
Tuan Reno menghampiri Naura yang masih berdiri terpaku di tempatnya karena begitu canggung di hadapan banyak pasang mata menatapnya dengan kagum.
Ia hanya mengangguk hormat dengan sikap elegan sambil tersenyum pelit pada kolega suaminya.
"Wisnu tolong lanjutkan pimpin meeting ini. Aku ingin temui istriku."
Tuan Reno merangkul pinggang Naura dan segera meninggalkan ruang rapat menuju ruang kerjanya.
Didalam lift. tubuh Naura segera dipeluk dan dicium aroma tubuh istrinya penuh kerinduan. Bokong istrinya di remas. dengan kasar.
"Kenapa memakai celana jins ketat seperti ini. Bukankah aku sudah melarangmu untuk tidak mengenakan pakaian yang tidak memancing perhatian dan orang lain kepadamu bukan?" Tuan Reno membungkam mulut istrinya dengan ciuman karena dia tidak ingin Naura memberinya alasan untuk membenarkan perbuatannya.
"Mengapa kamu tidak sabaran ingin bercinta denganku?"
"Aku memanggilmu bukan ingin bercinta sayang, tapi aku hanya ingin mencium bau harum tubuhmu supaya aku tidak merasa mual."
"Apakah sekarang sudah lebih baik, hmm?"
"Belum!" Tetaplah didekat ku sayang supaya pusingku hilang.
"Apakah tiap hari aku harus ke sini sayang?"
"Tidak perlu!" Biar aku yang pulang menemuimu. Jika kamu ke sini lagi mereka seakan ingin menguliti mu hidup-hidup."
"Apakah mereka ingin membunuhku?" Apa kesalahanku?"
"Karena kamu terlalu jelek hingga membuat mereka tidak sabar untuk menghabisi mu dengan mata mereka yang nakal itu."
Menyadari kalau suaminya sedang cemburu, Naura akhirnya diam dan tidak mau lagi banyak bertanya.
Di dalam ruang kerjanya, Tuan Reno memangku Naura sambil mencium belahan dada istrinya. Tapi di tengah kemesraan mereka, Maya mendatangi ruang kerja Tuan Reno tanpa sungkan membuka pintu itu dengan cepat.
Ia begitu syok melihat kemesraan mantan suaminya itu. Naura yang ingin bangkit dari pangkuan suaminya malah dipeluk erat oleh Tuan Reno hingga membuatnya hanya menuruti suaminya tanpa peduli dengan kehadiran Maya.
"Cih!" Kamu bahkan tidak pernah memperlakukan aku semesra itu selama lima tahun pernikahan kita.
Tapi dengan di wanita ini mantan dari istri selingkuhan ku kamu seperti lem perekat." Sindir Maya sinis sambil bersedekap.
Alih-alih menjawab perkataan mantan istrinya, Reno malah menekan tengkuk Naura untuk memagut bibir ranum Naura dengan lembut.
Naura membalas ciuman suaminya makin lebih panas membuat Maya makin murka.
Keduanya tidak menganggap kehadiran Maya.
__ADS_1
"Kalian sangat menjijikkan." Ucapnya lalu segera meninggalkan lagi ruang kerja Tuan Reno dengan nafasnya yang tersengal.
"Mas Reno!"
"Hmm!"
"Kenapa kamu tidak menyapa Maya?"
"Mana orangnya?" Aku tidak melihatnya."
"Mengapa kamu ingin membalasnya dengan mencium ku di depannya?"
"Apa yang ingin kamu debatkan?" Sementara aku sendiri sudah menganggapnya tidak ada." Tuan Reno kembali mencium belahan dada istrinya dan tidak peduli dengan kecemasan Naura.
"Ini sangat wangi sayang. Otakku jadi segar lagi."
"Sebaiknya kita pulang sayang!" Jangan melakukan hubungan percintaan di sini." Pinta Naura yang tidak ingin kebablasan dengan tingkah suaminya yang sudah terbakar birahi.
"Baiklah, kita pulang."
Tuan Reno melingkari tangannya ke pinggang istrinya dan langsung masuk ke lift basemen.
"Kenapa kita tidak melewati loby?" Ini mau ke arah mana?"
"Basemen." Tapi mobilku di depan gedung ini."
"Tapi..?"
Tuan Reno menghentikan langkahnya lalu menatap Naura dengan wajah kelam.
