Cinta Di Balik Pengkhianatan

Cinta Di Balik Pengkhianatan
76. WASPADA


__ADS_3

Sejak penculikan Barra yang dilakukan oleh Dyah, kini Tuan Reno dan istrinya yang menjemput putra mereka sendiri secara bergantian jika salah satu diantara mereka sangat sibuk.


Naura tidak ingin kejadian itu terulang lagi walaupun saat ini kehamilannya sudah memasuki enam bulan. Tubuhnya yang jenjang membuat perut istri Tuan Reno ini tidak begitu terlihat membesar.


Kebetulan keduanya hari itu tidak ada kesibukan, hingga bisa menjemput Barra bersama.


"Sayang. Barra pasti senang jika kita berdua yang menjemputnya." Ujar Naura.


"Tapi, nanti aku saja yang menjemputnya di depan kelas dan kamu tetap berada di dalam mobil agar bisa memberikan surprise untuknya." Ujar Tuan Reno.


"Baiklah sayang, sampaikan salam ku kepada ibu Nova." Ujar Naura.


"Hati-hati di dalam mobil dan jangan tidur. Aku hanya sebentar menjemput Barra."


"Hmm!"


Ketampanan Tuan Reno menjadi sorotan saat melewati ibu-ibu muda. Ada saja ibu-ibu ganjen yang pura-pura menanyakan kabar Naura atau kondisi Barra usai penculikan itu padahal sudah berlalu tiga bulan yang lalu.


Tuan Reno malas menanggapi ocehan ibu-ibu tersebut dan memilih mengatupkan kedua tangannya saat mereka nekat ingin menyalaminya.


Ketika Barra keluar dari kelasnya, Tuan Reno langsung menggendong putranya dan segera kabur dari kerumunan ibu-ibu.


"Ayah!"


"Hmm!"


"Sepertinya pesona ayah tidak pernah berkurang walaupun ayah akan memiliki dua anak." Puji Barra.


"Oh iya! bagaimana kamu bisa mengetahui kalau pesona ayah tidak berkurang?"


"Karena ibu teman-temanku selalu saja memuji ayah dan tak segan menitip salam untuk ayah." Ujar Barra polos.


"Mereka itu sangat membosankan. Memang kerjanya ibu-ibu itu senang bergosip. Kucing mereka lahiran saja, mereka ghibah apa lagi ayah." Ucap Tuan Reno asal.


"Tapi anehnya mereka sudah memiliki suami, kenapa mereka masih memuji ayah? apakah suami mereka tidak marah?" Tanya Barra mulai kritis.


"Mereka itu ibu-ibu sosialita yang kurang kerjaan. Dan sekarang berhentilah cerita tentang ibu-ibu itu karena mamamu bisa mengamuk kalau mengetahuinya. " Pinta Tuan Reno.


"Tapi mama tidak pernah memuji lelaki lain selain ayah." Barra masih saja mengoceh.

__ADS_1


"Karena ketampanan ayah sudah melebihi standar penilaian mamamu." Ujar Tuan Reno penuh percaya diri.


Akhirnya keduanya tiba di depan mobil mewah milik Tuan Reno di mana Naura sedang menunggu sambil memainkan ponselnya. Tuan Reno membuka pintu mobil untuk putranya dan Barra masuk dan duduk di jok belakang.


Tuan Reno menempelkan satu jarinya pada bibirnya untuk mengingatkan Barra untuk tidak membahas lagi tentang ibu-ibu temannya.


"Assalamualaikum mama!" Sapa Barra saat melihat ibunya ikut menjemputnya.


"Waalaikumuslam sayang! Bagaimana pelajarannya hari ini?"


"Alhamdulillah mama, semuanya lancar." Ujar Barra.


Tuan Reno menjalankan lagi mobilnya menuju kediaman mereka. Barra yang masih penasaran mengulangi lagi pertanyaannya.


"Mama!"


"Iya sayang!"


"Apakah ayah adalah laki-laki satu-satunya yang ada dalam hidup mama?"


Deggg...


"Kenapa anak mama sekarang jadi belajar urusan orang dewasa?" Tanya Naura sedikit menekan putranya dan itu sangat ampuh membuat Barra terdiam.


"Maafkan Barra mama." Ujar Barra terlihat menyesal.


Tuan Reno menarik nafas lega karena istrinya mampu mengendalikan putranya yang tiba-tiba jadi sangat cerewet hari ini.


