Cinta Di Balik Pengkhianatan

Cinta Di Balik Pengkhianatan
47. Pengagum Rahasia


__ADS_3

Naura begitu murka melihat tampang pelayan yang merupakan putri kandungnya bibi Iyem pengasuh suaminya.


Naura begitu baik dengan gadis itu, namun melihat aksinya di dalam kamar ganti dan juga kamar pribadi suaminya membuat darah Naura berdesir mendidih.


Pelayan yang bernama Dyah memang tinggal bersama kedua orangtuanya di kediaman keluarga Tuan Reno. Gadis itu sudah tumbuh bersama dengan Tuan Reno.


Ia tidak ingin bersekolah tinggi karena ia berharap suatu saat Tuan Reno jatuh cinta kepadanya seperti yang ia bayangkan di beberapa novel yang ia baca, bahwa suatu saat nanti derajatnya akan di angkat oleh Tuan Reno.


Novel itu telah mendoktrin otaknya untuk berpikir praktis dengan tidak usah susah payah bersekolah tinggi padahal nyonya Nunung sudah siap membiayai gadis itu kuliah di perguruan tinggi yang ia sukai.


Namun sayang Dyah tidak mengambil peluang besar itu. Dia hanya ingin meminta barang-barang yang terlihat mewah yang biasa di pakai anak orang kaya tapi tidak dikabulkan oleh nyonya Nunung.


Kedudukannya di rumah besar itu sebagai penanggung jawab menyimpan pakaian yang sudah di gosok di kamar ganti milik Tuan Reno.


Karena di dalam ruang ganti itu sudah ada pakaian Naura dan kebutuhan Naura dikamar itu, membuat gadis itu mencoba semua pakaiannya Naura berserta tas dan sepatu milik istrinya Tuan Reno.


Bahkan ia tidak segan memakai lengerie milik Naura sambil melakukan mast**si di atas tempat tidur milik Tuan Reno yang sekarang sudah menjadi milik pasutri itu.


Melihat adegan panas Dyah yang sedang bersolo ria dengan miliknya sambil menyebut nama dan memandang foto pernikahan Tuan Reno dan Naura yang tergantung indah di tempat tidur.


Naura menatap wajah suaminya sambil menyipitkan mata jelinya.


"Apakah mas menyaksikan adegan itu juga?"


"Cih!" Melihat kelakuannya di ruang ganti itu saja sudah membuatku jijik apa lagi sengaja menyaksikan hal yang lebih mengerikan." Ucap Tuan Reno dengan wajah memerah menahan geram.


"Apakah selama ini dia pengagum rahasia mu?"


"Apa peduliku sama perasaan pelayan. Mereka selalu menjaga batasan mereka pada aku dan keluargaku. Dan gadis itu, ia terlihat santun dengan wajahnya yang selalu tertunduk saat bicara denganku, siapa yang menyangka dibalik keluguannya ia tidak lebih dari monster yang menakutkan." Ucap Tuan Reno sarkastik.


Naura terlihat sedih karena gadi itu sangat baik padanya ditambah lagi usianya dengan putri tunggal Bik iyem itu hampir sebaya, lebih mudah Naura tiga bulan. Sementara Naura dan Tuan Reno beda usia tujuh tahun.


"Mengapa orang selugu Dyah bisa berbuat nekat hanya untuk memuaskan ambisinya."


"Lupakan dia!" Aku akan segera meminta mami untuk memulangkan gadis itu dan keluarganya, jika dia tidak mau, aku akan melemparkannya ke penjara. Kalau tidak ingat kebaikan ibunya rasanya aku akan menenggelamkannya di laut biar di makan ikan hiu!" Ancam Tuan Reno.


"Itu hukuman aku buat si Dandy sialan itu, kenapa kamu malah ikut-ikutan?" Nggak kreatif banget." Sungut Naura.


"Entar aku buang ke jurang biar di makan belatung dan binatang liar. " Ucap Tuan Reno sambil memeluk perut buncit istrinya.


Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Apakah dia yang telah menjebakku dengan cairan pembersih lantai itu?"


"Sejauh ini, bagian Bareskrim polri masih melakukan penyelidikan."


"Apakah dengan bukti itu tidak cukup berat menjerat gadis itu dengan hukuman berat?"


"Aku tidak tega pada kedua orangtuanya Naura?" Untuk menyeret gadis itu ke penjara."


