
Mobil itu tiba tepat jam tiga dini hari. Keluarga kecil turun dengan wajah lelah menggelayut di wajah mereka. Tuan Reno turun dari mobilnya dan memastikan keluarga itu masuk ke rumah mereka dalam keadaan aman.
"Anak muda. Kamu hati-hati kembali ke Jakarta. Jangan ngebut!" Terimakasih sudah mengantar kami sampai sini." Ucap pak Indarto lalu menarik tangan putrinya yang masih diam terpaku.
"Terimakasih mas Reno!" Ucap Naura sambil mengikuti langkah kaki ayahnya. Gadis muda ini melambaikan tangannya dengan senyum hambar yang ia bisa berikan kepada sang kekasih.
Tuan Reno tidak langsung pulang ke Jakarta. Ia ingin tinggal di hotel sambil mencari rumah sewa yang ada di dekat tidak jauh dari rumah Naura.
Pria tampan ini memerintahkan untuk mencari lahan kosong yang dijual oleh warga setempat karena ia ingin membangun sebuah rumah di kampung itu.
"Aku tidak bisa jauh darimu sayang. Kita akan tetap bersama sampai aku bisa menghalalkanmu menjadi istriku." Ucap Tuan Reno lirih.
Hari berlalu, Minggu berganti, dan bulan pun berlalu hingga masa Iddahnya sudah berakhir, namun Naura belum bisa berpikir jernih untuk mengambil keputusan dalam mengembangkan dirinya seperti maunya kekasih.
Dengan ponselnya, ia mulai mencari pendidikan formal khusus bergerak di bidang kuliner. Karena itu yang ia bisa.
"Tapi yang paling bagus adanya di Semarang. Apakah aku kuliah di Semarang saja?" Batin Naura.
Naura melihat ponselnya dan memeriksa notifikasi pesan masuk yang mungkin dari Reno, namun tidak ada satu pesan atau telepon pun dari lelaki itu.
"Apakah dia sedang sibuk?" Apakah dia tidak tahu, kalau saat ini aku sangat merindukannya." Batin Naura.
"Naura!" Tolong ibu!" Tolong belanja bahan makanan ini di pasar tradisional, ndo!" Titah ibunya seraya menyerahkan kertas daftar belanjaan yang harus Naura beli.
"Baik Bu. Naura ganti baju dulu." Lalu beralih ke lemari dan mencari kaos lengan pendek dan celana jeans yang cukup ketat hampir membentuk pahanya hingga memperlihatkan kaki jenjangnya.
Ia pun melangkah keluar dan memeriksa bensin terlebih dahulu di sepeda motor ayahnya.
"Rasanya ini cukup untuk bolak balik ke pasar." Ucap Naura.
Derit ponselnya berbunyi dalam tas Selempang memaksa ia harus menerima panggilan itu. Tanpa melihat pemilik nomor panggilan itu, Naura segera menjawab salam dari seseorang di seberang telepon.
"Apakah tidak ada celana lain yang bisa kamu pakai untuk keluar rumah?" Tanya Tuan Reno membuat Naura terperanjat.
"Mas Reno!" Pekiknya pelan bercampur girang.
Matanya menyapu ke arah kanan dan kiri mencari pria itu yang sedang mengawasinya saat ini.
"Kamu di mana?" Mengapa kamu bisa tahu aku pakai celana ini..?" Tanyanya perlahan.
"Ganti celana itu atau kamu tidak usah keluar rumah." Pinta Tuan Reno.
"Aku tidak punya baju lagi karena semua bajuku yang saat ini aku pakai bekas aku masih gadis. Kamu tahu sendiri, aku keluar dari...?"
__ADS_1
"Tidak usah di bahas, tidak penting. Ayo berangkatlah dengan motor itu, aku menunggumu di ujung jalan. Berhentilah di tempat sepi dan kamu naik mobilku dan biar pengawal ku yang akan membawa motormu. Kamu mau ke mana?"
"Pasar."
"Ok!"
"Cepatlah!" Aku merindukanmu."
"Siap mas!" Naura membawa motornya lengkap dengan helm kaca tertutup menuju ke arah pasar setelah berpamitan dengan ibunya.
"Kenapa jantungku berubah cepat detakan nya?" Ko perasaanku aneh kaya gini mau ketemu Tuan Reno. Ah!" Kenapa jadi gugup begini setelah tiga bulan tidak bertemu dengannya.
"Kenapa motor ini jalannya pelan sekali." Gerutu Naura sambil melihat mobil Reno.
