
Sekitar tiga bulan masa perenungan Naura tentang kehidupannya yang dipermainkan oleh takdir, membuatnya untuk berpikir bijak dalam menentukan sikapnya.
Ia tidak bisa menghukum siapapun untuk masalah tertukarnya dirinya saat masih bayi, apalagi suaminya sendiri yang melakukannya. Ia ingin berdamai dengan masa lalunya karena tidak ingin lagi memperdebatkannya.
Di pagi hari nan cerah, tepat di hari libur di mana semua keluarga berkumpul sambil bermain dengan si kecil Barra yang sedang belajar duduk namun masih belum bisa karena keberatan bokongnya yang montok.
Oma dan Opa nya tampak cekikikan melihat usaha bayi tembem ini yang tidak ingin menyerah begitu saja saat ini mencoba duduk dengan tegak.
Wajah tampan yang menggemaskan hampir serupa dengan sang ayah, membuat ke-dua orangtuanya Tuan Reno sangat mencintai cucu mereka.
"Masih belum nyerah sayang?" Tanya Oma Nunung yang tidak tega melihat cucunya berulangkali kali mencoba belajar duduk tapi jatuh lagi ke samping maupun terjengkang ke belakang.
Sementara Naura yang asyik memetik buah jeruk Mandarin yang ada di taman itu dengan wajah bahagia.
Tuan Reno mengambil beberapa foto dengan ponselnya saat Naura memetik jeruk itu.
"Cih! Kenapa gadis ini masih menggemaskan saja, membuat aku tidak berhenti menatap wajah cantiknya.
"Mas mau mencobanya?" Tanya Naura yang sudah mengupas bersih kulit jeruk itu lalu menyodorkan ke mulut suaminya.
"Hmm!"
"Apakah manis?"
"Lebih manis kamu sayang."
"Cih!" Lagi-lagi kamu menggodaku yang akan berakhir di ranjang." Gerutu Naura kesal.
Tuan Reno tersenyum geli melihat wajah Naura sedang merengut ketika digoda olehnya.
"Kamu semakin cantik kalau cemberut seperti itu, aku sangat suka sayang. Tapi jangan terlalu lama karena itu membuat aku makin tergoda untuk menjamah tubuhmu." Timpal Tuan Reno masih dengan banyolan nakalnya.
Naura duduk di bangku taman sambil memangku keranjang buah jeruk segar itu. Ia menghirup aroma harum dari buah itu yang membuat pikirannya kembali segar. Naura meletakkan lagi buah itu ke keranjang lalu menatap wajah tampan suaminya yang sedang mengunyah buah jeruk yang sudah dikupas Naura untuknya.
"Mas Reno!"
"Hmm!"
"Aku ingin menemui kedua orangtuaku kandungku hari ini, apakah boleh?"
Tuan Reno tersedak mendengar permintaan Naura. Sambil menutup mulutnya menatap wajah istrinya.
"Apakah kamu serius ingin menemui mereka?" Tanya Tuan Reno serius.
__ADS_1
"Hmm!"
"Kapan?"
"Sekarang!"
"Bersiaplah. Sepuluh menit lagi kita berangkat."
"Aku tidak bisa dandan dalam waktu sepuluh menit." Protes Naura.
"Aku tidak memintamu dandan, aku hanya memintamu bersiap." Ucap Tuan Reno acuh.
"Cih!!" Naura berdecih lalu berjalan dengan cepat ke kamarnya.
"Dia mulai lagi dengan sikap bar-barnya. Nanti kalau jatuh, baru tahu rasa." Umpat Tuan Reno lalu mengikuti langkah kaki Naura untuk melihat gadis itu mengenakan busananya.
Naura mematung di depan deretan baju sambil melihat baju mana yang pantas ia kenakan untuk bertemu dengan orangtuanya.
"Perlu bantuan sayang?"
"Hmm!"
Tuan Reno mengambil steelan atas baju berwarna biru muda dengan corak putih bagian lengannya.
"Pakailah yang ini!"
"Kamu sangat manis dengan baju ini. Pakailah bedak dan lipstik saja dan tidak usah menggunakan makeup lainnya karena kita bertemu dengan keluargamu."
"Baik."
Dalam waktu sepuluh menit Naura keluar dari ruang ganti dengan menenteng tas putih senada dengan sepatu sneaker wedges menambah kesan elegan pada dirinya.
Keduanya sudah pamit kepada kedua orangtuanya Tuan Reno sambil menggendongmu bayi mereka.
