Cinta Di Balik Pengkhianatan

Cinta Di Balik Pengkhianatan
29. Pingsan


__ADS_3

Pesta telah usai, semua tamu undangan dan para kerabat telah kembali ke kediaman mereka masing-masing, begitu pula dengan keluarga kedua mempelai.


Mereka sangat lega karena semuanya lancar sesuai rencana walaupun ada insiden kecil terjadi pada mempelai wanita namun semuanya bisa teratasi oleh IO sebagai panitia acara.


Malam makin larut, gedung hotel yang ditempati oleh pengantin baru, di salah satu kamar di hotel itu telah terjadi suatu awal yang indah dari kisah cinta yang dirajut oleh pasangan suami istri ini yang baru berusia tiga bulan.


Sentuhan demi sentuhan terjadi dikamar itu. Tubuh keduanya sudah polos dengan gairah yang sudah mengusai perasaan mereka satu sama lain. Erangan manja terdengar syahdu mengalahkan musik apapun saat ini yang terlontar dari mulut keduanya memiliki irama erotis tersendiri bagi keduanya, namun sayang hal yang diinginkan oleh sang suami pupus ditengah-tengah percintaan mereka ketika gelora cintanya mulai menggebu memaksa birahinya meraih mahkota sang istri.


Tiba-tiba Naura merasakan sakit pada bagian perut bawahnya. Ia menahan sekuat mungkin agar suaminya menuntaskan kerinduan mereka yang selama satu Minggu ini harus puasa menjelang pernikahan.


Tuan Reno yang begitu semangat memacu tubuh istrinya tanpa henti walaupun tubuh Naura tidak mampu lagi meresponnya dan gadis ini akhirnya pingsan.


Karena tidak terdengar suara erangan dari sang istri, Tuan Reno memperhatikan wajah Naura yang terlihat pucat. Dan lebih membuatnya syok ketika melihat darah yang keluar dari bagian sensitif Naura.


"Naura!" Sayang, apa yang terjadi?" Kenapa kamu pingsan, sayang?" Tuan Reno mencoba mengguncang tubuh istrinya, tapi ia panik sendiri melihat darah yang tidak mau berhenti keluar dari inti Naura.


"Sayang!" Jangan membuatku takut!" Apakah aku terlalu kasar melakukannya padamu?"


Tuan Reno mengambil ponselnya lalu menghubungi dokter pribadinya.


Dokter Luna melakukan pemeriksaan terhadap Naura. Wajah dokter Luna terlihat tenang sambil tersenyum.


"Ada apa dokter?" Kenapa anda tiba-tiba tersenyum?" Tuan Reno terlihat bingung dengan ulah dokter karena dirinya sendiri hampir mau mati saat ini.


"Istri anda saat ini sedang hamil Tuan Reno. Usia kandungannya sudah memasuki tiga bulan."


"Apaa...?" Tuan Reno tersentak namun wajahnya seketika berubah berbinar.


"Anda terlalu berlebihan melakukannya sehingga terjadi pendarahan tapi tidak berdampak pada kandungannya.


Kompres saja tempat yang bengkak dengan air dingin dan biarkan istrimu beristirahat.


Saya akan memberikan resep untuk anda tebus. Mulai besok pagi rutinlah minum susu ibu hamil agar perkembangan bayinya selalu sehat, untuk lebih jelasnya temui dokter spesialis kandungan agar bisa melakukan USG, dengan begitu kalian akan melihat perkembangan bayinya." Ucap dokter Luna lalu pamit kepada Tuan Reno.


"Terimakasih dokter!"


Tuan Reno mengompres milik istrinya dengan air dingin. Karena terasa sangat dingin, Naura akhirnya sadar dan melihat suaminya tertunduk sedih menatap milik Naura yang sangat bengkak.


"Mas Reno!" Apa yang terjadi?" Apakah aku ketiduran, sayang?" Tanya Naura lalu berusaha bangkit.


"Auggth!" Kenapa perutku terasa sangat sakit?" Keluh Naura sambil meringis kesakitan.

__ADS_1


"Berbaring saja sayang!" Jangan banyak bergerak."


"Kenapa aku tidak boleh bergerak?" Aku ingin pipis.


"Sayang!" Tadi kamu sempat pingsan."


"Apa..? aku pingsan?" Naura menyibak selimutnya dan melihat ada noda darah di seprei.


"Astaga!" Apakah aku sedang haid?" Sentak Naura.


"Bukan haid sayang!" Tapi kamu mengalami pendarahan ringan tapi dokter sudah memberikan resep untuk menghentikan pendarahan mu.


"Aku pendarahan...?" Kenapa bisa pendarahan?" Tanya Naura sambil mengernyitkan dahinya.


