Cinta Di Balik Pengkhianatan

Cinta Di Balik Pengkhianatan
17. Kaget


__ADS_3

Mendengar permintaan calon istrinya Tuan Reno mau tidak mau menganggukkan kepalanya pada kepala pelayannya agar di persilahkan untuk mantan istrinya Maya masuk ke ruang makan.


"Silakan nona Maya!" Tuan Reno sedang menunggu anda di dalam." Ucap pak Rian.


"Awas kamu ya, akan aku adukan kamu pada mertuaku kalau kamu sudah memperlakukan aku dengan kasar!" Ancam Maya sambil melangkah cepat menuju ruang makan.


"Selamat malam sa..?" Kata-kata Maya terputus saat melihat rivalnya dulu sudah berada di mansion mertuanya.


"Kau..!"


"Kenapa kamu bisa berada di sini?" Tanya Maya tidak percaya mantan istri dari selingkuhannya, duduk satu meja dengan keluarga mantan suaminya.


"Apakah kamu mengenal baik Naura, Maya?" Tanya Nyonya Nunung membuat Maya terperangah sambil berpikir sesuatu.


"Dia adalah selingkuhan suamiku!" Tuduhnya melempar batu sembunyi tangan.


"Apakah itu benar Naura?" Selidik nyonya Nunung dengan wajah yang tenang.


"Hahh..?" Apa nggak kebalik?" Apakah kamu lupa ingatan Maya, siapa aku untukmu?" Yang benar saja sampah sepertimu malah balik melemparkan kotoran ke orang lain." Ucap Naura jengah.


"Tinggalkan rumah ini!" Bentak Maya pada Naura yang masih menikmati makanannya.


"Yang tuan rumah bukan kamu, tapi om dan Tante cantik ini, dan berhentilah bersikap seperti kau adalah korban disini." Ucap Naura dengan santai.


"Sialan!" Kau malah makin menantang ku. Dasar perempuan jal*Ng!" Tangan Maya hampir menampar pipi Naura namun Tuan Reno reflek menangkap lengan bawah istrinya lalu mempelitir tangan kurus itu hingga membuat Maya menjerit kesakitan.


"Sayang!" Lepaskan!" Ini sangat sakit." Ucap Maya sambil meringis.


"Pergilah!" Jangan membuat keributan di sini!" Sergah Tuan Reno makin garang.


"Apa hubungan kalian hingga kamu berani menyingkirkan aku dari sini." Ucap Maya yang masih mau menantang mantan suaminya.


"Naura adalah calon istriku!" Dan sebentar lagi kami akan menikah.


Degggg...

__ADS_1


Wajah Maya berubah pucat, pijakan kakinya tampak goyah hingga mundur beberapa langkah.


"Tidak mungkin!" Ini tidak benar, kau ingin menipu aku bukan?" Tolong jangan lakukan ini padaku Reno!" Ku mohon, aku masih mencintaimu, aku dan tuan Dandy hanya sebagai teman biasa, tidak lebih." Lidahnya makin berkelit seakan urat malunya sudah putus.


"Kalian berdua lah yang secara tidak sengaja mempertemukan kami, hingga kami berjodoh." Apakah kamu masih mau mengelak Maya!" Terimakasih atas usahamu untuk membuat hati kami terpaut."


Tuan Reno meminta penjaga keamanan untuk mengeluarkan Maya dari kediaman orangtuanya.


Maya makin meradang sambil berteriak." Aku akan membalas kaliannn!"


Naura nampak tegang namun hatinya cukup lega karena sakit hatinya sudah terbalas kini.


"Kamu tidak apa sayang?" Tanya nyonya Nunung kepada calon menantunya.


"Tidak apa Tante!" Ucap Naura tersenyum tulus pada calon mertuanya.


"Ayo ikut mami!" Mami akan antar kamu ke kamarmu." Langkah kaki kedua wanita beda usia ini begitu anggun. Tinggi badan mereka yang hampir sama dan kecantikannya setara walaupun beda usia.


"Reno!" Ayah sangat bangga kamu mendapatkan duluan gadis seperti Naura walaupun ia sudah janda, namun ia punya hati yang tulus.


Tolong perbaiki etika dalam menghadapi kalangan atas supaya Naura tidak direndahkan oleh para istri saingan bisnismu.


