
Atas permintaan nyonya Nunung pada putranya Tuan Reno agar mengantar pulang lagi Naura agar menunggu sampai tiba hari bahagia yang saat ini sedang mereka nantikan bersama.
Setelah tiga hari Naura berada di rumah calon mertuanya untuk melakukan perawatan tubuh, Naura pun pamit pulang lagi ke kampungnya.
"Sayang!" Kamu harus menjaga kesehatan agar selalu sehat sampai tiba hari pernikahan kalian." Pinta nyonya Nunung pada calon menantunya, Naura yang makin terlihat bening setelah perawatan.
"Iya Tante, terimakasih atas perhatian Tante selama Naura ada di sini." Ucap Naura santun.
Keduanya saling cipika cipiki dan melambaikan tangan saat Naura sudah berada di dalam mobil bersama Tuan Reno.
Mobil itu melaju dengan cepat menuju bandara. Tuan Reno terlihat cemberut sepanjang jalan karena harus berpisah dengan pujaan hatinya.
"Kenapa sayang?" Tanya Naura tidak enak melihat wajah sang kekasih terlihat suram seperti itu.
Tanpa ingin menjawab pertanyaan Naura, Tuan Reno langsung menarik tengkuk Naura dengan menekan tengkuk itu kuat agar mendapatkan bibir sensual itu yang tidak bisa lagi ia tahan untuk menyentuh dengan bibirnya.
Naura meresapi pagutan lembut sang kekasih dan mulai membalas ciuman Tuan Reno, hingga keduanya kehilangan nafas mereka dan berhenti mengambil nafas panjang.
"Sayang!" Tiga bulan terlalu lama, lebih baik kita menikah sekarang secara agama dulu." Pinta Tuan Reno yang sudah tidak tahan jika berdekatan dengan Naura saat ini.
"Baiklah!" Terserah mas Reno saja bagaimana baiknya, lagian kedua orangtua kita sudah pada setuju, mengapa harus menunda hal baik ini." Ucap Naura.
"Alhamdulillah, terimakasih sayang." Ucap Tuan Reno lalu mencium punggung tangan Naura dengan mesra.
Sekitar pukul sepuluh pagi, keduanya sudah tiba di Solo. Kedua orangtuanya Naura merasa sangat bahagia karena Tuan Reno memulangkan kembali putri mereka dalam keadaan sehat dan makin cantik.
Naura memberikan oleh-oleh yang dititipkan ibu mertuanya untuk calon besan mereka berupa pakaian untuk acara pernikahan putri mereka nanti dengan warna senada.
Ada juga oleh-oleh makanan untuk keluarga itu. Naura sibuk bicara dengan ibunya, sementara Tuan Reno menemui ayah mertuanya yang sedang duduk mengawasi para pekerjanya yang sedang menabur pupuk di sawah yang dibelikan Tuan Reno untuk mereka.
"Ayah!" Aku ingin bicara sesuatu kepada ayah. Bolehkah?" Tanya Tuan Reno hati-hati.
Pak Indarto mengalihkan perhatiannya pada calon menantunya ini dan siap mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh Reno kepadanya.
"Katakan saja nak, Reno!"
__ADS_1
"Begini ayah, buat saya menunggu waktu tiga bulan ke depan terlalu lama untuk kami yang sudah pernah merasakan indahnya berumah tangga walaupun pada akhirnya sama-sama kandas.
Jika ayah berkenan, saya ingin menikahi Naura sekarang juga di kantor agama dikampung ini untuk melegalkan hubungan kami di hadapan Allah." Pinta Tuan Reno tulus.
Pak Indarto mengulum senyumnya karena melihat wajah calon menantunya terlihat tidak sabar lagi untuk menunggu.
"Baiklah!" Atur semuanya sesuai dengan keinginanmu. Ayah akan ke kantor agama jika semuanya sudah siap." Ucap pak Indarto mengabulkan permintaan calon menantunya yang sudah kebelet ingin kawin.
"Terimakasih ayah!" Tuan Reno langsung menyalami tangan mertuanya dengan penuh takzim.
Tuan Reno segera menemui Naura dan ibu mertuanya untuk mempersiapkan diri karena mereka harus segera ke kantor agama.
Saksi dari pihak Tuan Reno adalah anak buahnya Raka dan dari pihak Naura adalah paman Naura sendiri dari pihak ibu.
Keluarga itu sudah duduk di depan penghulu siap untuk melakukan ijab kabul. Bertindak sebagai wali nikah adalah ayah kandung Naura sendiri yang ingin menikahkan putrinya.
Proses ijab Kabul berlangsung khidmat dengan Naura yang berdandan seadanya memakai kebaya yang disewa di tempat rias pengantin.