"Oh itu dia!" Naura menepikan motornya dan memberikan kunci mobil itu pada anak buahnya Reno yang sejak tadi mengawasi mereka dari masyarakat sekitar.
Tuan Reno membuka pintu mobil untuk Naura tanpa turun dari mobilnya.
Karena terlalu rindu, gadis ini langsung menghamburkan pelukannya ke dalam dada bidang sang pangeran hati.
Tuan Reno tersenyum dan mengerat pelukannya pada Naura.
"Apakah kamu sangat merindukanku?"
"Tidak perlu!" Matamu sudah menjelaskannya dan pelukanmu barusan sebagai jawabannya. Apakah aku boleh mengul*m bibir itu?"
"Tidak!" Jangan membuatku terlihat seperti janda murahan!" Tolak Naura tegas.
"Baiklah, pelukanmu sudah cukup untukku." Tuan Reno mengendarai mobilnya menuju ke pasar tradisional.
"Apa yang ingin kamu beli?"
"Ini pesanan ibu, bukan aku yang mau beli."
"Foto daftar belanjaannya dan kirimkan ke ponselku. Biar Raka yang belanja semua bahannya." Ujar Tuan Reno.
"Tapi uangnya masih di aku."
"Simpan saja uangmu!" Biar Raka menggunakan uangku."
"Baiklah. Terimakasih mas!" Semoga Allah membalas mu dengan banyak keberkahan."
"Aaamiin!"
__ADS_1
Mobil itu sudah memasuki area pasar tradisional. Tuan Reno mengirimkan daftar belanjaan ke Raka dan mereka meneruskan perjalanan menuju kota.
"Mas!" Kita mau ke mana?" Apakah kamu mau menculik ku?" Tanya Naura.
"Kita ke Mall untuk belanja baju untukmu. Kamu harus ganti busana mu itu. Untung nggak masuk pasar, kalau tidak jadi tontonan gratis pedagang pasar." Omel Tuan Reno dengan wajah masam.
"Aku kan sudah bilang aku tidak....?"
"Bukankah aku sudah memberikan black card itu, kenapa tidak digunakan?"
"Bagaimana aku mau belanja, kalau kamu sendiri tidak memberi tahukan nomor PIN nya."
"Astaga!" Kenapa aku setolol itu, maafkan aku sayang, lagian kenapa nggak tanya atau telepon?"
"Aku tidak ingin mendahuluimu, itu sangat membuatku malu."
"Baiklah!" Nanti aku yang menghubungimu duluan.
"Nomor PIN itu gabungan dari tanggal lahir kita berdua, sayang." Ucap Tuan Reno.
Dalam sekejap, keduanya sudah berada di Mall itu.
"Pilihlah mana yang kamu suka!" Tidak ketat dan terbuka lengan atau bagian atas dada.
Tuan Reno juga ikut membantu memulihkan baju untuk Naura sesuai dengan keinginannya. Bukan hanya baju atau gaun, ia juga memilih lusinan pakaian dalam wanita yang stelan dengan warna senada.
Semua baju, hampir satu koper yang dibelinya untuk Naura. Gadis ini menggantikan baju yang dibelinya sesuai dengan keinginan Tuan Reno.
Tuan Reno memperhatikan Naura yang mengenakan stelan baju dan kulot berwarna peach serta sepatu dan tas hitam sudah menempel di tubuh gadis itu.
"Ini sudah bagus dari pada yang tadi. Aku sangat menyukainya.
Ayo kita makan dulu." Ucap Tuan Reno lalu menarik tangan sang kekasih menuju restoran yang ada di mall itu.
"Mas!" Mana ada orang pulang dari pasar pakai baju mahal begini?" Aku sudah seperti selebriti saja." Gumam Naura cemas.
"Kamu lebih cantik dari pada mereka. Berhentilah mengeluh apa lagi merendahkan dirimu. Ayo kita makan!" Titah Tuan Reno sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Masakan mu lebih enak dari semua restoran atau kedai makanan yang ada di kota ini. Aku sudah mencoba setiap rumah makan di kota ini tapi tidak menemukan rasa seperti masakan mu." Ucap Tuan Reno terlihat sedih.
"Apa...?" Jadi selama ini, kamu ada di sini?" Tanya Naura tidak percaya.
"Aku selalu dekat denganmu sayang. Setiap dua jam sekali aku melewati rumahmu dan setiap malam aku selalu berhenti sebentar di depan rumahmu hanya ingin melihatmu, tapi kamu tidak menyadarinya." Ucap Tuan Reno.
__ADS_1
Degggg...