
Menjelang persalinan Naura, kedua orangtuanya Naura di minta Tuan Reno untuk datang ke Jakarta mendampingi putri mereka Naura.
Saat ini, perut Naura terlihat sangat besar hingga membuatnya sedikit sulit berjalan cepat. Bokongnya yang makin berisi ditambah dengan pa***ara yang makin besar dan montok.
Akhir-akhir ini Naura selalu mengeluh sulit tidur, sesak nafas dan mudah ngambek apa lagi ditambah kontraksi yang sering datang silih berganti. Tuan Reno tidak akan tidur sampai istrinya terlelap.
Lelaki tampan ini ingin menjadi seorang suami siaga menjelang persalinan istrinya, apa saja yang dibutuhkan istrinya selalu dipenuhinya termasuk urusan ranjang. Tuan Reno dengan senang hati melakukannya.
Prediksi dokter Ririn yang mengatakan bahwa Naura akan melahirkan sekitar tiga hari lagi, seperti biasa Tuan Reno yang ingin melancarkan persalinan istrinya selalu mengajak istrinya untuk bercinta sebelum tidur dan kadang usai bercinta Tuan Reno tetap melakukan senam lidahnya pada bagian inti istrinya sampai Naura tertidur karena kelelahan mendapatkan kenikmatan yang dilakukan oleh suaminya.
Pagi ini, Naura yang sedang berjalan pagi menyusuri taman bunga milik keluarga suaminya tanpa memakai sendal.
Tuan Reno yang sedang menjaga gadis liarnya ini, ikut menikmati udara segar di pagi itu untuk memenuhi kebutuhan paru-parunya.
Hari yang telah dijanjikan sebagai tanda-tanda Naura akan melahirkan tiba. Kontraksi yang awalnya datang setiap satu tiga jam sekali berubah satu jam sekali.
Naura selalu menarik nafas dalam kemudian menghembuskan nya perlahan-lahan ketika kontraksi sudah mulai sering terjadi pada rahimnya.
Tidak lama kemudian, Naura meringis kesakitan sambil memegang perut bawahnya.
"Ada apa sayang?" Tanya Tuan Reno cemas.
"Sayang!" Sepertinya aku merasakan kontraksi." Ucap Naura sambil mencengkram lengan Tuan Reno yang berusaha menahan tubuhnya agar tetap tegak.
"Sayang, apa kita perlu ke rumah sakit sekarang?"
"Sebentar lagi mas Reno, biarkan saja dulu, sampai durasi kontraksinya makin maju waktunya."
"Apakah sudah lebih terasa sakitnya?"
Naura mengangguk. Tuan Reno langsung menggendong tubuh Naura sambil bicara pada pelayannya untuk menyiapkan mobil.
"Sayang!" Jangan kuatir!" Aku ada di sisimu dan akan menemanimu sampai lahir.
Darah mulai mengalir dari jalur lahir. Tuan Reno berusaha tenang menduduki Naura di dalam mobil.
"Ayah dan mami berangkat bersama kedua mertuaku saja." Pinta Tuan Reno pada kedua orangtuanya.
"Baik sayang hati-hati.
kedua orangtuanya Naura pun keluar dari kamar dengan menarik satu koper kecil perlengkapan bayi dan ibunya. Pelayan langsung mengambil koper itu dari tangan mertuanya Tuan Reno.
Nyonya Nunung yang melihat menantunya yang kepayahan menawarkan diri untuk ikut mengantarkan ke rumah sakit.
__ADS_1
"Naura mami ikut mobil kalian saja ya sayang!"
"Tidak usah mami, nanti Reno kabarin kalau saya sudah melahirkan."
"Ayah dan mami berangkat bersama kedua mertuaku saja." Pinta Tuan Reno pada kedua orangtuanya.
"Baik sayang hati-hati.
"Baiklah, semoga kelahiran babynya lancar, teruslah berdoa dan jauhi setress."
"Iya mami, maafkan Naura kalau Naura sering nyakitin mami."
"Tidak sayang, mami tidak pernah merasa tersakiti olehmu."
"Naura berangkat ya mami."
"Mamiiii!
Tidak lama kemudian, Naura meringis kesakitan sambil memegang perut bawahnya.
"Ada apa sayang?" Tanya Tuan Reno cemas.
"Sayang!" Jangan kuatir!" Aku ada di sisimu dan akan menemanimu sampai lahir.
Darah mulai mengalir dari jalur lahir. Tuan Reno berusaha tenang menduduki Naura di dalam mobil.
