
Hasil DNA milik Naura diambil sendiri oleh nyonya Lira. Ia tidak langsung membukanya di rumah sakit, tapi ingin membuktikan kepada suaminya yang dari dulu menolak dirinya untuk melakukan tes DNA pada putri mereka Aurelia.
Atas keyakinannya pada surat laporan hasil DNA itu, bahwa Naura adalah putrinya tanpa ia harus melihatnya terlebih dahulu, iapun segera meninggalkan rumah sakit itu langsung menuju istananya dengan perasaan tak karuan.
Kebetulan di istananya, tidak ada putrinya yang manja itu. Dengan begitu ia bebas bicara dengan suaminya tanpa terdengar oleh Aurelia.
"Sayang! kamu dari mana saja? jam segini baru pulang?" Tanya tuan Brotoseno sambil mencium bibir istrinya lembut.
"Aku baru dari rumah sakit papi."
"Astaga! Apakah kamu sakit, sayang?" Tanya tuan Brotoseno cemas.
"Tidak sayang! Ada urusan penting yang harus aku buktikan kepadamu atas kecurigaan aku selama ini." Ucap nyonya Lira sambil menatap wajah tampan suaminya.
"Bukti? Apakah kamu sedang melakukan tes DNA pada putri kita Aurelia?"
"Tidak! Ini bukan tentang dia, ini tentang gadis yang sudah aku temukan sendiri kemiripan wajahnya dengan diriku." Ucap nyonya Lira antara gugup dan bahagia.
"Maksudmu, gadis itu adalah Naura? Menantu dari tuan Syahrul dan nyonya Nunung?" Tuan Syahrul memastikan dugaannya.
Nyonya Lira terperanjat mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Jadi mas selama ini sudah tahu, tapi pura-pura tidak tahu?"
"Aku hanya curiga, tapi aku tidak mau membuatmu cemas." Ucap tuan Brotoseno tenang.
"Kenapa mas? sejak kapan kamu mengetahui kalau Naura adalah putri kita?"
"Saat di undang makan malam oleh tuan Malik. Aku melihat wajahnya yang terlihat sangat mirip denganmu saat kamu seusianya. Dan lebih membuatku makin yakin dia adalah putriku saat dia hamil dan sempurna sudah kalian berdua sama persis secara fisik."
Nyonya Lira makin syok mendengar pernyataan suaminya.
__ADS_1
"Kau tahu, tapi kamu merahasiakan perasaanmu padaku. Berarti selama ini mas juga sudah tahu kalau Aurelia bukan putri kandung kita." Timpal nyonya Lira lirih tak bertenaga.
"Jika kamu tahu, maka kamu akan tersiksa dengan pencarian mu pada putri kandungmu dan berita tentang kehilangan putri kita, akan membuat heboh negara ini tentang keberadaan putri kita yang tertukar.
"Emang ada masalah jika kita menuntut rumah sakit itu?"
"Masalahnya bukan rumah sakit itu, tapi semua orang menjadikan kedukaan kita untuk mendapatkan keuntungan. Dan aku tidak mau putri kandungku berada dalam masalah."
"Jadi kamu merasa rugi mengeluarkan uang banyak untuk mendapatkan kembali putri kita?"
"Tolong, jangan menekan ku seperti itu, sayang! aku bisa menjelaskan semuanya dengan memikirkan kita ini siapa sambil mencari tahu keberadaan putri kita.
Tapi aku tidak berdaya untuk....ahh! sudahlah kamu tidak akan mengerti posisiku sebagai putra mahkota saat itu yang banyak mendapatkan tekanan politik.
Sekarang mana surat laporan medis Naura? dan bagaimana kamu bisa mendapatkan sampelnya gadis itu untuk melakukan tes DNA padanya?" Tanya tuan Brotoseno sambil menengadahkan tangannya ke istrinya.
"Aku belum sempat membukanya mas, karena aku ingin kita berdua yang akan membacakan sendiri hasilnya, entah itu benar atau tidak, kalau Naura putri kita.
Tuan Brotoseno segera membukanya dan membaca bersama dengan istrinya. Keduanya saling menatap saat mengetahui kalimat terakhir yang menyatakan bahwa hasil tes DNA Naura dengan mereka berdua memiliki kesamaan DNA 99, 9% Naura adalah putri kandung mereka berdua.
"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah!" Akhirnya apa yang selama ini aku harapkan telah Engkau buktikan dengan kebesaran Mu ya, Allah." Ucap nyonya Lira lalu memeluk suaminya erat.
Keduanya menangis bersama sambil berpelukan. Dan di saat yang sama datang si manja Aurelia tanpa mengetuk pintu kamar orangtuanya, ia dengan lancang masuk ke kamar itu tanpa rasa canggung.
