
Personil polisi dan team Damkar sudah tiba di lokasi untuk melakukan penyergapan.
Tuan Reno yang mengikuti penculik putranya sudah berada di atas atap gedung rumah sakitnya. Tuan Reno mencari sosok yang sangat ia benci dalam hidupnya. Ketika mata Tuan Reno menangkap sosok yang tidak lain adalah ibu kandung mantan mertua istrinya.
"Nyonya, berhenti nyonya," pinta Tuan Reno sengit kepada nyonya Anik, yang ingin mencari pijakan di sudut gedung dengan membawa putranya yang masih bayi.
"Ha..ha..kau!"
Dasar lelaki bodoh!..cuhui!" ucap nyonya Anik sambil meludahi wajah Tuan Reno dari kejauhan.
Hei bodoh!, kau dan wanita jal**ng itu harus membayar apa yang telah kalian lakukan pada putraku dan keluargaku!"
"Apa maksudmu nyonya?!"
"Suruh jal**ngmu itu menemuiku disini, aku ingin menghajar wajah cantiknya yang telah memperdayai putraku dan mungkin juga dirimu dengan kecantikannya."
"Nyonya kembalikan dulu putraku, baru aku akan memanggil istriku ke sini untuk menemuimu, ku mohon nyonya, usia bayiku baru tiga hari, tolonglah nyonya," ucap Tuan Reno, seraya mengatupkan kedua telapak tangannya, memohon kepada nyonya Anik.
"Tidak tuan Reno!" kaulah yang menyebabkan suamiku jatuh sakit lagi karena kau telah mengirim surat tuntutan hukum kepada instansi pemerintah, di mana putraku mengabdi pada negara ini dan diproses secara kedinasan, akhirnya sekarang ia dipecat secara tidak terhormat.
Dan setelah mengetahui putraku dipecat, suamiku membawa mobilnya sendiri, hingga akhirnya kecelakaan itu terjadi dan langsung merenggutnya nyawanya," ucap nyonya Anik dengan suara yang bergetar.
"Nyonya! itu sudah takdir suami anda dan juga putra anda. Aku melakukan itu karena putramu membawa lari mantan istriku Maya, yang saat itu masih berstatus istriku dan ini tidak ada kaitannya dengan istriku Naura maupun bayiku yang ada di tangan anda. Jadi tolong terimalah kenyataan itu nyonya!"
"Tidak!" Jangan katakan itu atau kau ingin bayimu ini aku lempar dari atas gedung rumah sakit ini," Ancam nyonya Anik garang.
"Panggilkan Naura! kalau tidak, bayi ini akan aku benar-benar akan melemparkannya ke bawah!" Ancam Nyonya Anik serius.
"Ok, tunggu nyonya!"
Tuan Reno menghubungi ponsel dokter Riri untuk meminta dokter itu mengantar istrinya Naura ke atas gedung.
"Hallo dokter Riri!" Tolong antarkan istri saya ke atas gedung karena mantan mertuanya ingin bertemu dengannya."
"Tapi Tuan! nyonya tidak bisa diajak bicara karena pandangan matanya kosong."
"Astaghfirullah!"
"Tapi polisi sudah menuju ke atas Tuan, mungkin sebentar lagi sampai."
"Bawa saja istriku dokter! kalau tidak, nyawa putraku jadi taruhannya, ku mohon dokter jangan mengulur waktu lebih lama!" Ini sangat genting.
Dokter Riri menghela nafas panjang, sesaat ia memejamkan matanya memohon kekuatan dari Tuhannya. Setelah itu, dokter meminta nyonya Nunung untuk membawa menantunya yang masih duduk di lantai dengan wajah pucat dan tatapan matanya kosong tanpa ekspresi.
"Naura bangun sayang!" mami tahu kamu bisa mendengarkan mami, tapi mami mohon kamu harus menyelamatkan putramu karena hanya kamu yang bisa mengambil lagi putramu dari tangan mantan mertuamu itu sayang."
Dengan dibantu dokter Riri, nyonya Nunung memapah tubuh menantunya untuk duduk di kursi roda, lalu mendorong kursi roda yang sudah diduduki Naura.
Mereka akhirnya mengantar Naura ke atas atap gedung rumah sakit tersebut, sementara Tuan Syahrul sudah bersama polisi untuk membantu mengamankan lokasi di atas gedung rumah sakit. Kursi roda Naura, sudah berada di dalam lift bersama dokter Riri dan nyonya Nunung.
