
Satu minggu lagi pernikahan mereka akan diadakan secara formal. Pernikahan itu di adakan di kediaman bapak Indarto di kampungnya dan resepsi pernikahan akan digelar di Jakarta sesuai kesepakatan kedua keluarga itu buat saat awal pertunangan tiga bulan lalu.
Agar lebih merasakan nuansa pengantin baru walaupun mereka sudah melewatinya, namun kedua keluarga meminta pasangan ini untuk berpisah sementara waktu.
Tuan Reno harus mengantar pulang istrinya ke kampung dengan berat hati. Sementara itu Naura merasa nyaman saja karena dia juga ingin menikmati suasana menjelang pernikahannya dengan mengadakan beberapa adat Jawa yang sangat ingin ia rasakan lagi walaupun ini pernikahannya yang kedua.
"Sayang, satu Minggu terlalu lama aku harus berpisah denganmu." Keluh Tuan Reno saat sudah berada di rumah mertuanya.
"Aku ingin mas Reno lebih merindukan aku lagi. Mungkin kalau kita menyimpan rindu yang lama, malam pengantin kita akan lebih menggairahkan." Ucap Naura acuh.
"Apakah kamu ingin menyiksaku sayang?"
"Tidak!" Tapi aku ingin melihatmu lebih sengsara karena sengsara akan membawa kenikmatan tersendiri untuk pernikahan kita nantinya.
"Kamu sangat kejam Naura!"
"Mas Reno harus mengikuti aturan mainnya, dan jangan banyak protes." Ucap Naura.
"Baiklah sayang, kalau begitu aku pulang. Jangan pernah keluar rumah sampai aku datang menikahimu secara resmi.
"Iya sayang!" Naura mengangguk lalu mengantarkan suaminya ke mobil.
Tuan Reno kembali lagi ke Jakarta untuk mengikuti rangkaian acara pernikahan dengan adat Jawa tersebut.
...----------------...
Prosesi pernikahan yang dilalui setiap mempelai pengantin dengan menjalani rangkaian acara mulai dari siraman, pengajian, mido doremi dan terakhir adalah pernikahan yang sangat di tunggu-tunggu oleh kedua mempelai.
__ADS_1
Sebelum menggelar acara pernikahan, Naura dan Reno menjalani serangkaian tradisi jawa. Setelah minggu lalu mereka berdua menjalani tradisi pingitan.
Naura menjalani siraman dengan mengusung tradisi ada jawa. Darah jawa di dapatkan dari kedua orangtuanya walaupun wajahnya sendiri tidak mirip dengan keduanya. Wajah Naura menjadi perbincangan banyak tetangga kalau Naura bukan anak kandung dari pak Indarto dan ibu Sri Yati.
Begitu pula Reno yang telah menggelar di kediamannya.
Prosesi siraman yang dijalankan keduanya tertutup dari media karena baik Reno dan Naura tidak mau kekhidmatan acara ini terganggu dengan kehadiran wartawan.
Prosesi siraman berlangsung haru, baik Naura dan keluarga tidak dapat membendung air mata bahagia di hari ini. Ketika tubuh dibasuh oleh ayahnya tercinta pak Indarto dalam hati mengucapkan terimakasihnya untuk lelaki yang telah membesarkannya ini.
"Terimakasih banyak untuk cinta pertamaku dan pahlawan pertamaku, terimakasih telah mencintaiku dengan penuh ketulusan."
Tidak hanya Naura yang menetes kan air mata di prosesi khidmat tersebut, di tempat yang berbeda Reno juga meneteskan air mata ketika dirinya memohon doa restu kepada kedua orangtuanya.
Setelah menjalani prosesi adat pertama yaitu siraman, kini Naura dan keluarga melakukan pengajian di kediaman mereka masing-masing.
Kini Malika sangat gembira menjalani rangkaian acara jelang pernikahan karena berada ditengah kediaman orang tuanya saat dirinya harus melewati beberapa prosesi acara yang akan digelar sore ini.
