
"Oh indahnya dunia ini andai aku bisa memiliki lelaki tampan, kaya dan baik hati seperti Tuan Reno."
Tapi salah seorang karyawan berteriak pada teman-temannya yang masih berkumpul depan meja kasir.
"Hai teman-teman tahukah kalian kalau dia adalah Tuan Reno, pemilik perusahaan otomotif dengan brand terkenal di Asia tenggara ini dan juga pemilik perusahaan real estate yang berada di wilayah Jakarta, Bandung dan Surabaya."
Semuanya ramai berseru kata "hahh??"
"Harusnya tadi kita minta foto bareng sama pasangan pasutri itu," ucap salah seorang karyawan wanita dengan nada menyesal melewatkan momen berharga malam ini.
"Eh, loe jangan mimpi Tuan Reno tidak ingin foto dirinya bersama orang-orang seperti kita, bukannya dia sombong tapi lebih menjaga dirinya dari wartawan yang selalu mengabarkan hal buruk tentangnya," ucap salah satu karyawan pria pada teman-temannya.
Mobil Tuan Reno telah keluar dari halaman parkir restoran seafood di bantu oleh seorang tukang parkir yang usianya sudah cukup tua dan Tuan Reno memberikan tip pada tukang parkir itu dengan nilai yang tidak disangka-sangka oleh pria tua itu, sambil menahan haru tukang parkir itu mengucapkan selamat jalan pada Tuan Reno dan ucapan terimakasih yang tulus pada pria tampan ini.
Mobil mewahnya kembali bergerak membelah jalanan raya ibukota Jakarta, yang masih ramai walaupun malam sudah beranjak larut.
Tuan Reno yang melirik ke arah Naura, namun gadis ini sudah tertidur di sandaran kursinya.
"Dasar peri tidur selalu saja terlelap saat aku lagi senang ngobrol dengannya," ucap Tuan Reno yang tersenyum melihat gadisnya.
Mobil Tuan Reno sudah sampai di halaman mansion. Tuan Reno mengeluarkan tubuh gadisnya lalu menggendong Naura tanpa ingin membangunkan gadisnya.
Tuan Reno masuk ke kamar mereka itu diiringi oleh dua orang pelayan wanita untuk membantu Tuan Reno membuka pintu kamar itu.
Tuan Reno membaringkan Naura di kasurnya. Dua pelayan itu segera meninggalkan kamar itu. sementara itu,. Tuan Reno merapikan selimut istrinya lalu mengecup bibir Naura lembut.
"Selamat malam sayangku, semoga kita bertemu lagi dalam mimpi indah, sampai jumpa besok pagi!" Ucap Tuan Reno lirih.
Tuan Reno membersihkan tubuhnya di kamar mandi dan mengganti baju piyama tidurnya. Ia pun berbaring di sebelah sang istri tercinta yang sudah meringkuk di dalam selimut dengan nafas teratur.
Keesokan paginya seperti biasa Naura menyiapkan putranya untuk berangkat ke sekolah. Baby Barra sudah terlihat tampan dengan seragam TK nya. Tidak lupa bekal dan buku pelajarannya sudah berada di dalam tasnya.
"Habiskan susumu! lalu kita akan segera berangkat." Ucap Naura.
"Siap bunda!" Ucap Barra lalu turun dari pangkuan kakeknya.
"Mas Reno!" Apakah kamu sudah siap?" Teriak Naura ke arah lantai atas.
Tidak lama, Tuan Reno muncul sambil menenteng tas dan jas miliknya. Naura menunggu suaminya yang sedang menuruni tangga. Ia pun merapikan lagi dasi suaminya yang terlihat miring.
__ADS_1
Keluarga kecil itu berangkat usai menyalami kedua orangtuanya Tuan Reno yang sedang melepaskan keluarga kecil itu.
Baby Barra duduk di antara kedua orangtuanya. Ia mulai menanyakan sesuatu kepada keduanya mengenai dua malam lalu kenapa kedua orangtuanya pergi tanpa dirinya.
"Ayah!"
"Hmm!"
"Ke mana kalian pergi malam Minggu kemarin?"
"Ke pantai?"
"Apa..?" Itukan tempat menyenangkan. Kenapa Barra tidak di ajak?"
"Kalau ajak Barra, pasti Barra tidak bisa diam."