Walaupun seperti itu, tidak mengurangi kecantikan Naura sedikitpun karena gadis ini sudah cantik alami.
Tuan Reno yang sudah mempersiapkan bulan madu mereka, langsung membawa pengantinnya ke pulau Dewata Bali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di Pulau Dewata Bali pasangan pengantin baru ini masih betah berada di kamar di salah satu resort mewah yang terkenal di pulau tersebut. Pasangan ini menghabiskan waktu bulan madu mereka.
Reno terus menahan istrinya untuk tidak keluar kamar kecuali untuk aktivitas memenuhi kebutuhan tubuh mereka yaitu makan, entah itu pagi, siang maupun malam Reno dan Naura hanya melakukannya di kamar.
Pagi itu Naura beranjak ke kamar mandi, saat itu ternyata Reno terbangun dan ia sangat terkejut ketika mendapati istrinya sudah tidak disisinya. Sambil menekuk alis, dalam kegusaran hati, Reno berdiri dan mencari istrinya "hmm" gumamnya sambil menghela nafas panjang.
"Ternyata kamu disini sayang," katanya berdiri tanpa pakaian yang melekat pada tubuhnya.
Naura sedang asyik membersihkan tubuhnya dan ia hanya melihat tanpa mengatakan apapun, setelah selesai mandi, Naura yang juga terlihat polos tanpa sehelai benang pun memanggil Reno yang masih menatap tubuhnya.
Kemudian ia membantu suaminya untuk menggosokkan gigi, Reno terus memperhatikan istrinya yang dirasakan memiliki sentuhan seorang peri tersebut.
__ADS_1
Lembut dan hangat adalah dua kata yang melukiskan perasaan pria tampan ini yang sangat haus akan kasih sayang dari istrinya.
"Sini sayangkuh, aku bantu," ucap Naura yang sudah mengoles pasta di atas sikat gigi milik suaminya.
Dengan patuhnya Reno membuka mulutnya sembari memperlihatkan susunan giginya yang putih dan rapi.
"Kamu sangat manis kalau bersikap seperti ini sayang," puji Naura sambil mengembangkan senyumnya.
Reno sangat gemas dengan tingkah istrinya itu, ia menarik tubuh polos Naura lalu memeluk dengan erat. Reno mencium ceruk leher jenjang istrinya.
"Tunggu sayang!, jangan seperti ini, ayo berkumur dulu, lalu aku akan memandikanmu!," pinta Naura lembut.
Naura memegang kendali dan Reno terus saja menurut dengan wajah manisnya. Setelah berkumur Reno mengangkat tubuh istrinya masuk ke dalam bathtub, kemudian keduanya kembali mandi bersama.
Sentuhan kecil disepanjang mandi pagi bersama yang sangat menyenangkan, mereka anggap sebagai pemanasan seru dan menggairahkan.
Sesekali Naura mendesis manja lalu disisi yang lain Reno lah yang mengerang, semua itu dilakukan dalam senyum hangat hingga mampu menghangatkan rasa dingin akibat air yang merendam tubuh keduanya di dalam bathtub.
"Sebaiknya kita akhiri saja pemanasan ini sayang karena aku sangat menginginkanmu pagi ini, kau selalu menyuguhkan sarapan pagi ku untuk bisa bercinta denganmu," ucap Reno dengan suara berat menahan keinginannya untuk cepat menjamah tubuh istrinya."
Reno mulai sulit mengendalikan dirinya. Naura tersenyum suka lalu mengangguk dengan wajah memelas dengan tatapan menggoda.
"Rasanya aku ingin menggigit setiap inci tubuhmu sayang."
"Renooo!," gumam Naura dengan suara lenguhan merdu yang sudah tidak mampu menahan gairahnya.
Setelah selesai keduanya saling membantu mengeringkan tubuh, kemudian Reno kembali mengangkat tubuh istrinya menuju tempat tidur untuk memulai permainan panas nan menggoda.
Setibanya di atas kasur yang berukuran king size itu Reno langsung menarik tangan kanan istrinya, lalu mendekatkan wajah istrinya.
Reno mulai melancarkan ciuman panas itu kembali. Merasakan sensasi yang luar biasa dengan tubuh lembut istrinya pada aset yang merangsang miliknya untuk melakukan hal yang lebih gila dari pada sebelumnya saat keduanya berada di dalam kamar mandi.
Tatapan mata sayu dengan senyum menggoda kian membangkitkan permainan yang makin membuat keduanya mengeksplor perasaan mereka untuk saling memuaskan pasangan.
Permainan kian memanas ketika milik keduanya menyatu dibawah sana dengan hentakan ritme yang senada yang mampu menyengat tubuh keduanya hingga terdengar lenguhan panjang setelah menggapai puncak asmara bersama pagi itu.
__ADS_1