Cinta Di Balik Pengkhianatan

Cinta Di Balik Pengkhianatan
78. Tidak Tahu Malu!


__ADS_3

Wajah datar nyonya Lira terlihat makin sinis melihat kedatangan putri angkatnya itu.


"Hallo mami!" Sapa Aurel dengan tidak tahu malunya.


"Mau apa kamu ke sini?" Tanya nyonya Lira tidak suka.


"Wah, jadi sudah ketemu putri kandung, sekarang tidak mau lagi melihat wajah putri angkat?" Sindir Aurel sinis.


"Kalau itu benar, lantas kamu mau apa? Ini rumahku dan aku berhak menolak siapa saja tamu yang tidak aku sukai." Ujar nyonya Lira sengit.


"Mami! Naura sendiri diterima dengan baik oleh kedua orangtuaku sampai saat ini dan hubungan mereka makin harmonis walaupun mereka sudah mengetahui kalau Naura bukan putri kandung mereka. Mengapa dengan saya, mami tidak memperlakukan demikian?" Protes Aurel tidak merasa adil.


Nyonya Lira menarik sudut bibirnya dengan sedikit tawa kecil yang terukir di sudut bibirnya.


"Kau ingin samakan dirimu dengan putriku? Apakah kamu pantas di perlakukan sama seperti dirinya? jangan mimpi Aurel. Mengingat dirimu saja aku tidak sudi apa lagi menerimamu dengan baik di sini?" Sindir nyonya Lira sinis.


"Sialan! Terkutuk kalian semua!" Pekik Aurelia frustasi.


"Bunda! Sudah! Jangan di tanggapi orang seperti itu." Ujar Naura mencegah ibunya untuk bicara lagi pada Aurel.


"Pelayan! Seret wanita ini keluar dari rumahku dan pastikan dia tidak pernah lagi muncul di rumah ini walaupun hanya di didepan pintu pagar!" Titah nyonya Lira dengan wajah menyalang.


"Awas kau Lira! Aku akan membalas semua perbuatanmu padaku. Aku akan menyakiti putrimu Naura dan juga keturunanmu!" Teriak Aurel histeris.


"Dasar perempuan tidak tahu malu!" Umpat nyonya Lira untuk terakhir kalinya pada putri angkatnya itu.


Naura memeluk ibunya yang merasa sangat kecewa karena sudah membesarkan Aurel dengan didikan yang salah.


"Ini salah bunda. Jika dulu bunda tidak begitu memanjakannya gadis itu tidak akan hancur seperti itu." Ucap nyonya Lira penuh sesal.


"Bunda tidak salah. Aurel yang sudah menghancurkan hidupnya sendiri. Harusnya dia bersyukur karena sudah mendapatkan semua fasilitas dan kasih sayang dari ayah dan bunda.


Jika dia tumbuh jadi gadis pembangkang seperti itu. Berarti ayah dan bunda berlepas diri dari rusaknya moral Aurel." Ujar Naura menenangkan ibunya.


"Kita hanya dipermainkan takdir Naura. Mungkin kehadiran Aurel dalam hidup kami sebagai ujian.


Dan hidupmu di uji dengan segala keterbatasan namun kamu selalu bersyukur dan tidak menyerah hingga kita dipertemukan lagi oleh Allah." Ujar nyonya Lira.


"Bunda...!"

__ADS_1


"Iya sayang..!"


"Masuk yuk! Naura mau rehat. Pinggang Naura makin pegal." Pinta Naura manja pada ibunya.


"Ayo sayang!"


Nyonya Lira membantu putrinya untuk berdiri karena perut Naura yang sudah cukup berat untuk bisa berdiri sendiri.


"Bunda!"


"Hmm!" Apakah saat bunda hamil aku dulu, apakah sangat menyusahkan bunda?"


"Tidak juga!"


"Benarkah?"


"Iya sayang! Kamu adalah kebahagiaan kami. Saat pertama kali bunda tahu kalau bunda hamil kamu, di saat itu ayahmu seperti orang gila.


Ia setiap hari memberi sedekah kepada setiap kaum duafa yang ditemuinya di antara rumah penduduk tentunya dengan cara menyamar. Ia meminta doa dari kaum duafa itu untuk kita berdua agar selamat dan sehat saat kamu hadir di bumi.


Tapi sayang, justru kami harus membesarkan anak orang lain. Wanita tidak tahu malu itu." Ujar nyonya Lira lalu membantu putrinya berbaring di kamarnya.


