
Di tempat yang berbeda khususnya di negara Korea Selatan Naura dan Tuan Reno, terlihat makin mesra. Keduanya kini tersenyum setelah menyampaikan perasaan mereka satu sama lain yang menjadi keinginan mereka untuk memulai lagi hubungan ke arah yang lebih baik, seperti janji Naura yang ingin memperbaiki sikapnya.
Tuan Reno sedikit berusaha untuk meyakinkan pujaan hatinya akan ketulusannya menerima masalalu Naura.
Setelah memikirkan keseriusan Tuan Reno, Naura menyanggupinya. Tuan Reno bersyukur, kini usahanya tidak sia-sia meninggalkan pekerjaannya untuk berkunjung ke Incheon agar bisa menemani bidadari hidupnya ini.
Sejurus kemudian Tuan Reno mengajak Naura untuk bertamasya di tempat wisata yang paling populer yang ada di negara tersebut.
"Sayang apakah kamu sudah mengunjungi tempat wisata di Korea Selatan?" Tanya Naura.
"Sudah sering sayang."
"Kalau begitu apa kamu ingin mengunjungi tempat kesukaanmu?" Tanya Tuan Reno.
"Aku ingin mengunjungi pantai pulau Jeju yang sangat terkenal dengan laut zamrud yang berwarna di tempat tersebut."
"Kalau begitu bersiaplah sayang!" Karena hari ini kita akan ke sana dan beberapa tempat lainnya yang menurutmu bagus untuk dikunjungi, kita harus naik pesawat dulu ke pulau Jeju." Ujar Tuan Reno.
"Benarkah kamu akan mengajakku ke pantai Jeju?"
"Iya sayang, mumpung masih di sini dan aku masih punya banyak waktu untukmu. Aku ingin memberikan waktu liburanku untuk menemanimu di sini dalam jangka waktu sepekan.
Jadi jangan sia-siakan kesempatan berharga ini, karena aku jarang sekali bisa libur karena pekerjaanku begitu padat."
"Baik sayang, ayo kita berangkat!"
Keduanya melangkah meninggalkan hotel menuju ke tempat wisata tersebut dengan di antarkan oleh salah satu orang kepercayaan Tuan Reno yang akan mengantarkan mereka ke bandara.
Keesokan harinya, Tuan Reno menyewa seorang sopir untuk mengantar mereka ke pantai Jeju.
Sopir itu memang seorang penduduk asli negara ini, kebetulan pekerjaannya adalah sopir perusahaan milik Tuan Reno yang ada negara tersebut.
Dengan senang hati lelaki yang usianya sekitar tiga puluhan ini mau mengantar Tuan Reno dan Naura ke tempat wisata yang terkenal di pulau Jeju.
Sepanjang perjalanan Naura menikmati pemandangan kota Korea Selatan sampai mereka tiba di pantai Jeju.
Hamparan pasir putih dengan kolam terbesar karya Sang maha Kuasa terlukis jelas nan indah di atas bumi yang menawarkan pesonanya dengan warna hijau zamrud.
Tuan Reno dan Naura menyusuri pantai dengan berjalan kaki. Percikan ombak kecil menyapu kaki mereka, keduanya saling membelit tangan mereka ke pinggang pasangannya.
__ADS_1
Sesekali mereka berhenti dan duduk di tepi pantai. Suatu kepuasan bagi keduanya bisa menikmati pesona laut yang jarang sekali mereka nikmati sekalipun itu berada di pantai Ancol Jakarta.
Kesibukan Tuan Reno yang menjadi seorang CEO, membuatnya cukup sulit bagi mereka punya kesempatan untuk menyenangkan diri.
Setelah jauh berjalan menyusuri pantai dan duduk di atas pasir putih, Tuan Reno menawarkan Naura untuk makan siang di tempat itu yang selalu menyajikan makanan naengmyeon yang sangat terkenal di tempat itu.
"Sayang, apa kamu mau kita makan siang di sini?"
"Boleh, aku ingin mencoba kuliner di area pulau Jeju."
"Apakah kamu sudah puas menikmati keindahan lautnya, Naura ?"
"Iya mas! pikiranku rasanya sudah plong setelah memandangi air laut dengan warna yang indah."
"Itulah hebatnya Tuhan Naura, saat kita dalam kegalauan, Allah menyediakan alamnya sebagai tempat untuk menghibur kita.
Ada yang datang dengan bersenang-senang dan ada pula yang hanya menikmati dalam diam dan hebatnya lagi ada sebagian besar manusia mengunjungi tempat-tempat wisata alam hanya untuk merenung.
Dalam renungan itu orang selalu mendapatkan solusi dan Ilham. Banyak para pencipta lagu, penulis novel, suhfi bahkan sekelas presiden pun mendapatkan ketenangan mereka di tempat-tempat wisata alam."
"Rupanya kamu banyak tahu mas tentang kebutuhan jiwa manusia."
"Aku kagum padamu mas Reno, kamu sangat cerdas dan mengerti kejiwaan orang lain."
"Awalnya aku tidak terlalu perduli dengan perasaan orang Naura.
Aku punya sahabat dekat dan sekarang aku angkat dia menjadi asisten pribadiku, yaitu Wisnu.
