
Dengan adanya bukti atas kejahatan yang dilakukan oleh pelayan Dyah, polisi segera melakukan tindakan penangkapan gadis itu dengan surat penangkapan untuknya.
Dalam perjalanan polisi menuju mansion milik tuan Syahrul, Naura sengaja mengajak gadis itu duduk bersamanya dengan pasutri itu.
"Permisi nona Naura!" Apakah Anda sedang memanggil saya?" Tanya Dyah dengan gaya polosnya membuat Naura makin gregetan dengan ulah gadis munafik dihadapannya ini.
"Duduklah Dyah!" Aku ingin kamu menemaniku di sini bersama dengan suamiku. Tidak apa sayang ada Dyah diantara kita?" Tanya Naura pada Tuan Reno yang hanya mengangkat kedua bahunya.
Dyah nampak gugup saat dipandangi oleh Tuan Reno.
Naura sengaja duduk dipangkuan suaminya untuk membuat hati Dyah makin rengat.
"Dyah!" Apakah kamu menyukai suamiku?" Tanya Naura to the poin.
"Apa maksud anda nona, mana mungkin aku menyukai Tuan Reno?" Senyum Dyah yang terlihat malu dan juga bingung.
"Kenapa kamu tidak menyukainya jika kamu sangat menyukai suamiku?" Apakah kamu iri denganku hingga kamu senang semua bajuku yang kamu pakai saat kami berdua tidak ada di mansion."
Degggg...
Dyah makin terpojok mendengar pertanyaan Naura yang langsung pada intinya.
"Apakah kamu tidak tahu permainanmu yang sedang memuaskan dirimu sendiri diatas ranjang milik kami sudah ditonton oleh para polisi sebagai bukti kejahatan kamu yang telah berusaha membuat aku celaka.
Mendengar itu, Dyah bangkit dari duduknya dengan wajah terbalut kelam. Kali ini ia sedang memperlihatkan taringnya karena kehormatannya dipertaruhkan oleh pasutri ini.
"Apa yang kau lakukan janda gatal?" Aku heran dengan Tuan Reno yang lebih memilih janda dari selingkuhan istrinya dan mengabaikan aku yang masih perawan tulen karena dirimu." Ucap Dyah berapi-api.
Tuan Reno yang tidak terima memindahkan tubuh istrinya dari pangkuannya untuk menampar gadis yang tidak tahu malu ini.
"Apa katamu...?" Coba ulangi sekali lagi!" Titah Reno dengan penuh amarah.
"Bukankah benar dia janda gatal?" Yang memanfaatkan kesedihannya untuk mendapatkan empati Tuan Reno."
__ADS_1
Plaakkkk...!"
Tamparan keras mendarat di pipi Dyah hingga gadis itu terjungkal dengan sudut bibir mengeluarkan darah.
"Kau pantas di penjara!" Wanita murahan!" Istriku jauh lebih terhormat dari perawan sepertimu yang tidak tahu malu sepertimu. Kau ingin bermimpi menjadi nyonya dirumah ini dengan menjerat diriku dengan tampang mu yang standar dan juga sifatmu yang memalukan itu.
Kau tahu, kau bukan tipe gadis ideal untukku karena kehadiranmu dirumah ini tidak lebih hanya seorang pembantu." Ucap Tuan Reno merendahkan Dyah yang makin membuatnya jijik.
Tidak lama kemudian, dua orang polisi datang menghampiri ketiganya. Dyah nampak terkejut melihat dua polisi datang dengan membawa borgol.
"Anda kami tangkap nona Dyah dengan tuduhan percobaan pembunuhan pada nona Naura, istri dari Tuan Reno. Anda bisa didampingi oleh pengacara selama proses penyelidikan." Ucap AKBP Teddy.
"Tidak!" Jangan tangkap aku!" Aku tidak bersalah." Teriak Dyah sambi berontak dari cengkraman tangan polisi yang sedang mencekal dua lengannya.
Bibi Iyem dan suaminya tanpak tertegun melihat nasib putrinya yang cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
Kedua orangtuanya sudah mendengarkan penjelasan tentang putri mereka dari nyonya Nunung. Kedua orangtuanya juga segera dipulangkan oleh nyonya Nunung dengan memberi mereka pesangon untuk memulai usaha dikampung.
