Cinta Di Balik Pengkhianatan

Cinta Di Balik Pengkhianatan
74. Aksi Heroik


__ADS_3

Tuan Reno segera mencari putranya setelah mengetahui siapa yang telah membawa kabur putranya.


Ibu Nova memberanikan diri untuk ikut mencari keberadaan muridnya itu. Ia menghampiri mobil Tuan Reno yang sudah mendekati pintu gerbang sekolah.


"Tuan Reno!"


Ibu Nova mencegat mobilnya Tuan Reno dengan kedua tangannya tepat di depan mobil mewah tersebut.


Tuan Reno sempat kaget dengan menginjak rem mobilnya. Ia lalu membuka jendela mobilnya dengan sedikit mencondongkan tubuhnya keluar jendela.


"Ada apa Bu Nova?"


"Bolehkah saya ikut mobil Tuan Reno untuk mencari Barra?" Tanya Bu Nova hati-hati.


"Silahkan masuk Bu Nova!"


Bu Nova buru-buru masuk ke mobil Tuan Reno dan duduk di depan bersama Tuan Reno.


"Pasang sabuk pengamannya Bu!"


"Iya, baik!"


Bu Nova duduk dengan tenang


disampingnya Tuan Reno sambil berzikir agar Barra bisa ditemukan secepatnya.


Sementara itu Dyah mantan kekasihnya Tuan Reno mengajak Barra ke apartemen barunya. Barra yang sudah lelah setelah bermain seharian dengan Dyah tertidur di dalam mobil gadis itu.


"Aku akan mengembalikan kamu, kalau ayahmu bersedia bercinta denganku, sayang." Gumam Dyah lirih sambil menyetir mobilnya.


Sementara itu Reno meminta bantuan polisi untuk melacak mobil Dyah di sepanjang jalan protokol dengan nomor kendaraan yang terlihat di CCTV.


Gadis bodoh itu belum paham juga kalau Tuan Reno adalah orang berpengaruh di Jakarta. Hanya sekali menyampaikan permintaannya kepada aparat kepolisian, mereka akan senang hati menolong suami dari Naura itu. Tuan Reno sengaja tidak melibatkan polisi dalam kasus penculikan putranya.


Mobil milik Dyah mengarah ke area Jakarta Selatan. Lebih tepatnya mobil itu memasuki apartemen mewah. Tuan Reno menarik nafas lega. Sudah ada secercah harapan untuk bisa mendapatkan lagi putranya.


"Ibu Nova, saat aku bicara dengan gadis itu, tolong selamatkan Barra!" Pinta Tuan Reno begitu memasuki area apartemen.


"Baik Tuan Reno."

__ADS_1


"Kita tidak bisa melibatkan polisi karena akan membahayakan nyawa putraku." Ucap Tuan Reno lalu mencari tempat parkir untuk mobilnya.


"Saya akan melakukan sebaik mungkin Tuan Reno. Insya Allah kita akan berhasil menyelamatkan Barra."


"Tapi, saya akan menemui gadis gila itu duluan, ketika saya meminta ibu Nova masuk, maka masuklah."


"Siap Tuan!"


Keduanya berjalan cepat menuju apartemen itu. Setelah menyogok petugas apartemen, mereka akhirnya bisa masuk dengan menggunakan key card milik petugas apartemen mewah tersebut. Pintu lift itu tidak bisa akses orang lain kecuali yang membawa key card untuk menuju ke lantai pemilik apartemen.


Petugas Loudry yang ada di apartemen itu dilibatkan juga oleh Tuan Reno agar bisa bermain drama sedikit dengan mantan kekasihnya itu.


"Apakah ada pakaian bersih milik nona Dyah?" Tanya Reno pada bagian Loudry itu.


"Ada Tuan."


"Apakah kamu bisa menolongku?"


Tanya Tuan Reno pada wanita muda yang sedang mengemasi pakaian milik Dyah yang sudah rapi.


"Emang apa yang bisa saya bantu Tuan?"


Rina juga memiliki seorang anak laki-laki yang seumuran dengan Barra. Itulah sebabnya ia mau membantu Tuan Reno bukan karena iming-iming bayaran mahal yang ditawarkan Tuan Reno kepadanya melainkan karena nyawa seorang anak yang mencuri empatinya.


