
Cefi menatap Baron yang kini sedang asyik makan makanan yang sudah dibeli oleh Cefi untuknya tadi. Makanan yang sama seperti yang dimakan oleh Cefi dan teman-temannya. Baron tidak menunjukkan ekspresi cemas kepada Cefi, karena teman-teman Cefi sudah mengetahui apa yang terjadi pada mereka. Cefi mencebikkan bibirnya sebal.
"Lo nggak takut apa, Barongsai?" Tanya Cefi.
"Takut apa?" Tanya Baron.
"Ya, kan temen gue udah tau kalau kita udah nikah. Nah, ini lo gak takut mereka bilang-bilang ke anak-anak?" Tanya Cefi.
"Emang mereka bakalan cepu?" Baron menjawab pertanyaan Cefi dengan pertanyaan.
"Ya, enggak sih." Kata Cefi.
"Yaudah, kenapa mesti takut?" Tanya Baron.
Cefi tidak punya jawaban. Baron selalu membuat mulutnya bungkam. Dia jadi bingung sendiri, "Baronsai ..." Namun, Cefi langsung menutup mulutnya sendiri teringat dengan ucapan Dara.
"Maksud gue, suamiii ..." Kata Cefi.
Baron menoleh ke arah Cefi, "Kenapa?" Tanya Baron.
"Gak jadi deh." Kata Cefi. Yang tiba-tiba pipinya merah. Dia teringat ucapan Dara. Jadi, setiap mengatakan Barongsai ah tadi dia mengatakan Baronsai. Dia teringat 'Baron Sayang'. Sial, memikirkan hal itu pipinya merah lagi.
Baron memperhatikan Cefi. "Kenapa muka lo merah begitu?" Tanya Baron.
"Nggakpapa." Jawab Cefi.
"Aneh banget." Kata Baron.
Cefi mengerucutkan bibirnya.
"Besok lo ke sekolah, gue udah minta tolong sama mama dan papa buat anterin lo ngadep ke kepala sekolah. Gue juga udah jelasin apa yang terjadi sama kepala sekolah. Jadi, lo nggak perlu khawatir. Ntar pas lo dateng, kepsek bakalan nyambut lo trus nyuruh lo ke kelas tanpa nanya-nanya." Kata Baron.
Cefi menatap Baron tak berkedip, "Lo nggak bohong kan?"
"Ngapain gue bohong sama lo?" Kata Baron.
"Aaaaa!" Seru Cefi yang saling senangnya langsung memeluk Baron begitu saja.
__ADS_1
Baron terkejut dengan serangan tiba-tiba yang diberikan oleh Cefi. Tangannya hampir saja menjatuhkan piring kalau saja dia tidak cepat menahan piring itu.
"Makasih, suamiii." Kata Cefi.
"Hih! Kesambet apaan lo meluk-meluk gue?" Kata Baron bergidik ngeri.
Cefi pun mengerucutkan bibirnya mendengar apa yang dikatakan oleh Baron. Lagian dia hanya refleks saja, tidak benar-benar ingin memeluk Baron. Tapi, Cefi tentu tidak mau kalah dengan itu.
"Tapi lo seneng kan gue peluk-peluk?" Tanya Cefi yang alih-alih melepaskan pelukannya justru mempengeratnya.
"Hih!"
***
Ruangan kepala sekolah itu tampak menyeramkan, bagaimana tidak? Kini sudah ada kepala sekolah, guru BK, Bu Nur (Wali kelas Cefi), orang tua Baron, dan Cefi. Semuanya sedang membahas tentang Cefi. Ibu Nur bahkan sudah menjelaskan kepada kedua orang tua Baron mengenai apa yang terjadi dan apa yang dilakukan oleh Cefi.
“Maaf, Bu. Sebagai orang tua dari Cefi, saya merasa kalau keputusan sekolah ini mengeluarkan anak kami adalah sesuatu yang salah.” kata Pak Pradana.
"Untuk masalah berkelahi, Cefi melakukannya karena temannya menghina orang tuanya. Dan untuk ketidaksopanannya, saya rasa hanya sebuah bentuk protes atau kritik." sambung beliau lagi.
“Maaf, Pak. Sudah bertahun-tahun, Pak. Sejak Cefi masuk ke sekolah ini, dia selalu melawan guru, guru di kelas dibuat tidak nyaman dengan apa yang dia katakan. Dia juga tidak sopan karena berani kepada guru.” kata Ibu Nur.
“Begini, Pak. Kami sebagai guru, sudah berkali-kali menasihati Cefi.” kata Guru BK.
