Cinta Di Balik Pengkhianatan

Cinta Di Balik Pengkhianatan
43. Pemberian Seseorang


__ADS_3

Tuan Reno dan Naura mendatangi pusat kuliner yang ada di Incheon, seperti jajanan pasar untuk memuaskan istrinya.


Rupanya semua makanan disitu mampu mencuri perhatian Naura yang sejak tiba di tempat itu membuatnya makin tergiur untuk menyicipinya karena harumnya sudah menggoda Indra penciumannya.


"Hhmm!" Jajanan ini membuatku ngiler, jadi makin lapar. Ada Tteokbokki, banana milk, corn dog, realfood jelly, kimbab, gyeran ppang, buah dan sayuran kering dan Odeng. Wah, ini makin membuatku gila." Serunya sambil mengusap perutnya.


Ia pun memesan makanan yang ringan terlebih dahulu lalu duduk di depan suaminya yang ikut menikmati makanan milik Naura.


"Apakah kamu bisa menghabiskannya sayang?" Tanya Tuan Reno yang melihat banyak sekali yang di beli Naura.


"Bukankah ada mas Reno sebagai petugas kebersihan, kalau aku nggak bisa habisin, mas Reno yang habisin ya. Ucap sambil cekikikan.


"Baiklah!" Tapi habis ini jangan pesan lagi karena ini semuanya sudah membuatmu kenyang." Pinta Tuan Reno.


"Kalau masih pingin, boleh sayang?" Ledek Naura membuat Tuan Reno menatapnya marah.


"Hanya satu saja, nggak banyak, janji!" Memperlihatkan bentuk v dengan dua jarinya.


"Baiklah hanya satu!"


"Malam ini suamiku terlihat lebih tampan dari pada sebelumnya." Gombal Naura karena sudah diperbolehkan untuk makan lagi yang sangat ia suka.


"Sebagai gantinya, aku tidak akan membuatmu tidur malam ini."


"Tidak masalah, itu hal yang kecil!" Menunjukkan ujung jari telunjuknya.


"Baik. Pesan lagi yang kamu suka!" Aku masih ada urusan penting." Ucap Tuan Reno yang tidak ingin di ganggu.


Naura terlihat lega, karena suaminya tidak mengawasinya. Iapun mendatangi lagi jajanan lainnya yang ingin ia coba.


Tiba di salah satu tempat yang jual dalkban yaitu ceker pedas yang sangat empuk yang diatasnya ditaburi biji wijen dan irisan daun bawang. Ia kemudian membayarnya dan mencomot satu ceker pedas itu.


Belum sempat ceker ayam pedas itu sampai ke mulutnya, Tuan Reno menahan lengannya.


"Mas Reno!" Aku mau makan yang ini.


"Tidak! ini kelihatannya sangat pedas, itu akan membahayakan kamu dan baby. Ini negara orang, Jangan ambil resiko untuk berurusan dengan rumah sakit. Kita sedang berlibur di sini untuk menghibur diri bukan untuk mendatangi rumah sakit. " Jelas Tuan Reno tegas.


"Cukup satu saja, yah!" Rayu Naura yang sudah terlihat sangat ngiler sambil menelan liurnya.


Tuan Reno langsung memakannya yang ada di tangan istrinya.


Tuan Reno sengaja menimang-nimang rasanya dan keringatnya bermunculan diantara kening dan pelipisnya, mulai menggambarkan bahwa ceker itu memang sangat pedas.


"Mas!" Kenapa di makan?" Ini sangat pedas." Omel Naura.


"Lebih baik aku yang makan dari pada kamu yang makan. Beli lagi sesuatu yang manis, lalu kita jalan-jalan di taman."


"Baiklah, aku mau makan es krim."

__ADS_1


"Itu lebih bagus."


Tuan Reno tidak ingin lagi terkecoh dengan ulah Naura, ia sendiri yang membelikan es krim untuk mereka berdua.


Setelah itu keduanya berjalan jalan di taman kota. Menikmati udara malam dibawah pohon bunga sakura putih.


"Di sini sangat indah mas. Aku mau foto di sini." Keduanya Selfi berdua dan Tuan Reno mengambil beberapa foto Naura dari angle berbeda.


Pose Naura yang terlihat menggoda, membuat jantung Tuan Reno berdetak tidak karuan. Belum lagi benda tumpul yang tadi terkulai di bawah perutnya kini mulai mengembang perlahan.


"Apa kamu sengaja menggodaku, sayang?" Kamu akan membayar atas perlakuanmu padaku." Batin Tuan Reno ketika melihat Naura berpose miring memperlihatkan bokong dan dua bukit kembarnya dengan wajah dibuat setengah mendongak sambil mengusap leher jenjangnya terlihat angkuh namun se*y.


"Cukup sayang!" Ayo kita pulang!"Pinta Reno sudah tidak sabar.


"Mas Reno, aku mau nonton." Pintanya manja.


"Sayang!" Masih bisa besok kan?"


"Tapi, maunya sekarang!" Setengah memaksa.


Tuan Reno terlihat tercenung. Rasanya ia ingin melahap gadis liarnya ini di sini lalu baru ke bioskop.


