
Tuan Reno berhasil menangkap tubuh istrinya walaupun tubuhnya sendiri harus terluka.
"Nauraaa.....!" Jangann..!"
Tubuh Naura tidak sempat terjatuh karena pelukan kuat dari Tuan Reno.
"Alhamdulillah!" Kamu aman sayang. Aku memelukmu." Ucap Tuan Reno dengan nafasnya yang terengah-engah.
Tubuh keduanya masih gemetar, walaupun posisi jatuh Naura berada diatas tubuhnya Tuan Reno yang ikut merosot sehingga kepalanya cedera.
Nyonya Nunung langsung jatuh terduduk. Sementara para pelayan berusaha membantu keduanya.
Naura diangkat terlebih dahulu baru Tuan Reno. Gadis ini terlihat sangat pucat.
"Sepertinya ada yang sengaja menaruh cairan di tangga." Ucap Naura walaupun masih tegang.
"Tolong menyingkirlah kalian dari tangga!" Teriak Tuan Reno murka pada para pelayannya.
"I.iya tuan!" Para pelayan menghindari anak tangga dan berbaris bersamaan di samping tangga.
Naura di minta duduk di kursi makan di bawah tangga sementara Tuan Reno memeriksa sendiri keadaan anak tangga yang dikatakan istrinya.
Benar saja, ada cairan pembersih lantai yang sengaja di buat tercecer oleh seseorang tapi hampir tidak terlihat karena tetesannya begitu tipis.
Tapi, kalau tidak hati-hati melangkah tanpa melihat akan terpeleset juga.
"Sepertinya ada yang sudah belajar cara istriku menaiki tangga dengan ceroboh. Dan anehnya lagi, dia mengetahui istriku menaiki tangga selalu di bagian tengah yang menjadi tempat pijakannya karena Naura tidak pernah berpegangan pada sisi tangga.
Aku harus menghukum orang yang melakukan ini pada istriku. Apa motif dengan caranya ini?" Gumam Tuan Reno lirih.
Tuan Reno lalu membalikkan badannya menatap setiap wajah pelayannya.
"Aku akan melaporkan hal ini pada polisi. Jika diantara kalian ada yang berniat untuk membunuh istri dan anakku, maka kalian akan menerima hukuman berat dari tuntunan ku." Ancam Tuan Reno dengan wajah kelam membuat para pelayannya tertunduk ketakutan.
"Tidak usah takut kalau kalian tidak salah. Yang melakukannya yang saat ini pasti sedang jantungan." Sindir Naura pada para pelayan mertuanya.
Tuan Reno sedang menghubungi polisi untuk melaporkan kejadian di rumahnya.
Nyonya Nunung mendekati menantunya." Apakah kamu baik-baik saja Naura?" Tanya Nyonya Nunung dengan wajah yang masih terlihat syok.
__ADS_1
"Sudah mami. Kemarahan Naura yang membuat Naura jadi berani untuk mencari tahu siapa yang melakukan ini padaku."
"Kita serahkan saja pada pihak berwajib untuk di proses diantara mereka secara hukum. Biarkan hukum berbicara dengan orang yang memiliki kedengkian dihatinya." Untuk nyonya Nunung sambil mengamati wajah pelayan yang patut ia curigai.
Tidak lama berselang, tiga orang polisi sudah menyambangi kediaman Tuan Reno. Mereka segera melakukan olah TKP dan mengajukan beberapa pertanyaan pada pada Naura dan suaminya.
Setelah cukup mendapatkan keterangan dari beberapa saksi selain pelayan, polisi melakukan pemeriksaan silang dan juga CCTV yang bisa di gunakan untuk mencari tahu pergerakan tersangka.
Tiga orang pelayan yang melakukan pekerjaan mereka sebagai pembersih lantai setiap pagi dan sore tidak luput dari incaran polisi untuk menanyakan ketiganya.
Tapi tidak menutupi kemungkinan bahwa ada pelayan lain yang juga ingin memanfaatkan ketiga pelayan itu untuk dikambinghitamkan oleh seseorang yang ingin mendapatkan keuntungan dengan niat jahatnya, entah itu apa, masih menjadi misteri yang perlu dipecahkan oleh polisi dan keluarga Tuan Reno.
Setelah dikumpulkan beberapa barang bukti dan keterangan para saksi, polisi kembali lagi ke markas mereka.
Tuan Reno meminta ijin kepada ibunya untuk kembali ke apartemen mereka karena merasa tidak aman berada di rumah orangtuanya.
