Cinta Di Balik Pengkhianatan

Cinta Di Balik Pengkhianatan
33. Ngambek


__ADS_3

Keduanya membisu di dalam mobil itu. Naura mengusap air matanya sambil menatap jalanan. Tuan Reno merasa menyesal karena sudah membuat istrinya tersinggung. Pria tampan ini mempercepat laju mobilnya agar cepat tiba di mansion.


"Apakah karena kecantikan Naura yang menjadi alasan Dandy tidak ingin membawanya kemanapun selain tingkah Naura yang terlihat kampungan?" Batin Tuan Reno sambil menarik nafasnya dalam.


Tidak berapa lama, mobil mewah itu sudah terparkir di depan halaman mansion.


Naura bergegas turun menuju ke kamarnya dengan menaiki anak tangga sambil berlari. Tuan Reno begitu ketakutan kalau Naura bisa terpeleset dan jatuh.


Jantungnya hampir saja meledak saat Naura hampir menabrak pelayan yang mendorong peralatan pembersih lantai berupa vakum cleaner dan beberapa cairan pengharum lantai.


"Astaga Naura!" Pelan-pelan sayang." Teriak Tuan Reno terlihat panik menghadapi Naura yang kembali lagi pada tingkah liarnya.


Naura membuka pintu kamarnya dengan kasar dan membuka sepatu lalu masuk ke dalam selimut sambil menangis kencang. Bantalnya diletakkan di atas kepalanya agar suaminya tidak menyentuh bagian kepalanya.


Tuan Reno ikut duduk disisinya sambil menatap tubuh yang terbungkus selimut itu.


Iapun ikut berbaring di samping istrinya lalu memeluk tubuh Naura dari balik selimut.


"Sayang!" Aku minta maaf karena sudah berbuat kasar kepadamu."


Tuan Reno mengangkat bantal dari kepala Naura namun ditahan gadis itu dengan kencang.


"Sayang!" Ayo kita makan!"


Apakah kamu tidak kasihan sama babynya?" Kamu boleh marah tapi harus tetap makan. Kini kamu dipercaya sebagai ibu, apakah kamu ingin mengorbankan janin mu karena Daddy nya?"


Mendengar itu Naura akhirnya bangkit dengan mata sembab sambil sesenggukan.


"Aku meminta maaf atas kesalahanku, tolong maafkan aku sayang!" Bujuk Tuan Reno hendak memeluk istrinya tapi tubuhnya di dorong oleh Naura dengan kasar.


Naura beringsut dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar menuju ruang makan.


"Bibik!" Aku mau makan!" Pinta Naura yang sudah didepan meja makan.


"Baik nona, akan bibi siapkan."


Dalam lima menit pelayan menyajikan makanan untuk pasutri ini.


Tuan Reno menatap wajah istrinya intens. Hatinya juga ikut merasa sakit saat ini karena menyakiti perasaan istrinya yang saat ini sedang mengandung anaknya.

__ADS_1


Naura terlihat tetap cemberut sambil mengunyah makanannya tanpa ingin melihat suaminya. Matanya fokus menatap makanan dan melahapnya dengan cepat hingga pipinya terlihat menggelembung seperti balon.


Tuan Reno hampir ngakak melihat tingkah Naura yang ingin menghindarinya dengan menghabiskan makanannya dengan cepat. Walaupun begitu, Naura tetap masih sangat cantik.


"Naura!" Kau bahkan tidak mirip sedikitpun dengan kedua orangtuamu, siapa sebenarnya kamu." Batin tuan Reno yang baru menyadari kalau wajah Naura tidak mengambil kemiripan dengan kedua orangtuanya.


Naura meneguk minumannya berkali-kali hingga satu teko bening itu hampir mau habis. Ketika ingin menuangkan lagi, Tuan Reno menahan teko kristal itu dengan kuat.


"Sudah cukup Naura!" Jangan pernah menyiksa dirimu karena kesal denganku!" Bentak Tuan Reno yang kembali marah pada Naura.


Naura bangkit lalu kembali lagi ke kamarnya namun dikejar oleh Tuan Reno yang tidak ingin melihat Naura menaiki anak tangga dengan cepat.


"Jangan naik ke atas di sini saja!"


"Lepaskan aku, aku ingin tidur."


"Kamu baru selesai makan, jadi jangan tidur dulu." Ayo kita kita duduk di taman atau ke kolam renang!" Tuan Reno menggendong tubuh Naura sambil berkoala.