Nyonya Nunung membuka pintu kamar tamu untuk Naura. Gadis ini berseru takjub tanpa sungkan di depan calon mertuanya.


"Waaww!" Kamar ini lebih hebat dari kamar hotel yang aku lihat di televisi. Apakah Tante memiliki tambang emas?" Kenapa bisa sekaya ini?" Ucap Naura sambil berjalan cepat melihat semua isi kamar di dalamnya.


Kamar mandi yang dilengkapi bathtub dan shower dengan wastafel marmer dengan kaca persegi panjang dilengkapi vas bunga segar di pinggirnya.


Closet duduk dengan merek ternama dengan desain unik serta banyak ornamen lain yang makin menambah kenyamanan penghuni kamar ini untuk betah berlama-lama membersihkan dirinya.


"Tante, aku bisa ketiduran kalau lagi mandi. Ini sangat berlebihan untukku." Ucap Naura mulai minder.


"Naura sayang!" Bukankah kamu ingin menjadi menantu mami?" Kenapa tiba-tiba. bicara seperti itu, hmm?"


"Aku hanya takut tidak bisa mengimbangi kehidupan sosial keluarga Tante. Aku tidak punya sesuatu yang bisa aku banggakan di hadapan keluarga Tante.

__ADS_1


Otakku cukup tumpul untuk mengerti sesuatu kecuali urusan mengatur rumah tangga aku jagonya." Sok tahunya mulai pamer.


"Kamu sangat lucu sayang, justru itu yang mami suka, sekarang kamu mandi lalu ganti baju terus kita fitting gaun pengantin di butik kenalan mami." Ucap nyonya Nunung.


"Tapi Tante aku nggak bawa baju, bisa Tante pinjamkan untukku?"


"Astaga!" Mami sampai lupa menunjukkan ruang ganti untukmu sayang. Kemarilah!" Nyonya Nunung membuka pintu walk in closet lalu memperlihatkan deretan baju, gaun, tas, sepatu dan jam tangan yang tersusun rapi dan apik.


"Tante di kamar ini punya konter baju sebagus ini?" Apakah ini bekas jualan Tante?"


"Ini untukmu sayang selama kamu menginap di sini, pilihlah baju yang kamu suka."


"Tante!" Tolong pilihkan baju yang bagus untuk Naura supaya mas Reno senang jalan sama Naura.


"Baiklah sayang!" Kamu seperti putri Tante Naraya."


"Di mana dia Tante?" Ko aku nggak lihat."


"Dia sudah meninggal Naura karena kecelakaan tabrakan." Ucap nyonya Nunung sedih.


Degggg....


"Maafkan saya Tante!" Saya tidak bermaksud membuat Tante sedih."


"Tidak apa Naura!" Ayolah segera mandi setelah itu kita pergi. Mami tinggal dulu ya." Nyonya Nunung keluar dari kamar Naura karena air matanya hampir tumpah mengenang putrinya Naraya.


"Raya sayang!" Kamu seperti Naura. Sifat manja mu dan juga bicaramu terlihat ceplas-ceplos seperti Naura.


Rindu maki terobati dengan kehadiran Naura saat ini. Sebentar lagi dia akan menjadi kakak ipar mu." Ucap nyonya Susan lirih.


Detik berlalu, menit pun makin bergulir. Naura yang sudah siap dengan tampilannya yang sangat cantik malam ini. Ia mengambil tas yang ada di antara deretan tas mewah itu berjalan anggun melewati beberapa pelayan yang sangat iri dengan wanita ini.


Naura yang baru mencoba memakai sepatu high heels putih yang sesuai dengan tasnya yang memiliki warna senada, berjalan sedikit hati-hati karena takut terpeleset.


Tuan Reno yang melihat Naura yang sedang menuruni anak tangga sedang mengagumi sosok wanita ini yang telah membuatnya cepat ingin memiliki Naura.

__ADS_1


Naura yang terlihat malu diperhatikan terus menerus oleh Tuan Reno, tidak fokus lagi dengan urusannya turun tangga yang belum sampai juga hingga ia akhirnya terpeleset juga.


"Nauraaa!" Teriak Tuan Reno berusaha menangkap tubuh ramping itu sebelum jatuh terguling dari anak tangga itu.


__ADS_2