"Sayang, kita ke hotel sebentar, nanti kita balik nonton lagi, ada barang ku yang ketinggalan." Tuan Reno memberi alasan agar Naura masuk dalam jebakannya.


"Nanti mas Reno, nggak mau keluar lagi kalau sudah sampai hotel. Pasti mas Reno mau bercinta kan?" Tebak Naura.


Naura yang melihat wajah suaminya, akhirnya merasa kasihan juga, ia pun menyanggupinya karena Tuan Reno terlihat sangat gelisah.


"Ayo kita ke hotel, setelah itu kita nonton ya!" Masih memohon.


"Hmm!"


"Emang sudah tidak kuat lagi ya, nahannya?" Tanya Naura terlihat lugu.


"Aku akan memakan mu, kalau


bisa." Ujar Tuan Reno sambil mencium pipi istrinya gemas.


...----------------...


Setibanya di kamar hotel, Tuan Reno membuka pakaiannya sendiri lalu menanggalkan dress milik istrinya, kemudian mengangkat kedua kaki Naura sejajar dengan sofa lalu membuka kedua paha istrinya dengan lebar dan mulai membenamkan wajahnya diantara belahan mulus kedua kaki jenjang milik Naura.


Sekitar sepuluh menit Tuan Reno menjilati es krim kesukaannya yang terdapat dibawah perut istrinya itu sampai membuat Naura melenguh.


Naura menjambak rambut Reno sambil menekan lebih dalam ke muaranya agar lidah Tuan Reno berenang lebih dalam mencapai titik kelemahannya.


Erangan itu kembali berdendang, Tuan Reno bangkit membalikkan tubuh Naura agar membelakangi dirinya. Naura yang mengerti mencoba menundukkan tubuhnya sambil bertumpu pada sandaran sofa sehingga bokong putih mulus itu memperlihat pemandangan indah untuk dimasuki oleh milik suaminya.


Tuan Reno menancapkan lagi miliknya ke inti tubuh istrinya kemudian ia menghentakkan tubuhnya diantara dua gundukan lemak pada pinggul istrinya.

__ADS_1


Dengan kecepatan tinggi, Tuan Reno menyiksa istrinya dengan kenikmatan yang sedang diberikannya malam itu. Suara erangan erotis Naura tidak lagi beraturan karena siksaan nikmat itu membuatnya tidak ingin berhenti untuk mengakhiri permainan ini.


Sampai puncak kali**s yang sudah mereka nikmati, Tuan Reno baru membiarkan miliknya tetap berada dalam muara sempit milik Naura. Ia ingin merasakan kedutan disepanjang lorong sempit yang sedang *******-***** miliknya sambil mendekap tubuh polos istrinya.


Setelah miliknya tak bertenaga lagi, Tuan Reno mencabut miliknya dari inti istrinya. Ia mengatur nafasnya supaya kembali teratur usai olahraga syahwat bersama istrinya. Lalu ia mengatakan sesuatu pada Naura dengan kata-kata manja.


"Sayang, kalau aku tidak ingat dengan janjiku untuk nonton bersama denganmu malam ini, aku ingin selalu bercinta denganmu sepanjang malam." Ucapnya lalu menggendong Naura membawa gadisnya ke dalam kamar mandi.


Dalam setengah jam keduanya sudah kembali tampil mempesona menuju bioskop.


"Apakah kamu lelah sayang?"


"Tidak!" Aku mau nonton."


"Tunggu di sini, aku beli tiket dulu."


"Aku beli pop corn dan minuman." Pinta Naura.


"Hmm."


Keduanya terpisah dengan tujuan berbeda. Naura berdiri ngantri menunggu gilirannya untuk membeli makanan camilan untuk mereka.


"Nona!" Apakah kamu orang Indonesia?" Tanya seorang wanita paruh baya sambil membawa makanan camilan miliknya.


"Iya Bu." Ujar Naura yang mengerti sedikit bahasa Inggris.


"Syukurlah. Aku sudah membeli makanan ini dan ternyata putriku tidak datang. Ambillah punyaku, dari pada aku membuangnya." Ucap nyonya itu terlihat sedih.


"Berikan saja pada orang lain bu!" Aku ingin membeli makananku sendiri."


"Ayolah ini masih tersegel. Ambillah nak!" Anggap saja aku seperti ibumu, tidak usah merasa sungkan." Ucap ibu itu setengah memaksa.


Karena tidak tega Naura mengambilnya.


"Apakah aku harus membayarnya?"


"Tidak perlu nona!" Tapi, apakah aku boleh tahu namamu, cantik?"


"Naura...namaku Naura." Ucap Naura sambil tersenyum ramah.


"Kamu sedang hamil?"


"Iya bu. Sudah tujuh bulan."


"Baiklah. Selamat menonton. Aku harus pulang. Terimakasih Naura, senang berkenalan denganmu."


"Sama-sama Bu."


Ibu itu berjalan dengan cepat sambil melihat ke kanan dan kiri seperti takut ketahuan Tuan Reno.

__ADS_1


__ADS_2