
Tuan Reno yang sedang antri di depan loket tiket bioskop, dikejutkan dengan telepon dari anak buahnya Raka.
"Hallo, tuan!"
"Ada apa Raka?"
"Cepat kembali ke nona Naura, karena nyawanya dalam bahaya. Seseorang memberinya makanan dan minuman yang sudah dibubuhi racun." Ucap Raka terdengar terburu-buru.
"Apa...??"
Tuan Reno kembali lagi ke tempat Naura yang sedang mengantri makanan ringan. Diantara deretan antrian, ia tidak menemukan istrinya.
"Astaga!" Bagaimana ini, dimana Naura." Tuan Reno nampak panik.
Ia mengedarkan pandangannya sambil memutar tubuhnya mencari sosok wanita yang hampir membuatnya kehabisan nafas.
Naura yang sedang duduk di sudut salah satu studio bioskop sambil menikmati minumannya.
Dengan langkah seribu dan wajah pucat, Tuan Reno merebut makanan dan minuman milik Naura membuat gadis ini tersentak.
Tuan Reno mencari tempat sampah lalu membuang makanan itu. Ia kembali lagi ke Naura yang masih bingung dengan tingkah suaminya.
"Naura!" Apakah kamu tidak apa sayang?" Apakah kamu merasa pusing atau sakit pada perutmu?" Kita ke rumah sakit sekarang." Tuan Reno memeriksa keadaan istrinya yang nampak kesal karena ulah suaminya.
Ia lalu menarik tangan Naura meninggalkan tempat bioskop.
Karena kesal, Naura menghempaskan tangannya dari suaminya.
"Ada apa denganmu, kenapa senewen seperti ini?" Omel Naura yang merasa aneh dengan Tuan Reno.
"Makanan itu beracun."
"Makanan yang mana beracun?"
"Yang kamu terima dari seorang wanita tua."
"Astaga!"
Makanan dan minuman itu tadi jatuh karena seseorang menyenggol tanganku saat aku mau keluar dari antrian. Karena merasa bersalah, ia menggantinya dengan yang baru. Kelihatannya dia orang Korea." Naura menjelaskan kronologi makanan beracun itu.
"Alhamdulillah!" Kamu masih dilindungi Allah dengan cara mengirimkan orang lain untuk menggagalkan rencana jahat dari seseorang." Tuan Reno memeluk istrinya lalu mencium pucuk kepala Naura lembut.
"Bagaimana kamu mengetahui makanan yang diberikan oleh wanita paruh baya itu beracun?" Selidik Naura.
__ADS_1
"Raka berkoordinasi dengan temannya yang bekerja di gedung ini, di ruang CCTV bioskop." Jadi aku mengetahuinya."
"Bagaimana Raka bisa mengetahui kalau itu adalah racun?"
"Itu yang lagi ingin aku tanyakan nanti pada Raka. Yang jelas aku ingin menyelamatkan kamu dulu." Ucap Tuan Reno makin membuat Naura penasaran.
"Sepertinya bersamamu, hidupku berada diambang kematian. Apakah kamu banyak musuh?"
"Lebih baik kita pulang, aku sudah tidak semangat lagi untuk nonton. Besok saja kita nontonnya." Bujuk Tuan Reno.
"Setidaknya beli lagi makanan dan minuman untukku yang sudah mas buang." Ucap Naura sambil cemberut.
"Iya sayang, ayo kita ke sana!" Sekarang sudah sepi, jadi bisa lebih cepat belinya." Ujar Tuan Reno ingin menebus kesalahannya yang merampas makanan Naura yang dikiranya beracun.
Keduanya sudah tiba lagi di halaman hotel. Ketika turun dari mobil, Naura melihat butiran Salju mulai turun dan membuat bumil ini terkesiap.
"Salju...salju... salju?" Mas Reno!" saljunya turun." Ucap Naura sambil menengadah kan tangan dan kepalanya ke atas langit begitu pula dengan Tuan Reno.
"Akhirnya keinginanmu terkabul juga, sayang. Kamu ingin melihat butiran salju turun untuk pertama kalinya di kota ini indah ini." Ucap Tuan Reno lalu mencium pipi istrinya.
Keduanya menikmati keindahan butiran salju yang turun dari langit menapaki bumi Incheon Korea Selatan.
Tuan Reno mengajak istrinya untuk duduk di salah satu bangku taman hotel.