“Boleh saya tanya kepada anaknya sebentar?” tanya Pak Pradana.
Cefi hanya bisa menunduk saja, dia bukannya takut, namun dia malu kepada kedua orang tua Baron, dia mencemaskan penilaian mereka kepadanya setelah ini.
Cefi tahu kalau hal ini akan sangat berdampak pada kasih sayang kedua orang tua baron kepadanya, namun mau bagaimana lagi?
“Iya, Pak. Silakan.” kata Pak Kepala Sekolah.
Pak Pradana langsung menoleh ke arah Cefi, “Nak, apa benar selama ini mereka menasihati kamu, Nak? Dan apa pendapat mereka? Dan katakan apa yang ingin kamu katakan, Nak. Katakan saja semuanya, agar masalah ini bisa diselesaikan bersama-sama.” kata Pak Pradana.
Cefi mencengkeram tangannya sendiri, meremas satu tangannya, kemudian menganggukkan kepalanya. Dia sudah pasrah, kalau dia memang akan dikeluarkan ya sudah, dia tidak bisa melakukan apapun. Dia juga akan pindah ke sekolah lain meski dia sudah nyaman dengan teman-teman Cefi di kelas itu.
“Iya, Pa, aku memang sudah berkali-kali dipanggil ke ruang BK, bahkan sampai tidak terhitung lagi, guru-guru meminta aku menghentikan kritik aku di depan kelas dan mengirim kritik lewat kotak suara saja, namun meski aku sudah melakukannya tapi tidak ada respons, untuk itulah aku memilih untuk mengucapkan pendapat di depan kelas.” kata Cefi.
__ADS_1
“Nak, apakah dalam penyampaiannya kamu tidak izin dulu?” tanya Ibu Anes.
“Izin, Ma. Setiap mau menanyakan sesuatu, aku izin, dan maaf kalau saya menyinggung perasaan bapak dan ibu, tapi saya sejujurnya hanya ingin mendapatkan pelayan lebih baik di sekolah, ingin perubahan. Kita selalu menjadi kelas yang selalu ‘suram’ di mata guru-guru. Kita juga terus-terus dibanding-bandingkan.” kata Cefi.
Belum genap kepala sekolah menyahuti ucapan Cefi, tiba-tiba di luar ruang kepala sekolah ada suara berisik-berisik. Kepala-kepala itu kelihatan jelas di kaca kepala sekolah yang tingginya sedahi Cefi.
Semua yang ada di ruangan itu pun mau tak mau langsung keluar dari kelas. Dan betapa terkejutnya mereka yang melihat ada banyak siswa-siswi yang ada di sana sednag demo.
Cefi terkejut karena mereka adalah teman-teman kelasannya yang sangat solid, “Temen-temen …” kata Cefi.
Ketiga teman Cefi, Dara, Amel, dan juga Putri sudah ada di sana siap untuk membantu Cefi.
“Cefi adalah teman kita!”
“Cuma Cefi yang berani menyuarakan hati kami!”
“Jangan keluarkan Cefi!”
“Kita sayang Cefi!”
“Mengeluarkan Cefi berarti membungkam kebenaran!”
“Hidup Cefi!”
“Biarkan Cefi sekolah lagi!”
Semua siswa mulai menyuarakan apa yang ada di hatinya, Cefi yang melihatnya pun langsung menutup mulutnya karena dia sangat tidak percaya dengan apa yang dia lihat dan juga dia terharu kepada teman-temannya yang sampai saat ini masih sangat menyayanginya. Teman-temannya begitu solid.
Cefi mengedarkan pandangannya dan menangkap bayangan Baron yang juga ikut di dalam barisan depan paling ujung, Baron tidak mengucapkan kata-kata apapun.
“Ada apa ini, Pak Baron?” tanya Pak Kepala Sekolah.
“Mereka sedang mengadakan protes karena salah satu temannya dikeluarkan, Pak. Saya hanya mendampingi. Sepertinya Xaviera memang memiliki dampak besar di kelas itu.” jawab Baron, tak mau merendahkan dirinya.
“Kenapa anda tidak membubarkannya?” tanya Bu Nur dengan marah.
“Maaf, Bu. Mereka demo secara kondusif, jadi saya tidak bisa membubarkannya, mereka ingin suaranya di dengar.” jawab Baron.
__ADS_1
Cefi terdiam menatap Baron. Untuk pertama kalinya dia melihat Baron dalam sosok yang berbeda, Baron terlihat seperti pahlawan di hatinya.