Cinta Di Balik Pengkhianatan

Cinta Di Balik Pengkhianatan
55. Kedatangan Nyonya Lira


__ADS_3

Setelah menggelar acara aqiqah putra pertamanya yang diberi nama Barra Malik Mudzaffar yang artinya Seorang raja yang memiliki semangat untuk menang, kini Tuan Reno mengundang beberapa pejabat dan pengusaha muda serta orang penting lainnya untuk makan bersama dengan keluarga besarnya itu.


Tuan Brotoseno datang bersama istri dan putrinya, nyonya Ratu Lira Pradipta dan Putri Aurelia menjadi tamu kehormatan siang itu.


Ratu Lira yang sangat senang bisa berjumpa lagi dengan Naura, sangat antusias menghadiri undangan tersebut.


Acara makan bersama itu berjalan dengan lancar. Namun sayang, suatu kesalahan yang terjadi saat ibu angkatnya Naura nyonya Rukmini tidak sengaja menyenggol tangan Aurelia hingga minuman bersoda di tangannya tumpah di gaunnya.


Aurelia yang tidak mengetahui kalau nyonya Rukmini itu mertuanya Tuan Reno, mengumpat nyonya Rukmini dengan kata-kata yang sangat kasar.


"Ya Allah, mohon maaf nona!" Ibu tidak sengaja." Ucap ibu Rukmini sambil mengibas baju Aurelia yang sudah ternoda oleh minuman bersoda itu.


"Heh, pelayan!" Kamu kira gaunku ini murah?" Gaji mu saja kalau dikumpulkan selama lima tahun, tidak akan mampu menggantikan biaya gaun ini." Ucap Putri Aurelia angkuh.


Naura yang melihat perlakuan, Aurelie kepada ibunya, membuat sisi liarnya yang selama ini sudah ia sembunyikan, kini kembali muncul.


Dengan serta merta ia menghampiri Aurelia dengan teriakan yang cukup menggelegar hingga mengundang banyak mata menyaksikan adegan langkah ini.


"Heiii!" orang kaya norak!" Sikapmu dan gaun branded mu itu, tidak menunjukkan dari mana kelas mu berasal. Kau terlihat lebih memalukan dari pada para pelayan di mansion milik suamiku.


Kau tahu dia siapa?" Dia adalah besan tuan rumah ini, ibu mertuanya suamiku dan dia adalah ibu kandungku." Ucap Naura murka.


Degggg....


Wajah Aurelia terlihat kaget, tapi ia masih bersikap tenang dan tidak meninggalkan keangkuhannya.


Tanpa ada rasa penyesalan dan mau minta maaf, Aurelia terlihat makin beringas dan ingin menyerang lagi ibu Rukmini yang yang gemetar ketakutan karena harus berurusan dengan anak orang kaya.


Iapun mencoba menghentikannya Naura yang dari tadi menyerang Aurelia yang telah menghina dirinya tanpa ampun.


"Hahh!" Pantas saja kau liar seperti ini, ternyata kau berasal dari lumpur yang sama dengannya. Kau terlihat bersinar karena kekayaan suamimu bukan?" Balas Aurel makin sengit.


"Oh iya, benar sekali katamu nona sok pamer, aku memang gadis liar dari rakyat jelata yang derajat hidupku terangkat karena memiliki suami yang maha sempurna seperti Tuan Reno, tapi seumur hidupku aku diajarkan bagaimana caranya bersikap santun pada orang lain yang lebih tua dariku.


Aku selalu menghargai orang lain dan tidak sedikit pun menindas orang lain kecuali aku disakiti oleh gadis manja sepertimu.

__ADS_1


Kau lebih busuk dari pada gaun branded mu itu." Ucap Naura lalu menarik tangan ibunya dan ingin dia bawa ke kamar ibunya.


Karena tidak puas hati, Aurelie menarik kerudung Naura hingga memperlihatkan leher jenjangnya tepat di depan nyonya Lira yang melihat tanda lahir di tengkuk Naura yang sama dengan miliknya, ditambah lagi ia sempat melihat tanda lahir itu saat melahirkan bayinya.


"Astaga!" Tanda lahir itu?" Tanda lahir yang sama denganku?" Tanda lahir bayiku, saat aku sempat melihat bayiku di angkat oleh dokter dari dadaku saat hendak membersihkannya." Batin nyonya Lira sambil menutup mulutnya.


"Kau!" Teriak Naura yang ingin mencakar wajah Aurelia.


Namun, Tuan Reno segera menarik lengan istrinya agar Naura tidak terpancing lebih dalam oleh umpatan putri Aurelia.


"Sayang!" Ingat, dia tamu kita, jaga sikapmu!" Mengalah belum tentu kalah. Tetap jaga wibawa mu di depan para tamu ayah dan mami. Lakukan demi aku!" Bujuk Tuan Reno menenangkan Istrinya.


