
Tuan Reno membaringkan tubuh istrinya dan menekan kuat paha Naura agar gadis itu tidak berontak. Satu segitiga pelindung berwarna krem di tanggalkan begitu saja dari area sensitif milik istrinya.
Dengan serta merta, Tuan Reno memeriksa sumber kenikmatan miliknya itu dan ternyata sudah bersih.
"Apakah kamu masih membohongi aku sayang?" Goda Tuan Reno sambil memasukkan satu jarinya di cela sempit itu membuat Naura menggelinjang dengan melenguh nikmat.
Tanpa ingin banyak komentar, Naura menyerahkan kembali aset miliknya setelah dua bulan lebih ia sudah membuat suaminya berpuasa.
Keduanya melalui percintaan panas mereka hingga mencapai puncak sebagai pemanasan awal.
Bagai burung yang baru dilepas dari sangkarnya, keduanya bebas terbang menembus alam nirwana dengan hentakan yang tak terhitung, entah sudah berapa kali keduanya melakukan pelepasan.
Di aduk dari belakang antara belahan paha yang sudah sedari tadi menahan hempasan kasar dari sang suami pada miliknya ditambah cengkraman kuat tangan kekar itu pada benda padat yang menggelantung indah nampak ikut menjadi sasaran kedua tangan kekar sang suami.
"Akkkh.. Reno!" Jerit manja Naura sambil mendesis, saat merasakan nikmat yang sedari tadi tak ingin membuatnya menyerah.
Begitu pula dengan Tuan Reno, yang merasakan milik istrinya sama legitnya saat wanita ini belum melahirkan putranya.
"Naura!" Kamu membuatku gila sayang." Tuan Reno menggigit kecil punggung istrinya dan meninggalkan tanda kepemilikan di sana.
Hampir satu jam adukan pinggul itu yang sudah tak beraturan lagi ritmenya hingga keduanya mendaki puncak tertinggi di mana kenikmatan itu sudah berhasil di reguk bersama.
"Nauraaaaa...!"
"Renoooo....!"
Keduanya jatuh terkapar di atas kasur dengan tubuh bertumpuk.
"Huufff!" Keduanya menghembuskan nafasnya dengan saling melempar senyum kepuasan.
Keduanya saling tidur berhadapan-hadapan sambil memuji permainan panas mereka yang sangat seru.
"Mas Reno! Aku makin mencintaimu sayang!" Ujar Naura memberikan apresiasinya pada sang suami yang sudah memuaskan hasratnya.
"Aku lebih dari segala ucapanmu sayang." Sahut Tuan Reno lalu memagut lagi bibir Naura yang sudah menjadi candu baginya.
*
__ADS_1
*
Tuan Brotoseno dan nyonya Lira tidak berhenti begitu saja usai memulangkan Aurelia kepada kedua orangtuanya.
Pasutri ini membawa dokter Ambar selaku CEO rumah sakit beserta tim medis yang saat itu sedang bertugas menangani kelahiran dua bayi perempuan milik nyonya Rukmini dan juga nyonya Lira.
Pastinya tidak ketinggalan dokumen penting sebagai alat bukti yang menunjukkan keabsahan alasan mereka untuk mengklaim Naura sebagai putri kandungnya.
Siang itu, nyonya Lira sudah membuat janji dengan nyonya Nunung untuk melakukan pertemuan penting antar keluarga yang harus melibatkan Naura dan suaminya Tuan Reno.
Walaupun permintaan nyonya Lira membuat nyonya Nunung sedikit bingung, namun ia masih berusaha memenuhi permintaan nyonya Lira yang terdengar serius dengan permintaannya.
Nyonya Nunung menyampaikan pesan nyonya Lira pada anggota keluarganya saat sedang sarapan pagi.
"Sayang! Siang ini kita akan kedatangan tamu yaitu tuan Brotoseno dan istrinya. Nyonya Lira sendiri yang meminta mami agar anggota keluarga kita harus menanti kedatangan mereka bersama." Ucap nyonya Nunung pada suami dan putranya juga menantunya.
"Emangnya ada apa mereka datang kemari dan ingin bertemu dengan keluarga kita mami?" Tanya tuan Syahrul penasaran.
"Mungkin ingin melamar putra ayah untuk putrinya yang manja itu." Sahut Naura asal.
"Naura! Jaga bicaramu! Setiap ucapan itu adalah doa, apakah kamu sedang memberikan lampu hijau pada wanita lain untuk menjadi pelakor?" Omel nyonya Nunung kesal dengan gaya bicara Naura yang terkesan frontal.
