
Waktu yang ditunggu-tunggu oleh semua warga sekolah tersebut pun datang. Acara hiburan itu berasal dari murid yang memang mengikuti ekskul band, juga dan ada persembahan juga dari kelima guru magang mereka yang ternyata memiliki suara bagus dan bisa bermain alat musik.
“Gila-gila! Gokil! Mereka kayak anak band, anjir!” pekik Dara.
Cefi memah mengakui hal tersebut. Dia mengamati guru magang mereka. Di sana Azka tengah semangat menggebuk drum, Baron sedang bermain gitar bersama Cindy, Elsa bermain keyboard, dan Nadinelah yang menyanyi.
Mereka kini tengah menyanyikan lagu ‘Bertaut’ dari Nadin Amizah. Kebetulan nama penyanyi aslinya sama seperti Nadine, guru magang Cefi. Cefi juga mengakui kalau suara Nadine emang lumayan enak didengar.
“Sedikit kujelaskan tentangku dan kamu agar seisi dunia tauuu ... keras kepalaku sama denganmu.” Nadine terus menyanyi. Semua teman-teman Cefi pun ikut menyanyi.
Namun, untuk Cefi, hal yang menarik dari penampilan itu adalah suaminya. Entah mengapa semakin dia mengenal suaminya, semakin dia jatuh cinta pada suaminya, dia semakin tidak bisa melihat kecacatan suaminya barang sedikit. Pokoknya apa yang dia lihat, suaminya selalu terlihat sempurna.
“Cef!! itu iler lo netes.” kata Amel.
Cefi terkejut dan dengan refleks mengelap bibirnya. Namun, dia tidak merasa ada air liur di sana, seketika dia pun langsung melotot ke arah Amel karena merasa dibohongi oleh Amel. Amel, DAra, dan Putri hanya bisa menertawakan Cefi begitu saja.
“Sekarang kalian mau request apa?” tanya Nadin.
“Request Pak Baron yang nyanyi bu!” seru seorang siswi dengan semangat.
Mendengar suara teriakan itu semua murid perempuan langsung berseru, setuju dengan apa yang anak itu katakan. Semua orang menantikan Baron bernyanyi, mereka tidak tahu apakah Baron bisa menyanyi atau tidak namun yang jelas, semua perempuan menantikan Baron untuk bernyanyi.
“Pak Baron! Pak Baron! Pak Baron!” seru siswi tersebut.
Baron terkejut mendengar semua siswanya memanggil namanya dan memintanya untuk bernyanyi. “Tidak-tidak saya tidak bisa bernyanyi.” kata Baron.
Adam yang melihat peluang untuk mengerjai gurunya itu pun langsung memprovokatori teman-temannya untuk meminta Baron menyanyi, bukan kaleng-kaleng, dia bahkan meminta Baron untuk menyanyikan lagu slank.
Menyanyi lagu biasa saja sepertinya Baron tidak mumpuni bagaimana kalau dia harus menyanyi lagu rock begitu?
“Pak, nyanyi lagu slank dong, Pak.” kata Adam.
“Saya tidak bisa menyanyi, lagi pula teman-teman saya juga tidak bisa membawakan musiknya.” kata Baron.
“Biar saya sama teman-teman saya yang main musik, Pak. Woi! Ayo!” kata Baron.
__ADS_1
Semua orang pun bersorak begitu saja, menyambut hubungan paling meriah. Cefi yang mengetahui akan bulus seorang Adam pun langsung tidak terima kalau suaminya dipermalukan. Enak saja Adam mau mempermalukan suaminya.
“Ron, jangan gitulah!” kata Cefi.
“Woooo …” semuanya menyoraki Cefi.
“Pak Baron kan udah bilang kalau beliau nggak bisa nyanyi.” kata Cefi.
“Yaelah, Cef. Nggakpapa lagi, nggak papa kan Guys?” tanya Adam kepada semua orang.
“Iya, nggak papa!” seru semuanya.
Cefi menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu apakah suaminya bisa menyanyi atau tidak, namun yang jelas suaminya tidak pernah terdengar bernyanyi selama dia hidup berdampingan, itu artinya suaminya memang tidak pernah mendengarkan lagu-lagu rok atau pun bisa menyanyi. Itu hanya akan mempermalukan Baron.
