
Ketika mengetahui kalau Naura hamil lagi, pasangan kumpul kebo antara Dandy dan Maya makin meradang. Pasalnya sampai saat ini, keduanya sama-sama masih berharap hubungan antara Tuan Reno dan Naura bisa hancur, namun bingung dengan cara apa keduanya bisa renggang atau tercipta konflik diantara keduanya.
Dandy dan Maya memutuskan untuk tinggal bersama di apartemen miliknya Maya karena rumah Dandy sendiri sedang di kontrakan dan Maya sendiri tinggal bersama kedua orangtuanya. Karena kurang bebas untuk menyalurkan hasrat birahinya, Maya mengajak Dandy untuk tinggal bersama tanpa ikatan Cinta.
Awalnya Dandy keberatan dengan permintaan Maya yang menjadikan dirinya hanya sebagai gigolo, namun ketika Maya menolak untuk berhenti membiayai hidupnya akhirnya Dandy menurutinya kemauan Maya karena dua sendiri saat ini masih pengangguran.
Kini keduanya sedang duduk di bar mini di dalam apartemen milik Maya itu sambil mengobrol usai bercinta.
"Apakah kamu sudah mendengar Naura saat ini sedang hamil anak ke dua?" Tanya Maya sambil memainkan gelas minumannya sambil menggoyangkan wine itu di gelas tangkai miliknya.
"Apa...? dia hamil lagi?" Tanya Dandy tidak percaya jika rahim mantan istrinya begitu subur membuahi benih milik suaminya, Tuan Reno.
"Apakah kamu cemburu?". Tanya Maya penuh selidik.
"Untuk apa? Dia sudah bahagia dengan mantan suamimu, jadi tidak urusan lagi dia denganku." Timpal Dandy menutupi perasaan sakitnya mendengar kabar kehamilan Naura.
"Apakah kamu tidak ingin mempunyai anak dariku, Dandy?"
Deggggg..
Dandy terhenyak mendengar penuturan seorang Maya yang ingin punya anak darinya..
"Bukankah selama ini kamu tidak ingin punya anak Maya?"
"Itu dulu saat usiaku masih muda, sekarang saat usiaku sudah setua ini, rasanya aku ingin memiliki anak agar bisa menemani di hari tuaku. Aku tidak ingin hidup sendirian. Aku ingin ada yang mencemaskan aku saat aku sakit." Ujar Maya serius.
"Bukankah ada aku yang selalu menemani kamu disini? mengapa kamu malah ingin memiliki anak?"
"Aku sangat membutuhkannya setelah aku melihat Naura mengantar putranya setiap hari ke sekolah."
"Aku memang bajingan bahkan seorang lelaki bajingan. Tapi aku tidak ingin punya anak diluar nikah.
Jika aku dan kamu memiliki orangtua yang beradab untuk mendapatkan kita dengan cara menikah, kenapa harus memiliki anak dengan cara yang salah?" Tanya tuan Dandy lirih.
Maya menarik nafas berat. Apa yang dikatakan Dandy ada benarnya. Namun jika pernikahan hanya dilandasi dengan rasa suka tapi tidak ada komitmen dalam pernikahan itu yang ia takutkan, mengingat Dandy saat ini adalah pria pengangguran yang memanfaatkan uang dan tubuhnya saja. Tapi memberikan perusahaan miliknya untuk dikelola Dandy, Maya pun masih sangat sangsi dengan kredibilitasnya Dandy.
"Baiklah aku ingin kita menikah tapi harus ada perjanjian pra nikah." Ucap Maya membuat Dandy merasa Maya tidak serius membangun rumah tangga dengan dirinya, apa lagi Maya masih berharap untuk mendapatkan lagi Tuan Reno.
"Terserah padamu, aku ikut saja." Ucap Dandy dan keduanya saling melakukan tos dengan gelas minuman mereka.
__ADS_1
"Ayo kita bercinta lagi!" Ajak Maya sambil menarik tangan Dandy yang selalu sigap jika diajak bercinta.
Keduanya tidak membutuhkan kasur untuk melakukan percintaan panas. Di sofa pun bisa mereka jadikan arena pertempuran untuk mendapatkan kenikmatan sesaat itu.
...----------------...
Sementara Naura dan Tuan Reno lebih berhati-hati dalam menjaga calon janin mereka yang masih berusia tiga bulan. Walaupun begitu, Tuan Reno tidak membatasi gerakan Naura yang masih ingin bekerja di perusahaan.