Kedua orangtua Naura sudah duduk mendampingi Naura bersama dengan para tamu undangan. Lantunan ayat Alquran mulai dibacakan oleh Qoriah dengan surah Lukman ayat 14, yang bunyi dengan artinya
..."Dan kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah - tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada orang tuamu. Hanya kepada aku kembalimu."...
Naura meneteskan air matanya kala lantunan ayat suci dibacakan sangat merdu dan ketika mendengarkan arti potongan ayat tersebut Naura merasa tersentuh dihati dan jiwanya serta para tamu undangan yang turut menyimak lantunan ayat suci tersebut dibacakan oleh Qoriah.
Usai pengajian acara di teruskan dengan ceramah yang disampaikan oleh salah ustadz kondang untuk memberikan pencerahan untuk para orang tua yang melepaskan putrinya untuk membina rumah tangga.
...----------------...
__ADS_1
Naura terlihat anggun mengenakan kebaya adat jawa berwarna putih buatan desainer kondang tanah air. Kebaya yang didesain simple dengan bahan dasar brokat dihiasi payet dari batu permata, aksen full payet sampai bawahan rok menonjolkan kesan delicate dan elegan.
Kebaya Naura terlihat serasi dengan beskap putih milik Reno. Kesan glamor begitu terasa meskipun desain busananya sederhana, kesan bold di dapat dari bentuk alis yang tegas dan riasan mata intense dengan bulu mata palsu, eye shadow coklat dengan sentuhan shimmer gold berpadu elegan dengan blush on bronze serta lipstik glossy warna nude.
Selain tiara disematkan juga canduk mantul aksesori khas pengantin jawa. Semua mata yang melihat Naura keluar dari ruang ganti menuju tempat sebagai ruang tunggu pengantin wanita bercak kagum "sempurna" kata yang tepat disematkan kepada sosok Naura Alya yang duduk dengan anggun di tempat yang sudah disiapkan untuk dirinya membaur dengan para kerabat yang sedang menunggu pembacaan ijab kabul oleh sang calon suami di ruang utama di mana hadirnya penghulu, wali nikah, para saksi dan para tamu kehormatan dan tamu undangan lainnya.
Kini kedua pengantin sudah siap menyambut acara yang sangat menggetarkan. Mempelai pria yaitu Reno sudah duduk di hadapan penghulu, dua saksi dari pihak Reno yaitu Raka sedangkan dari Naura adalah Raditya yang tidak lain adalah kerabat dari ibunya
Di dampingi oleh Pak Indarto sebagai wali yang akan menikahkan putrinya Naura melihat Reno yang berkali-kali menarik nafas lembut.
Debaran jantungnya seakan berpacu dengan waktu, rasa gugupnya menghadapi hari bersejarah ini baginya sangatlah berat. Akhirnya ijab kabul dimulai
Pak Indarto menyalami tangan Reno dengan mengucapkan ikrar pernikahan.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Reno Radiansyah Bin Sahrul Rahmansyah dengan anak saya yang bernama Naura Alya Binti Indarto dengan maskawin berupa emas seberat 550 gr dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Naura Alya Binti Indarto dengan mas kawin tersebut tunai."
"Bagaimana para saksi?," tanya penghulu kepada kedua belah pihak saksi pernikahan.
"Sah!"
"Sah!"
Acara ijab kabul ditutup dengan doa oleh penghulu. Ucapan ijab kabul yang diucapkan oleh Reno sangat fasih dan lancar sehingga membuat pihak keluarga mempelai laki-laki dan perempuan menarik nafas lega, acara dilanjutkan dengan berbagai upacara tradisi adat jawa.
Saat Naura ingin berdiri menghampiri suaminya yang sekarang sah sebagai suaminya, tiba-tiba dikagetkan dengan seseorang yang membuatnya ingin memakinya, namun di tahan Naura karena masih banyak tamu yang menyaksikan momen berharganya hari ini.
__ADS_1