“Sudah, dari pada kamu menyendat acara, kamu naik saja.” kata seorang guru yang mendorong pelan Cefi sampai Cefi naik ke atas pangung. Mulut Cefi terbuka melihat dirinya yang sekali lagi dia rasa akan dipermalukan.
Namun, kali ini dia merasa bisa mengatasinya karena dia merasa kalau dirinya bisa menyanyi dengan baik. Setidaknya bisa lebih baik dibanding suaminya. Lagipula dia sudah tahu dan hafal lagu-lagu slank. Paling lagunya yang sering dinyanyikan teman-temannya di kelas.
“Yaudah gini aja, biar gue yang nyanyi. Biarin Pak Baron turun.” kata Cefi.
“Wooooo….!” sermua orang menyoraki Cefi.
“Ribet lo. Pak Baron aja nggak papa, iya kan, Pak?” tanya Adam kepada Baron.
“Kamu tenang saja, Cefi, saya bisa menyanyi.” kata Baron.
Cefi menggelengkan kepalanya, “Kalau nggak bisa nggak usah dipaksa, Pak.” kata Cefi.
“Musik!” seru Adam.
Cefi menepi, memijit pelipisnya membayangkan kalau suaminya akan ditertawakan oleh semua orang. Rasanya dia tidak mau dan tidak rela kalau suaminya diperlakukan dengan demikian. Padahal suaminya tidak salah apapun kenapa suaminya harus dipermalukan?
Musik langsung mengalun, Cefi melirik ke arah sahabatnya meminta bantuan namun sahabat Cefi juga tidak bisa memberikan solusi karena mereka tidak punya ide.
Cefi mengaduh dalam hati. Musik yang mengalun adalah musik lagu I Miss U But I Hate You. Cefi sangat hafal lagu itu karena sering dinyanyikan di kelas. Sepertinya seharusnya dia saja yang menyanyikan lagu itu.
__ADS_1
“Waktu aku lagi tinggi …” Seseorang mulai menyanyi. “Hilang akal sehatku.”
Semua orang hening. Terkejut dengan suara itu. Mereka pun memfokuskan matanya kepada Baron, setelah masa terhipnotis mereka selesai, mereka pun memekik.
“TApi masih ingat … kamu.” kata Baron menatap Cefi.
Cefi terkejut setengah mati.
Tunggu!
Suaminya sebetulnya bisa menyanyi? Tapi kenapa tadi bilangnya tidak bisa? Ah, sial sekali Cefi ini. Dia sudah capek-capek membela suaminya dan mencoba melindungi suaminya tahu-tahunya suaminya memang bisa menyanyi.
“Ish, nyebelin.” kata Cefi kesal.
Baron terkekeh dan menatap ke depan, Cefi melihat bagaimana tangan Baron memegang mikrofon, dia sungguh tidak tahu bagaimana orang yang bisa memegang mouse dan komputer bisa memegang mikrofon tanpa canggung, dan terlihat profesional.
“HAmpir setiap malam hari … di dalam tidurku, sering memimpikan …?” Baron mengarahkan mikrofon ke semua yang berada di depan panggung.
“KAMUUUU!” semua menyanyi dengan sangat kompak.
Adam memberikan mikrofon kepada Cefi. Cefi jadi tersulut, dia juga ingin menunjukkan kepada suaminya yang menyebalkan itu kalau dia bisa menyanyi.
“Banyak usaha untuk menelepon kamu. Banyak pesan yang aku tinggalkan. Tapi di mana kamu aku nggak tahu. JArang di rumah kebanyakan di jalan!” Cefi langsung menyanyi.
Baron menoleh ke belakang, ke arah Cefi yang berjalan ke arahnya. Senyum Baron mengembang begitu saja.
Kini Cefi dan Baron berhadap-hadapan. Mikrofon mereka sudah siap di depan mulut mereka.
“I miss you but I hate you, my girl!”
“I miss you but I hate you, my boy!”
Semua warga sekolah pun mulai bersorak dan memekik karena baper, namun tak lama kemudian mereka langsung ikut menyanyi bersama dengan Cefi dan Baron.
Mereka benar-benar menikmati acara tersebut. Diantara semuanya, yang sama sekali tidak menikmati apa yang terjadi di sana hanya Elsa. Dia tidak menyukai Cefi, namun mau bagaimana lagi?
__ADS_1
“I miss you but I hate you, my girl!”
“I miss you but I hate you, my boy!”