
Ibu Nova berusaha menenangkan muridnya.
"Barra sayang, ini ada ibu Nova. Dua hari yang lalu kita sedang belajar letak angka jam. Di mana letak angka tiga, apakah letaknya di sebelah kiri atau kanan, sayang, jika di lihat dari posisi duduk mu saat ini?" Tanya Bu Nova dengan mengarahkan Barra untuk bisa menyelamatkan diri sendiri.
"Di kanan ibu."
"Anak pintar."
"Masih ingat pelajaran IPA kemarin? Apa yang sedang kita pelajari?" Pancing ibu Nova.
Barra mencoba ingat pelajaran IPA, yaitu benda cair, padat dan gas. Barra melirik ada parfum di sebelah kanannya milik Dyah. Barra melihat lagi ke arah Bu Nova dan gurunya itu memejamkan matanya sebagai isyarat.
Rupanya Barra mengerti dengannya ucapan gurunya. Ia mengambil parfum milik Dyah dan menyemprotkan ke mata gadis itu.
Spontan saja Dyah merasa perih pada matanya hingga membuat pegangannya pada leher Barra merenggang dengan sendirinya.
Secepat kilat, ibu Nova menarik kaki Barra dan Tuan Reno langsung menampar pipi Dyah hingga gadis itu merasakan sakit berkali-kali lipat. Pisau yang ada di genggamannya seketika terlepas. Rina segera mengambil pisau yang tergeletak di atas kasur itu.
Tuan Reno membekuk kedua tangannya Dyah dan mengikatnya dengan tali kabel baterei ponsel millik Dyah yang ada di kamar itu.
"Lepaskan tanganku Reno! mataku masih perih." pinta Dyah sambil meringis kesakitan.
"I don't care!"
"Aku bersyukur Allah menggagalkan rencana pernikahan kita saat itu, karena aku baru tahu sifat aslimu yang sangat menakutkan bahkan menyedihkan." Ujar Tuan Reno sambil menyeret tubuh Dyah keluar dari kamar gadis itu.
"Aku bersumpah Reno, hidupmu tidak akan pernah bahagia karena kamu telah menyakiti dua hati wanita sekaligus." Umpat Dyah.
"Bahagiaku bukan urusan dengan umpatan mu dan kau juga Maya adalah perempuan bejad yang pernah hadir dalam hidupku.
Aku bersyukur diberikan ujian dengan kalian sehingga Allah menggantikan wanita breng* ek seperti kalian dengan wanita terbaik yang saat ini menjadi ibu dari anak-anakku." Ujar Tuan Reno menohok.
Tuan Reno mengeluarkan tubuh Dyah dari kamarnya. Polisi yang sudah berada di depan pintu kamar apartemennya Dyah siap membawa gadis itu ke Polsek setempat.
Ibu Nova yang masih menggendong Barra mengikuti langkah Tuan Reno keluar dari kamar apartemen milik Dyah. Begitu pula dengan Rina.
Setibanya di luar apartemen, para wartawan sudah berbondong-bondong menghampiri suami dari Naura ini.
__ADS_1
Namun, asisten pribadinya Wisnu bersama anak buahnya segera mengamankan bos dan putranya, Barra dari pertanyaan wartawan.
Tak satu jawaban pun yang keluar dari mulut Tuan Reno karena hari ini dia sudah cukup tegang menghadapi wanita gila yang tega mengarahkan pisau kepada putranya.
"Tuan Reno! Apa motif mantan kekasihmu, Dyah yang tega menculik putramu itu?" Tanya salah satu wartawan ketika Tuan Reno hendak masuk ke dalam mobilnya sambil menggendong putranya Barra.
Reno hanya meminta pada wartawan dan berjanji akan menjelaskan semuanya setelah keadaan keluarganya mulai membaik.
Mobil mewah itu kembali bergerak bersama dengan mobil anak buahnya Ruben dan Raka yang mengawal mobil Tuannya sampai tiba di kediaman Tuan Reno..
Naura yang sedari tadi tunggu di ruang keluarga berlari ke luar saat mengetahui putranya sudah ditemukan.
Ia tidak mempedulikan dirinya yang saat ini sedang hamil muda karena saking bahagianya bertemu dengan putranya lagi.
