Cinta Di Balik Pengkhianatan

Cinta Di Balik Pengkhianatan
80. PANIK


__ADS_3

Tuan Reno yang belum sempat memberitahu keluarganya tentang kelahiran bayi keduanya membuat keluarga saat ini sangat panik.


Masalahnya berita yang belum jelas kebenarannya sudah menjadi tranding topik siang itu, di mana Tuan Reno dan Naura terlibat dalam percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh Maya mantan istrinya Tuan Reno.


"Ya Allah, bagaimana dengan nasib Naura?" Tanya nyonya Nunung yang kuatir dengan menantunya yang saat ini sedang hamil tua.


"Ayah heran dengan Reno, kenapa situasi lagi kacau seperti ini malah anak itu tidak mengaktifkan ponselnya?" Gerutu Tuan Syahrul.


"Apakah jangan-jangan? Putriku saat ini sudah melahirkan?" Ucap nyonya Lira yang sudah berada di besannya ketika mengetahui ada kecelakaan yang menimpa putri dan menantunya.


"Daripada menunggu mereka yang tentu pulang lebih baik kita langsung ke rumah sakit." Ujar tuan Brotoseno yang sudah tidak sabar menunggu.


"Itu lebih baik sayang, aku setuju denganmu." Timpal nyonya Lira.


Tidak lama ponsel tuan Sahrul berdering. Ayah dari Tuan Reno ini segera menjawab panggilan putranya.


"Assalamualaikum ayah!"


"Waalaikumuslam Reno! Di mana kalian?"


"Reno di rumah sakit ayah. Saat ini Naura sudah melahirkan bayi perempuan." Ujar Tuan Reno.


"Apa...? menantuku sudah melahirkan bayi perempuan?" Tuan Syahrul memastikan lagi pendengarannya.


"Iya ayah! Kalian mendapatkan lagi cucu yang ke dua."


"Alhamdulillah! Kalau begitu sekarang, kami akan segera ke rumah sakit."


"Baik ayah. Kami tunggu."


Tuan Reno mengakhiri percakapannya karena ia harus mengumandangkan adzan pada putrinya yang baru saja dandan oleh susternya.


"Permisi Tuan! Ini putrinya," Ucap suster Meilani seraya menyerahkan baby Mikaila pada Tuan Reno yang menyambutnya dengan suka cita.


"MasyaAllah, cantiknya putriku." Puji Tuan Reno mengecup lembut pipi sang Baby yang menatapnya juga sambil memainkan bibir mungilnya.


"Oh sayang, bidadariku."


Tuan Reno mendekap putrinya dalam gendongannya. Ia berdiri menjauh dari bayi lain yang sedang tidur agar tidak terganggu saat ia mengumandangkan adzan pada putrinya.


Lantunan azan mulai mengalun merdu di kuping putrinya yang sedang menikmati suara indah ayahnya. Tapi beberapa saat Tuan Reno berhenti karena menahan tangisnya. Ia membayangkan kembali apa yang baru saja yang dialaminya pagi tadi. Jika tidak ada Dandy mungkin ia tidak bisa lagi bertemu dengan putri dan istrinya.


Tuan Reno mencoba mengusai emosinya dan meneruskan mengumandangkan adzan pada putrinya hingga selesai dan membaca Iqamah di sebelah kuping kiri putrinya.

__ADS_1


"Sayang! Tetaplah di sisi ayah hingga dewasa dan biarlah ayah yang akan meninggalkan kalian suatu saat nanti." Bisik Tuan Reno sambil berurai air mata.


Seperti ada kontak batin dengan ayahnya, Baby Mikaila malah menangis kencang.


"Kenapa sayang? apakah kamu kehilangan ayah juga? baiklah ayah tidak akan meninggalkanmu."


Sesaat bayi itu terdiam sambil menatap wajah ayahnya seakan berkata, jangan pernah tinggalkan aku ayah!"


"Reno!"


"Mami, bunda!" Sapa Reno sambil memperlihatkan wajah cantik putrinya kepada dua nenek yang sedang menatap kagum wajah cucu mereka.


"MasyaAllah cantiknya! Bagaimana bisa secantik ini?" tanya nyonya Lira yang sudah menggendong cucunya.


"Karena faktor genetik dari kedua keluarganya yang sangat kuat hingga menghasilkan secantik ini." Ujar Tuan Reno hingga membuat nenek ini terkekeh.


"Permisi Tuan! Istri anda sudah dipindahkan ke kamar inap VVIP. Bayinya juga akan di bawa serta ke kamar ibunya atas permintaan tuan Raditya." Ucap suster Rahma.