"Kita tidak tahu tujuan mereka datang ke sini. Tapi apa salahnya memenuhi permintaan mereka.
Lagi pula putrinya Aurelia tidak ikut serta dalam pertemuan ini karena mami sudah memastikannya sendiri putrinya itu tidak boleh datang, sebelum menyanggupi untuk menerima kedatangan mereka." Ucap nyonya Nunung.
"Jangan mengundang bara dalam hatimu sayang!" Jika kamu tidak ingin merasakan panasnya bara itu hingga membuat ubun-ubunmu kembali mendidih seperti yang pernah kamu rasakan, dengan pernikahanmu sebelumnya." Bisik Tuan Reno pada Naura membuat gadis ini makin keki di depan keluarga suaminya, akibat ucapannya yang sembrono.
"Baiklah mami!" Kami akan pulang makan siang di sini." Ucap tuan Syahrul lalu mengecup pucuk kepala istrinya.
Naura mengambil tas kerja milik suaminya. Tuan Reno mengikuti langkah istrinya karena dia tahu istrinya saat ini sedang menyesali perbuatannya.
Tuan Reno menarik lengan Naura yang saat ini sedang menahan bulir beningnya yang sudah menyeruak di kelopak mata indahnya.
Tuan Reno memeluk tubuh istrinya dan mencium bibir Naura bersamaan dengan bulir bening yang sudah menetes di pipinya.
"Kau ingin aku bersama denganmu di sini?"
__ADS_1
"Tidak mas!" Aku tidak apa, aku hanya asal bicara tadi."
"Kalau begitu minta maaf sama mami!" Dia sangat mencintaimu hingga membentak mu tadi. Lain kali jangan asal nyeletuk, pikirkan dulu saat menimpali perkataan orang tua. Tunggu mereka meminta pendapatmu dan itu pun harus dijawab dengan santun." Tuan Reno menasehati istrinya.
"Entalah sayang, aku tadi merasa sangat cemburu padanya hingga membuatku asal bicara." Kilah Naura.
"Dengar, berhentilah cemburu kepada setiap wanita, hingga membuatmu merasa mereka akan mengambilku dari sisimu.
Aku akan menghabisi wanita manapun yang mencoba mendekatiku dengan caraku sendiri dan wanita yang sengaja menyakiti hatimu, dia akan mendapatkan balasan setimpal dengan perbuatannya itu, kamu mengerti. Ini sumpahku Naura. Jadi, percayalah kepadaku sayang!" Tuan Reno memeluk lagi tubuh empuk Naura yang masih semok usai melahirkan bayi mereka.
"Insya Allah sayang." Ujar Naura lalu mengecup bibir suaminya lembut.
Naura mengantar suaminya bersama buah hati tercinta hingga pintu utama mansion.
Tuan Reno mengecup pipi kedua belahan jiwanya ini.
"Baby! Tolong jaga mami kalau tidak ada Daddy di rumah!"
"Bye Daddy, sampai jumpa lagi saat makan siang." Ucap Naura sambil memperlihatkan wajah bayinya pada sang suami dalam gendongannya.
...----------------...
Sekitar jam sebelas siang, Tuan Brotoseno dan istri sudah tiba di mansion tuan Syahrul. Nyonya Nunung bersama suaminya menyambut tuan Brotoseno dengan sangat baik. Tuan Brotoseno memperkenalkan tim medis dari rumah sakit bersalin yang ada di kota Bantul Jogjakarta.
Nyonya Nunung dan suaminya sedikit heran mengapa pasutri ini membawa tim medis. Namun mereka bersabar menunggu untuk pasutri itu menjelaskan segalanya tanpa ingin kepo duluan.
Kedua keluarga ini mengobrol seputar perusahaan dan benda kesukaan sebelum mulai acara inti.
"Jeng! Di mana putra dan menantu mu Naura?"
"Tunggu saja sebentar, mereka akan turun bersama cucuku." Jawab Nyonya Nunung bangga.
Tapi ada yang menggelitik dihati suster Irma yang sedari tadi memperhatikan wajah tuan Syahrul yang masih dikenalnya walaupun sudah lama tidak berjumpa.
Iapun membisikkan sesuatu pada dokter Ambar yang merupakan CEO itu dengan mengangguk-angguk mengerti akan ucapan stafnya.
"Dokter, itu adalah ayah dari balita yang pernah masuk ke ruang bayi dan menukar gelang nama ibu dari kedua bayi itu.
__ADS_1
Degggg...