"Mas Reno lebih memikirkan perasaan kedua orangtuanya dari pada memikirkan kejahatannya yang hampir merenggut nyawaku dan bayi kita. Terserahlah. Jika gadis itu masih mengincar aku, kamu yang lebih disalahkan dalam hal ini mas.


Jangan sampai kamu menyesal dengan keputusanmu dengan memikirkan Budi baik orangtuanya. Sementara keadilan harus ditegakkan.


Rosulullah sendiri mengancam putrinya Fatimah, jika putrinya yang mencuri beliau sendiri yang akan memotong tangan putrinya. Tidak ada perkecualian putri nabi dengan umatnya jika melakukan kejahatan, hukum harus ditegakkan kita peduli status orangtuanya apa." Ucap Naura makin sewot.

__ADS_1


"Baiklah sayang!" Aku akan menegakkan keadilan demi dirimu." Timpal Tuan Reno meralatkan niatnya.


"Bukan demi aku tapi lakukan karena Allah." Balas Naura.


"Insya Allah, sayang. Tolong maafkan aku!" Tuan Reno memeluk lagi istrinya.


Tidak terasa pesawat mereka sudah tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta khusus di landasan untuk pesawat jet pribadi milik para konglomerat.


...----------------...


Dalam waktu dua jam pesawat jet sudah mendarat sempurna di bandara milik pribadi Tuan Reno.


Tuan Reno yang turun lebih dulu sebelum Naura. Rupanya kepulangan mereka di sambut oleh hujan deras. Pramugari memberikan payung pada Tuan Reno tapi payung itu direbut oleh Naura sebelum sampai ke tangan suaminya.


Tuan Reno hanya menahan tawanya melihat tingkah Naura yang sangat posesif terhadap dirinya.


"Pelan-pelan sayang, turunnya. Tangganya agak licin."


Keduanya sudah turun dan dibawah payung, keduanya mempercepat langkah mereka menuju tempat parkir mobil yang sengaja ditinggalkan Wisnu dekat hanggar pesawat. Mobil langsung di nyalakan Tuan Reno dari jauh.


"Sayang tunggu di sini aku ambil mobi dulu, biar kamu tidak usah jalan ke sana ditengah hujan karena jalan sedikit licin."


Naura mencari tempat berteduh yang sedikit menjauh dari percikan air hujan sambil melihat Tuan Reno yang sedang berjalan di tempat parkir mobil. Tuan Reno sudah berada di dalam mobil siap menjemput Naura.


Keduanya sudah berada dalam mobil dengan baju yang sedikit basah. Tuan Reno mengambil jasnya yang slalu di gantung di dalam mobil, ia menutup tubuh Naura dengan jasnya. Mobil itu mulai bergerak meninggalkan bandara.


"Sayang kita kembali ke apartemen saja, ya!" Pinta Naura yang masih trauma berada di mansion mertuanya.


"Jangan terlalu paranoid begitu Naura, kamu tetap diawasi oleh kami semua termasuk aku."


"Iya cintaku... ihh," ucap Tuan Reno sambil memencet hidung Naura gemas.


Naura malah meremas senjata Laras panjang milik suaminya, membuat Tuan Reno tersentak.


"Sayang, aku lagi nyetir, nanti kita bisa kecelakaan sayang."


"Kamu sudah mencelakai aku ko, nih buktinya." ucap Naura sambil menunjukkan perutnya yang masih sudah membesar.


Tuan Reno terkekeh mendengar ucapan Naura yang meledek dirinya. Di remasnya paha Naura sedikit kencang.


"Aauu!" pekik Naura manja."


"Sayang jangan teriak manja gitu, adikku langsung bangun nih," goda Tuan Reno , dengan memainkan kedua alisnya.


"Ihh, kamu nya aja yang baper, aku biasa aja tuh."


Jalanan sedikit macet karena ada air yang tergenang di beberapa titik membuat kendaraan bergerak sedikit lebih pelan. Tuan Reno melihat Naura sedang memperhatikan tukang nasi sate yang ada di pinggir jalan sedang melayani para pelanggannya.


"Kita makan yuk sayang, kelihatan sate enak tuh," ajak Tuan Reno yang sengaja menawarkan makanan yang dijual di pinggir jalan."


"Emang kamu suka makan dipinggir jalan mas Reno?"


