
Naura mundur beberapa langkah sambil mencari bantuan. Sialnya tempat parkir mobil itu tampak sepi membuatnya bingung untuk melakukan sesuatu agar terhindar dari petaka yang sedang mengancamnya.
"Apa kabar sayang!"
"Bukan urusanmu!" Ketus Naura.
"Naura! Aku sangat merindukanmu!"
"Tutup mulutmu yang sangat menjijikkan itu." Umpat Naura sengit.
"Sayang!" Banyak sekali perubahan dalam hidupmu semenjak kita berpisah. Dan yang membuat aku sangat excited adalah kamu merupakan putri keraton Jogja.
Andai saja aku lebih sabar...?"
"Diammm...! Aku tidak ingin mendengar omong kosong mu Dandy. Kau tidak lebih dari seorang pecundang yang selalu memanfaatkan keadaan demi kepentingan pribadimu."
"Kenapa kamu harus marah padaku sayang? Bukankah seharusnya kamu menuntut suamimu itu karena telah menukar takdirmu hingga kamu dibesarkan oleh keluarga miskin yang membuat hidupmu menderita?" Dandy berusaha mempengaruhi Naura.
Naura tersenyum miring dengan mengangkat satu alisnya dengan memandang remeh mantan suaminya.
"Harusnya kamu bersyukur kepada suamiku Reno, apakah kamu bisa memiliki aku jika aku adalah putri seorang keraton sebelum kasus ini bayi tertukar itu terkuak?
Melihat tampang mu begini saja, mungkin kamu bukan masuk dalam klasifikasi suami seorang putri bangsawan sepertiku sekalipun saat itu kamu adalah pejabat publik."
"Lantas apa bedanya aku dan Reno?" Bukankah kami sama-sama kalangan bawah?"
"Jelas sangat jauh berbeda tuan Dandy yang terhormat! Karena kamu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dia dan kamu cukup mengetahui perbedaan itu tanpa harus menjelaskan semuanya, karena itu akan membuatmu seperti kesetan kaki di mansion rumahku." Ujar Naura dengan kata-kata menohok.
"Wanita sialan! Tidak tahu diri!" Jika bukan karena aku, apakah kedua adik palsu mu itu bisa menjadi hebat saat ini?"
"Apakah kamu lupa tuan Dandy?" Jika aku sudah mengembalikan seluruh kebaikanmu itu usai kita bercerai?" Bahkan itu melebihi dari pengeluaran yang kamu berikan kepada keluarga angkat ku."
"He..he..he! Dengan cara menjual tubuhmu pada Tuan Reno yang sekarang menjadi suamimu, bukan? apa yang bisa kamu lakukan untuk menghasilkan uang kalau bukan tubuhmu yang bisa kamu andalkan itu?" Balas Dandy.
"Terlepas kamu percaya atau tidak, aku tidak akan merendahkan diriku hanya untuk rupiah Dandy, karena aku bukan kamu yang rela memuaskan tubuh Maya demi mendapatkan harta wanita itu untuk menambah keserakahan mu sebagai pejabat publik." Lirih Naura.
"Kau...!"
__ADS_1
Satu tangan Dandy sudah hampir mendarat di pipi Naura, namun dengan cepat, Rangga datang menahan tangan itu dan dipelintir ke belakang punggung Dandy hingga membuat mantan suami Naura itu menjerit kesakitan.
"Jangan sekali-kali menyentuh putri bangsawan jika tidak ingin berurusan dengan hukum, bajingan!" Bentak Rangga tepat di kuping Dandy, lalu mendorong tubuh itu hingga jatuh membentur mobil orang lain dan menimbulkan alarm mobil itu berbunyi.
"Pergi dari sini! atau aku akan memanggil polisi!" Ancam Rangga.
"Siapa kamu? berani-beraninya ikut campur urusanku dengan wanita ini?"
"Aku dan Naura adalah keluarga bangsawan, bukan seperti dirimu yang hanya seorang pria menyedihkan mencoba mendekati lagi mantan istrinya dengan tujuan tertentu."
Kedua satpam yang melintas di tempat itu langsung menghampiri ruang ketiganya yang sedang bertengkar.
"Amankan orang ini pak!" Titah Naura.
"Baik nona!" Ucap dua satpam yang langsung mengusir Dandy dari kampus itu.
Dandy segera masuk ke mobilnya dan meninggalkan tempat parkir kampus itu.
"Urusan kita belum selesai Naura. Jika aku sekarang ini hancur, aku juga ingin membuatmu hancur!" Ancam Dandy.
