
Tingkah Suster yang terlihat gugup membuat pak Indarto beserta istri nampak gusar menunggu jawaban darinya.
"Suster!" Kenapa diam?" Apakah ada masalah?"
"Maaf Pak!" Sepertinya putri bapak memang tertukar tapi bayi bapak tidak bertahan hidup dan meninggal karena keracunan ketuban." Ujar Suster itu spontan untuk menutupi rahasia besar rumah sakit ini.
"Apa..?" Jadi putriku meninggal beberapa hari setelah dilahirkan?" Tanya ibu Rukmini makin syok.
"Iya ibu!" Maafkan kami karena berita yang menyakitkan ini."
"Lantas siapa ibu dari bayi yang tertukar itu?"
"Sepertinya ibu itu tidak memiliki suami, kemungkinan besar dia melahirkan putrinya karena hamil diluar nikah." Suster itu makin berbohong tentang status orangtua kandungnya Naura.
"Apa..jadi putri yang selama ini aku rawat adalah putri hasil dari..oh!" Pak Indarto memegang dadanya yang terasa sakit dan istrinya ibu Rukmini mengajak suaminya untuk pulang karena data dari ibu kandungnya Naura tidak jelas tempat tinggalnya.
Sepeninggalnya kedua orangtuanya Naura, Suster Riska langsung menemui CEO rumah sakit itu.
Tok....tok..tok..
Ceklek..
"Ada apa Suster Riska?"
"Maaf dokter Ambar!" Saya baru bicara dengan kedua orangtuanya bayi yang mengklaim bahwa bayi mereka tertukar dua puluh tiga tahun yang lalu di rumah sakit ini."
"Lalu..?"
"Ternyata bayi mereka benar-benar tertukar setelah putri mereka itu mengalami musibah. Mereka baru ketahuan saat putrinya melahirkan bayinya di Jakarta dan mengalami pendarahan.
Karena kurangnya pasokan darah langkah yang dimiliki rumah sakit itu, dokter meminta orangtuanya mendonorkan darah untuk putri mereka dan setelah mengetahuinya bahwa tidak ada kecocokan darah mereka dengan putrinya, mereka langsung ke rumah sakit ini, untuk mencari tahu kejelasan ibu kandungnya putri dari pasien itu."
"Apakah kamu sudah menyelesaikannya?" Apakah mereka menuntut rumah sakit kita?"
"Bukan itu masalahnya dokter!"
"Lantas apa, hmm?" Tanya dokter Ambar sambil menaikkan satu alisnya.
"Alasannya sudah saya kirim ke email dokter Ambar tentang identitas ibu kandungnya bayi yang tertukar itu, silahkan diperiksa, dokter Ambar!" Pinta suster Riska yang merupakan Suster senior dirumah sakit itu.
Suster Riska adalah suster senior di rumah sakit Cinta Ibu. Kini usianya cukup tua yang tidak memungkinkan ia bertugas menjadi suster jaga di bagian pasien lagi. Maka dari itu, atas kebijakan rumah sakit itu, suster Riska ditempatkan dibagian arsip rumah sakit tersebut.
Dokter Ambar segera membuka email-nya. Betapa kagetnya dokter Ambar membaca identitas ibu kandungnya Naura yang ternyata seorang putri bangsawan keraton Yogyakarta.
"Tidak..tidak..ini tidak mungkin!" Kita sudah membuat kesalahan besar seperti ini. Rumah sakit ini bakalan ditutup oleh penguasa tanah Jogjakarta, kalau tahu putri kandungnya tertukar saat dilahirkan.
"Siapa dokter dan suster yang telah membuat kecerobohan ini?" Apakah ada di arsip ini?" Tanya dokter Ambar ketakutan.
"Sudah saya kirim semua petugas medis yang menangani persalinan lima ibu yang melahirkan malam itu dokter, khususnya empat orang Suster dan dua dokter." Ujar suster Riska.
__ADS_1
"Pasti ini ulah suster karena tidak mungkin dokter Eka dan Andien melakukan kecerobohan dengan menukar bayi itu." Ucap dokter Ambar murka mengetahui kejadian itu.
Suster Riska membantu dokter Ambar membuka nama suster yang saat itu sedang bertugas di email miliknya.
"Ini nama susternya dokter!"
"Siapa?"
"Suster Irma, Latifah, Hanum dan Wiwin."
"Apakah mereka masih aktif di sini?"
"Masih dokter!"
"Panggilkan dokter Andien, dokter Eka dan keempat suster itu menghadap saya!" Titah dokter Ambar sambil menggebrak mejanya.
...----------------...
Di kamar inap VVIP milik Naura, gadis ini baru menyadari ada sesuatu yang hilang dari hatinya. Ia baru ingat bahwa sudah dua hari ini, belum melihat kedua orangtuanya.
"Mas Reno!"
"Iya sayang?"
"Di mana ayah dan ibu?" Dari kemarin aku belum melihat mereka sama sekali." Tanya Naura heran.