"Apakah kamu ingin tebar pesona di sini?" Dengan penampilanmu seperti ini." Sindir Tuan Reno sinis.
"Maksudku tidak begitu, tapi aku..?"
"Masuk dan tundukkan kepalamu!" Tuan Reno menahan kepala istrinya agar tidak terbentur pintu body mobil.
"Kau ini selalu saja memaksakan kehendak mu, heran deh." Omel Naura.
...----------------...
Tuan Reno memarkirkan mobilnya didepan restoran mewah langganannya. Naura berjalan terlebih dahulu menuju restoran tanpa menunggu sang suami.
Para pengunjung restoran siang itu banyak pengusaha muda seperti Reno berkumpul di salah satu meja panjang sedang memperhatikan wajah cantik Naura yang berjalan dengan anggun mencari tempat untuk mereka duduk.
__ADS_1
"Wah, boleh juga tuh cewek." Ujar salah satu dari mereka sambil menikmati kecantikan Naura.
Naura yang sibuk memperhatikan menu makanan yang ingin dipesannya tidak menggubris sama sekali ucapan nyeleneh dari para lelaki yang ada di meja sebrang.
Diantara mereka ada yang nekat mendekati Naura ingin berkenalan langsung dengan Naura. Sementara Tuan Reno yang sedang menghubungi asistennya Wisnu nampak tercekat melihat gelagat pengunjung restoran itu yang berani mendekati istrinya.
"Selamat siang Nona!" Apakah aku boleh duduk di sini?" Tanya seorang pria tampan berwajah oriental menyapa Naura dengan lembut.
"Apakah ada masalah dengan istriku tuan?" Tanya Reno dengan menahan amarah yang sudah mengubun.
Naura yang baru mau mendamprat lelaki yang nekat menggodanya, hendak bicara tapi sudah keduluan suaminya yang mendamprat lelaki Chinese itu.
Seketika lelaki Chinese itu berbalik dan memohon maaf pada Tuan Reno yang menatapnya tidak suka.
"Kamu ingin menggoda istriku?"
"Mohon maaf tuan!" Saya pikir gadis cantik ini masih singel." Ucapnya sambil menghindari Tuan Reno yang ingin menarik krah bajunya.
Kini mata tajam itu beralih ke Naura yang terlihat bingung menatap wajah suaminya yang seakan sedang mengadilinya saat ini.
"Duduklah mas Reno!" Banyak pasang mata yang melihat kita saat ini.
"Tidak!"
Kita akan pindah ke restoran lain. Aura disini sudah tidak nyaman untuk kita menikmati makan siang." Tuan Reno menarik pergelangan tangan Naura dan keluar dari restoran favorit mereka.
Ketika melintasi lagi meja para pengunjung yang rata-rata lelaki, ada yang nyeletuk pada Tuan Reno.
"Jika aku punya istri secantik itu, aku akan mengurungnya dikamar dan tidak akan memamerkannya di depan umum." Ledek orang itu membuat Tuan Reno Reno berbalik untuk melayangkan bogem mentahnya namun sudah dihalangi teman-teman mereka.
"Santai Tuan, apa yang dikatakan oleh temanku ada benarnya. Istrimu terlalu berharga untuk dibawa keluar rumah." Ucap temannya yang menahan tubuh Tuan Reno.
"Mas Reno!" Ayo kita pulang sayang!" Jangan meladeni ocehan tidak penting." Ujar Naura dengan tubuh bergetar.
Tidak lama kemudian tiga orang anak buahnya Tuan Reno mendatangi restoran itu.
Tuan Reno langsung keluar saat melihat anak buahnya.
"Bereskan mereka!" Titahnya. sambil merangkul pundak istrinya dengan berjalan cepat menuju mobil mereka.
"Siap bos!" Ucap ketiga langsung menunduk.
Di mobil, Tuan Reno mengamuk dengan Naura yang tidak sabaran menunggunya masuk bersama ke dalam restoran.
__ADS_1
"Apakah kamu selapar itu, hingga tidak bisa menungguku sesaat saja?" Lihatlah dirimu kamu bahkan menjadi tontonan mereka karena kamu juga sengaja mencuri perhatian mereka untuk menatap dirimu." Umpat Tuan Reno makin kesal.
"Mas Reno!" Apa yang terjadi kepadamu?" Mengapa lisanmu begitu ringan merendahkan aku seperti itu?" Ucap Naura dengan wajah sendu.