Jantung kedua wanita ini sudah tidak beraturan lagi detakan nya, karena saking tegangnya mereka menghadapi situasi yang mendebarkan ini. Naura sudah keluar dari pintu lift yang langsung menuju atap, kursi rodanya di dorong ke depan untuk lebih dekat dengan suaminya, Tuan Reno.
Tuan Reno menyambut istrinya yang masih diam membisu, hati lelaki ini sangat miris melihat keluarga kecilnya menjadi hancur karena ulah wanita gila, ibu dari tuan Dandy yang pernah memporak-porandakan hidup mereka.
"Sayang, lihat putra kita! Saat ini sangat membutuhkanmu. Jadi ku mohon, tolong sadarlah sayang! jangan masuk lagi dalam kegelapan!"
"Ha...ha.. lihatlah si jal**ng itu dia sudah seperti patung hidup, hhm! kau hanya sampah Naura, bekas dari putraku yang akhirnya dipungut lagi oleh lelaki bodoh itu!," ucap nyonya Anik yang terus saja menghina mantan menantunya ini.
"Tutup mulut kotormu itu nyonya Anik!" bentak nyonya Nunung yang sudah tidak kuat mendengar ucapan nyinyir dari nyonya Anik yang terus merendahkan menantunya.
"Kalau begitu kembalikan lagi kehormatan putraku Dandy karena selama ini dia terkenal menjadi pejabat publik yang dielu-elukan orang karena kehebatannya dalam bekerja.
Kalau putramu tidak bisa melakukannya, maka bayi ini akan aku lemparkan dari atas sini!" Ancam nyonya Anik yang sudah mengayunkan tangannya untuk melempar bayi tidak berdosa itu, dari atas gedung.
"Eaaaa!..eaaaa!''
Tangis bayi itu pecah ketika badannya yang hendak di lemparkan oleh nyonya Anik.
"Tidakkkkk!"
__ADS_1
Teriak orang-orang serentak, merasa kengerian dengan ancaman yang dilakukan nyonya Anik pada bayi malang ini.
"Nyonya, tolong jangan seperti itu, kita bisa bicarakan ini baik-baik," ucap tuan Syahrul yang sudah memohon cucunya dikembalikan.
Polisi sudah mengepung tempat kejadian perkara, kini giliran Kapolda yang mengambil alih tugasnya untuk mengamankan nyonya Anik dan putra Tuan Reno secara langsung.
Mereka begitu takut nyonya ini benar-benar nekat dengan ancamannya karena sangat kelihatan sekali dari tatapan mata putus asa dari nyonya Anik.
"Nyonya! Anda telah kami kepung, tolong kerja samanya nyonya!"
"Suruh polisi itu mundur Reno, kalau tidak putramu benar-benar aku lempar."
Tuan Reno yang takut akan ancaman nyonya Anik meminta polisi untuk mundur, apalagi mendengar suara tangisan bayinya seakan merengek kepada dirinya untuk menolong dirinya.
"Tolong mundur dulu! Biar saya yang melakukan negosiasi ini dengan nyonya Anik! saya mohon anda tidak memperkeruh suasana pak polisi," pinta Tuan Reno kepada Kapolda Harun.
Tim Damkar yang sudah berada di lokasi dengan kesiapan mereka mengamankan area di atas gedung dan sekitarnya. Dua helikopter yang mengitari gedung sudah stay di lapangan siap menerima perintah dari Tuan Syahrul.
Penyergapan ini makin menegang kan karena seluruh keluarga berkumpul untuk melihat langsung aksi penyelamatan putra Tuan Reno dari tangan nyonya Anik.
Nyonya Anik yang sudah naik di atas bahu gedung yang hanya selebar telapak kakinya saja sambil menggendong bayi Naura , tidak ada rasa gentar sedikitpun ia menghadapi lawan yang sudah berkerumun di hadapannya, di atas atap gedung rumah sakit.
Dengan suara lantang ia memanggil mantan menantunya yang ia anggap telah menghancurkan hidup putranya.
"Nauraaaaa!"
Lihatlah putramu!" aku ingin kau sendiri yang datang padaku mengambil putramu!"
Naura yang masih kosong pikirannya hanya menatap wajah nyonya Anik yang makin histeris memaksanya untuk mendekati dirinya.
