
Naura menatap wajah suaminya dan keluarganya. Begitu juga keluarganya menatap balik wajah Naura yang terlihat tegang.
"Ada apa Naura? mengapa wajahmu tegang begitu?"
"Aurelia sedang sakrat."
"Apakah dia mengalami kecelakaan lalu lintas?" Tanya tuan Brotoseno.
"Tidak ayah! Aurelia seorang pemakai. Dia sedang mengalami over dosis." Ujar Naura.
"Baiklah. Lebih baik kita ke rumah sakit sebagai bentuk kemanusiaan. Lagian kita harus menghargai pak Indarto dan Bu Rukmini yang selama ini sudah merawat putri kita." Ujar tuan Brotoseno.
"Habiskan makan siang kalian dulu baru ke rumah sakit!" Titah Nyonya Lira.
Tuan Reno dan Naura segera berangkat. Kedua anaknya dititipkan kepada ibu mertuanya, nyonya Nunung yang tidak mau turun gunung karena baru tiba di villa putranya.
Dalam sekejap mobil mewah itu sudah memasuki jalan bebas hambatan dari kota Bandung menuju kota Jakarta.
Sebenarnya keluarga ini tidak begitu peduli dengan Aurelia, namun mereka hanya ingin menunjukkan rasa empati mereka sebagai sesama manusia apalagi, Aurelie korban bayi tertukar dan ketidakpuasan dirinya yang dikembalikan lagi ke rumah keluarga aslinya yang membuat harga dirinya merasa sangat jatuh.
Hidupnya yang selama ini bergelimang harta dan menyandang nama besar putri ningrat Jogjakarta membuat dirinya makin terlihat angkuh dan tak terkalahkan dengan orang lain yang selama ini sangat segan padanya.
Namun sayang, sejalannya waktu, semuanya berubah seketika. Ia harus dihadapkan pada kenyataan yang membawa kembali dirinya pada sesuatu yang selama ini ia remehkan dan bahkan menindas orang yang tidak selevel dengan dirinya.
Hingga akhir hidupnya ia tidak mau mengakui kedua orangtuanya sebagai orangtua kandungnya.
"Apakah kamu sudah menghubungi rumah sakit di mana Aurel di rawat?" Tanya Tuan Reno.
"Belum sempat."
"Baiklah. Kalau begitu biar Ruben dan Raka yang mengurus gadis itu hingga kita tiba di Jakarta." Ujar Tuan Reno.
"Ya Allah. Kasihan ibu dan ayah. Mereka tidak bisa melakukan kewajiban mereka sebagai orangtuanya Aurel karena sifat keras kepalanya." Ujar Naura prihatin.
"Yang namanya orangtua, tidak akan pernah mengingkari keberadaan anak mereka walaupun sesakit apapun yang mereka alami karena perbuatannya anak mereka yang memalukan." Ujar Nyonya Lira.
Naura membuka notifikasi pesan yang sudah masuk beberapa kali di ponselnya. Pesan yang berasal dari ibu Rukmini yang mengabarkan mereka saat ini sudah tiba di bandara Soekarno-Hatta.
"Mas Reno! Ibu dan ayah sudah tiba di bandara. Apakah ada yang menjemput mereka?" tanya Naura cemas.
"Tidak usah kuatir sayang! Mereka sudah di urus Wisnu. Kita bisa bertemu mereka di rumah sakit. Semoga Aurelia bisa bertahan sampai kedua orangtuanya tiba di rumah sakit." Ujar Tuan Reno.
__ADS_1
Dalam tiga jam, mobil tuan Reno sudah memasuki tol dalam kota. Itu berarti tidak lama lagi mereka tiba di rumah sakit di mana Aurelia saati i sedang di rawat.
Sementara itu, ibu Rukmini hanya bisa berdoa yang terbaik untuk putrinya.
"Ndo! Kamu hanya menumpang di rahimku dan dibesarkan oleh orang lain. Tapi mengapa kamu mengingkari kami sebagai kedua orangtua kandungmu karena kemiskinan kami?" Keluh ibu Rukmini sambil menangis.
"Semuanya sudah terjadi ibu. Kita sudah berusaha untuk menerima putri kita tapi dia tidak begitu peduli dengan kasih sayang dan perhatian kita. Jadi biarkan dia merasakan sendiri akibat keangkuhannya yang tidak mau mengakui kita sebagai kedua orangtuanya sampai akhir hidupnya." Ujar pak Indarto.