Justru dengan Naura ada di perusahaan, membuat ia sangat tenang karena selalu mengawasi gadis itu secara langsung tanpa kuatir berlebihan jika berjauhan.
"Sayang, kamu makan siang di mana?" Tanya Tuan Reno saat jam sudah menunjukkan pukul 11.00.
"Aku mau makan pizza dan spaghetti." Ujar Naura sambil mengetik sesuatu di laptopnya.
"Baiklah sepuluh menit lagi kita berangkat."
"Tapi aku tidak ingin makan berdua saja denganmu sayang. Aku ingin mengajak putra kita juga." Pinta Naura.
"Nanti biar Wisnu yang menjemputnya di sekolah dan langsung ke restoran pizza."
Dalam waktu sepuluh menit, keduanya langsung meluncur ke restoran pizza. Sementara Aldo masih menunggu di depan pintu gerbang sekolahnya Barra. Sekolah masih ramai dengan para penjemput entah orangtua atau sopir pribadi mereka.
"Apakah hari ini ada pelajaran eskul tambahan?" Gumam Wisnu lirih.
Karena penasaran, Wisnu akhirnya nekat masuk ke dalam gedung sekolah. Ia sudah tidak sabar lagi menunggu Barra keluar dari dalam gedung sekolahnya.
"Di mana letak kelas satu A?" Tanya Wisnu pada salah satu OB sekolah itu.
"Dua blok dari sini pak. Kelas paling ujung." Ucap OB itu.
"Terimakasih pak!" Wisnu berjalan menuju kelasnya Barra.
Ketika tiba di kelas itu, Wisnu mengetuk pintu dan yang menemuinya wali kelas Barra yang belum pulang.
"Maaf tuan! Mau jemput siapa?"
"Barra!"
"Barra...?"
__ADS_1
"Barra sudah pulang dari tadi Tuan. Kalau tidak salah dijemput seorang wanita cantik yang mengaku tantenya Barra." Ucap ibu Nova Huge.
"Astaga! Menurut sepengetahuan saya, Barra tidak memiliki Tante kandung, andaipun ada, tantenya itu sudah meninggal." Ucap Wisnu membuat ibu Nova tersentak.
Deggggg...
"Ya Allah! Berarti aku...?" Kata-kata ibu Nova terhenti karena Wisnu sudah kabur dari hadapannya.
Ibu Nova langsung ke kantor kepala sekolah untuk melaporkan kejadian pada pihak sekolah agar mereka melihat lagi siapa yang sudah menjemput Barra.
Sementara di restoran pizza, Naura sudah memesan pizza kesukaan putranya dan juga suaminya. Hingga pizza dihidangkan, putranya belum juga muncul.
Naura mendesak suaminya untuk menghubungi asistennya Wisnu. Tuan Reno segera menelepon Wisnu namun ponsel lelaki tampan itu juga sedang sibuk.
Rupanya Tuan Reno dan Wisnu sama-sama saling menghubungi.
"Kenapa ponsel Wisnu sulit dihubungi?" Gumam Tuan Reno kesal.
Asisten Aldo beralih menghubungi ponselnya Naura, namun ia tidak berani melanjutkan perkataannya karena saat ini Naura sedang hamil muda. Berita ini tidak baik untuknya.
Naura melihat ponselnya berdering lalu mati." Mas Reno. Kenapa Wisnu malah menelpon aku? bukannya ke mas?" Tanya Naura sambil memperlihatkan panggilan masuk dari Wisnu pada suaminya.
"Coba aku telepon lagi dia!" Tuan Reno melakukan panggilan beberapa kali ke ponsel Wisnu.
Tidak lama kemudian, Wisnu menerima panggilan itu.
"Hallo Wisnu!"
"Hallo Tuan! Tunggu sebentar Tuan, aku mau menepikan mobilnya dulu." Ucap Wisnu lalu meletakkan lagi ponselnya.
Setelah di rasanya aman untuk bicara dengan Tuan Reno, Wisnu baru bisa bicara lagi dengan Tuan Reno yang sedang gelisah menunggunya.
"Tuan....!"
"Wisnu. Kalian sudah sampai di mana? kenapa lama sekali menjemput Barra?"
"Maaf tuan! Sepertinya Barra di bawa kabur oleh seseorang karena di sekolah, wali kelasnya mengatakan kalau barra di jemput oleh seorang wanita dan aku belum sempat menanyakan ciri-ciri wanita itu karena ingin mengabari Tuan Reno secepatnya." Ucap Wisnu.
Deggggg..
__ADS_1
"Apa....?!"