
Wajah Tuan Reno terlihat menegang ketika mengetahui putranya di bawa kabur oleh seseorang. Naura yang melihat perubahan ekspresi wajah suaminya mulai curiga.
Ingin rasanya ia menanyakan apa yang sedang terjadi. Namun ia harus bersabar karena ingin suaminya menyelesaikan dulu obrolannya dengan asistennya Wisnu.
Tuan Reno tidak bisa mengatakan kabar buruk ini pada istrinya di saat istrinya belum makan sedikitpun sejak tadi. Dangan hati cemas, ia berusaha tenang agar Naura makan terlebih dahulu sebelum mengatakan hal buruk pada putranya.
"Sayang! Kita makan dulu ya. Barra masih di sekolahnya karena ada eskul tambahan." Ucap Tuan Reno membohongi istrinya.
"Tumben ibu Nova tidak mengabari aku. Harusnya sebelum ada eskul tambahan, ia selalu memberitahukan kepada wali murid lewat group WA. Kenapa malah tidak ada kabar sama sekali." Lirih Naura dengan perasaan yang sedikit tidak tenang.
Walaupun begitu ia tetap menikmati spaghetti dan pizza miliknya dan milik putranya di minta untuk dibungkus.
"Sebaiknya, Barra di bawa pulang ke rumah saja, jangan lagi bawa ke sini. Kasihan putraku, pasti saat ini sangat kecapekan." Ujar Naura.
Uhuk...uhuk..
Tuan Reno akhirnya tersedak karena tidak sanggup melihat istrinya yang saat ini masih terlihat tenang sementara ia sendiri belum sanggup mengatakan kebenarannya.
Naura segera mengambilkan air mineral untuk diberikan kepada suaminya. Tuan Reno meminum setengah botol dari air mineral itu. Rasanya ia tidak bisa menelan lagi makanan itu saat ini.
Pikirannya hanya tertuju pada keselamatan putranya, namun dia juga harus bertanggungjawab pada calon bayinya yang nomor dua dengan menemani istrinya menghabiskan makanannya.
Dalam waktu sepuluh menit mereka baru menyelesaikan makanannya. Tuan Reno buru-buru mengajak istrinya meninggalkan restoran itu.
"Sayang! kamu tidak usah balik ke kantor. Cukup istirahat saja di rumah." Pinta Tuan Reno di sanggupi istrinya.
Selama hamil Naura tidak ingin menolak permintaan suaminya. Walaupun ia sendiri harus kuat menekan perasaannya. Tapi sejalannya waktu Naura sudah banyak belajar agama setiap dua kali seminggu mengikuti kajian Islam di mesjid dekat dengan kediaman suaminya.
Setibanya di mansion, Tuan Reno segera mengantar Naura ke kamarnya usai menyalami kedua orangtuanya. Wajah tegang nyonya Nunung yang sedari tadi menunggu kepulangan cucunya tidak dapat disembunyikan.
__ADS_1
Ibu mertuanya Naura ini tidak mengetahui kalau Naura sendiri sudah mengetahui putranya diculik. Ia langsung menanyakan kepada putranya begitu, Tuan Reno dan Naura baru menaiki anak tangga.
"Reno. Apakah sudah ada kabar dari Wisnu tentang cucuku Barra? Apakah mereka sudah menemukannya?" Tanya nyonya Nunung yang baru keluar dari kamarnya dengan wajah sembab.
"Hahh..?! Ada apa dengan putraku Barra, mas Reno?"
Deggggg...
Tuan Reno hanya mendengus kesal dengan mengalihkan wajahnya ke arah lain karena lupa memberi tahu maminya agar tutup mulut dulu sebelum mereka melakukan pencarian kepada Barra.
"Sayang, aku akan katakan kepadamu, tapi sebaiknya kamu ke kamar dulu. Tolong jangan panik ya! Berita ini masih belum jelas." Ujar Tuan Reno sambil menahan tubuh istrinya yang hampir limbung di tengah tangga.
Nyonya Nunung hanya bisa membekap mulutnya yang sudah salah bicara di saat Naura saat ini sedang hamil muda, yang sangat rentan terhadap sesuatu termasuk berita buruk.
