Cinta Di Balik Pengkhianatan

Cinta Di Balik Pengkhianatan
82. KELUARGA RENO


__ADS_3

Enam bulan berikutnya, Keluarga Tuan Reno berlibur ke Bandung. Sudah lama mereka tidak pernah berkunjung ke villa semenjak Naura bekerja di perusahaan suaminya hingga ia melahirkan putri keduanya.


Tuan Reno tidak berangkat sendiri dengan keluarga intinya. Ia juga mengajak kedua orangtuanya dan juga mertuanya di liburan mereka kali ini.


Villa yang cukup besar sengaja dibangun Tuan Reno hanya ingin memenangkan diri mereka ketika masalah pekerjaan yang makin menumpuk membuatnya tertekan.


Biasanya ia akan menyusun ulang pekerjaannya bersama Wisnu di villa itu. Banyak sekali bagian yang direnovasi ulang sesuai permintaan Naura yang ingin villa itu di rancang seperti villa yang ada di Bali.


Barra mengajak kedua kakeknya bermain sepak bola bersamanya. Sementara kedua neneknya mengarahkan pelayan untuk membantu mereka menyiapkan masakan yang akan di masak sendiri oleh keduanya.


Tuan Reno sedang menemani istrinya duduk bersama Mikaila.


"Sayang!"


"Apakah kamu sudah merasakan kebahagiaan dariku?" Tanya Tuan Reno.


"Tidak ada lagi kebahagiaan yang yang dirasakan oleh seorang istri jika suaminya hanya memberikan hati, tubuh dan pikirannya pada keluarganya terutama istri yang dicintainya.


Harta memang kita butuhkan sayang, tapi kalau hatimu mendua, sebanyak apapun yang dikasih olehmu tidak lagi terasa nikmat." Ujar Naura.


"Insyaallah sayang, aku akan menjaga hatiku untuk satu wanita yaitu itu istriku Raden Ayu Naura Aulia binti Brotoseno." Ujar Tuan Reno.


"Ya Allah. Aku tidak menyangka aku adalah bagian dari darah bangsawan. Aku pikir hidupku hanya berkisah dengan kemiskinan dan air mata hingga aku bertemu dengan dirimu sayang." Ujar Naura.


"Sama Naura! Saat aku mengetahui Maya selingkuh, aku tidak merasa kehormatanku sebagai seorang lelaki ternodai, apa lagi banyak cemoohan yang aku terima dari siapapun yang mengenal kami beradu bahwa aku adalah lelaki yang tidak bisa menjaga istrinya."


"Mas Reno!"


"Iya sayang!"


"Apakah saat kamu mengenal Maya dan mau menikahinya, apakah saat itu adakah cintamu untuknya?"


Tuan Reno menghela nafasnya gusar. Ia ingat saat dipaksakan kedua orangtuanya untuk menikahi Mulan yang merupakan relasi ayahnya, Tuan Reno sangat tidak menyukai Maya walaupun gadis itu berusaha menarik perhatiannya.


Karena sifatnya Tuan Reno yang begitu dingin pada Maya, hingga membuat istrinya itu mencari kepuasan batinnya pada laki-laki lain.


"Perselingkuhan Maya terjadi karena aku yang tidak pernah memperhatikan dirinya saat itu. Walaupun seperti itu, tetap saja perselingkuhan tidak dibenarkan dalam alasan apapun.


Dua bisa memintaku untuk bercerai dengannya baik-baik, tapi dia tidak mau melakukannya dengan jalan yang ijinkan Allah tapi juga sangat dibenci oleh Allah." Ujar Tuan Reno.


"Sayang...! Masalahnya kadang wanita hanya ingin mempertahankan sesuatu yang ingin ia miliki dengan caranya sendiri."


"Apa maksudmu Naura ....?"

__ADS_1


"Maya ingin mempertahankan status sosialnya sebagai istrimu yang bisa memiliki segalanya yang kamu miliki dan merasa sangat bangga ia bisa memiliki suami yang sangat tampan walaupun ia tidak bisa memiliki kamu seutuhnya."


"Bukankah dia sendiri yang menuai akibatnya?" Timpal Tuan Reno.


"Resiko dan penyesalan selalu datang belakangan. Tapi dia sudah puas dengan perselingkuhan itu. Walaupun pada akhirnya ia harus diceraikan olehmu." Ujar Naura.


"Tapi sayang, aku hanya selalu berpikir, bagaimana caranya kita bertemu jika mereka berdua tidak selingkuh dan mereka memilih setia dengan kita?"