Tuan Reno merapikan lagi kerudung istrinya, agar tetap terlihat rapi.


"Apakah sikap anak orang kaya semuanya seperti itu?" Apakah tubuh kalian tidak boleh tersentuh oleh kalangan bawah?" Hanya menumpahkan sirop ke gaunnya saja, dia begitu murka?" Apa lagi diguyur kepalanya dengan sirop tadi.


Ah!" Harusnya aku siram wajahnya dengan sirop tadi, supaya lebih adil umpatannya pada ibuku. Kasihan ibuku. Kalian lebih menjaga perasaan tamu kalian dari pada hubungan kalian dengan ibuku.


Menantu seperti apa kamu mas Reno?" Naura terlihat kecewa atas perlakuan tidak adil antara ibunya dan gadis manja dari tamu istimewa mereka.


Tuan Reno segera membuka pintu kamarnya dan melihat wajah cantik ibunya yang ingin masuk menemui menantunya Naura.


"Naura!" Nyonya Lira ingin bertemu. denganmu, dia ingin meminta maaf langsung kepadamu. Bolehkah ia masuk ke kamarmu, sayang?" Tanya nyonya Nunung.


"Kenapa harus minta maaf kepadaku?" Toh, bukan aku yang korban dari sisi liar putrinya." Acuh Naura.


"Tapi, nyonya Lira ingin menemui kamu dulu baru ibumu, sayang." Bujuk nyonya Nunung.


"Baiklah. Minta beliau masuk!"


"Terimakasih, sayang!" Mami sangat bangga padamu." Nyonya Nunung meminta Nyonya Lira boleh menemui Naura.


Nyonya Lira masuk ke kamar Naura sambil menahan debaran jantungnya yang semakin kencang berdetak.


Naura terlihat dingin melihat wajah cantik nona Lira yang sedikit mirip dengannya.

__ADS_1


"Tuan Reno!" Apakah saya boleh bicara berdua saja dengan istrimu, Naura? Ijin nyonya Lira.


"Silahkan nyonya Lira!" Ucap Tuan Reno lalu keluar dari kamarnya.


Kini keduanya duduk berdampingan. Nyonya Lira sengaja lebih dekat dengan Naura yang terlihat dingin pada ibu kandungnya ini.


"Naura!" Aku minta maaf atas perlakuan putriku karena telah menghina ibumu.


Putriku memang sangat manja dan terkesan arogan. Aku sudah mendidiknya dengan sangat baik, tapi gadis itu seakan menganggap nasehatku seperti angin lalu." Ucap nyonya Lira dengan wajah sendu.


"Jika aku yang dihina olehnya, mungkin aku bisa menahan diriku, nyonya. Tapi ini berkaitan dengan ibuku, itu yang membuatku tidak bisa toleran terhadap sikap putrimu itu.


Orangtuaku memang tidak pernah memanjakan kami dengan kemewahan. Jangankan kemewahan, makanan enak saja hanya di dapat di hari raya saja, tapi walaupun hidup dengan segala kekurangan, sedikitpun kami tidak pernah kurangajar pada keduanya." Ucap Naura sedih sambil menutup wajahnya.


Kerudung Naura akhirnya jatuh, saat gadis ini menangis sambil membungkukkan tubuhnya.


Karena rambut Naura digulung ke atas, hingga nyonya Lira lebih dalam memperhatikan tanda lahir Naura.


Lagi-lagi, nyonya Lira merasakan bahwa Naura adalah putrinya. Iapun mengusap punggung putrinya dengan penuh kasih sayang. Hatinya juga ikut merasakan sakit, kala Naura menceritakan kepedihan hidupnya bersama kedua orangtuanya.


"Ya Allah!" Berikan aku petunjuk untuk bisa membuktikan Naura adalah putri kandungku." Pinta nyonya Lira dalam doanya.


Sepertinya Allah langsung menjawab doanya. Ia kemudian meminta ijin untuk ke kamar mandinya Naura.


"Naura!"


"Iya nyonya!"


"Apakah aku boleh pinjam kamar mandi mu?" Aku mau pipis, karena sudah kebelet." Ucap nyonya Lira.


"Oh, silahkan!" Nyonya!"


Naura segera membuka pintu kamar mandi itu untuk nyonya Lira. Nyonya Lira memperhatikan salah satu benda yang ada di atas wastafel panjang itu. Ia kemudian mengambil sikat gigi milik Naura yang berwarna pink yang tertulis nama gadis itu.


Ia buru-buru memasukkannya ke dalam tasnya dan keluar dari kamar mandi itu seperti biasa dengan wajah yang pura-pura terlihat lega.

__ADS_1


__ADS_2