Cinta Di Balik Pengkhianatan

Cinta Di Balik Pengkhianatan
16. Landing Sempurna


__ADS_3

Dentuman cukup kencang ketika pesawat itu melakukan landing saat memasuki bandara Soekarno-Hatta.


"Mas Reno!" Jangan mati!" Teriak Naura mengundang tawa para penumpang.


"Sayang!" Kamu mimpi buruk?"


Naura tampak linglung saat melihat sekitarnya yang terlihat tenang dan masih menahan geli mendengar teriakannya.


"Astaghfirullah!" Ternyata aku hanya mimpi." Ucap Naura dengan wajah bersemu merah.


Tuan Reno tersenyum geli melihat wajah bantal Naura yang membuatnya ingin mencium gadis ini dengan gemas, tapi ia takut Naura akan ngambek dengannya karena belum ada bendera putih untuk menyentuh gadis itu saat ini walaupun itu hanya mencium pipi mulusnya Naura.


"Ayo sayang kita turun. Pesawat sudah berhenti." Ucap Tuan Reno lalu bangkit dari duduknya sambil menggenggam tangan sang kekasih agar tidak terpisah darinya.


Karena keduanya tidak membawa apapun barang, jadi keduanya langsung berjalan menuju pintu keluar kedatangan.


Di sana sudah berdiri asisten pribadinya Haris.


"Selamat datang Tuan Reno, nona Naura !" Sapa Haris yang sudah membuka pintu mobil untuk pasang ini.


"Kita langsung ke mansion, Haris!"


"Maaf Tuan!" Apakah tidak apa membawa nona Naura kalau masih ada nona Maya di mansion Tuan Reno.


"Apa...?" Jadi wanita itu belum pergi juga dari rumahku setelah aku ceraikan?" Tanya Tuan Reno geram.


"Maaf Tuan!" Sepertinya nona Maya ingin rujuk lagi dengan anda, itu yang ia sampaikan kepadaku."


Degg...


"Percaya diri sekali itu perempuan. Bukankah selama ini ia mengejar lelaki bajingan itu seperti orang gila?" Sekarang aku sudah memberinya kesempatan untuk mereka bersatu supaya tidak perlu berzina menambah dosa, kenapa sekarang malah betah tinggal di rumahku?"


Baiklah. Kalau begitu antar kami ke mansion mama!" Titah Tuan Reno sambil menggenggam tangan Naura yang sudah terasa kebas.


"Maaf sayang!" Ini di luar dari dugaanku, kita menginap di rumah mama saja ya."


"Tapi, aku tidak suka mas masih mengijinkan Maya tinggal di mansion itu." Protes Naura yang tidak ingin berurusan lagi dengan Maya walaupun dia sendiri belum pernah bertemu dengan Maya secara langsung.


"Aku akan mengurusnya setelah kita menikah sayang. Dengan kita sudah menikah, aku lebih percaya diri untuk mengusir wanita itu dari hidupku." Ucap Tuan Reno tegas.


"Apakah dia mengetahui rencana pernikahan kita?"


"Itu bukan urusannya untuk mengetahui rencana pernikahan kita."

__ADS_1


"Tapi, bagaimana kalau dia menganggu acara sakral kita nanti?" Apakah dia mengetahui akulah yang akan mas Reno nikahi?"


"Tolong sayang!" Berhentilah merisaukan dirinya. Kamu adalah wanita pilihanku, andaipun dia tahu, apa masalahnya?" sekalipun kamu adalah mantan istri dari selingkuhannya." Ucap Tuan Reno menenangkan kekasihnya.


"Aku ingin sekali membuat kejutan untuknya, jika dia tidak mengetahui wanita yang menggantikan tempatnya adalah aku mas Reno." Ucap Naura sambil menarik sudut bibirnya, menyeringai sinis dengan penuh rasa dendam.


Pintu pagar gerbang utama terbuka secara otomatis, dan mobil mewah itu melintasi jalan masuk di antara taman bunga yang tertata rapi dengan beberapa pepohonan Cemara botol berbaris berjejer seperti memasuki villa puncak.


Kini mobil itu berhenti sempurna tepat di depan teras mansion dengan bangunan kokoh bercat dominan putih dan berpilar emas sebagai penopang bangunan lantai atas yang menjulang tinggi.