"Terimakasih Suster!"


"Ayo mami, bunda! Kita ke kamar Naura." Ajak Tuan Reno.


Keluarga itu kembali ke kamarnya Naura walaupun mereka sudah bertemu dengan ibu dua anak itu. Sementara itu di kamar inap VVIP milik Naura, Barra sedang berceloteh dengan ibunya karena ketika bangun tidur ia tidak menemukan kedua orangtuanya.


"Mama kenapa tidak mengajak Barra jalan-jalan pagi seperti Minggu kemarin?"


"Tapi, mama dan ayah hampir mendapatkan kecelakaan seperti tadi. Jika mama dan ayah mengajak Barra, kecelakaannya itu tidak akan terjadi." Ujar Barra polos.


Degggg...


"Dari mana Barra tahu ada kecelakaan?"


"Di media sudah ramai mama. Keluarga kita di sorot oleh media tapi beritanya malah tidak sesuai fakta." Ujar Barra sudah bisa kritis menyikapi berita tentang kedua orangtuanya.


"Kurangajar! Rupanya media mau bermain-main dengan nasib orang lain. Tunggu saja, aku akan menuntut media itu." Geram Naura.


Tidak lama kemudian, nyonya Lira bersama dengan besannya masuk ke kamar inap Naura. Nyonya Nunung menggendong cucunya serta. Barra melompat kegirangan saat melihat adik bayinya.


"Apakah itu adik Barra, mam?"


"Iya sayang!"


"Kenapa dia kecil sekali?"

__ADS_1


"Dulu kamu juga sekecil dirinya."


"Berarti aku dipanggil mas sama adikku?"


"Iya sayang."


"Naura! Babynya mau menyusui. Sepertinya dia haus." Ucap nyonya Nunung lalu membaringkan cucunya di sisi Naura.


Naura tersenyum melihat bayinya sangat cantik. Ia melihat ibunya yang yang sedang menatapnya.


"Bunda! Apakah wajah aku dulu mirip dengan bayiku?" Tanya Naura sambil menyusui bayinya.


"Bagaimana bunda bisa mengatakan dia mirip kamu atau tidak, kalau kamu saja sudah tertukar sejak bayi dan bunda belum sempat melihat dirimu kecuali yang bunda ingat adalah tanda lahir yang ada di tengkuk mu itu." Ucap nyonya Lira sambil melirik ke arah menantunya Reno.


Tuan Reno kembali merasa bersalah atas tindakan isengnya yang sudah menukar kartu nama ibu si bayi.


"Untung nggak dipecat jadi menantu lho mas!" Timpal Naura.


"Sumpah demi apapun tolong jangan lakukan itu bunda!" Ujar Tuan Reno ketakutan.


"Maafkan Reno bunda!"


"Tidak nak Reno, bunda sudah memaafkanmu. Bunda sudah melupakannya. Tidak ada yang perlu disesali karena semua sudah terjadi karena takdirNya. Mungkin saat bayi, kamu secantik putrimu, Naura." Ujar nyonya Lira.


Suasana terlihat tegang karena satu pertanyaan Naura membangkitkan kembali luka lama. Barra putranya terlihat bingung dengan pembicaraan orangtuanya dan Eyang putrinya.


"Ada apa ayah? bayi siapa yang tertukar?" Tanya Barra.


Semuanya baru menyadari jika Barra sudah mulai kritis dengan setiap apa yang di dengarnya.


Tuan Brotoseno mengajak cucu pertamanya untuk ke kantin bersama istrinya. Begitu pula besan mereka yang ingin memberikan kesempatan buat Tuan Reno dan Naura bisa berduaan bersama bayi mereka yang kedua.


"Naura! Apakah kamu masih hati dengan perbuatanku di masa lalu?"


"Aku ingin sekali memaki dan memukulmu, tapi sayang, Allah sudah menetapkan kamu adalah suamiku dan ayah dari kedua anak-anakku, itulah sebabnya aku menelan kecewaku dan mengembalikan rasa sakit itu pada Tuhanku." Ucap Naura.


"Kadang aku berpikir jika aku tidak menukar kamu dan Aurelia, mungkin kamu akan dinikahkan dengan Rangga sepupumu itu."


"Apakah kamu sangat takut akan hal itu? Cih! Aku saja sangat muak melihat wajahnya itu." Ucap Naura.


Cek lek...


"Assalamualaikum Naura!"

__ADS_1


Deggg...


"Kau...!"


__ADS_2