
Setelah proses pemakaman almarhum Aurelia, Tuan Reno dan Naura kembali ke Jakarta bersama kedua orangtuanya, nyonya Lira dan tuan Brotoseno.
Tuan Reno berjanji akan mengambil lagi kedua anaknya Aurelia dari kekasihnya Aurelia untuk diserahkan hak asuhnya pada ibu kandungnya Aurelia yaitu ibu Rukmini.
"Reno, ibu mohon untuk memenangkan hak asuh kedua cucu ibu dari Aurelia." Pinta ibu Rukmini yang masih saja mengiba pada Reno yang punya pengaruh besar di Jakarta.
"Insya Allah Bu! kami akan mengupayakan untuk merebut hak perwalian cucu ibu melalui bantuan hukum." Ujar Tuan Reno meyakinkan ibu Rukmini.
"Terimakasih sebelumnya, nak Reno! kapan-kapan main lagi ke kampung."
"Baik Bu! Naura pulang dulu." pamit Naura setelah cipika cipiki dengan ibu angkatnya itu.
Dua mobil mewah itu kembali bergerak menuju bandara untuk kembali lagi ke Jakarta. Di dalam pesawat, Tuan Reno dan Naura merasa sangat lega. Keduanya merasa, tidak ada lagi penghalang cinta mereka setelah semua musuh sudah tersingkirkan satu demi satu.
"Mas Reno!"
"Iya sayang!"
"Semoga tidak ada ujian untuk rumah tangga kita ke depannya karena kita sudah melalui ujian yang paling berat yang kita pernah rasakan berdua." Ujar Naura.
"Aamiin ya Allah!" Ujar Reno.
"Mulai hari ini kita fokus pada niat awal kita untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Allah.
Jika banyak ujian yang pernah kita lewati bersama, anggap saja itu sebagai penggugur dosa-dosa kita. Kalau ada yang menyakitimu, jangan buru-buru emosi, siapa tahu dia akan digerakkan oleh untuk menguji kesabaran kita.
Bersyukurlah bukan kita yang dijadikan cobaan untuk orang lain." Ujar Tuan Reno bijak.
"Kadang aku lelah saat menghadapi setiap tantangan yang ada, dengan manusia-manusia yang memiliki kedengkian didalam hatinya. Seakan mereka tidak punya pekerjaaan lain selain menganggu kita." Keluh Naura.
"Sayang! JANGAN PERNAH JATUH DAN TERANTUK, DENGAN TERBENTUR KAU AKAN TERBENTUK." Ujar Tuan Reno menyemangati isterinya.
"Weh, hebat! Suamiku sekarang makin hebat dalam menyikapi hidup." Puji Naura.
"Karena mereka sudah memaksaku untuk terus berpikir keras dan kuat berdoa untuk bisa mendapatkan solusi dari setiap permasalahan yang terjadi.
Jika kita hanya diam dan menyerah, bukan tidak mungkin musuh yang akan menang dan tertawa di atas penderitaan mu, dan aku tidak akan memberi cela untuk mereka merasa bisa mengalahkan aku.
__ADS_1
Jika aku sudah sangat mencintai seseorang, bagaimanapun sakitnya yang akan aku lalui, aku harus bisa keluar jadi pemenang. Mengalah bukan berarti kalah walaupun kebenaran selalu di kalahkan dengan kebohongan seseorang untuk mendapatkan pengakuan." Imbuh Tuan Reno.
"Berarti kita harus bisa menyikapi hidup walaupun tidak peduli seberapa besar perjuangan kita untuk bisa mempertahankan milik kita? seperti itukah inti dari kehidupan ini?"
"Iya sayang! Hanya kekuatan cinta dari dua hati yang tulus mencintai akan menjadi pemenang kecuali salah satu pasangan tidak bisa menentukan pilihannya, dan membiarkan pasangannya berjuang sendiri, itu sangat melelahkan." Timpal Tuan Reno.
"Intinya, kepercayaan itu penting dalam membangun rumah tangga dan memastikan tidak ada pengkhianatan di dalam rumah tangga, maka kebahagiaan itu baru bisa kita rasakan seutuhnya." Imbuh Naura.
"Hebat! Istriku makin dewasa dalam berpikir tidak lagi seperti Naura tujuh tahun yang lalu yang aku temui." Ledek Tuan Reno sambil mengusap kepala istrinya.
