Cinta Di Balik Pengkhianatan

Cinta Di Balik Pengkhianatan
40. Perhatian


__ADS_3

Naura sedang berkutat dengan buku-buku kuliahnya yang membuat ia mulai bosan karena harus menghafalkan semuanya.


Naura mengambil jurusan Humas agar ia lebih banyak belajar untuk berinteraksi dengan orang lain.


Kamu akan dibentuk untuk memiliki kepribadian menyenangkan dan mampu berkomunikasi dengan setiap orang dari berbagai lapisan; merancang dan membangun image perusahaan serta mewakili perusahaan dalam berhubungan dengan media.


Naura yang sedang duduk di taman kampus di bawah pohon rindang dengan berbagai cemilan dan minumannya yang ada di hadapannya.


"Apakah tidak ada jurusan yang lebih membuatku santai berpikir tanpa harus menguras otakku sampai saat ini.


Mana dua Minggu lagi mau ujian dan aku hanya membolak balikkan buku ini berkali-kali tanpa ada yang nyangkut satupun di otakku." Keluhnya sambil tetap menatap ringkasan yang sudah ia buat untuk memudahkannya belajar.


"Kamu bisa, asalkan ikhlas belajarnya." Tegur dosen Haidar yang sudah berdiri di balik punggungnya.


"Eh, pak Haidar!"


Naura sedikit beringsut dari duduknya karena pak Haidar hampir menyentuh tubuhnya.


"Apakah kamu mau aku membantumu belajar, Naura?" Tanya pak Haidar mencari kesempatan untuk lebih dekat dengan Naura.


"Tidak perlu!" Karena aku bisa membantunya." Tegas Tuan Reno yang tiba-tiba berdiri di samping mereka.


"Mas Reno!" Sentak Naura sambil tersenyum karena lelaki ini yang membuatnya tidak kosen belajar sedari tadi.


Pak Haidar berdiri lalu tersenyum hormat pada Tuan Reno tapi sedikit mencibir.


"Maaf Tuan!" Aku hanya ingin membantu istri anda, Naura. Apakah ada yang salah dengan tawaranku?"


"Apakah dari sekian mahasiswa yang ada di sini, kenapa harus istriku yang mendapatkan perhatian khusus darimu?" Bahkan kau tidak malu untuk mendekati istri orang lain dengan dalih sebagai dosen di sini padahal kamu hanya dosen pengganti. Apakah kamu tidak punya kerja lain, selain mendekati mahasiswa mu yang sudah berkeluarga?" Sindir Tuan Reno sinis.


"Kau..!"


Naura begitu ketakutan untuk menengahi keduanya karena sama-sama dua kubu yang kuat untuknya. Tapi ia lebih memilih mencari aman dengan pura-pura meringis kesakitan pada perutnya.


"Mas Reno!" Akhhhhkkk perutku tiba-tiba sakit." Ucapnya sedikit membungkuk sambil mengusap perutnya agar terlihat natural.


"Sayang!" Apakah sangat sakit?" Tuan Reno menggendong gadisnya diikuti Raka dan Ruben yang sudah siap mengambil mobil untuk pasutri ini.


"Kita ke rumah sakit Raka!" Titah Tuan Reno dengan wajah mengeras karena tidak tega melihat Naura meringis kesakitan.


"Sudah sayang!" Tidak perlu!"


Bayimu tadi hanya menendang perutku saja. Tendangannya sangat kuat hingga aku tidak kuat menahannya." Ucap Naura yang tidak ingin ke rumah sakit karena ia sedang bersandiwara saat ini.


"Benarkah hanya itu?"


"Hooh!"

__ADS_1


"Sayang!" Kenapa kamu nakal sekali menendang perut mami kamu?" Tuan Reno mengajak babynya bicara sambil meletakkan tangannya diperut buncit istrinya.


Respon dari dalam sana tidak terima dengan menendang perut ibunya begitu keras hingga Naura terpekik kesakitan, seakan protes pada ibunya yang sedang memperalat dirinya untuk membohongi ayahnya.


"Auhhghtt!" Naura mencengkeram lengan suaminya begitu kuat menahan pergerakan tubuh sang bayi yang meliuk-liuk di dalam rahimnya.


Tuan Reno begitu senang bayinya merespon dirinya.


"Sayang!" Apakah kamu merindukan kunjungan ayah, hmm?"


"Cih!" Dasar ayah modus!" Geram Naura saat tangan suaminya sudah turun di bagian bawah perutnya di balik selimut yang sengaja ditutup Tuan Reno.


"Sini sayang!" Duduklah di pangkuanku!" Tuan Reno menarik tubuh istrinya agar menyatu dengan tubuhnya.


Naura sudah mengetahui suaminya memang senang memangkunya dan memanfaatkan waktu untuk saling berciuman hingga tiba di apartemennya.


...----------------...


Usia kandungan Naura yang sudah memasuki tujuh bulan cukup membuatnya lebih cepat lelah dan sulit untuk tidur.


