Cinta Di Balik Pengkhianatan

Cinta Di Balik Pengkhianatan
14. Lamaran Ke Dua


__ADS_3

"Mas Reno, benar-benar jahat!" Harusnya mas Reno beritahu Naura, supaya Naura tidak tersiksa dengan rindu Naura sama mas, UPS!" Naura merasa keceplosan menyatakan perasaannya pada sang kekasih.


"Tuh kan ketahuan kamu lagi kangen berat sama aku." Reno terkekeh melihat Naura sangat salah tingkah dengannya.


"Cepatlah makan, aku akan mengantarmu pulang!" Ucap Tuan Reno.


"Astaga!" Belanjaan ku," Naura baru sadar dengan tujuannya.


"Sudah diantar pulang sama Raka."


"Apaa...?" Mampus aku." Naura menepuk jidatnya dan segera angkat kaki dari restoran itu.


"Sayang, tunggu!" Kenapa terburu-buru?" Makananmu saja belum habis.


"Aku tidak mau kena semprot lagi sama ayah, ini sangat menyebalkan." Naura masuk ke lift dan hampir menabrak orang di dalam lift karena terburu-buru.


"Kamu hampir menabrak orang yang mau keluar dari lift." Omel Tuan Reno.


"Aku tahu, mas Reno akan menjagaku, jadi aku tidak perlu kuatir ditabrak orang lain." Ujar Naura seadanya.


"Kalau ada aku terus di sampingmu, bagaimana kalau aku tidak ada di sampingmu?"


"Aku tidak akan ke manapun, sampai aku memilikimu."


Deggg...


Tuan Reno merasa ucapan Naura adalah suatu bentuk tuntutan padanya.


"Baiklah. Aku akan melamarmu lagi."


"Kau...?"


"Bagaimana kalau di tolak?"


"Aku akan terus berusaha, sampai ayahmu merelakan mu untukku.


"Kamu terlalu percaya diri sekali." Ledek Naura tapi hatinya juga berharap yang sama.


Keduanya pulang dengan membawa banyak belanjaan. Naura tidak mengetahui Tuan Reno membelinya begitu banyak barang untuknya.


"Cepatlah mas!" Aku tidak mau ayah tiba sampai rumah duluan." Naura turun dari mobil dan langsung masuk ke halaman rumahnya tanpa peduli dengan Reno.


"Assalamualaikum ibu!"

__ADS_1


"Waalaikumuslam, Naura!"


Mata Naura langsung membelo melihat kedua orangtuanya yang duduk di tikar bersama sepasang suami istri yang tidak dikenalnya.


"Ini putrinya yang disukai putraku?" Apakah gadis ini yang telah banyak menderita karena ulah Maya menatuku yang tidak tahu malu itu?" Tanya Nyonya Nunung.


"I..iya nyonya!" Ucap pak Indarto dengan segala kesederhanaannya menjawab pertanyaan kedua orangtuanya Reno.


"Nak, sini sayang!" Aku datang melamarmu untuk putraku Reno.


"Hahh...!" Astaga...Naura langsung lari ke kamarnya karena sangat malu pada calon mertuanya.


Tuan Reno yang baru masuk hampir ngakak melihat tingkah Naura yang terlihat kocak.


Pak Indarto tidak bisa berkutik untuk menolak Tuan Reno masuk ke rumahnya. Ia baru tahu Tuan Reno bukan orang sembarangan karena kedua orangtuanya merupakan orang penting di negara ini.


"Begini pak Indarto, puteraku Reno sudah pernah melamar putrimu, tapi anda menolaknya karena alasan mereka berdua merupakan korban dari perselingkuhan pasangan mereka masing-masing.


"Kami merasa takdir telah mempertemukan mereka untuk memulai sesuatu yang pernah gagal dalam membina rumah tangga.


Saya yakin, dari kegagalan itu membuat keduanya belajar untuk saling membutuhkan.


Memang kami juga tidak menyalahkan hancurnya rumah tangga putra kami Reno karena mereka menikah atas perjodohan karena bisnis semata.


Sekarang masa Iddah Naura sudah berakhir, apakah boleh kami melamar putri anda untuk putra kami Reno?" Tanya Tuan Syahrul.


"Jika status Reno sudah jelas sebagai duda, saya tidak keberatan menikahkan putri saya pada putra Tuan, tapi dengan syarat, jangan pernah menyakiti hatinya lagi karena putri kami tidak pernah mempermalukan nama baik kami sebagai orangtuanya.