Mami!" Kami akan pulang lagi ke apartemen sampai pelaku di temukan baru kami kembali lagi ke sini." Ucap Tuan Reno sambil menikmati makanan Korea Selatan yang diinginkan oleh Naura berupa Tteokbokki, bibimbab, gimbab dan samgyetang.
"Sayang, kenapa harus pulang ke apartemen kalau kita lebih waspada lagi dari kejahatan salah satu dari pelayan kita." Keluh nyonya Nunung tidak setuju.
"Mami, aku tidak mau ambil resiko, jika istriku akan di celakai lagi oleh mereka." Ucap Tuan Reno cemas.
"Baiklah. Terserah kalian saja bagaimana baiknya. Mami tidak bisa berbuat apa-apa demi keselamatan Naura dan cucuku." Ucap nyonya Nunung sedih.
"Terimakasih mami, atas pengertiannya. Insya Allah, Naura akan kembali ke sini lagi, jika kasus ini sudah terungkap siapa biang keroknya." Timpal Naura.
Setibanya di apartemen, Tuan Reno memeluk istrinya begitu erat karena dia yang terlalu memaksa Naura untuk mandi dan ganti baju sebelum makan.
"Maafkan aku sayang!" Aku terlalu memaksamu tadi. Aku yang lebih kuat mendorongmu untuk membuat kamu celaka hari ini.
Aku akan kehilangan nafasku, jika sesuatu terjadi kepadamu. Naura, ternyata apa yang aku usahakan untuk melindungi dirimu belum cukup membuat kamu aman dalam pengawasanku.
"Mas..!" Tidak usah merasa bersalah begitu. Ini semua terjadi atas kuasa Allah sebagai bentuk pelajaran untuk kita agar bisa memetik hikmahnya.
Aku juga yang selalu ceroboh hingga orang memanfaatkan kekurangan aku menjadi keuntungan untuk dirinya." Sahut Naura bijak.
"Tumben pintar kamu sayang." ledek Tuan Reno sambil mengulum senyumnya.
"Yah, otakku kadang dibuat berpikir cerdas jika keadaan mendesak. Kalau biasa saja momennya, biasanya suka tumpul." Balas Naura merendah.
__ADS_1
"Kamu selalu mengakui kesalahanmu tapi kamu sulit untuk memperbaiki kekuranganmu.
Berubah lah sayang, sebelum putra kita lahir ke dunia ini, karena kamu adalah ibu kandungnya yang akan mengajarkan mereka banyak hal." Pinta Tuan Reno dengan wajah sendu.
"Insya Allah sayang!" Doakan aku agar segera berubah."
"Tidurlah!" Sekarang sudah malam." Titah Tuan Reno lalu masuk ke dalam selimut.
Naura terkungkung dalam dekapannya Tuan Reno sambil menghirup aroma maskulin pada tubuh suaminya.
"Mas Reno!"
"Hmm!"
"Apakah kamu sangat mencintaiku?"
"Lebih dari itu."
"Bagaimana kalau hari ini aku celaka dan kami berdua meninggal, apakah kamu akan menikah lagi?"
"Iya...!" Aku akan menikah lagi."
"Cih!" Ternyata mas Reno jahat sekali!" Naura mendorong tubuh suaminya lalu berbalik memunggungi Tuan Reno yang sedang tersenyum geli melihat tingkah Naura yang sedang ngambek.
"Nggak usah tunggu aku mati, cari saja dari sekarang buat jadi istri serep." Ketus Naura.
"Emangnya cewek lain itu ban?" Ledek Tuan Reno lalu merangkul lagi pinggang istrinya.
"Kamu nya begitu jawabannya, aku belum meninggal saja, kamu sudah banyak rencana untuk cari pengganti aku."
"Itu berarti kamu harus menjaga keselamatan dirimu sendiri tanpa aku dan anak buahku sayang.
Aku tidak selamanya ada di sampingmu. Jika kamu sangat mencintaiku dan tidak mau melihat aku dengan wanita lain, yang akan menghabiskan hari tua bersama, maka buatlah dirimu menjadi berarti untukku." Ucap Tuan Reno membuat Naura berpikir bahwa perkataan suaminya adalah bentuk peringatan untuk dirinya agar lebih mawas diri.
"Baiklah!" Aku akan menjaga diriku untukmu mulai saat ini suamiku, agar kita bisa menua bersama." Dan mati bersama." Timpal Tuan Reno lalu mencium bibir lembut istrinya.
...----------------...
Proses penyelidikan masih terus berlangsung atas kasus dugaan rencana pembunuhan pada Naura dan bayinya. Pasutri ini tetap melakukan perjalanan bulan madu ke dua mereka di Incheon Korea Selatan.
__ADS_1