"Nauraaaa!"
Bersamaan dengan teriakan keras nyonya Anik makin membuat tangisan putranya begitu nyaring terdengar oleh orang-orang di atas gedung itu.
Naura melihat putranya dalam kegelapan memanggilnya untuk menjemputnya, bayi malang itu terus mengejar dengan suaranya dalam kegelapan dengan teriakan suara ketakutan untuk meminta tolong kepada ibunya.
"Mommy, tolong akuuu!... tolong mami!" pinta bayi itu pada ibunya Naura dalam kegelapan.
"Bayiku!" Pekik Naura yang sudah sadar dari kegelapan nya.
Ia melihat nyonya Anik yang berdiri di di atas bahu gedung yang tingginya mencapai 20 lantai. Ia berdiri lalu melangkah mendekati mantan mertuanya itu dengan hati-hati agar nyonya Anik tidak gampang gugup melihat dirinya.
"Bunda kembalikan putraku!"
"Aku akan kembalikan putramu dengan satu syarat suruh suamimu melompat dari atap gedung ini sebagai ganti nyawa suamiku.
"Tidakkk!"
"Jangan main-main dengan nyawa orang lain bunda, kematian suamimu merupakan takdirnya bukan suamiku atau siapapun jadi kumohon, bunda tidak melibatkan siapapun yang harus jadi penebus kegilaan bunda.
"Dasar jala*ng! kamu masih punya nyali untuk menentang ku hahh!!"
Tuan Reno yang sudah tidak sabar menghampiri nyonya Anik untuk merebut kembali putranya.
Baru saja dia ingin melangkah, tubuhnya nyonya Anik oleng karena pijakannya bergeser sedikit hingga tubuh itu jatuh ke belakang membuat genggaman pada bayinya Tuan Reno terlepas dari tangannya.
"Tidakkkk!"
"Jangannnn!"
"Bayikuuu!"
Teriakan Naura dan orang-orang yang ada di sekitar area gedung bersamaan, membuat suasana makin mencekam dan membuat jantungan orang- orang yang menyaksikan kengerian yang terjadi pada nyonya Anik bersama bayinya Naura yang baru berusia tiga hari itu jatuh dari atas atap gedung itu.
Mereka berlari bersama menghampiri pinggiran gedung itu melihat ke arah bawah di mana nyonya Anik dan bayi malang itu jatuh.
Tuan Reno yang melihat tubuh bayinya yang jatuh dari gedung ingin ikut melompat meraih tubuh putrinya namun naas baginya, tubuh itu terjun bebas dan bayi dari ketinggian yang membuat orang-orang dibawah gedung itu, berteriak histeris.
Dan sebelum tubuh itu jatuh ke tanah, tim SAR terlebih dahulu menangkap tubuh mungil itu dari atas helikopter yang sudah siap menjulurkan tali yang terikat pada tubuh salah satu tim SAR itu, dengan sigap ia bisa menyelamatkan bayinya Tuan Reno dan Naura.
__ADS_1
Orang-orang yang menyaksikan tontonan menegangkan pagi ini bernafas lega yang sebelumnya mereka hampir lemas menjadi saksi mata melihat kejadian yang memacu adrenalin mereka.
Tepuk tangan terdengar menggema dari atas gedung maupun dibawah gedung rumah sakit menggema di sekitar area rumah sakit atas aksi heroik salah team SAR yang sudah menyelamatkan bayi itu.
Siaran langsung yang disiarkan oleh para wartawan lokal maupun luar negeri menjadikan momen menegangkan itu menjadi headline news berita pagi itu.
Rekaman dan foto terbaik mereka menghiasi layar datar maupun media cetak.
Tuan Reno dan Naura beserta kedua orang tuanya menangis haru mendapati tubuh bayi mungil itu yang telah diselamatkan oleh tim SAR.
Dokter Riri bernafas lega dan jatuh terduduk lemas di atas gedung tersebut dengan menangis tersedu-sedu menyaksikan kejadian yang memilukan pagi ini.
Tuan Reno berlari bersama polisi dan team lainnya menyusul bayinya yang telah berhasil diselamatkan oleh salah satu tim SAR.
Dokter Hugo sudah siap mengambil putranya Tuan Reno itu untuk diperiksa keadaannya. Tuan Reno nampak pucat dan sangat kalut melihat putranya yang berhasil selamat tapi belum tahu kelanjutan nasib bayi malang itu.