Kami juga tidak mau putri kami menjadi biang gosip antar tetangga setelah mengetahui dia dicampakkan oleh suaminya begitu saja.


Jika itu terjadi lagi, saya tidak akan memaafkan putra anda tuan, nyonya." Ucap pak Indarto dengan tegas.


"Baiklah. Kami orangtuanya sebagai penjaminnya pak Indarto. Kami sendiri yang akan menghukum putra kami jika dia menyia-nyiakan putri anda." Ucap Nyonya Nunung.


Keluarga itu mulai bicara serius untuk menentukan tanggal pernikahan keduanya.


Naura dipanggil lagi oleh ibunya untuk melakukan pemasangan cincin sebagai pertunangan.


"Tiga bulan lagi, kedua anak kita akan menikah. Semoga ke depannya tidak ada kendala sama sekali, aamiin." Ucap mereka serentak ketika mendengar doa pak Syahrul.


Ketiga anak buah Reno mengeluarkan belanjaan milik Naura dan juga barang hantaran lamaran dari mobil kedua orangtuanya Tuan Reno.


Naura masih bingung dengan kejadian hari ini yang terkesan mendadak dan tidak terduga sama sekali.

__ADS_1


"Ya Allah, apakah aku sedang bermimpi saat ini?" Tanya Naura dalam diamnya sambil melirik sang kekasih.


Kedua keluarga itu saling berpamitan lalu meninggalkan rumah itu untuk kembali ke Jakarta. Tapi tidak dengan Tuan Reno yang masih tinggal di rumah yang sudah ia bangun untuk kedua calon mertuanya di desa tetangga.


Tuan Reno meminta ijin kepada ayah Naura untuk bicara dengan Naura sebentar. Keduanya keluar lagi untuk ngobrol tentang rencana pernikahan mereka.


"Mengapa mas Reno tidak bilang kepadaku kalau kedua orangtuanya mas mau datang melamarku?" Aku sangat malu dan gugup tadi."


"Aku juga tidak tahu mereka akan datang secepat itu setelah aku menyampaikan masalahku yang tidak mendapatkan restu dari ayahmu." Ucap Tuan Reno bohong.


Ia sudah menyiapkan semuanya bersama kedua orangtuanya untuk melamar kekasihnya karena tidak kuat berpisah lama dengan Naura.


"Ya Allah, perasaan aku baru menikah kemarin, terus bercerai dan sekarang belum lama menyandang status janda sudah datang lagi yang melamar aku, nasibku sungguh beruntung." Ucap Naura.


"Kamu pantas untuk bahagia sayang dan aku harap selama menunggu proses persiapan pernikahan kita, tolong jangan pergi ke manapun tanpa ijin ku karena sekarang kamu sudah milikku saat ini." Ucap Tuan Reno.


"Tapi, katamu aku harus kuliah atau kursus, bagaimana aku akan melakukannya kalau aku dilarang?" Ledek Naura.


"Nanti saja kamu kuliah di Jakarta." Ucap Tuan Reno.


"Benarkah?"


"Iya sayang, kamu harus cerdas karena kamu akan mendidik anak-anak kita nanti." Ucap Tuan Reno.


"Siap Tuan Reno!" Naura terkekeh lalu keduanya kembali ke rumah Naura.


...----------------...


Keesokan harinya, Tuan Reno datang lagi untuk menjemput keluarga calon istrinya untuk pindah rumah yang sudah rapi saat ini.


"Ayah dan ibu tidak perlu membawa barang kalian kecuali yang tidak bisa kalian tinggalkan karena semuanya sudah Reno siapkan." Ucap Reno.


"Tapi nak, Reno. Barangnya mau di ke manakan?" Tanya ibunya Naura.


"Kasih saja buat tetangga yang membutuhkan." Ucap Tuan Reno.


"Baiklah. Terimakasih nak Reno!"


Mereka segera berangkat ke rumah yang baru. Para tetangga sibuk bergosip tentang calon suami barunya Naura.


"Sombongnya ampun deh, baru saja jadi janda sudah dapat pancingan baru, anakku saja yang masih perawan nggak laku-laku." Keluh tetangga Naura.


"Nanti juga paling diceraikan lagi, Naura itu menang tampang doang, otaknya kosong." Mereka kemudian terkekeh bersama.

__ADS_1


__ADS_2