"Karena saat ini kamu sedang hamil, sayang." Ucap Tuan Reno sambil mengusap perut Naura.


Degggg...


"Tidak mungkin. Mas Reno pasti sedang membohongiku. Sudah tiga tahun aku tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk hamil, kenapa baru menikah denganmu tiga bulan, aku sudah dinyatakan hamil?" Mana bisa secepat itu aku hamil?" Naura menangis haru antara percaya dan tidak pada pernyataan suaminya.


"Berarti benihku lebih unggul daripada si bajingan itu." Ucap Tuan Reno dengan rasa bangga.


"Apakah kamu meragukan pernyataan dokter sayang?" Kalau begitu besok pagi kita ke rumah sakit supaya bisa mengetahuinya lebih jelas." Timpal Tuan Reno.


"Kalau begitu gendong aku ke kamar mandi. Aku mau pipis." Ucap Naura masih belum yakin dengan ucapan suaminya.


Tuan Reno menggendong tubuh polos milik istrinya dan mendudukkannya di atas kloset.


"Mas Reno!" Emang benar aku hamil?" Masa sih aku bisa hamil?" Tanya Naura merasa itu hanya bualan suaminya.


"Baiklah. Kalau begitu, aku akan menyuruh petugas hotel untuk membeli testpack sekaligus menebus obat dan membeli susu ibu hamil untukmu."


"Itu ide bagus sayang, daripada aku tidak bisa tidur lagi karena penasaran."


"Astaga, istriku!" Masa perkataan suamimu sendiri kamu tidak percaya." Tuan Reno menggelengkan kepalanya lalu membaringkan lagi tubuh istrinya di kasur.


"Tunggu sayang!" Aku hubungi dulu petugas hotelnya. Tuan Reno menekan angka satu bagian resepsionis hotel untuk meminta mereka membelikan pesanannya.


"Hmm!"


...----------------...

__ADS_1


Sambil menunggu petugas hotel tiba, Tuan Reno mengompres lagi milik istrinya yang masih bengkak dan sesekali menekan di tempat yang bengkak itu agak lama.


"Apakah terasa sakit, sayang?"


"Sudah lumayan, sayang."


Ting..tong!"


Tuan Reno segera membuka pintu itu dan memberikan sejumlah uang pada petugas hotel itu.


"Ambil saja kembaliannya bang!" Ucap Tuan Reno lalu mengambil testpack dan membuka bungkusannya.


"Sekarang kamu pipis lagi sayang setelah itu kita lihat sama-sama hasilnya." Ucap Tuan Reno seraya menyerahkan testpack pada istrinya.


Dalam lima menit, Naura berteriak histeris membuat Tuan Reno hampir jantungan.


"Ahhkkkk!" Pekiknya kesenangan.


"Naura!" Teriak Tuan Reno ketakutan sambil menyerobot masuk ke dalam kamar mandi.


"Mas Reno!" Ternyata benar aku hamil!" Ucapnya sambil tertawa riang.


"Astaga!" Bisa nggak sayang, sikapmu tidak seperti anak kecil seperti itu!" Omel Tuan Reno gemas.


"Ini sayang, lihat testpack nya, aku benar-benar hamil. Aku hamil...aku hamil..Aku hamil. " Naura berjalan sambil berjingkrak.


Tuan Reno malah menjaga gadis ini agar tidak terpeleset karena baru saja dokter menasehatinya agar Naura tidak banyak bergerak karena masih hamil muda.


Tuan Reno menangkap tubuh itu lalu memeluknya erat agar gadis liar ini bisa tenang sejenak.


"Kamu itu tidak sedang menang Lotere sayang, kamu itu sedang hamil. Jangan buat aku jantungan seperti ini. Ini sudah bikinnya capek-capek bukannya dijaga malah loncat-loncat seperti kelinci saja." Lagi-lagi Tuan Reno hanya menarik nafas berat melihat tingkah istrinya yang belum hilang sifat liarnya.


"Aku lagi senang sayang, emang nggak boleh?" Protes Naura sambil cemberut.


"Boleh sayang, tapi jangan loncat-loncat!" Nanti kalau keguguran gimana?" Nanti kita buat dulu, tunggu hasilnya lagi, malah menghabiskan waktu.


Sekarang sudah di kasih, tepat di pesta pernikahan kita dan itu kado pernikahan kita langsung dari Allah. Hebat bukan?" Ucap Tuan Reno memberikan pengertian pada istrinya.


"Ok, aku akan bersikap tenang dan tidak membuatmu cemas lagi. Sekarang ayo kita bercinta lagi!" Ajak Naura membuat suaminya tercengang.


"Hah!"

__ADS_1


__ADS_2