Wartawan yang sudah ramai mengepung keluarga kerajaan bisnis terbesar di Asia dan Eropa itu untuk mewawancarai Tuan Reno, mengenai kejadian pada bayinya.
Namun aksi mereka dihentikan oleh para bodyguard Tuan Reno yang siap mengamankan area rumah sakit.
Babynya Naura segera ditangani langsung oleh team dokter spesialis anak dan dokter Riri sebagai penanggungjawab pasiennya sedang berada di ruang IGD.
Setelah dinyatakan babynya Naura tidak mengalami cedera pada tubuhnya, dokter Riri baru merasa lega. Dokter Riri keluar menemui Tuan Reno dan keluarganya untuk menyampaikan keadaan fisik bayinya Naura.
"Dokter bagaimana dengan putraku?" Tanya Tuan Reno yang sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan putranya.
"Alhamdulillah!" Bayi anda tidak mengalami cedera apapun pada tubuhnya, jadi tuan bisa membawa bayi kalian hari ini," ucap dokter Riri sambil tersenyum pada Tuan Reno.
"Babyyy!" Panggil Naura yang baru datang belakangan. bagaimana bayiku dokter?
"Sudah aman nona Naura. Allah masih melindunginya. Sebaiknya anda tenangkan diri anda, nona Naura!"
"Baby! maafkan mommy sayang!" Karena tidak bisa menjagamu,...hiks!...hiks!"
Naura mencium bayinya berulang kali, momen itu juga dibidik oleh para wartawan yang merasa mendapatkan keberuntungan dari liputan berita eksklusif hari ini.
Petugas rumah sakit dan para pengawal Tuan Reno mengamankan keluarga Tuan Reno dari incaran para wartawan. Keluarga merasa belum siap untuk melakukan konferensi pers pagi itu mengingat kejadian hari ini meninggalkan trauma mendalam bagi keluarga mereka.
Nyonya Nunung menggendong cucunya dan langsung membawa pulang cucunya itu, menuju mansion.
Polisi tetap melakukan pengawalan ketat pada keluarga Tuan Syahrul, sedangkan Tuan Reno dan istrinya menggunakan mobil mereka yang sudah dijemput oleh asisten Wisnu.
Keduanya juga dikawal ketat oleh kepolisian menuju mansion mereka. Tuan Reno tidak ingin para wartawan terus mengikutinya hanya ingin mendapatkan sebuah berita dari peristiwa yang menimpa salah bayinya.
Tuan Reno terus memeluk Naura yang masih terlihat syok. Pelukan hangat Tuan Reno mampu mengusir kecemasan yang masih terasa dihati wanita cantik ini.
"Kamu sudah merasa lebih baikan sayang?"
"Sudah sayang! perasaanku sudah lebih lega. Aku hanya ingin cepat sampai mansion untuk bertemu keluarga dan bayi kita.
"Apa kamu ingin makan sesuatu sayang?"
"Nanti saja mas Reno, kita akan makan bersama keluarga kita.
"Bagaimana nasib ibunya mas Dandy?" Tanya Naura.
"Apa kamu sedang memikirkannya?"
"Aku hanya bingung mas Reno, mengapa ia terus menganggu hidup kita, padahal jelas-jelas putranya yang buat ulah?"
"Karena dia sakit sayang, jiwanya sakit hingga ia mencari orang lain yang bisa disalahkan atas takdir yang menimpa hidupnya."
"Mengapa bunda tidak bisa menerima kenyataan mas Reno, kalau mas Dandy yang sudah menghancurkan karirnya sendiri?"
"Itu bukan urusan kita sayang dan kita tidak punya tanggung jawab moral pada dirinya, lagian sekarang dia sudah menerima hukumannya."
"Apakah dia selamat, mas Reno?"
"Mengapa kamu jadi sangat cerewet sayang?"
__ADS_1
Tuan Reno sangat kesal dengan istrinya yang terus memikirkan keadaan mantan mertuanya, entah apa yang ada dalam pikiran Naura, wanita ini sedikitpun tidak merasa dendam pada mantan mertuanya, padahal wanita tua itu hampir membunuh bayi mereka.
Mobil mewah milik Tuan Reno terus bergerak menuju mansionnya diikuti oleh sepeda motor milik polisi yang terus mengawal mereka.