Di rumah sakit, Tuan Reno dan keluarganya sudah masuk ke kamar Aurelia yang sedang terbaring lemah dengan peralatan medis yang sudah menempel di beberapa bagian tubuhnya.
"Aurel!" Sapa Naura lembut.
"Kau datang?" Ucap Aurel begitu mendengar suara Naura.
"Hmm!"
"Apakah kalian sudah membuat hidupku menderita sekarang?" Tanya Aurel masih dengan sikapnya yang sinis.
"Berhentilah menyalahkan orang lain! jika kamu sedikit saja bisa menelaah takdir kehidupan ini.
Tidak selamanya hidup ini menuruti apa yang kamu inginkan. Justru sebagian hidupmu sudah dipenuhi kebahagiaan dan pada akhirnya kamu harus menerima kenyataan bahwa kaku juga harus siap menjalani ujian hidupmu sendiri.
Jika kamu masih angkuh hati, kaku tidak lebih dari iblis yang tidak ingin tunduk pada siapapun." Ujar Naura menohok.
"*Sampai matipun, aku tetap mengutuk mu Naura. Kehadiranmu telah menghancurkan masa depanku." umpat Aurelia.
"Berhenti memaki semua orang atas penderitaan yang kamu alami!"
Ujar pak Indarto yang baru tiba di kamar inap putrinya.
Degggg..
"Ayah!" gumam Naura lirih.
Tuan Indarto mengusap pundak putri angkatnya itu dan kembali fokus pada putrinya Aurel.
Entah kenapa tiba-tiba, Aurel tiba-tiba mengalami sesak nafas.
"Ayah, ibu!" Panggil Aurel agar kedua orangtuanya mendekatinya.
"Ndo!" Tangis ibu Rukmini pecah sambil membelai wajah cantik putrinya.
__ADS_1
"Istighfar Aurel!" pinta ayahnya.
"Ibu! Tolong ambil dua anakku yang telah dirampas!" Pinta Aurel dengan nafas satu persatu.
"Insya Allah, nak!" Ujar ibunya sambil terisak.
"Ibu! aku kangen pada kedua anakku."
Nafas Aurel makin melemah.
"Aurel..!"
"Sayang..!" Panggil pak Indarto dengan suara parau.
Aurel merasa lehernya seakan dicekik hingga ia meronta dengan mata mendelik ke atas.
"Astaga! Aureliaaa!" Jerit ibunya histeris melihat kondisi Aurel yang menghadapi mautnya.
Dari mulut gadis itu kembali keluar busa. Tuan Reno mengajak keluarganya untuk menunggu di luar karena dokter dan suster sudah masuk ke ruangan itu untuk menolong Aurel.
"Aurelia, sayang!" Pekik ibu Rukmini.
Di saat terakhirnya, Aurelie menggapai tangan ibunya dan membawa ke pelukannya tanpa kata seakan mengatakan, "ibu maafkan aku!"
Setelah merasakan ketenangan saat ibunya membisikkan kata-kata yang sangat dinantikannya.
"Ibu ridho padaku nak, jika kamu ingin pulang pada Allah, ibu akan mencari kedua anakmu dan akan ibu rawat." Ucap ibu Rukmini.
Lambat laun, nafas Aurel mulai perlahan dan dalam tarikan terakhir, gadis itu akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir.
"Aurelll!"
Tangis ibu Rukmini sambil memeluk tubuh putrinya yang sudah meninggal dunia.
Dokter memeriksa keadaan Aurelia yang ternyata sudah meninggal dunia.
"Waktu kematian 17.30 WIB." Ujar dokter Handoko.
"Kami ingin membawa pulang jenasahnya ke kampung halamannya di Solo dokter." Pinta pak Indarto.
"Baik. Kami akan segera mengurus bekas kematiannya dan mobil ambulans akan mengantarkan jenasah sampai ke bandara." Ujar dokter Handoko.
__ADS_1
Jenasah Aurelia segera di antar ke bandara begitu berkasnya sudah lengkap. Tuan Reno dan keluarganya berjanji akan mengikuti proses pemakamannya besok pagi. Mereka tidak bisa ikut ke Solo karena kedua anaknya masih berada di Bandung dengan ibunya.