
Tuan Reno yang menyambut sapaan Rangga. Ia berusaha ramah dengan sepupu istrinya ini walaupun ia harus menahan rasa cemburunya pada Rangga yang tidak pernah menyerah mengincar istrinya.
Rangga ingin menyalami Naura, namun gadis itu terlihat dingin dan lebih memilih memperhatikan bayinya.
"Selamat menjadi ayah lagi bro!" Ucap Rangga Tuan Reno.
"Naura selamat atas kelahiran putri keduanya!" Rangga menyodorkan tangannya pada Naura.
"Salah satu tanganku baru dicabut jarum infus saat persalinan tadi, aku mohon maaf tidak bisa menyalami mu." Ungkap Naura memberi alasan.
"Tidak apa Naura!"
Rangga beralih bicara dengan Tuan Reno yang mengajaknya bicara di ruang tamu yang teralih dengan brangkar Naura.
"Apakah sampai saat ini, kaku bekum menemukan seorang wanita yang bisa membuatmu jatuh cinta?" Tanya Tuan Reno.
"Sayangnya wanita yang sesuai dengan karakterku adalah istrimu, Naura. Jadi aku masih dalam masa pencarian." Ujar Rangga tanpa sungkan.
"Sampai kiamat kurang dua hari pun, tetap saja kamu tidak akan pernah bertemu dengan seorang wanita yang karakternya sama dengan istriku." Ucap Tuan Reno sarkas.
"Lebih baik aku membujang seumur hidupku." Acuh Rangga.
Tuan Reno terlihat geram dengan jawaban Rangga seakan ingin mengatakan, " Aku tunggu janda istrimu.
"Sialan!" Kamu kira aku tidak tahu maksud dari jawabanmu itu?" Umpat Tuan Reno membatin.
"Apakah kamu mau aku carikan jodoh untukmu, bro?"
"Tidak usah bro! Santai saja, aku tidak terlalu menargetkan berapa usiaku untuk menikah. Lagi pula seorang laki-laki tidak seperti perempuan yang harus memikirkan target menikah karena berhubungan dengan reproduksinya." Ujar Rangga santai.
"Benar juga sih, tapi rasanya lucu jika kita punya anak di saat sudah menjelang tua. Orang akan mengira kalau kita menggendong cucu bukan anak kita sendiri. Yang lebih menyedihkan jika anak itu sudah usia sekolah, dia akan menjadi olok-olokan temannya yang menganggap ayahnya itu adalah kakeknya." Ujar Tuan Reno menyadarkan Rangga dengan sifat cueknya.
Rangga tampak tercenung menyimak perkataan Tuan Reno padanya. Sepertinya ayah dua anak ini mengetahui niatnya untuk merebut Naura suatu hari nanti.
"Benar katamu bro. Mungkin aku harus mempertimbangkan kembali perkataanmu barusan. Tidak buruk juga sih saranmu. Terdengar logis. Thanks bro!" Ucap Rangga seraya tersenyum kecut.
"Aku sangat mencintai istriku Naura dan sebaliknya Naura, ia tidak pernah berpikir untuk menikah lagi jika suatu saat nanti aku tidak panjang umur." Ungkap Tuan Reno posesif.
"Kenapa bisa begitu?" Apakah Naura sendiri berbicara langsung padamu tentang niatnya itu?"
"Bukan niat tapi lebih tepatnya adalah janji seorang kekasih. Ia ingin kami berdua bertemu lagi nanti di surga.
__ADS_1
Di surga setiap pasangan halal yang ada di dunia akan bertemu lagi di surga. Dan insya Allah kami akan menjadi penghuni surga.. aaamiin."
"Bagaimana dengan wanita yang menikah dia sampai tiga kali selama di dunia, apakah dia akan menjadi poliandri?" Tanya Rangga penasaran.
"Tentu saja dia akan diberikan kesempatan oleh Allah, siapa suami yang ia paling cintai, tentunya pertimbangan wanita adalah lelaki yang paling sholeh menurutnya." Ujar Tuan Reno yang menjatuhkan Rangga.
"Begitu kah?"
"Itu janji Allah untuk wanita Sholehah untuk lelaki yang sangat Sholeh. Bukankah janji Allah itu adalah benar?"
"Iya juga sih apa katamu."
"Kata Allah bukan aku."
"Iya, perkataan Allah." Ujang Tuan Reno tegas.