"Kalau ayah kasih pengertian, Barra bisa diam ayah." Protes Barra.
"Kalau begitu Minggu depan kita akan ke pantai Ancol lagi." Ucap Naura.
"Benarkah bunda?"
"Ayah, bunda! teman-teman Barra sudah punya adik kecil. Setiap hari mereka sibuk menceritakan tentang kelucuan adik mereka, kapan aku punya adik?"
"Lagi otw sayang! tenang saja, sayang!" acuh Tuan Reno.
"Horeee! aku akan punya adik." pekik Barra terlihat senang.
Tidak berapa lama, mobil mewah itu sudah berhenti di depan sekolah Barra. Naura turun untuk mengantar Barra sampai di depan pintu gerbang sekolah, di mana semua guru yang ada di TK itu menyambut kedatangan para peserta didiknya.
"Belajar yang rajin dan dengarkan apa yang diajarkan oleh ibu guru. Nanti malam kita mengulangi lagi materi pelajarannya, ok!" Ujar Naura lalu mencium kedua pipi putranya.
"Siap bunda cantik! jangan lupa adik bayi untuk Barra." Ucap Barra lalu mencium punggung tangan bundanya lembut.
Naura kembali lagi ke mobil suaminya yang terparkir di depan sekolah itu. Saat berjalan, kepala Naura seakan merasa sangat pusing luar biasa.
Ia berhenti sesaat dan melihat ke arah mobil suaminya terlihat kabur.
"Astaga! ada apa denganku?" Tanyanya sambil berjalan dengan tubuh sempoyongan seperti orang mabuk.
__ADS_1
Asisten Wisnu yang melihat itu tersentak." Astaga bos! kenapa dengan nona Naura?" Jerit Wisnu membuyarkan Tuan Reno yang asyik dengan ponselnya.
Tuan Reno segera turun dari mobilnya dan menghampiri istrinya yang hampir pingsan.
"Naura!"
Pekik Tuan Reno segera menangkap tubuh jenjang itu dan membawanya ke dalam mobil.
Tuan Reno membaringkan tubuh istrinya. Wajah Naura terlihat sangat pucat membuat Tuan Reno terlihat cemas.
"Wisnu! Kita ke rumah sakit sekarang. Sepertinya istriku tidak sehat." Ujar Tuan Reno lalu memangku tubuh istrinya.
"Baik Tuan Reno!"
Wisnu segera membawa mobil mewah itu dengan kecepatan perlahan agar bisa keluar dari kerumunan para orangtua murid yang sedang mengantar putra putrinya ke sekolah yang sama dengan Barra.
"Naura sayang! ada apa denganmu? perasaan tadi berangkat kamu baik-baik saja, kenapa sekarang jadi seperti ini?" Gumam Tuan Reno cemas.
Tiba di rumah sakit, Naura segera di tangani oleh dokter yang berada di ruang IGD. Tuan Reno menyampaikan kepada dokter kalau istrinya tiba-tiba pingsan.
"Apakah istri anda sudah sarapan, tuan?" Tanya dokter Riri.
"Sudah."
"Apakah akhir-akhir ini sering mengalami mual, muntah dan pusing?"
"Tidak ada Dokter. Ia selalu makan tepat waktu dan tidak pernah mengeluh apapun padaku selama ini." Ujar Tuan Reno cemas.
Dokter Riri memeriksa keadaan Naura yang terlihat sangat pucat. Mereka mengambil darah Naura untuk dijadikan sampel untuk diteliti darahnya.
Naura segera diberikan bantuan infus karena saat ini sangat lemah. Tuan Reno segera keluar dari ruang IGD untuk mengabarkan keluarganya atas pingsannya Naura.
Nyonya Nunung sangat kuatir dengan kesehatan menantunya itu." Reno! mungkin Naura terlalu kelelahan hingga ia tidak bisa lagi mengendalikan kesehatan tubuhnya hingga akhirnya pingsan." Ujar nyonya Nunung cemas.
"Entahlah mami! Selama ini Naura tidak pernah mengeluh kalau dia lelah atau sakit. Kami selalu merasa happy selama ini." Ujar Tuan Reno meyakinkan maminya.
"Mungkin saja dia tidak mau mengakuinya padamu. Atau jangan-jangan, astaga! mungkin Naura hamil Reno."
Degggg..
__ADS_1