Nyonya Lira mengecup kening putrinya lembut. Ia menutup pintu kamar Naura dan keluar lagi untuk meminta chef memasak makanan kesukaan Naura.


...----------------...


Di hari libur Tuan Reno yang siap menemani istrinya Naura seperti biasa berjalan kaki di sekitar taman kota. Tuan Reno mengikuti saja langkah istrinya sampai Naura sendiri yang meminta istirahat.


"Sayang!"


"Hmm!"


"Siapa nama anak ke dua kita nanti kalau dia sudah lahir?" Tanya Naura.


"Kalau perempuan nama Mikaila. Kalau laki-laki namanya Brian." Ujar Tuan Reno yang sudah memilih nama panggilan saja untuk anak keduanya.


Pasangan ini sengaja tidak melakukan USG karena tidak ingin mengetahui jenis kelamin bayi mereka. Mereka ingin mendapatkan kejutan langsung saat Naura melahirkan nanti.


"Mas!"

__ADS_1


"Aku trauma lahir di rumah sakit." Ujar Naura tiba-tiba sedih.


"Tenang saja sayang! Kali ini tidak akan terulang lagi kejadian seperti dulu saat kamu melahirkan Barra. "Ujar Tuan Reno meyakinkan istrinya.


"Tenang katamu, mas? Barra saja sudah dua kali di culik saat dia masih bayi dan saat dia sudah sekolah. Penculikan itu terjadi sudah dua kali dalam hidupnya. Sekarang kamu minta aku tenang. Yang benar saja." Ujar Naura kesal.


"Sayang! Karena sudah dua kali kita kecolongan, makanya aku sudah berkoordinasi dengan anak buahku dan juga rumah sakit milik paman Raditya untuk melakukan pengawasan ketat saat kamu melahirkan nanti." Ujar Tuan Reno tegas.


Naura terlihat masih dongkol dengan sikap suaminya yang terlihat meremehkan setiap masalah.


"Mas Reno! Kita ini tidak pernah nyakitin orang. Kenapa ada saja orang yang ingin menyakiti keluarga kita. Padahal mereka yang buat masalah, kenapa malah kesalahan mereka ditimpakan kepada kita?" Tanya Naura.


"Entahlah sayang. Sampai saat ini aku masih bingung dengan perbuatan mereka kepada hidup kita.


Mungkin mereka adalah bagian dari ujian untuk kita. Mudah-mudahan saja Allah memberi mereka hidayah dan kembali kepada ke jalan yang benar." Timpal Tuan Reno.


"Satu orang sudah di penjara yaitu mantan kekasihmu. Mungkin besok lagi siapa yang akan menyusul Dyah ke penjara." Ucap Naura.


"Hust! Hati-hati dengan perkataanmu. Setiap kata adalah doa." Sentak Tuan Reno.


"Aku sudah lelah berhadapan dengan musuh-musuh kita. Kalau bisa semua mereka mati saja di muka bumi ini." Ucap Naura terlihat masih kesal dengan ulah orang-orang yang telah mencelakai keluarganya.


Kalau doa itu yang baik-baik saja sayang, walaupun itu untuk musuh kita sendiri. Untuk urusan hukuman, cukup saja Allah sebagai pembalas sakit hati kita kepada mereka." Ucap Tuan Reno.


"Katanya doa orang teraniaya itu langsung diijabah sama Allah." Ujar Naura.


"Tapi, surga Allah itu sangat luas untuk diberikan kepada hambaNya yang mau memaafkan orang yang telah menyakiti dirinya."


"Ayo mas! Aku mau pulang. Aku kangen sama Barra." Pinta Naura.


Keduanya berjalan lagi menuju tempat parkir. Dalam beberapa menit mereka sudah berada di dalam mobil. Tuan Reno meninggalkan area parkir dekat taman kota tersebut menuju ke mansion.


Di dalam perjalanan, Naura meminta suaminya membelikan SOP buah yang di jajakan di pinggir jalan. Tuan Noah menepikan mobilnya dan meminta Naura tidak usah Turun karena ia ingin menyebrang ke tempat abang-abang gerobak itu.


Saat hendak antri di abang-abang Ada mobil sedan merah melaju dengan kencang ingin menabrak mobilnya.


"Ya Allah! Mobil itu..!" Pekik Tuan Reno saat melihat laju mobil itu sudah hampir mendekat ke arah mobilnya.


"Nauraaaaa!"

__ADS_1


__ADS_2