah ini apa-apa beritakan dia mulu dah."
"Kasian orang tuanya bakalan malu punya anak kayak dia."
"Orang tuanya diakhirat pasti sedih banget tuh anaknya jadi pembangkang."
"Iya, pembawa sial pasti tuh."
Cefi langsung bangun dan menatap tajam ke arah Carla yang sedang menatapnya dengan tatapan kesal, "Apa? Lo marah gue bilang lo anak pembawa sial?"
Cefi langsung menampar pipi Carla. "Gue bukan anak pembawa sial!" Seru Cefi.
Carla dan Cefi pun langsung berkelahi. Kericuhan terjadi. Beberapa teman Cefi mencoba melerai namun tidak ada yang bisa menghentikan mereka hingga Baron dan Azka datang dan menarik Cefi dan Carla.
"Udah, udah. Cukup!" Kata Baron dengan marah.
"Gue nggak terima ya, Car kalo lo bilang gue anak pembawa sial!" Seru Cefi matanya memerah. Tangisnya pecah.
"Loh, emang bener kan? Orang tua mana yang gak tekanan batin punya anak pembangkang kayak lo?" Tanya Carla.
Guru BK (Bimbingan Konseling) pun datang dan membawa Cefi dan Carla masuk ke Ruang BK.
***
Cefi menangis di atas pusara ibunya. Dia tidak tahu lagi harus mengadu kepada siapa. Dia menangis memeluk nisan ibunya, "Mama, Xaviera kangen mama dan papa." Tangisnya pecah begitu saja.
Cefi merasa hidupnya benar-benar hancur. Di tangannya sudah ada surat keterangan pemanggilan orang tua untuk mendiskusikan dirinya yang akan dikeluarkan dari sekolah.
Andai saja kedua orang tuanya Cefi masih ada, Cefi tentu bisa membicarakannya baik-baik. Dia bisa mengatakan semua yang terjadi kepada kedua orang tuanya. Kalau sudah begini, apa yang harus dia lakukan? Ke mana dia harus menumpahkan keluh kesah?
Malam datang. Cefi tak sejengkal pun beralih dari makam ibunya, "Malam ini, aku mau tidur sama mama."
__ADS_1