"Semuanya memiliki hikmah tersendiri mas. Tidak semua hal yang awalnya kita duga itu yang buat kita bahagia, malah berubah petaka untuk kita. Dan jika kita mengalami kekecewaan itu, Allah langsung menggantikannya dengan yang lebih baik." Timpal Naura lalu bersandar pada suaminya.
Obrolan itu terus berlanjut hingga akhirnya Naura tertidur dalam pelukan sang suami ditemani salju yang sudah memenuhi tubuh mereka.
Tuan Reno menggendong gadisnya membawanya ke dalam kamar mereka.
Tubuh itu di baringkan di atas kasur. Tuan Reno membuka sepatu dan mantel Naura lalu di simpan ditempatnya.
"Ya Allah, lindungi istri dan bayiku dari tangan-tangan jahat yang ingin membunuhnya. Aku tidak sanggup hidup tanpanya." Gumam Tuan Reno lirih.
Tuan Reno mengambil bantal dan di letakkan di depan Naura agar gadis itu memeluk bantal itu sebagai pengganti dirinya.
Iapun keluar lagi dari kamar untuk menghubungi Raka untuk mencari tahu siapa yang tega ingin meracuni istrinya.
"Hallo Raka!"
"Iya Tuan!"
"Istriku Naura aman, ia tidak sempat memakan makanan yang diberikan oleh wanita tua itu."
__ADS_1
"Alhamdulillah, syukurlah!" Ucap Raka lega.
"Bagaimana bisa kamu mengetahui kalau makan itu beracun?"
"Mantan kekasih tuan ada di Incheon saat ini. Dan wanita itu adalah tantenya yang tinggal di sini."
"Alana...?"
"Iya Tuan, nona Alana mengetahui kalian sedang berlibur di sini. Dia tidak sengaja melihat kalian di bandara Incheon saat ingin mengambil koper di bagasi ruang kedatangan."
"Apakah kamu sudah menangkapnya?"
"Kami kehilangan jejaknya bos!"
"Sial!" Bagaimana bisa dia tiba-tiba ingin mencelakai istriku?" Bukankah dia sudah menikah dengan sahabatku Harris."
"Keduanya baru bercerai tuan." Sepertinya nona Alana ingin kembali kepada anda."
"Dia akan membayar semua ini!" Ancam Tuan Reno sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Kami akan mengurusnya tuan. Tetaplah menjaga nona Naura karena dia tidak bisa aman jika ditinggal sendirian." Ucap Raka mengakhiri obrolan mereka.
"Tetap awasi kami dari jauh, Raka. Aku mengandalkanmu."
"Siap Tuan Reno!"
Tuan Reno kembali lagi ke kamarnya. Ia juga ingin istirahatkan otak dan tubuhnya yang cukup melelahkan hari ini.
Melihat wajah cantik Naura yang sudah terlelap membuat hatinya terasa sangat sakit. Karena dirinya, gadis ini mengalami banyak hal yang menyakitkan, bahkan mematikan.
"Naura!" Apakah aku bisa melindungi dirimu sampai akhir?" Aku kira menikahimu bisa membuatmu bahagia, ternyata masih ada bahaya lain yang sedang mengancam jiwamu dan juga bayiku." Batin Tuan Reno sambil mengusap pipinya Naura lembut.
Naura menggeliat sambil menggapai sesuatu di sampingnya. Tuan Reno lalu masuk kedalam selimut agar lengan Naura bisa memeluk tubuhnya.
"Mas Reno!" Aku mencintaimu." Ucap Naura dalam tidurnya sambil tersenyum.
"Apakah kamu bermimpi tentang kita sayang?" Apakah saat ini dimimpimu kita sedang bercinta?" Tanya Tuan Reno yang sedang bicara dengan Naura dalam lelapnya.
"Aku juga mencintaimu sayang!" Tetaplah bersamaku dan jangan pernah tinggalkan aku, walau apapun yang terjadi padamu, mereka tidak berhak merenggut nyawamu, kecuali Allah ijinkan." Ucap Tuan Reno lalu mencium pipi istrinya lembut dan ikut memejamkan matanya.
Keduanya kembali bertemu dalam mimpi mereka untuk kembali bercinta.
Sementara di luar sana, butiran salju turun dengan derasnya seakan ingin menyaksikan kasih sayang kedua insan ini yang sedang terlelap melewati malam mereka hingga fajar menjelang.
__ADS_1