"Bibik!" Siapkan buah dan susu ibu hamil untuk istriku."


"Baik Tuan."


Dengan sabar Tuan Reno menyuapi potongan buah untuk Naura dan gadis ini mau makan dari tangan suaminya.


Tuan Reno tersenyum lega lalu membantu Naura menghabiskan minumannya. Ia memeluk lagi istrinya dengan erat mencium ceruk leher istrinya.


"Naura sayang!"Setelah rasa syukur ku pada Allah karena dilahirkan oleh ibu terbaikku, dan kini aku sangat bersyukur kepada Allah karena telah mempertemukan kita berdua walaupun dalam momen yang sedih.


Jika dulu aku selalu ingin menghancurkan Maya dan juga mantan suamimu, justru sekarang aku berterimakasih kepada keduanya atas perbuatan laknat mereka, kita dipertemukan bahkan di persatukan oleh Allah dalam waktu singkat." Aku mencintaimu Naura, aku sangat tergila-gila kepadamu.


Naura tidak ingin membalasnya, ia lebih nyaman dengan aksi diamnya. Tuan Reno tidak mempersoalkan sikap diam istrinya.


Dengan Naura duduk dalam pangkuannya saja ia sudah senang karena saat ini ia masih merupakan mual usai makan siang. Jika mencium wangi tubuh istrinya mengurangi rasa mual yang selalu datang tiba-tiba.


"Sayang!" Maafkan aku!" Aku tidak sanggup melihat kamu didekati oleh lelaki lain kecuali orang terdekatmu.


Kamu terlalu cantik dan itu membuatku tidak ingin berbagi. Melarangmu beraktivitas atau bersosialisasi, itu juga sikap yang kejam karena kamu juga makhluk sosial yang harus membaur dengan orang lain.


Aku harus bagaimana Naura?" Menyikapi perasaan cemburuku ini padamu setiap kamu sudah keluar dari rumah."

__ADS_1


"Beri aku kesempatan dan kepercayaan untuk selalu menjaga hatiku untukmu.


Kamu sendiri yang meminta aku untuk kuliah lagi, tapi kalau sifat cemburumu lebih mendominasi akal sehatmu, bagaimana aku bisa berkembang sayang." Ucap Naura sambil menatap wajah tampan suaminya begitu dalam.


"Iya sayang!" Lakukan apapun yang kamu mau dengan penuh tanggungjawab sebagai istriku dan sebagai ibu untuk anak-anakku.


"Hah?" Anak-anak?"


"Kenapa sayang?" Apakah ucapan ku ada yang salah?"


"Salahnya di mana?"


"Coba mas Reno ulangi lagi ucapannya tadi?"


"Iya sayang!" Lakukan apapun yang kamu mau dengan penuh tanggungjawab sebagai istriku dan sebagai ibu untuk anak-anakku.


"Kata yang terakhir!"


"Anak-anakku."


"Nah, itu yang salah."


"Salah apanya?" Aku tidak menyebut anak-anakku pada wanita lainkan?"


"Masalahnya, ini baru hamil satu bayi baru tiga bulan, lahir juga belum, malah minta lagi nambah anak, yang capek aku dan tubuhku juga seperti badut nantinya dan mas Reno hanya sebagai kontribusi doang."


"Astaga, sayang!" Aku kira kesalahanku yang mana." Ujar Tuan Reno gemas.


"Makanya kalau ngomong hati-hati!" Jangan asal ngomong."


"Kamu sendiri yang bilang, wanita yang banyak anak, peluang masuk surganya lebih besar dari pada ibadah lainnya yang belum tentu terjamin ikhlas."


"Iya juga sih!" Tapi...?"


Bibir itu sudah disumpal oleh bibir sang suami. Melihat kemesraan pasutri itu semua pelayan menjauhi keduanya karena aturan dalam keluarga mereka seperti itu.


Tubuh Naura dibaringkan di kursi santai itu keduanya sudah sibuk membelit lidah mereka dengan bertukar saliva.


Tuan Reno bangkit dan menggendong lagi tubuh istrinya kembali ke kamar mereka dengan tetap berciuman.

__ADS_1


Dikamar itu mulai lagi pertempuran sengit saling menyerang dan menikmati setiap sentuhan pasangan. Rintihan kenikmatan dengan suara mendesis dari bibir Naura kala sang suami menikmati kuntum mekar miliknya yang sudah mengeluarkan sari untuk dihisap dengan gemas.


__ADS_2