"Nona Naura!" Tuan Reno sudah kembali bersama putra anda." Ucap kepala pelayan.
"Alhamdulillah terimakasih ya Allah, Engkau telah mengembalikan putraku dalam keadaan selamat." Ujar Naura segera menghampiri putranya.
Drama pertemuan ibu dan anak itu terlihat sangat mengharukan. Tubuh Naura hampir limbung saat putranya memanggilnya.
"Mama...!"
Naura jatuh terduduk sambil menangis haru.
"Oh, putraku!" Naura membuka kedua lengannya agar putranya masuk ke dalam pelukannya.
"Mama. Barra kangen sama mama." Ujar Barra sambil menangis.
"Mama juga kangen sama Barra."
Keduanya tidak bisa bicara apa-apa lagi selain pelukan erat sebagai ungkapan perasaan kasih sayang yang mereka punya saat ini.
Kedua orangtuanya Tuan Reno dan Naura turut merasakan keharuan saat ini ketika cucu kesayangan mereka sudah kembali. Tuan Reno memeluk kedua orang yang sangat ia cintai ini sambil menangis.
Kepala sekolah menghampiri ibu Nova yang terlihat tertegun dengan kejadian hari ini membuatnya terus menerus mengucapkan kalimat hamdalah.
"Ibu Nova!"
__ADS_1
"Iya Bu Robyatul!"
"Terimakasih atas pengorbananmu yang siap bertanggungjawab atas kecerobohanmu.
Saya harap kejadian ini tidak terulang lagi pada murid lainnya walaupun orang itu mengaku siapa dirinya, kecuali orangtua kandungnya atau orang yang diutus oleh salah satu dari mereka." Ucap kepala sekolah bijak.
"Insya Allah ibu. Aku tidak ingin lagi mempercayai orang lain semudah itu. Maafkan atas kekhilafan ku Bu!" Ibu Nova mengakui kesalahannya.
"Kita memiliki keterbatasan berpikir, jadi jika ada kejadian seperti ini, semua pasti ada hikmahnya." Ujar ibu kepala sekolah.
Setelah bercengkrama begitu lama di dalam kediaman Tuan Syahrul, ibu Nova dan kepala sekolah pamit pulang dari hadapan keluarga itu.
Tuan Reno segera menghampiri keduanya untuk mengucapkan terimakasih.
"Ibu Nova, aku kagum atas kecerdasan mu dalam misi penyelamatan putraku. Kamu menggunakan ilmu pengetahuan sebagai jembatan untuk membuka pikiran putraku agar bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
Terimakasih atas keberanian mu menghadapi perempuan bodoh yang telah menculik putraku Barra. Aku bangga padamu atas kecerdasan mu.
Aku sebagai ayah dari Barra menaruh hormat padamu ibu Nova. Sekali lagi terimakasih ibu Nova." Ucap Tuan Reno dengan sedikit membukukan tubuhnya.
"Aku yang seharusnya meminta maaf kepada anda dan keluarga Tuan Reno. Karena kecerobohan ku, aku sudah membuat putra anda hampir celaka." Ujar ibu Nova dengan wajah sendu.
"Tapi anda telah menebus kesalahan anda dengan menyelamatkan putra saya." Ucap Tuan Reo.
Barra yang melihat ibu guru kesayangannya itu hendak pergi segera memanggil gurunya itu.
"Ibu Nova! Terimakasih sudah menyelamatkan Barra."
"Itu sudah tugas ibu Nova sayang." Ibu Nova memeluk lagi muridnya itu.
Kedua gurunya kembali ke rumah mereka dengan diantar sopir pribadi Tuan Reno.
Dua hari kemudian, ibu Nova mendapatkan kejutan dari Tuan Reno berupa satu unit rumah mewah di kompleks perumahan elit. Tuan Reno membalas jasa ibu Nova yang sudah menyelamatkan putranya dengan kecerdasannya.
Seminggu berlalu, sekolah itu menjadi terkenal dengan berita atas penculikan putranya, Tuan Reno.
Sekolah itu malah jadi incaran para calon siswa baru yang ingin masuk ke sekolah itu karena nama gurunya yang menjadi pahlawan dalam penyelamatan muridnya sendiri.
__ADS_1
Atas keberanian Bu Nova, ia diberi penghargaan dari kementerian pendidikan dan kebudayaan.