...----------------...
Sementara di kediaman Tuan Brotoseno, sedang ada pertemuan keluarga besar dalam acara arisan keluarga. Kedua orangtuanya Naura tidak mengetahui kalau mereka akan kedatangan tamu kehormatan siang ini.
Keluarga itu berkumpul sambil bersenda gurau satu sama lain. Pelayan menghampiri nyonya Lira yang sedang bercengkrama dengan saudaranya nampak kaget mendengar perkataan pelayannya bahwa ada tamu yang bernama Tuan Reno beserta keluarganya.
Dengan cepat, ibu cantik ini meletakkan cangkir minumannya dan langsung berjalan cepat menuju ke pintu utama.
"Ayahhhh! Naura datang, putri kandung kita datang sayang." Teriak nyonya Lira memanggil suaminya yang sedang duduk bersama dengan saudaranya di kolam renang di halaman samping mansion.
__ADS_1
Keluarga besar yang berasal dari kalangan bangsawan itu terperanjat mendengar ucapan nyonya Lira karena mereka baru saja membahas tentang istri dari Tuan Reno itu dan kini sudah berada di kediaman Tuan Brotoseno.
Naura terlihat tenang dalam rangkulan suaminya pada pinggangnya.
Nyonya Lira menghentikan langkahnya bersama suaminya sambil menatap wajah cantik Naura.
Kakek dan nenek Naura juga turut menyambut cucu mereka.
"Naura! panggil nyonya Lira dengan suara tercekat menahan haru.
Keluarga nampak kagum melihat kecantikan dari keturunan ratu selanjutnya dari pewaris tahta kerajaan kratonan Jogjakarta ini.
"Dia adalah pewaris sebenarnya karena aura seorang putri kerajaan terlihat jelas dari rupanya dan kharismanya yang begitu kuat terpancar dari wajah cantik itu." Ucap Tante Ghea.
Naura melangkah perlahan lalu bersimpuh di kaki ibunya sebagai bentuk penghormatannya pada ibu yang telah melahirkannya.
"Maafkan aku mami!" Ucap Naura sambil menangis.
Nyonya Lira mengangkat tubuh putrinya lalu memeluk tubuh ramping itu. Air mata tak terbendung dari keduanya mewarnai suasana pertemuan haru biru itu memancing putranya Barra menangis melihat ibunya dipeluk.
"Wah! Cucu eyang juga datang." Sambut nyonya Lira yang sudah mengurai pelukannya pada Naura.
Tapi tuan Brotoseno mengambil alih cucunya itu membuat istrinya gregetan.
"Aku dulu, eyang Kakungnya yang gendong."
"Serahkan dia padaku karena aku lebih berhak atas cicitku!" Tegur Tuan Subandrio Diningrat.
Suasana menjadi hangat karena perebutan Baby Barra yang sedari tadi menatap wajah orang-orang baru di hadapannya yang membuat ia menahan wajah sedihnya dan berubah dengan tawanya hingga memperlihatkan lidah kecil dan gusi merahnya makin membuat orang gemas.
Naura dan Tuan Reno diajak ke ruang keluarga. Nyonya Lira memperkenalkan kelurga besarnya pada putri dan menantunya.
Tapi keponakannya nyonya Lira Raden Anggara menatap wajah cantik Naura yang seharusnya menjadi calon istrinya.
Dulu Raden Anggara menentang perjodohan antara dirinya dan putri Aurelia karena ia tidak tertarik sama sekali dengan gadis angkuh itu dan Aurelia tidak pernah memperlihatkan nilainya sebagai keturunan bangsawan.
Namun saat mengetahui kalau putri Aurelia bukan anak kandung dari tantenya Lira membuat ia penasaran dengan sosok Naura yang baru saja keluarga besarnya bahas. Dan kini ia melihat sendiri kecantikan Naura yang diagung-agungkan oleh Tantenya Lira.
Saat tiba bagiannya untuk dikenalkan pada Naura, tiba-tiba jantung pria tampan ini langsung berdetak kencang. Di tambah lagi Naura menjulurkan tangannya pada dirinya membuat nafasnya seakan terhenti.
"Naura! ini sepupumu Raden Anggara." Ucap nyonya Lira sambil mengamati wajah keduanya.
Naura menyebutkan namanya sambil tersenyum manis pada Raden Anggara.
__ADS_1
"Harusnya kamu adalah calon istriku Naura!" Ucap Raden Anggara membuat Tuan Reno naik pitam.
Degggg...