"Apakah kamu baik-baik saja, Naura? Kalau begitu biar aku yang mengantarmu pulang, Naura ." Ucap Rangga hendak memegang pergelangan tangan Naura.
"Tidak!"
"Kenapa menolakku?" Tanya Rangga bingung.
"Aku tidak ingin suamiku cemburu kepadamu. Karena suamiku termasuk suami posesif." Jujur Naura membuat Rangga terkekeh.
"Wajar saja dia posesif Naura. Suami mana yang ingin istrinya didekati oleh lelaki lain. Tetapi, kita sepupu bukan?" Rayu Rangga agar Naura bisa ikut dengannya.
"Syukurlah, ternyata kamu cepat memahami perasaan suamiku, jadi aku tidak perlu repot-repot menjelaskan kepadamu." Timpal Naura terlihat tenang.
"Naura, kalau tidak mengingat kamu sudah memiliki anak dengannya, rasanya aku ingin merebutmu dari suamimu." Batin Rangga.
"Apakah kamu tidak mau ikut denganku, Naura?" Tawar Rangga sekali lagi sambil menatap intens wajah Naura.
"Tidak! Aku sudah janji dengan mas Reno karena dia yang menjemput aku sendiri." Tolak Naura tegas.
__ADS_1
Tidak lama terdengar bunyi klakson mobil milik Tuan Reno.
Naura langsung menghampiri mobil suaminya dan meninggalkan pangeran Rangga. Pria tampan ini hanya termangu menatap mobil mewah Reno.
Naura mengecup bibir suaminya lembut." Mengapa lama sekali menjemputku mas?"
"Maaf sayang, tadi ada kemacetan yang cukup panjang karena kecelakaan. Dan aku harus mencari jalan alternatif untuk bisa sampai ke kampusmu. Apakah itu Rangga?" Tanya Tuan Reno dengan wajah tidak suka.
"Abaikan saja dia mas, ayo kita pulang! Aku ingin menyusui baby Barra." Ujar Naura yang mengalihkan pembicaraan mereka tentang pangeran Rangga.
"Kenapa dia bisa berada di kampusmu?"
"Kebetulan ada dosenku yang merupakan teman baiknya, mereka sedang ada janjian temu dan kebetulan dia melihatku dan mengajakku ngobrol sebentar." Ucap Naura bohong.
"Apakah dia sedang merayu mu, sayang?"
"Aku tidak akan mengijinkan dia merayuku maupun mendekati ku, jadi mas tidak perlu cemburu padanya."
"Aku tidak peduli dia itu saudara sepupumu Naura, yang jelas kehadirannya sangat membuatku tidak nyaman." Kilah Tuan Reno.
"Aku milikmu! Aku tahu cara menjaga kehormatanku. Tolong jangan membuatku merasa terpenjara di hatimu, karena aku ingin bebas melakukan apapun sesuai dengan statusku sebagai istrimu mas Reno." Pinta Naura sambil merengek manja pada suaminya.
"Naura! Kadang aku kasihan kepadamu yang harus mengejar ketertinggalan ilmu yang harus kamu pelajari lebih awal, tapi melihat dirimu yang menjadi incaran banyak lelaki membuat nafasku rasanya sesak menahan cemburu." Batin Tuan Reno.
"Mas Reno! Andai saja kamu mengetahui bahwa tadi aku harus berurusan lagi dengan Dandy, mungkin aku tidak diperkenankan lagi olehmu untuk kuliah." Batin Naura.
Mobil mewah itu sudah masuk ke halaman mansion. Baby Barra sedang menunggu ibunya sambil fokus memperhatikan siapa penumpang di dalamnya. Ketika ibunya turun dari mobil itu, wajahnya langsung berubah ceria hingga ingin lompat dari gendongan omanya.
"Mamaa!" Pekik Baby Barra sambil merentangkan tangannya.
Nyonya Nunung menurunkan cucunya yang sudah bisa berjalan itu. Setapak demi setapak langkah kaki mungil itu menyambut kedatangan ibunya. Naura menghampiri putranya dengan langkah perlahan.
Ketika mendekati ibunya, bayi tembem itu langsung menghamburkan tubuhnya pelukannya Naura. Naura mencium tangan ibu mertuanya diikuti suaminya sambil menanyakan kegiatan putranya pagi ini.
Baby Barra menghadiahkan banyak ciuman pada ibunya lengkap dengan liurnya. Tuan Reno terkekeh melihat wajah istrinya penuh dengan liur putranya.
"Pintar sekali kamu sayang, sudah kasih masker gratis untuk mama." Ucap Tuan Reno lalu merangkul anak dan istrinya menuju kamar.
__ADS_1