"Kita tidak akan pernah memiliki dua anak lucu-lucu seperti Barra dan Mikaila." Ujar Naura sambil mengangkat tubuh tembem putrinya.


"Berarti pengkhianatan pasangan kita membawa hikmah tersendiri untuk kita." Ujar Tuan Reno.


"Semuanya Allah sudah mengaturnya sayang. Tidak sesuatu yang terjadi di dunia ini tanpa ijin Allah. Entah takdir baik dan takdir buruk, semuanya adalah bagian dari ujian hidup yang harus di jalankan oleh kita tanpa kita diberikan pilihan kecuali nilai kebaikan yang akan mendatangkan pahala." Ujar Tuan Reno bijak.


"Wah! sepertinya suamiku lebih paham agama sekarang ini." Puji Naura.


"Kita sudah memiliki dua anak saat ini yang menjadikan orangtuanya sebagai rol mode untuk dirinya. Jadi aku ingin memberikan tauladan yang baik untuk kedua anakku." Ucap Tuan Reno.


"Ini karena anak atau Allah nih mas Reno mau hijrah?" selidik Naura.


"Yang jelas karena Allah dan aku melakukan kebaikan untuk anak-anakku agar mereka mengenal cinta Allah dari mereka kecil." Ucap Tuan Reno.


"Iya sayang! Sudah saatnya kita harus sibukkan diri kita dengan akhirat. Karena tujuan akhir hidup manusia adalah bertemu dengan Tuhannya melalui kematian.


Jika bekal yang kita bawa menghadap Allah sedikit, bagaimana kita merasakan kebahagiaan di alam kubur dan hari akhirat kita?" Ujar Naura.


"Maksudnya mas Reno mau mengundang ke rumah?"


"Iya sayang! Khusus untuk keluarga kita dan untuk perusahaan setiap bulan akan diadakan kajian dan itu sudah diurus oleh Wisnu."


"Bagus juga idemu sayang. Pasti keluarga kita sangat senang mendengarnya." Ujar Naura.


"Nauraaaaa...!" Panggil nyonya Lira.


"Iya bunda!"


"Ayo ajak suamimu makan siang." Ujar nyonya Lira.


"Baik mam."


Tuan Reno dan Naura langsung menuju ruang outdoor di mana mereka akan menikmati makan siang di depan kolam renang.


"Ayah...!"

__ADS_1


Barra menghampiri ayahnya yang sudah duduk dekat dengan mamanya.


"Barra dari mana?"


"Barra menang main bola sama kakek dan eyang kakung."


"Wah, hebat dong Barra bisa menang lawan kakek dan Eyang!' Puji Tuan Reno.


"Kakek payah, tendang bolanya suka miring kiri kanan." Keluh Barra.


"Itu karena kakek sudah tua dan tenaganya sudah berkurang." Ujar Tuan Reno.


"Oh, pantesan nggak fokus kalau tendang bola. Ayah! Barra ingin ikut klub bola."


"Boleh, justru itu yang ayah inginkan kalau Barra menjadi seorang pemain bola yang profesional. Tapi siapa yang akan bantu urusin perusahaan ayah?" Tanya Tuan Reno pura-pura sedih.


"Tuh, ada putri ayah, Mikaila yang akan mengurus perusahaan ayah." Timpal Barra.


"Cih! Kau ini pelit sekali pada ayah."


"Uya deh, nanti barra bantuin ayah." Hibur Barra membuat keluarga itu terkekeh.


"Ayo kita makan dulu!" Ujar nyonya Nunung.


Keluarga itu menikmati makan siang mereka sambil bersenda gurau mendengar celotehan Barra.


"Nona muda! Ponsel anda bunyi." Ucap pelayan Derra seraya memberikan ponselnya Naura.


"Oh, ini dari ibu Rukmini."


Ujar Naura yang langsung berdiri menjauhi keluarganya.


"Hallo ibu!"


"Naura!"


"Iya Bu, ada apa?"


"Naura..! Putri ibu Aurelia sedang di rawat di rumah sakit. Ia ditemukan di kamar kosnya dalam keadaan over dosis karena narkoba." Ujar ibu Rukmini sambil menangis.


Degggg...


"Apa yang harus Naura tolong Bu..?"

__ADS_1


"Ibu tidak punya uang untuk membayar rumah sakit nak karena panen ayahmu gagal tahun ini."


Degggg....


__ADS_2