Cinta Di Balik Pengkhianatan

Cinta Di Balik Pengkhianatan
77. TERGANGGU


__ADS_3

Usai kepulangan ibu Rukmini kembali ke kampung halamannya, kini Naura lebih banyak menghabiskan waktunya dengan melamun. Walaupun hatinya tidak peduli dengan nasib Aurelia, namun peringatan keras dari ibu Rukmini cukup membuatnya terganggu.


Lama Naura merenungi nasib pernikahannya yang belum melewati masa tenang karena kehadiran perempuan lain yang masih mengincar suaminya dan juga nyawanya sendiri.


"Ya Allah, menjadi istri pejabat, suamiku di rebut oleh perempuan lain dan sekarang saat mendapatkan lagi suami yang lebih dari segalanya, entah itu uang dan fisik tidak menjamin kehidupan kita akan tenang." Ujar Naura lirih.


"Apakah kamu tidak merasa tenang hidup denganku, sayang?" Tanya Tuan Reno yang sudah berada di balik punggung istrinya.


Degggg...


"Aiss! Kamu ini, mengagetkan saja. Aku hampir kena serangan jantung karena ulah mu." Gerutu Naura dengan wajah cemberut.


"Makanya jangan terlalu lama melamun sayang! Kamu bisa kesambet nantinya. Apa lagi sedang hamil begini, tidak baik bagimu, Naura." Ujar Tuan Reno menasehati istrinya.


"Insya Allah, aku masih mengontrol diriku agar tidak kemasukan jin. Ih, serem, amit-amit deh." Ujar Naura lalu mengibas-ngibas tubuhnya dengan kedua tangannya untuk menjauhkan makhluk halus itu dari tubuhnya.


"Ih, aku hanya bercanda, kenapa diangggap benaran sih." Ujar Tuan Reno menarik tubuh istrinya dan membawa ke dalam pelukannya.


"Buat jaga-jaga aja supaya aku terlindungi dari makhluk halus."


"Lebih baik kamu ucapkan kalimat ta'auz dari pada melakukan hal bodoh seperti tadi." Timpal Tuan Reno.


"Astaga, aku sampai lupa dengan kalimat sakti itu. Terimakasih sayang sudah mengingatkan aku."


"Emangnya kamu lagi ngapain sayang? Melamun di sini sendirian. Di atas balkon kamar lagi. Jangan duduk sendirian di tempat yang tinggi Naura. Ingat kamu lagi hamil.


Kalau terjadi sesuatu denganmu tanpa ketahuan oleh orang rumah, bisa berakibat fatal nantinya, sayang." Ucap Tuan Reno lalu menggendong Naura membawa masuk ke kamar mereka karena hari sudah menjelang sore.


"Maafkan aku mas!"


Ucap Naura yang sudah berada di atas kasurnya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Apakah ada yang mengganggu hatimu saat itu, hmm?" Tanya Tuan Reno sambil mengusap perut besar istrinya.


"Sayang!"


"Hmm!"


"Apakah kamu sangat mencintaiku?"


"Lebih dari nyawaku."

__ADS_1


"Apakah kamu tidak akan tergoda dengan wanita lain, saat aku tidak lagi cantik dan menarik?" Tanya Naura dengan wajah sendu.


"Apakah karena itu kamu melamun?"


"Hmm!"


"Apakah aku terlihat lelaki murahan yang gampang tergoda dengan wanita cantik dan se*si?"


"Mungkin."


"Aku tahu saat ini kamu sedang hamil dan hormon orang hamil pasti sangat labil. Tapi aku mohon padamu, beri aku kepercayaan untuk tidak punya peluang menyakiti hatimu walau datangnya wanita lain yang berniat merusak rumah tangga kita." Ujar Tuan Reno.


"Jangan mengkhianati aku lagi mas Reno!"


Akhirnya air mata Naura lolos juga dari kelopak mata indahnya. Ia hanya berharap rumah tangganya tetap aman tanpa kehadiran orang ketiga.


"Naura! kamu bicara apa sayang? bukankah kita dipertemukan oleh Allah karena pengkhianatan pasangan kita sebelumnya? Kita akhirnya jatuh cinta dan menikah karena berangkat dari sakitnya pengkhianatan pasangan kita. Kalau sudah tahu rasanya disakiti, kenapa harus mengulangi kebodohan yang sama yang pernah dilakukan oleh mantan pasangan kita?"