Ketiganya sudah menyusun rencana dengan matang, sebelum bergerak ke kamar Dyah. Mereka kemudian bergerak ke atas di mana Dyah sedang bersama dengan Barra yang sedang tidur.


Tuan Reno meminta Rina menekan bel kamar apartemen milik Dyah. Jika sudah dibuka gadis itu, Tuan Reno akan ikut masuk ke dalam kamar itu bersama ibu Nova.


Rina melakukan apa yang di minta Tuan Reno. Ibu dua anak ini memencet bel kamar milik Dyah dengan tetap bersikap tenang.


"Sial! Siapa lagi yang datang, menggangguku saja." Gerutu Dyah lalu keluar dari kamarnya menuju ke pintu utama.


Ia melihat seorang petugas Loudry melalui CCTV depan pintu kamarnya sambil menjinjing pakaiannya. Dyah membukakan pintu itu dengan setengah malas.


"Masuklah! Tolong sekalian rapikan seperti biasa!"


Titah Dyah sambil berjalan kembali ke kamarnya.


Rina menahan pintu itu sebentar agar Tuan Reno dan ibu Nova bisa masuk. Dyah masuk ke kamarnya dan tidur lagi di samping Barra.

__ADS_1


"Kita akan menemui ayahmu besok, sayang. Biarkan saja saat ini, ia kelimpungan mencarimu dan ibumu akan mati bersama adikmu yang masih dalam kandungannya." Ujar Dyah bermonolog.


Ketika Rina masuk ke ruang walk in closet, Tuan Reno masuk ke kamar itu, membuat Dyah segera membalikkan tubuhnya. Antara kaget dan senang bisa melihat lagi kekasihnya itu, yang sudah lama sekali ia rindukan selama sepuluh tahun terakhir ini.


"Sayang, kamu datang mencariku?" Tanya Dyah mendekati Tuan Reno, walaupun hatinya sudah curiga dengan permainan Tuan Reno yang bisa masuk ke kamar apartemennya.


"Aku datang menjemput putraku." Ucap Tuan Reno tanpa basa-basi.


"Tidak! Dia tidak akan keluar dari sini, sebelum kita bercinta. Aku ingin punya anak darimu sayang."


"Jangan mimpi! Aku tidak tertarik padamu karena aku sudah memiliki istri yang jauh lebih dari segalanya yang kamu miliki. Dia tidak murahan sepertimu." Ujar Tuan Reno sarkas hingga memancing emosi Dyah.


Dyah dengan cepat meraih pisau buah yang ada di nakas lalu mengarahkan ke tubuh Barra. Tuan Reno terperanjat melihat Dyah yang tidak main-main dengan ancamannya. Iapun segera memanggil ibu Nova yang masih berdiri didepan pintu kamar tidur Dyah.


"Ibu Nova!" Panggil Tuan Reno dengan suara lantang.


Ibu Nova segera masuk ke kamar itu. Betapa terkejutnya ibu Nova saat melihat Dyah mengancam Tuan Reno dengan mengarahkan pisau itu ke tubuh Barra.


"Jangan gila kamu Dyah!" Bentak Tuan Reno sambil mengepalkan kedua tangannya dengan mengatupkan rahangnya hingga mengeras.


Wajahnya sudah terlihat kelam ingin menyerang Dyah, namun ia juga takut pada Dyah yang bisa jadi melukai putranya.


Ibu Nova kebingungan sendiri untuk menolong Barra. Jika ia mendekati Barra maka putra Tuan Reno itu berada dalam bahaya.


"Ya Allah, berilah kami petunjuk untuk menolong anak kami yang tidak berdosa itu." Lirih ibu Nova dalam doanya.


"Sialan! ternyata kamu sudah sekongkol dengan petugas Loudry itu." Umpat Dyah sengit.


Merasa berisik, Barra akhirnya bangun juga dari tidurnya. Ia baru mengerjapkan matanya dan melihat ada ayahnya dalam pandangannya yang masih kabur.


"Ayah!"


"Sayang!" Panggil Tuan Reno dengan wajah panik.


Belum saja putra Tuan Reno ini bangkit untuk duduk, tubuhnya sudah di tarik oleh Dyah untuk dijadikan sandera.


"Ayah, Barra takut sama Tante Dyah. Tante ini sangat jahat." Ujar Barra sambil menangis.


"Jangan mendekat atau putramu akan mati!"

__ADS_1


Ancam Dyah kalap.


__ADS_2