Cek..lek
Tidak lama kemudian rombongan kedua besanan datang lagi ke kamar Naura sambil menggendong Barra yang sedang tidur dalam gendongan tuan Brotoseno.
Nyonya Lira yang melihat keponakannya itu sangat marah pada Rangga yang selalu saja muncul di setiap kesempatan.
Awalnya kedua orangtuanya Naura masih ingin menemani Naura dirumah sakit, karena melihat Rangga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang sambil mengajak Rangga ikut serta.
"Rangga! Apakah sudah lama kamu berada di sini?"
"Belum berapa lama Tante."
"Kalau begitu tolong gendong barra dan bawa ke mobil Tante karena Barra ingin menginap di rumah Tante." Titah nyonya Lira.
"Tapi saya masih...?"
"Apakah kamu tidak kasihan pada pamanmu, hah?" Sergah nyonya Lira sambil melotot.
"Ba.. Baiklah Tante!" Ucap Rangga terbata-bata.
Tuan Reno merasa lega karena satu kutu kupret bisa ia singkirkan. Sementara Naura yang sedari tadi tidak suka atas kehadiran Rangga hampir ngakak melihat wajah Rangga yang tidak suka diperintah oleh orangtuanya.
Keluarga itu saling pamit dan meninggalkan Tuan Reno dan istrinya Naura.
"Naura! Lain kali jangan terima kunjungan orang lain tanpa seijin suamimu." Sindir nyonya Lira sambil membuka pintu kamar.
__ADS_1
Wajah Rangga makin memerah di sindir oleh tantenya sendiri. Iapun menggendong Barra sambil mendengus kesal.
Nyonya Nunung yang tidak paham terlihat bingung dengan tingkah Rangga. Sepeninggalnya kedua orangtuanya Naura dan Rangga, nyonya Nunung masih kepo pada menantunya Naura.
Tuan Reno menceritakan keadaan sebenarnya pada maminya.
"Reno! Kadang lelaki seperti Rangga mencintai Naura dengan terobsesi dengan parasnya istrimu akan berbuat nekat. Jadi hati-hatilah sayang!" Ujar Nyonya Nunung yang baru mengerti arti sindiran itu.
"Iya mami! Aku paham mami!" Ujar Tuan Reno sambil melirik istrinya yang terlihat diam saja tanpa ingin menyela pembicaraan keduanya.
Sementara di mobil tuan Brotoseno, Rangga habis disemprot oleh nyonya Lira.
"Apakah kamu masih punya otak nggak Rangga?"
"Maksud Tante apa?" Tanya Rangga pura-pura tidak mengetahui omelan nyonya Lira padanya.
"Mengapa kamu begitu obsesi pada Naura? sementara kamu sangat tahu kalau putriku sudah memiliki suami dan dua orang anak."
"Tante Lira! Aku hanya menjalin silaturahim saja dengan keluarga sepupuku, apakah nggak boleh?"
"Nggak usah ngeles begitu Rangga! Tante tahu kamu ingin mendapatkan perhatian Naura dan Reno menantuku ingin sekali menghajar mu tapi karena dia memikirkan kamu adalah keponakan kami, membuatnya mengurung niatnya itu." Timpal nyonya Lira makin geram pada Rangga.
"Tuduhan Tante itu terlalu berlebihan padaku. Jangan menyalah artikan niat seseorang Tante." Sanggah Rangga yang masih berkelit dari tuduhan tantenya.
"Baiklah kalau begitu aku akan mengadukan perbuatanmu itu pada kedua orangtuamu." Ucap nyonya Lira.
"Ya Allah Tante. Kenapa jadi membesarkan masalah ini sih?! Keluh Rangga kesal.
"Kalau begitu, berhentilah menemui putriku, apa lagi memiliki niat jahat padanya!"
"Baiklah Tante! Aku tidak akan mendekatinya lagi dan aku tidak akan mengganggu rumah tangganya, tapi aku akan menunggunya hingga suatu saat ia menjadi janda." Tegas Rangga.
"Kepedean banget kamu! Emangnya kamu bakal panjang umur?" Ledek nyonya Lira.
"Kita lihat saja nanti Tante!" Ujar Rangga.
"Kita lihat saja bagaimana reaksi kedua orangtuamu kalau putranya yang tampan ini mau jadi pembinor." Ucap nyonya Lira.
Degggg...
"Kaku
__ADS_1