
"Mas Reno!" Apakah kita tidak bisa keluar dari kamar ini?" Sudah tiga hari ini kita hanya bercinta dan bercinta, apakah tidak ada kegiatan lainnya.
Milikku sudah bengkak dan lecet, Aku mohon beri aku kesempatan untuk istirahat sejenak." Pinta Naura dengan suara manja.
Punyamu enak, makanya aku betah dan kamu sangat cantik dan se*si dilihat dari sisi manapun." Puji Tuan Reno sambil menatap tubuh istrinya yang hanya mengenakan lengerie **** yang dipilihnya untuk istrinya.
"Mas Dandy tidak pernah memujiku setinggi itu."
"Naura!!!"
Bentak Tuan Reno lalu melemparkan bantal ke wajah Naura hingga membuat gadis ini kebingungan.
"Ada apa mas?" Kenapa kamu tiba-tiba membentak ku?"
"Siapa yang mengijinkan kamu menyebutkan nama itu di depanku?" Omel Tuan Reno dengan wajahnya terlihat memerah.
Naura baru menyadari kesalahannya lalu meminta maaf kepada suaminya namun Tuan Reno masih terlihat enggan.
"Kamu mau keluar?" Sana keluar sendiri." Ucap Tuan Reno sinis.
"Aku tidak sengaja mas, aku mohon maafkan aku karena sudah salah bicara." Bujuk Naura ketakutan.
Alih-alih mau memaafkan istrinya, ia malah menarik selimut dan menutup kupingnya dengan bantal.
"Ya Allah mas, aku hanya ngomong begitu saja kamu langsung marah. Ternyata kamu sangat pemarah sekali.
Baiklah aku akan keluar sendiri tanpa kamu." Naura mengganti bajunya dengan hotpants dengan membiarkan rambutnya tergerai indah.
Iapun tidak peduli dengan suaminya yang masih ngambek. Naura mengambil tasnya lalu keluar dari resort itu.
Gadis ini ingin sekali mengunjungi pantai walaupun bisa di lihat dari kamar mereka namun itu tidak cukup memuaskan matanya karena dia ingi merasakan pasir pantai dan duduk memandangi matahari terbenam.
Naura membeli minuman dan cemilan dan duduk di bangku panjang sambil mengunyah makanannya.
Matanya tidak lepas memandang laut lepas yang menawarkan pesonanya tersendiri.
"Aku kira mas Reno lebih baik daripada mas Dandy. Mas Dandy tidak pernah membentak ku selama menikah dengannya walaupun pada akhirnya dia bersikap kasar juga padaku saat ketahuan dia selingkuh.
"Apakah pernikahanku dengan mas Reno terlalu cepat sebelum kami mengenal satu sama lain?"
__ADS_1
Ya Allah, aku sepertinya keluar dari mulut harimau dan masuk ke mulut buaya." Naura menutup wajahnya dan menangis sendirian.
Tuan Reno yang mendengar istrinya sedang bergumam sendiri merasa menyesal telah berbuat kasar pada Naura karena cemburu dengan mantan suami Naura itu.
"Sayang!" Aku minta maaf!"
Naura tersentak melihat suaminya sudah berdiri dibelakangnya.
"Ayo kita pulang!"
"Tidak!" Aku tidak mau pulang." Ucap Naura gantian ngambek.
"Sayang!" Jangan seperti itu!" Aku tadi hanya tidak suka saja kamu menyebutkan nama dia saat kita sedang ngobrol mesra berdua.
"Kamu bisa kan, bilang secara baik-baik, tidak perlu bentak seperti itu. Kamu menikahi aku karena kebutuhan sek* atau cinta sih?" Tanya Naura terdengar sinis.
"Maaf sayang, aku tadi hanya kaget saja dan tanpa sadar membentak kamu karena terbawa suasana."
"Aku hanya menyebutkan namanya mas, belum bertemu dan bicara dengannya, tapi respon begitu menakutkan seperti itu.
"Kalau tahu sifatmu posesif seperti ini, ogah aku mau nikah sama kamu." Naura bangkit dari duduknya dan meninggalkan suaminya yang terlihat makin kesal dengan ulah Naura yang sulit dibujuk.