Kedua orangtuanya Naura yang asli ini sangat kaget dan langsung menyimpan surat laporan tes DNA milik Naura dibawah selimut tebal di atas pembaringan mereka.
"Aurelia!" Kenapa kamu tidak pernah mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar orangtuamu, hah?" Bentak nyonya Lira tidak suka dengan sikap putrinya yang makin hari makin susah di atur.
"Kenapa harus mengetuk pintu dulu mami?" Kalian tidak sedang bercinta kan? kecuali pintu itu terkunci, baru aku mengerti kalian sedang bercinta." Ucap Aurelia frontal membuat kedua orangtuanya makin murka menatap wajah breng**k putrinya tersebut.
"Dasar anak kurangajar!" Makin hari kamu makin sulit di kendalikan. Apakah selama ini kami mendidik mu menjadi perempuan liar? mulutmu begitu ringan membicarakan hal tabu pada kedua orangtua." Umpat tuan Brotoseno.
__ADS_1
"Ayah! Aku tidak terlalu suka dengan aturan kerajaan yang begitu ketat hingga membuat aku bosan dan ingin menjadi orang biasa saja." Ucap Aurelia cuek.
"Oh kebetulan sekali Aurel, kami akan mengabulkan permintaan kamu itu, yang ingin menjadi orang biasa karena kami tidak perlu lagi bertanggungjawab atas moral hidupmu.
Terserah kamu mau menjadi apa seperti yang kamu inginkan, kami bahkan tidak keberatan." Ucap nyonya Lira membuat Aurelia terlihat bingung.
"Apa maksud mami bicara seperti itu?" Tanya Aurelia penasaran.
"Untuk apa kamu tanyakan lagi apa yang menjadikan keinginanmu, yang ingin segera kamu wujud kan itu?" Bukankah tadi kamu sudah berkoar-koar dengan mulut besar mu itu untuk menjadi seorang gadis biasa dan tinggal di luar sana, bukan lagi sebagai putri kami?" Timpal nyonya Lira yang sudah sangat muak dengan sikap putri angkatnya ini.
Aurelia tersenyum miring menatap kedua orangtua angkatnya dengan sinis.
"Mengapa mami jadi sinis kepada Aurel? seperti aku ini hanya anak pungut saja bagi kalian berdua? apakah jangan-jangan aku anak pungut seperti yang dibully teman-teman ku selagi aku masih memakai seragam sekolah?" Tanya Aurel lirih.
Suaranya sudah tidak lagi sekencang tadi. Hatinya mulai menciut dengan pikirannya yang mulai ketakutan karena takut apa yang selama ini dicurigai oleh orang lain padanya terbukti.
Betapa takutnya Aurel mendengar penuturan menyakitkan itu dari ibunya yang saat ini berdiri menatapnya dengan wajah garang lagi kelam.
"Mengapa kamu tiba-tiba membisu, Aurel?" Apakah kamu takut jika kami akan menendang mu dari rumah ini, bahkan dari kehidupan kami?" Bentak nyonya Lira ingin melepaskan semua sakit hatinya pada Aurel yang selama ini hampir membuatnya menangis darah.
Aurelia selalu membuat dirinya terlihat murahan dengan sering masuk ke kamarnya dengan lengerie transparan seperti ingin menggoda suaminya dan berpura-pura habis mimpi buruk dan ingin tidur diantara mereka berdua.
Awalnya nyonya Lira yang mengira Aurel masih putri kandungnya membiarkan saja gadis ini tidur di tengah mereka, tapi suaminya yang jengah dengan perilaku Aurel selalu pindah tidur di kamar tamu karena tidak kuat memandang tubuh semok milik Aurel. Bagaimana pun juga dia lelaki normal yang bisa lepas kendali jika sudah digoda oleh setan.
"Mami!" Sebaiknya kembalikan dia pada keluarga aslinya, toh kita sudah menemukan putri kandung kita!" Titah tuan Brotoseno yang masih sangat tampan diusianya saat ini.
Deggg...
Aurelia tersentak mendengar ucapan tuan Brotoseno kepadanya. Ia pun menggelengkan kepalanya seakan ia sedang mimpi buruk.
"Tidak mungkin! kalian sedang bercanda dengan aku sajakan?" Tanya Aurel sambil menelan salivanya dengan kasar.
__ADS_1
"Sayangnya, itu adalah kebenaran Aurel yang harus kamu ketahui di mana asal mu. Kemas lah barang-barang mu dan keluar dari istanaku sekarang juga!" Teriak nyonya Lira lalu mendorong tubuh Aurel dengan kasar.