"Ini rumah atau hotel?" Gumam Naura lirih membuat tuan Reno menahan geli melihat Naura yang tampak norak menjelajahi setiap bangunan dan taman sekitarnya dengan manik jeli miliknya.


"Astaga!" Bank mana yang kalian rampok hingga punya rumah semewah ini." Naura terus mengoceh sambil berjalan menengok kanan kiri bahkan kembali lagi memutar badannya dan menilik satu persatu ornamen indah yang menghiasi setiap sudut ruangan.


"Apakah aku kelihatan norak?"


"Sangat!"


"Apakah aku malu-maluin?"


"Emang?"


"Tapi kenapa kamu mau?"


"Seumur hidupku aku baru memasuki rumah orang kaya seperti istana yang ada di film yang aku lihat di televisi.


Aku kira mas Dandy lelaki paling kaya yang aku nikahi, nggak tahunya...?"


Tuan Reno menghentikan langkahnya dan menatap wajah cantik Naura dengan wajah yang berubah kelam.


"Jangan pernah menyebut namanya di depanku, kamu mengerti?" Ancam Tuan Reno.


"Tidak akan!" Sure!" Ucap Naura sambil membetuk huruf v.


"Bagus!"


Keduanya berhenti ketika melihat nyonya Nunung turun dari tangga dengan langkah anggun bak permaisuri.


"Nauraaa!" Panggil nyonya Nunung dengan wajah berbinar menyambut kedatangan calon menantunya.


"Iya Tante! Assalamualaikum!" Naura mencium tangan calon ibu mertuanya.


"Kalian sudah makan?" Kebetulan mami dan papi belum makan malam, ayo kita makan sama-sama." Ajak nyonya Nunung.

__ADS_1


"Tapi, Naura pingin pipis Tante, sudah nggak kuat karena rumah ini seperti masuk dalam kulkas hampir membuatku mati beku." Ucapnya ceplas-ceplos.


Tuan Reno baru mengerti mengapa tuan Dandy selingkuh, rupanya Naura belum bisa beradaptasi dengan suatu hal yang terlihat mewah baginya ditambah bicara Naura yang apa adanya membuat ia malu untuk membawa istrinya kemana pun.


Kecantikan Naura tidak seimbang dengan wawasan ilmunya yang minim.


"Aku harus mengajarnya banyak hal, agar gadis ini tidak terlihat kampungan dan kosong otaknya.


Gadis yang unik, justru kepolosanmu, kamu terkesan jujur dan apa adanya." Batin Tuan Reno.


Nyonya Nunung mengantarkan Naura ke toilet tamu yang ada tidak jauh dengan ruang makan.


"Sudah lega sayang?" Tanya Reno sambil menarik kursi untuk Naura.


"Mengapa hanya ada kita bertiga Tante di meja ini selebar ini dan ini makanan banyak sekali, apakah kalian bisa menghabiskan semuanya?"


"Aku nggak kuat kalau makan semua ini." Ucap Naura jujur.


"Sayang!" Makan saja yang kamu suka, ini disajikan sebagai pilihan, lauk mana yang kamu suka itu yang kamu makan dan sisanya bisa buat para pelayan.


"Enak dong Tante pelayan disini, hidupnya makmur, gajinya tidak berkurang dan makannya terjamin oleh majikan. Hebat!" keluarga ini hebat dengan sifat pemurah nya.


Nyonya Nunung hanya terkekeh mendengar ocehan menantunya yang terdengar begitu jujur tanpa terlihat di buat-buat.


Tidak lama tuan Syahrul pulang dan Tuan Reno dan ibunya langsung berdiri sejenak menyambut tuan Syahrul pulang. Tapi tidak dengan Naura yang langsung salim ayah mertuanya.


"Selamat datang di kediaman mu Naura!" Ucap tuan Syahrul."


"Terimakasih om!"


"Ayo kita mulai makannya!" Bismillah." Ucap mereka masing-masing.


Kepala pelayan membisikkan sesuatu kepada nyonya Nunung yang sedang menikmati makan malamnya.


Terlihat wajah syok nya sambil menatap putranya Reno.


"Apa.. Maya datang ke sini?" Tanya nyonya Nunung membuat Reno dan Naura terperanjat.


"Usir dia dari sini!" Titah Tuan Reno.


"Tidak!" Biarkan ia masuk dan melihat berada di tengah keluarga ini." Pinta Naura.


Deggg....

__ADS_1


__ADS_2