Keduanya kini sudah berada di rumah sakit untuk melakukan USG dan ingin mengintip jenis kelamin sang bayi bersama ibu mertuanya, nyonya Nunung.


Ketiganya sangat bahagia melihat tampilan USG tiga dimensi dan melihat jenis kelamin bayinya yang ternyata adalah laki-laki.


"Masya Allah, cucuku tampan sekali." Puji nyonya Nunung begitu terharu.


Dokter Melissa membersihkan jelly yang menempel di perut Naura lalu menjelaskan beberapa hak yang perlu diperhatikan ibu hamil ini.


"Dua bulan lagi nona Naura akan melahirkan. Semoga Tuan Reno menjadi suami siaga untuk istrinya. Persiapkan semuanya sebelum datangnya masa persalinan. Semoga ibu dan bayinya selalu sehat dan dimudahkan persalinannya nanti." Ucap dokter Melissa lalu memberikan copy resep untuk ditebus oleh Tuan Reno.


Di mobil nyonya Nunung mengusap perut besar menantunya. Ia tidak sabaran lagi menunggu Naura untuk melahirkan.


"Sayang!" Kamu mau makan apa?" Biar mami yang siapkan untukmu."


"Apa saja mami yang penting enak. Tapi Naura pingin banget keluar negeri sebelum bayi kami lahir." Pinta Naura manja.


"Apakah boleh melakukan perjalanan jauh ke luar negeri dengan kehamilan besar seperti ini?" Tanya Tuan Reno cemas.


"Sayang, maunya ke negara mana?' Tanya Nyonya Nunung.


"Korea saja mami karena Naura pingin lihat salju pertama kali turun. Katanya sebentar lagi saljunya turun.


"Kalau itu dekat, jadi tidak apa Reno." Ujar nyonya Nunung yang tidak ingin melihat menantunya kecewa.


"Baiklah sayang, dua hari lagi kita berangkat." Ujar Reno.


"Memangnya kenapa Naura pingin ke Korea Selatan, selain pingin lihat salju turun?"

__ADS_1


"Pingin rasain makanan tradisional mereka mami. Di Jakarta memang ada tapi pingin rasain langsung masakan yang diolah langsung di sana.


Makannya ditengah musim salju, rasanya seperti apa ya?" Naura mengetuk-ngetuk dagunya sambil mengkhayal makanan kesukaannya.


"Pastinya nuansanya berbeda Naura, karena makan di musim dingin lebih nikmat dan lebih banyak porsinya karena mudah lapar saat musim salju." Ucap Tuan Reno.


"Kalau bisa Naura mau melahirkan di sana biar bayinya mirip dengan Ji Chang Wook." Ucap Naura sambil tersenyum malu.


"Itu anakku, harus mirip denganku, kenapa kamu malah memilih dia." Bikin kesal aja." Ucap Tuan Reno sambil merengut.


"Cih!" Kau sangat pemarah sekali. Buatnya denganmu, otomatis mirip kamu. Itukan hanya khayalan aku saja, kenapa mas Reno tersinggung." Ucap Naura sangat frontal membuat nyonya Nunung tersenyum kecil.


"Ya Allah kalau lagi ribut sudah kaya anjing dan kucing. Tapi kalau sudah mesra orang disekitarnya nggak dianggap." Rempong deh." Keluh nyonya Nunung pura-pura marah kepada keduanya.


Tidak lama kemudian, keduanya sudah tiba di mansion. Nyonya Nunung segera ke dapur untuk menyiapkan makanan Korea kesukaan Naura.


"Apakah sudah matang pesanan menantuku chef Rio?"


"Sudah nyonya tinggal di sajikan saja."


"Baik. Segera sajikan!"


Tuan Reno meminta Naura untuk membersihkan tubuhnya lalu menggantikan baju sebelum makan.


"Mas Reno!" Aku lapar, apa tidak nanti saja." Ucap Naura menolak ajakan suaminya.


'Kalau tunggu entar bakalan kamu malas dan langsung tidur." Bantah Tuan Reno.


"Selalu saja begitu. Senang banget ngerjain istrinya."


"Sayang lepas sepatumu dan cepat ke kamar!" Titah Tuan Reno tidak sabaran.


"Iya bawel!"


Naura mencomot buah apel yang ada di meja lalu melepaskan sepatunya di bawah tangga.


"Hati-hati naik tangganya sayang!" Aku segera menyusulmu. Aku saja yang akan memandikanmu." Bisik Reno menggoda istrinya.


"Tidak mau!" Aku akan mandi sendiri. Kalau sama mas mandiku menjadi lebih lama dan aku makin lapar, kasihan baby kamu." Protes Naura sambil menaiki anak tangga.


Ketika di tengah tangga, Naura terpeleset membuat Tuan Reno dan nyonya Nunung teriak bersama.


"Naura!"


Tuan Reno melemparkan ponselnya berusaha menangkap belahan jiwanya.


Nyonya Nunung memegang kursi makan karena jantungnya rasanya mau copot saat ini.

__ADS_1


__ADS_2