Langkah Naura sudah mulai gontai. Di ajak tenang pun rasanya percuma. Ia akhirnya histeris juga mendengar putranya belum tiba di rumah dan tidak ada di sekolah.
"Sayang! aku sudah mengerahkan anak buah kita untuk mencari putra kita. Mohon doanya agar kita bisa secepatnya bertemu dengan putra kita!" Pinta Tuan Reno sambil memeluk istrinya.
"Kenapa tidak mengatakan dari tadi kalau putraku di culik?" Omel Naura dengan suara serak.
"Aku ingin kamu makan dulu dengan tenang agar yang di dalam sini, tidak ikut terganggu hilangnya abangnya." Ucap Tuan Reno sambil mengusap perut istrinya yang sudah sedikit padat walaupun belum terlihat membesar.
"Sekarang pergilah! Cari putraku sampai ketemu dan jangan pernah muncul di hadapanku selain membawa putraku kembali ke rumahku." Pinta Naura pada suaminya.
"Baiklah. Aku akan meninggalkanmu bersama mami untuk mencari putra kita sampai ketemu dan jangan melakukan kebodohan apapun karena aku tidak ingin kehilangan calon bayiku yang ada di sini!" Ancam Tuan Reno penuh penekanan pada kalimatnya.
"Jika aku mendengar putraku cepat ditemukan dalam keadaan selamat, maka aku akan menjaga diriku dengan baik, kalau tidak aku akan mati bersama dengan dia." Ancam Naura tidak kalah sengitnya.
"Baik. Aku berjanji kepadamu sayang, aku akan membawa pulang putra kita dalam keadaan selamat. Kamu harus di temani mami dan aku keluar mencari Barra."
__ADS_1
Naura mengangguk setuju sambil mengusap air matanya. Hatinya tidak bisa tenang saat ini. Ingin rasanya dia ikut mencari putranya, namun kondisinya seperti ini tidak bisa membuat dirinya harus memaksakan diri untuk mencari.
Tidak lama kemudian, nyonya Lira dan suaminya sudah datang ke rumah besannya. Ia berpapasan dengan menantunya Tuan Reno saat ingin menemui putrinya.
Tuan Reno meminta maminya dan ibu mertuanya untuk menjaga istrinya Naura di kamarnya karena takut Naura bisa saja berbuat nekat kepada dirinya sendiri jika belum ada kabar tentang putranya.
"Mami, bunda, aku mengandalkan kalian untuk menjaga istriku dan calon bayiku. Saat ini Naura syok berat. mendengar berita Barra. Aku akan mencari sendiri putraku sampai ketemu." Ucap Tuan Reno lalu meminta doa dari kedua wanita yang sangat ia cintai ini.
"Pergilah nak! Bawa pulang cucu kami dalam keadaan selamat." Pinta nyonya Lira sambil mengusap air matanya.
Tuan Reno segera berangkat menuju sekolah Barra karena ingin melihat CCTV sekolah di mana seorang wanita yang telah membawa kabur putranya.
Setibanya di sekolah putranya, kepala sekolah dan wali kelasnya ibu Nova Huge menyambut Tuan Reno dengan wajah tegang.
Yang paling terpukul saat ini adalah ibu Nova Huge yang sangat merasa bersalah karena percaya begitu saja pada wanita yang mengaku tantenya Barra.
Kini mereka memutar ulang video rekaman CCTV yang mengarah pada koridor pintu kelas Barra. Tuan Reno yang melihat wajah seorang wanita yang sangat cantik yang merupakan mantan kekasihnya sendiri.
"Sialan, ada apa dengan perempuan sialan itu? Kenapa dia datang lagi dalam hidupku setelah berusaha membunuh Barra saat masih berada di dalam kandungan istrinya selagi mereka menonton bioskop di Incheon Korea Selatan beberapa tahun yang lalu." Batin Tuan Reno.
"Apakah anda mengenal wanita ini Tuan Reno?" Tanya ibu Rabiyatul selaku kepala sekolah SDIT tersebut.
Tuan Reno mengangguk lalu mengatakan kepada guru putranya dengan berat hati.
"Dia adalah mantan kekasihku."
"Apaaaa...?!"
Pekik ibu Nova dan ibu Rabiyatul bersamaan.
__ADS_1