"Sesekali aja sayang kalau lagi pingin aja."


"Baiklah, kamu tahu aja kalau aku lagi kepingin sate ayam."

__ADS_1


"Tapi makannya di apartemen aja ya sayang, daripada disitu terlalu ramai."


"Keburu dingin sayang kalau nunggu sampai Apartemen."


"Ok, aku menepi mobilnya dulu ya."


Dengan di bantu tukang parkir, mobil Tuan Reno di arahkan untuk mengikuti barisan mobil lainnya. Tukang parkir mendekati Tuan Reno melindungi lelaki itu dari hujan yang masih rintik.


"Permisi tuan, saya akan antarkan tuan ke tempat sate ayam."


"Terimakasih pak, saya punya payung sendiri."


Tukang parkir itu hanya mengangguk hormat lalu ia mulai membantu lagi mobil lain yang ikut parkir di samping mobil Tuan Reno.


Tuan Reno membuka pintu mobil untuk Naura dan keduanya mencari tempat di bawah tenda sate ayam dan kambing itu. Keduanya duduk sembari melihat menu buku menu.


"Kamu mau makan sate rasa apa sayang," tanya Naura kemudian.


"Aku ikut kamu aja sayang."


Naura memanggil salah satu pelayan memesan sepuluh tusuk sate ayam dan sepuluh tusuk sate kambing untuk suaminya, serta dua botol air mineral.


Pelayan itu mencatat pesanan keduanya lalu mengantarkan ke koki sate ayam. Tidak lama pesanan mereka datang, Tuan Reno menyingkirkan beberapa perlengkapan yang tersedia di atas meja, memberi ruang pada pelayan itu untuk memudahkan ia meletakkan piring yang sudah berisi kedua jenis sate ayam dengan bumbu kacang dan sate kambing dengan bumbu kecap. Naura begitu girang, karena makanan kesukaannya sudah datang.


"Apakah kamu sangat suka dengan sate ayam sayang, kenapa tidak bilang dari dulu kalau kamu sangat suka dengan sate ayam?"


"Iya sayang, dari dulu aku senang makan sate ayam rasa bumbu kacang."


"Ayo kita makan sayang mumpung masih hangat."


Keduanya menyantap makan malam mereka dengan lahap sebelum sampai ke Apartemen.


Mereka kemudian menghabiskan makanannya dan segera kembali ke mobil. Mobil Tuan Reno kembali bergerak di bantu oleh abang tukang parkir. Tuan Reno memberikannya tip yang lumayan besar.


Melihat uang yang diberikan Tuan Reno, tukang parkir itu langsung mengangkat kedua tangannya ke atas untuk mengucapkan rasa syukurnya kepada Allah dan tidak lupa mendoakan keselamatan Tuan Reno dan Naura.


"Hati-hati tuan dan nyonya, terimakasih." ucap abang parkir itu."


Setibanya mereka di apartemen, Tuan Reno memasukkan dua kopernya ke dalam kamarnya.


Naura masuk ke kamar mandi ingin membersihkan tubuhnya sedangkan Tuan Reno membuatkan susu cokelat hangat untuk mereka berdua dengan beda rasa. Untuk Naura, susunya khusus untuk ibu hamil.


Setelah mandi Naura merasakan tubuhnya sangat segar, ia yang sudah memakai kimono langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur miliknya.


"Naura, minum dulu susumu sayang, jangan tidur dulu supaya badanmu hangat.


"Aku sudah ngantuk mas Reno," ucap Naura setengah mengantuk.


"Ayo, aku bantu kamu minum susunya."


Tuan Reno mengangkat tubuh Naura setengah duduk dan membantu mendekatkan gelas susu ke mulut Naura. Naura hanya meneguknya setengah saja lalu memilih kembali tidur.


Tuan Reno meletakkan gelas di sisi tempat tidur di atas meja kemudian menarik selimut menutupi tubuh Naura yang sudah pulas. Tuan Reno mengecup bibir kenyal Naura lalu tersenyum.


"Selamat datang lagi di apartemenmu nyonya Reno, aku sangat mencintaimu.. selamat tidur sayang, semoga kita bertemu dalam mimpi."

__ADS_1


Tuan Reno memeluk istrinya dan ikut terlelap dalam mimpi yang indah sambil menanti datangnya hari esok untuk mereka hadapi lagi setiap ujian kehidupan.


__ADS_2