"Benar juga kata orang. Mulut perempuan itu seperti silet, sekali ngomong bisa membuat orang langsung menciut jika bersinggungan dengan hal pribadi." Batin Tuan Reno.


...--------------...


Ketika tiba di mansion, rupanya ada tamu. Ternyata tamunya adalah ibu Rukmini yang saat ini sangat kangen ingin bertemu dengan putri angkatnya itu.


Barra yang baru melihat wajah orang asing sedikit mundur membuat Naura harus memberi pengertian kepada putranya.


"Ya Allah ibu! Kapan datang?"


"Barusan sayang. Eh, apakah ini cucuku Barra?" Tanya ibu Rukmini sedikit mendekati Barra yang bersembunyi dibelakang punggung Naura.

__ADS_1


"Barra, tidak apa sayang. Itu nenek Barra juga. Ayo salim!" Titah Naura membuat Barra mau tidak mau menyalami ibu angkat ibunya itu.


Nyonya Nunung menarik tangan Barra lalu mengajak cucunya untuk mengganti baju seragamnya. Dengan begitu Naura bisa mengobrol dengan ibu Rukmini yang terlihat sangat kurus saat ini.


"Ibu datang sendiri ke Jakarta? bagaimana kabar ayah dan Aurelia?"


Ibu Rukmini menarik nafas berat memikirkan keluarganya yang menjadi berantakan semenjak kehadiran Aurelie putri kandung mereka.


"Ayahmu saat ini sedang sakit-sakitan nak dan Aurelia menjadi wanita simpanan seorang pengusaha dan sudah memiliki dua anak tanpa ada ikatan pernikahan." Ujar ibu Rukmini sedih.


"Astaghfirullah! apakah karena itu ayah jatuh sakit?"


Ibu Rukmini mengangguk sambil menangis. Naura tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa mendoakan untuk kebaikan Aurelia.


"Sungguh gadis yang malang. Kenapa ia sangat bodoh merusak dirinya sendiri Bu?" Tanya Naura pemasaran.


"Karena dia tidak ingin hidup menjadi seorang wanita sederhana dan karena sudah terbiasa dengan kehidupan mewah sebelumnya yang selalu di manjakan oleh kedua orangtua kandungmu, nak." Ujar ibu Rukmini terlihat tidak berdaya karena mata batin putrinya sudah buta dengan harta dunia hingga tega menggadaikan dirinya pada lelaki yang sudah beristri.


"Ibu! ini bukan salah ibu dan ayah atas kelakuan Aurel. Dia adalah gadis dewasa yang ingin memilih jalan hidupnya sendiri sesuai yang ia inginkan. Jadi, ibu dan ayah tidak perlu memikirkan dirinya karena dia sendiri tidak menganggap kalian ada." Ujar Naura dengan pendapatnya.


"Tapi sejelek-jeleknya anak, bagi kedua orangtuanya dia tetaplah seorang anak. Tidak peduli bagaimana di tumbuh besar dengan jalan yang dipilihnya." ujar ibu Rukmini.


"Terus Naura harus bagaimana Bu? untuk menyikapi sikap Aurelia." Tanya Naura sedikit kesal dengan ibu angkatnya.


"Ibu hanya ingin curhat saja kepadamu nak. Tidak ada maksud apa-apa. Tapi ibu harap kamu harus tetap waspada pada Aurelia karena sifat buruknya itu bisa menghancurkan keluargamu."


"Insya Allah ibu, semoga Allah menghindarkan kami dari ujian lainnya dalam rumah tangga kami. Dan ibu tidak usah kuatir karena suamiku termasuk tipe setia." Ujar Naura menghibur ibu Rukmini.


"Syukurlah nak, ibu lega mendengarnya dan ibu harap kamu juga harus waspada pada putri ibu itu. Bisa jadi dia akan melukai kamu juga." Ujar Ibu Rukmini hati-hati.


"Kenapa dia harus melukai aku dan mencoba menghancurkan rumah tangga aku Bu? bukankah tadi ibu mengatakan bahwa dia sudah menjadi istri simpanan seorang pengusaha kaya?" Tanya Naura tidak mengerti.


Ibu Rukmini terlihat berpikir. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi pada Naura agar gadis ini mengerti dengan peringatan darinya. Akhirnya mau tidak mau ibu Rukmini jujur juga pada putri angkatnya itu.


"Masalahnya pengusaha kaya itu sudah mencampakkan Aurelia dan mengambil kedua anaknya." Ujar ibu Rukmini sambil menangis histeris.


Degggg...


"Astaghfirullah!"

__ADS_1


__ADS_2