"Memilikimu dan dua anak kita, membuatku harus banyak belajar dan cepat tanggap atas sesuatu dan itulah yang telah membentuk kepribadianku menjadi lebih matang dalam berpikir. Semoga aku tidak tampil malu-maluin seperti dulu ya mas Reno." Ujar Naura sambil merebahkan kepalanya di bahu sang suami.
"Aku yakin kamu bisa berubah seiringnya waktu, sayang dan sekarang aku sudah menuai hasil dari buah kesabaran ku untuk melihatmu bangkit dari keterpurukan karena pengkhianatan cinta."
"Takdir memang kejam, tapi jika disikapi dengan bijak dengan ilmu yang kita miliki, justru merubah stigma buruk pada takdir itu sendiri." Ujar Naura.
"Terimakasih sayang! sudah mau berubah menjadi wanita dewasa dengan gaya pemikiran yang memiliki intelektual tinggi. Aku bangga padamu Naura."
Tuan Reno mengecup bibir lembut sang istri.
...----------------...
Lima tahun kemudian sejak kematian Aurelia, Tuan Reno berhasil mendapatkan hak asuh kedua anaknya Aurel dari kekasihnya karena mereka tidak memiliki ikatan pernikahan sah.
Itu berarti, kedua anak itu milik ibu kandungnya. Ibu Rukmini sangat bahagia mendapatkan kedua cucunya yang kini sudah memasuki usia sekolah sekolah dasar.
Sementara kedua anaknya pasutri Tuan Reno dan Naura juga kini sudah besar. Barra berusia dua belas tahun dan adiknya berusia kurang lebih enam tahun.
Karena sekarang sudah memasuki musim libur panjang, Barra meminta hadiah untuk jalan-jalan keluar negeri.
"Ayah! Barra ingin melihat salju dan juga mau bermain salju." Pinta Barra manja.
"Astaga! Dulu mamamu sedang mengandung mu, dia ingin sekali melihat salju dan sekarang kamu juga ingin melihat salju.
Apakah tidak ada hal lain yang kamu inginkan sayang?" Tanya Tuan Reno yang ingin mengubah permintaan anaknya Barra.
"Kalau minta mobil mewah itu tidak sesuai dengan usiaku dan dan aku belum membutuhkannya ayah." Ujar Barra cuek.
__ADS_1
"Iya juga sih." Timpal Tuan Reno.
"Cih! Putramu minta hal yang sederhana saja kamu protes, bagaimana suruh tinggal do negeri awan." Ujar Naura sambil menyisir rambut panjang Mikaila.
"Ayah, Mikaila mau minta adik bayi!" Ujar Mikaila dengan polosnya.
Tuan Reno langsung sumringah mendengar permintaan putrinya.
"Kalau itu gampang sayang! Tapi prosesnya tunggu sampai setahun." Ujar Tuan Reno asal.
"Hussst!" Bentak Naura kesal.
"Baiklah. Insya Allah, kita akan berlibur ke negara Eropa dan pulang sudah dapat adik bayi." Ujar Tuan Reno praktis.
"Horeeeee! kita keliling Eropa." Ujar kedua anaknya sambil meloncat kegirangan.
Tuan Reno dan Naura terkekeh melihat tingkah kedua anaknya.
"Benar juga Mikaila, kalau ada adiknya rumah kita akan semakin ramai. Ayo kita buat pesanan Mikaila!" Goda Tuan Reno langsung mendapat cubitan dari istrinya.
"Ampun...ampun sayang!" Ujar Tuan Reno langsung menggendong Naura.
"Ayah mau ke mana sama mama?" Tanya Mikaila.
"Mama lagi masuk angin, ayah pijitin mama dulu ya." Ujar Tuan Reno memberi alasan.
"Apaan sih Mas Reno!" Ujar Naura dengan wajah bersemu merah.
"Aku ingin mengabulkan permintaan putriku."
Keduanya sudah berada di dalam kamar. Tuan Reno sudah melabuhkan kerinduannya pada tubuh sang istri. Saling memberikan rangsangan melalui pemanasan awal membuat keduanya lebih semangat melakukan percintaan panas mereka.
Suara lenguhan panjang dan erangan erotis menggema di kamar yang sudah terpasang kedap suara itu hingga kedua anak mereka asyik bermain ponselnya tanpa ingin menganggu aktivitas kedua orangtuanya.
Tamat..
Terimakasih atas dukungan, makian, pujian dan celaan untuk karya novel ini. Bagi yang selalu mendukungku terimakasih untuk kalian! salam sukses selalu.
__ADS_1