Di tengah perjalanan ketuban Naura tiba-tiba pecah. Naura yang merasa paha dan betisnya ada cairan bening mengalir, mencoba menyibak dress-nya, betapa terkejutnya ia melihat air ketuban sudah merembes mengalir pelan dari pangkal pahanya sampai betisnya yang putih mulus.
"Astaga mas Reno ketubanku sudah pecah sayang, tolong di percepat nyetirnya atau aku akan melahirkan di mobil ini," teriak Naura membuat suaminya sangat panik.
Tuan Reno yang merasa belum berpengalaman berhadapan dengan perempuan yang melahirkan begitu gugup kali ini.
Ini adalah pengalaman pertamanya membuatnya menggaruk tengkuknya sambil melirik wajah istrinya menahan kontraksi yang mendesaknya untuk mengejan.
Tuan Reno meraih jemari istrinya sambil mencium punggung tangan istrinya lembut untuk memberikan kekuatan pada Naura yang sedang meringis kesakitan.
"Sabar sayang sedikit lagi kita sampai rumah sakit, tolong ditahan baby, jangan sakiti mami sayang."
"Mas Reno!"
Ini sangat sakit sayang," keluh Naura yang merasakan pinggang dan otot perutnya mengalami kontraksi hebat.
Tuan Reno menyalakan lampu hazle untuk memberikan tanda pada pengendara lain bahwa dirinya sedang meminta diberi jalan untuk memudahkannya mencapai rumah sakit.
__ADS_1
Satu persatu kendaraan yang di depan Tuan Reno memberikan jalan untuk Tuan Reno mempercepat kendaraan nya.
Dengan dibantu oleh dokter Ririn, Naura berusaha mengumpulkan tenaganya supaya bisa mengejan lebih cepat.
Reno yang mendampingi istrinya hanya menangis menatap wajah sakit Naura.
"Ya Allah, apakah begini seorang ibu melahirkan anaknya, mami maafkan Reno mam!," gumamnya dalam hati."
"Nyonya Naura ! ikuti aba-aba dari saya, tarik nafas, tarik terus supaya baby cepat keluar," titah dokter Riri pada Naura.
"Bismillahirrahmanirrahim"
"Allahu Akbar!"
"Oeee, oee!".. tangis bayi itu menggema dalam ruang bersalin itu."
Bayi diletakkan diatas dada Naura untuk memberikan bayi kecil itu mencari makanan pertamanya pada put*ng ibunya. Bayi yang berjenis kelamin laki-laki ini memiliki berat badan tiga kg dan panjang 50 cm.
Entah mengapa, tiba-tiba Naura terlihat lemas lalu pingsan seketika.
Dokter Riri yang melihat Naura pingsan, memeriksa lagi keadaan gadis itu yang ternyata sedang mengalami pendarahan parah. Padahal ia baru selesai memotong tali pusar bayi Naura dan mengeluarkan ari-ari dari rahim perempuan cantik itu.
"Ada apa dokter?" Tanya Tuan Reno yang tidak mengerti kepanikan dokter Riri.
"Istri anda mengalami pendarahan hebat, tuan. Kami harus melakukan transfusi darah untuknya. Sebaiknya Tuan Reno tunggu di luar!" Pinta dokter Riri membuat suami Naura ini hanya menurut saja.
Dokter Riri meminta dua susternya untuk mengambil darah yang dibutuhkan oleh Naura.
Dalam sepuluh menit, Suster Rita hanya membawa dua kantong darah karena stok darah sudah habis di ruang penyimpanan.
"Astaga, bagaimana ini?"
Kita butuh darah lebih banyak lagi karena pasien tidak bisa bertahan sampai besok, hanya dengan dua kantong darah saja." Ucap dokter Riri cemas.
Dokter Riri segera menemui keluarga pasien untuk meminta keluarga itu mendonorkan darah mereka pada Naura.
Kedua orangtuanya langsung sigap ingin memberikan darah mereka untuk Naura.
Setelah melakukan pemeriksaan terlebih dahulu pada kedua orangtuanya Naura sebelum melakukan transfusi darah, dokter Riri merasa tercekat saat mengetahui kedua orangtuanya Naura tidak memiliki kesamaan golongan darah dengan putri mereka Naura.
"Maaf Tuan, nyonya. Apakah benar nona Naura adalah putri kandung kalian?" Tanya dokter Riri hati-hati.
Degggg...
__ADS_1