"Maafkan putri kami, nyonya!" Kami tidak tahu jika dia senekat ini untuk mendapatkan Tuan muda Reno hingga menyakiti menantu anda." Ucap bibik Iyem sambil menangis.
"Maafkan kami, nyonya!" Ucap bibik iyem sambil berlutut di kaki nyonya Nunung.
"Bangunlah!" Sopir akan mengantar kalian sampai ke terminal bus luar kota." Ucap nyonya Nunung lalu masuk ke kamarnya.
Tuan Reno mengajak istrinya Naura untuk beristirahat karena usia kandungannya Naura sudah memasuki sembilan bulan.
Kamar yang ditempati Naura dan Tuan Reno, bukan kamar yang sebelumnya digunakan untuk pelayan Diah yang sudah mengotori kamar itu dengan aksi liarnya. Kamar itu dirombak habis oleh tukang bangunan atas perintah Tuan Reno.
Kini keduanya tidur di kamar tamu dilantai bawah. Keduanya kini merasa lega walaupun bahaya masih menghantui kehidupan mereka dari orang-orang yang tidak ingin melihat pasutri ini bahagia.
"Apakah kamu sudah tenang sayang?" Setelah gadis nakal itu ditangkap polisi?" Tanya Tuan Reno sambil mengusap perut istrinya yang sedang terbaring.
"Dia hanya salah satu musuhku yang ingin menghabiskan nyawaku karena ingin mendapatkan dirimu, berarti hidupku masih dalam bahaya, suamiku." Ucap Naura terlihat cemas.
__ADS_1
Tuan Reno menggaruk kepalanya yang tak gatal, karena apa yang diucapkan oleh istrinya Naura benar adanya.
"Aku tahu sayang. Tapi kita akan selalu waspada dengan kejahatan yang ada di luar sana. Mungkin kamu terlalu cantik hingga mengancam kedudukan mereka." Canda Tuan Reno.
"Candaannya nggak lucu, mas." Ucap Naura kesal.
"Maafkan aku sayang." Tuan Reno mengecup bibir istrinya.
Naura terlihat melamun mengingat lagi umpatan pelayan Dyah padanya.
"Sayang!" Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Tuan Reno.
"Apakah aku terlihat seperti janda murahan yang terlihat menyedihkan saat bertemu dengan kamu, mas Reno?"
"Astaga!" Kenapa kamu memikirkan perkataan wanita itu?" Dengar!" Aku menikahimu tanpa ada pikiran picik seperti. dugaan dirinya.
Dia itu wanita yang tidak punya otak, karena dia hanya mengedepankan obsesinya hingga menyimpulkan sendiri penilaiannya padamu. Apakah kamu kira aku seperti dugaannya?" Kamu sama bodohnya dengan dia kalau ikut menanggapi perkataan bodohnya itu.
"Maafkan aku mas!" Aku jadi terpengaruh dengan ocehan gadis brengs*k itu.
"Sebaiknya tenangkan pikiranmu karena sebentar lagi kamu harus mempersiapkan diri untuk melahirkan bayi kita. Aku sudah tidak sabar ingin melihatnya keluar dari sini." Ucap Tuan Reno sambil mengangkat dress milik Naura.
Naura hanya mendesis dan sesekali melenguh sambil menggeliat di atas kasur empuk itu.
"Mas Reno!" Pekiknya sambil membelai lembut kepala suaminya yang sedang memanjakan miliknya dibawah sana.
Tuan Reno sengaja memperlama pemanasan awal pada bunga mekar milik Naura yang menjadi candunya saat ini.
Berkali-kali Naura sudah melepaskan ledakan kenikmatan dari miliknya namun Tuan Reno masih betah berada di bawah sana.
"Sayang!" Aku tidak kuat lagi." Rengek Naura yang terlihat tersiksa dengan permainan suaminya yang sedang menikmati miliknya terlalu lama.
Melihat istrinya sudah tidak kuat lagi menahan sentuhan miliknya yang sudah membesar di bawah sana, Tuan Reno mulai menancapkan miliknya di lembah basah itu yang mulai berkedut karena rangsangan yang diberikannya.
__ADS_1
Keduanya mulai bergumul dalam lautan asmara demi memuaskan birahi mereka.
Permainan panas berakhir dengan rasa ngantuk yang mulai mendera tubuh keduanya hingga keduanya memilih untuk tidur dan tidak ingin memikirkan hal berat yang menggangu hubungan mereka karena ulah orang ketiga.