Tuan Reno memberi pengertian kepada istrinya yang sedang galau berat.


"Antara Maya dan Aurelia, siapa yang paling cantik diantara mereka mas, menurut pendapatmu sebagai lelaki?"


"Tapi aku sedang menanyakan dua gadis itu?"


"Aku tidak punya urusan dengan mereka. Berhentilah berpikir buruk pada suamimu karena setan sedang bermain di dalam pikiranmu dan itu akan berdampak buruk pada kehamilan kamu Naura."


Suara Tuan Reno sedikit meninggi saat mengatakan kekesalannya pada istrinya yang sibuk dengan pikiran bodohnya.


"Maafkan aku mas, aku takut kehilanganmu."


"Justru aku lebih takut kehilanganmu Naura! Jika aku tidak peduli kepadamu, mana mungkin aku menyuruh anak buahku mengawasi kamu ke manapun kamu pergi walaupun pada akhirnya kamu selalu menolak ingin mendapatkan kebebasan.


Itu karena aku takut lelaki lain akan mengganggumu. Di bandingkan dengan dirimu, justru akulah yang sangat takut kehilanganmu Naura."


Tuan Reno tidak ingin berdebat lagi. Satu-satunya cara untuk meredam kegelisahan Naura adalah membungkam mulut istrinya dengan bercinta.


...---------------- ...


Memasuki usia kehamilan delapan bulan, Naura sudah mengambil cuti di perusahaan suaminya. Ia hanya sibuk berolahraga dengan mengikuti senam hamil di rumah dengan memanggil instruktur ke mansionnya.


Setiap tiga hari sekali ia hanya bergantian berkunjung ke rumah ibunya hanya untuk membuang kejenuhan. Jika ada kesempatan Tuan Reno mengajaknya jalan-jalan di hari libur entah itu di taman kota atau di sekitar kompleks perumahan mertuanya.

__ADS_1


Pagi itu Naura belajar menyulam baju bayi dengan ibunya sambil bercerita tentang masa lalunya saat ia masih duduk di sekolah dasar.


Nyonya Lira selalu ingin mengetahui perjalanan hidup putrinya ini selama dibesarkan oleh kedua orangtua angkatnya. Keduanya sedang duduk di gazebo sambil menyulam switer buat Barra dan calon babynya.


"Naura!"


"Iya bunda!"


"Apakah saat kamu masih kecil, banyak teman-temanmu tidak menyadari perbedaan wajahmu dengan ibunya Aurel?"


"Itu bagian terberatnya bunda. Dulu aku sangat sedih jika mereka mengatakan aku anak pungut dari orangtuaku. Dan itu berlangsung hingga aku dewasa. Apakah Aurel juga mengalami hal yang sama denganku bunda?"


Nyonya Lira mengangguk.


"Lantas, mengapa kalian tidak berusaha mencari tahu jika ada perbedaan signifikan antara bunda dan Aurel sebaliknya ayah dan gadis itu?"


"Ayahmu takut bunda sedih dan kepikiran makanya ayahmu tidak ingin mengambil tindakan yang lebih jauh untuk mengusut Aurelia."


"Begitulah? Andai saja, bunda lebih cepat menemukanku, aku tidak perlu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga angkatku atau menerima pinangan mantan suamiku yang menikahi aku saat usiaku masih belia." Keluh Naura.


"Naura! itulah yang selalu membuat bunda merasa sesak saat mengetahui masa kecilmu yang tidak mendapatkan kehidupan layak sebagai seorang putri." Ujar nyonya Lira sambil berkaca-kaca.


"Bunda! Semuanya sudah berlalu. Jika dikenang pun, hanya akan menambah luka. Aku saja ingin melupakan semuanya. Jadi aku mohon jangan lagi bertanya tentang masalahku." Pinta Naura agar ibunya tidak sedih lagi.


"Nyonya besar.. nyonya besar!" Panggil kepala pelayannya dengan wajah panik.


"Ada apa Rara?"


"I..itu...!"


"Itu siapa..?"


Tanya nyonya Lira tidak mengerti. Baru saja ibu dan anak ini hendak bangkit berdiri tiba-tiba datang seorang yang membuat keduanya terperanjat.


"Hallo bunda! Apakah kamu tidak merindukan putrimu yang lain?"


Deggggg..


Wajah Aurelia terlihat sangat kusam dengan penampilan yang terlihat berantakan. Lebih tepatnya seperti orang depresi.


"

__ADS_1


__ADS_2