Tuan Reno gugup menjawab pertanyaan istrinya. Ia pun diam sesaat sambil memotong apel untuk Naura.
"Apakah tidak bisa menungguku sadar sebentar saja baru mereka bisa pulang?" Tanya Naura sambil cemberut.
"Sayang!" Yang penting mereka sudah mengetahui kamu dan bayi kita selamat dari proses persalinan mu."
"Iya, aku tahu itu mas, tapi aku seperti bukan anak kandung mereka saja. Masa beda perlakuannya antara aku dan Affan, Abimanyu. Aku juga anak kandung mereka, bukan anak pungut." Naura ngambek.
Glekk.....
"Astaga!" Kamu bicara apa sih?" Ini semua terjadi karena keadaan yang memaksa mereka harus segera pulang kampung. Kenapa tiba-tiba omongan kamu jadi ngelantur begitu, sayang?"
"Yah, jelas saja aku marah, aku ini berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan cucu kandungnya mereka yang sedari dulu mereka harapkan agar aku bisa hamil, tapi sekarang setelah aku lahir cucu mereka, malah aku ditinggal begitu saja.
Mana ada perlakuan orangtua kandung seperti itu pada anak kandungnya.
Apakah aku beneran anak pungut atau anak tertukar di rumah sakit seperti ledekan teman-teman sekolahku yang selalu membedakan wajahku dengan ayah dan ibu?" Sangkal Naura.
Deggg...
Lagi-lagi Tuan Reno makin terperanjat mendengar penuturan istrinya seolah sudah mengetahui apa yang bakalan terjadi nantinya.
Tuan Reno menyentil bibir bawah istrinya.
__ADS_1
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh!" Sebaiknya pikirkan aku dan anakmu saja." Ucap Tuan Reno membungkam mulut istrinya.
"Sakit mas Reno!"
"Makanya diam atau aku mencium mu."
"Jangan!" Aku baru saja melahirkan."
Di rumah sakit Cinta ibu Jogjakarta, keempat suster dan dua dokter yang dipanggil dokter Ambar sudah menghadap dokter Ambar.
"Ada apa dokter?" Mengapa anda memanggil kami ke sini?"
"Apakah kalian yang bertugas jaga saat malam lebaran dua puluh tiga tahun yang lalu?" Tanya dokter Ambar sambil menyebutkan jadwal pastinya.
"Benar dokter. Lantas apakah ada masalah?" Tanya dokter Eka.
"Apakah kalian tahu bahwa dua bayi perempuan milik nyonya Rukmini dan nyonya Lira tertukar usai dilahirkan?"
Degggg.. .
Mereka berenam saling berpandangan satu sama lain. Dan saling melempar tanggung jawab.
"Siapa suster yang bertugas memasangkan nama ibu bayi pada pergelangan tangan kedua bayi perempuan itu?" Tanya dokter Ambar.
"Suster Latifah dan suster Hanum!" Ucap dokter Andien.
Dokter Ambar mengalihkan perhatiannya kepada kedua Suster itu.
"Apakah kalian sengaja melakukannya pertukaran nama ibu bayi itu?"
"Tidak dokter Ambar. Saya sudah melaksanan tugas saya dengan baik dan teliti. Saya tidak mungkin melakukan kecerobohan itu." Ucap suster Hanum.
Suster Latifah juga menolak tuduhan itu. Ia tidak terima jika dirinya disalahkan dalam hal ini.
Suster Irma mengingat sesuatu di mana ia baru membaringkan dua bayi laki-laki di boks bayi saat itu, ia melihat seorang bocah yang masuk ke ruang bayi itu.
"Sebentar dokter Ambar. Saya baru ingat sekarang, kalau saat itu ada seorang bocah laki-laki yang berusia sekitar empat atau lima tahun. Yang menarik gelang tangan kedua bayi itu dan juga nama ibu yang di pasangkan di boks bayi terjatuh di bawahnya.
Karena masing-masing nama itu jatuh dibawah boks itu, saya kemudian memasangkannya lagi, tapi saya tidak tahu kalau nama itu sudah tertukar." Ucap suster Irma.
Semuanya tercengang mendengar cerita Suster Irma.
"Astaga!" Suster Irmaaa! mengapa kamu baru mengatakannya sekarang?" Bagaimana mungkin bocah itu masuk di ruang bayi pukul satu pagi?" Geram dokter Ambar.
"Tapi saat itu saya mengantarkan bocah lelaki itu ke ayahnya. Rupanya mereka sedang mudik lebaran dan istrinya mengalami keram perut karena kelamaan berada di dalam mobil.
Mungkin disaat itu ibunya yang lagi hamil lima bulan sedang memeriksa kandungannya di ruang IGD bersama suaminya dan bocah itu terlepas dari pengawasan kedua orangtuanya, hingga akhirnya ia masuk ke kamar bayi itu." Lanjut Suster Irma.
Tampilan Nauraa
__ADS_1