"Naura!" Tolonglah sayang!" Aku benar-benar minta maaf, apakah kesalahanku sangat berat hingga kamu sulit memaafkan aku?" Ucap Tuan Reno di belakang punggung istrinya.
"Sepertinya pernikahan ini salah mas, dan tolong jangan dilanjutkan lagi sebelum pernikahan kita diakui negara. Aku mau kita pulang hari ini ke solo." Pinta Naura yang sulit memaafkan suaminya.
"Astaga Naura!"
Kamu kira pernikahan itu main-main, hah?" Aku harus seperti apa lagi untuk meminta maaf padamu?" Maafkan aku sayang.
Aku benar-benar minta maaf, aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Tuan Reno memeluk tubuh istrinya dengan tulus.
"Baiklah!" aku memaafkan mas. Ayo kita pulang, di sini makin dingin. Ucap Naura berjalan duluan dari suaminya.
"Aku gendong ya sayang!"
"Tidak usah!"'
Tuan Reno tidak peduli dengan penolakan istrinya, ia tetap menggendong gadis itu membuat Naura tidak bisa menolaknya lagi.
__ADS_1
Naura memeluk leher kekar suaminya. Ia sangat membenamkan wajahnya di ceruk suaminya karena tubuhnya yang terlalu tinggi.
Tuan Reno menghembuskan nafasnya lega karena istrinya ternyata bukan gadis gampangan karena sikapnya yang terlihat lembut namun sangat keras kepala.
"Kita jalan-jalan di Legian Kuta Bali, kamu mau?" Tanya Tuan Reno yang ingin menebus kesalahannya kepada Naura.
"Hmm!" Naura masih terlihat dingin pada suaminya namun Tuan Reno terlihat harus menahan diri.
Setibanya di Legian Bali, Naura melihat berbagai aksesoris cantik yang menarik perhatiannya. Apa saja dicobanya sambil mematut penampilannya didepan kaca.
Ia berdiri dengan berkacak pinggang, seakan bingung mau beli apa karena semuanya terlihat bagus.
"Apa yang kamu butuhkan sayang?" Tanya Tuan Reno sambil melihat apa saja yang pantas untuk dipakai istrinya.
"Entahlah sayang!" Semuanya terlalu bagus, aku jadi bingung memilihnya." Ucap Naura yang terlihat cepat bosan dan beralih ke tempat lain.
Baru saja kakinya ingin melangkah, ia melihat dua sosok yang tidak asing baginya sedang berpelukan mesra saling menyuap makanan yang ada di tangan mereka.
"Dasar perempuan jala*Ng!" Kemarin dia mengancamku karena masih menginginkan mas Reno dan sekarang dia sedang bermesraan dengan mantan suamiku yang menjijikkan itu.
Aku harus melabrak kedua manusia jadi-jadian itu." Marahnya sambil melangkah mendekati pasangan selingkuh itu.
Tuan Reno yang melihat Naura sedang menghampiri mantan pasangan mereka segera menarik tangan istrinya dan menutup mulutnya Naura agar tidak berteriak.
"Naura!" Ingat kita sudah bercerai dengan mereka, kamu tidak punya hak untuk melabrak mereka lagi karena kita sudah menikah." Ucap Tuan Reno menyadarkan status baru Naura.
"Tapi mas!"
"Apa?" Masih dendam karena merasa sakit hati dikhianati?"
Apakah hadirnya aku tidak cukup mengobati hatimu yang terlanjur terluka?" Tanya Tuan Reno mulai mendebat lagi istrinya.
"Tapi dia kemarin telah mengancam ku karena kamu ingin menikahi dan sekarang dia kembali lagi ke...?"
Mas Dandy mu itu?" Sinis Tuan Reno.
"Aku tidak menyebut namanya." Naura mencari jalan lain agar bisa terhindar dari dua makhluk jadi-jadian itu.
Entah mengapa hatinya masih merasakan sakit yang luar biasa. Sesuatu yang ingin dia lihat saat dia masih berstatus istri tuan Dandy dan sekarang ia mendapati dua orang itu malah sudah menjadi istri dari tuan Reno.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak ingin belanja lagi, ayo kita pulang atau kamu ingin menemui mereka berdua." Tuan Reno berlalu begitu saja dari hadapan Naura yang masih terlihat termenung.
"