Saat kami dulu masih kuliah, ia melakukan suatu kesalahan besar pada kekasihnya. Saat itu, untuk pertama kali sahabatku Wisnu bertemu dengan kekasihnya Marisa dan kembali berpisah dalam rentan waktu yang cukup lama.
Saat itu, aku melihat kekosongan dalam jiwa Wisnu, seperti tidak ada lagi gairahnya untuk hidup, tiap saat yang ada dipikirannya hanyalah Marissa dan Marisa, sampai suatu hari tanpa sengaja kami menemukan Marisa dalam keadaan sangat memprihatikan.
Walaupun Wisnu mendapati Marissa yang saat itu tidak sadarkan diri karena mengalami kecelakaan, dirinya sudah sangat bahagia.
Berhari-hari dia menemani Marissa, yang saat itu sulit sekali memaafkan perbuatan Wisnu pada dirinya tapi Wisnu sangat sabar hanya untuk mendapatkan kembali cinta dari Marissa.
Ketika menjalani sendiri kepedihan yang sama seperti Wisnu alami, baru aku mengerti betapa berharganya seorang wanita untuk seorang lelaki.
Derajat mereka akan setara dengan orang gila jika kehilangan permata hidupnya. Kini mendapatkanmu kembali seperti menemukan jiwaku lagi, Naura .
__ADS_1
Tolong jangan lakukan hal ceroboh itu lagi padaku sayang jika kamu tidak ingin aku mengakhiri hidupku karena kehilanganmu."
Mendengar cerita Tuan Reno, tentang Wisnu dan dirinya, Naura sangat tersentuh dengan ketulusan cinta kedua lelaki yang bersahabat dan juga menjadi bos dan anak buah ini.
Naura makin meyakinkan dirinya untuk lebih percaya diri melangkah lebih jauh bersama dengan lelaki pujaannya ini. Lama Naura merenungi kata-kata Tuan Reno, sambil menatap lagi laut pulau Jeju. Tuan Reno mengeluarkan kotak kecil dari kantong celananya dan membuka kotak itu.
"Naura, sayang!" Ini hadiah untukmu karena sudah mengandung putraku, tolong jaga dia seperti kamu menjaga cinta sejati kita.
Pemberian hadiah terindah di hadapan laut Jeju, membuat keduanya menjadi haru biru.
Tuan Reno memeluk istrinya dan memagut kembali bibir itu yang sekarang sudah menjadi candunya. Cincin berlian yang sudah tersematkan di jari manis Naura, membuat wanita ini sangat bahagia.
Keduanya sangat puas dengan hati yang tidak lagi menyimpan bara kesedihan. Mereka memutuskan untuk mencari restoran yang ada sekitar pulau Jeju untuk memulihkan kembali energi mereka yang terkuras karena menyusuri pasir pantai yang terasa berat saat berjalan di atasnya.
Naura yang tidak kuat lagi melangkah berjalan sedikit gontai menapaki setiap legokan pasir yang di pijaknya. Tuan Reno menawarkan gadisnya untuk menaiki punggungnya untuk ia gendong.
Dengan senang hati Naura menempelkan tubuhnya di punggung suaminya. Tuan Reno memegang kedua paha gadisnya di bawah pinggangnya lalu meneruskan kembali langkahnya.
Sedangkan Naura mengalungkan tangannya ke leher Tuan Reno dengan meletakkan dagunya di pundak Tuan Reno sebelah kanan. Tuan Reno menikmati hembusan lembut nafas istrinya dipipinya, ia tersenyum sembari melangkah menuju kembali ke tempat mobil mereka yang terparkir tidak jauh dari pantai.
"Sayang, jika suatu saat nanti aku tidak bisa menua bersamamu karena ajalku, maukah engkau membawaku lagi ke pantai ini?"
"Kamu bicara apa sih sayang, tolong jangan melangkahi Tuhan, karena urusan ajal adalah milikNya."
"Aku tahu sayang, hanya saja aku ingin memilih menghembuskan nafas terakhirku di tempat yang penuh kenangan ini.
Tempat di mana kamu memberi hadiah pertamaku karena mengandung putramu. Inilah momen yang sangat berkesan dan terindah yang kudapatkan dalam hidupku.
Di cium olehmu ditepi pantai nan indah."
"Aku tidak izinkan kamu duluan yang meninggalkanku Naura, kamu hanya membuat ulah sedikit saja yang hampir membuatmu celaka, beberapa hari yang lalu, itu saja sudah membuat aku hampir mau mati.
"Maafkan aku mas Reno, aku hanya menyampaikan keinginanku saja bukan untuk mengancam kamu sayang."
"Makanya berhentilah mengatakan hal-hal aneh yang membuatku sakit mendengarkannya. Jika ingin mati ajak aku bersamamu hmm!"
Tidak terasa mereka sudah tiba di depan mobil, sopir lokal tersenyum menyambut keduanya. Naura segera turun dari punggung suaminya, lelaki ini sedikitpun tidak kelihatan lelah memanggulnya sepanjang pantai.
Kendaraan itu kembali bergerak mencari restoran naengmyoen yang ada di sekitar pulau Jeju sebelum mereka kembali ke hotel di kota Seoul.
__ADS_1