
Sejak diakuinya Naura sebagai putri keraton Yogyakarta, Naura diberi gelar Raden Ayu Naura Aulya. Semua kekuasaan kerajaan berada dibawahnya setelah ayahnya raja Brotoseno.
Pengangkatan gelar baru yang di sandang oleh Naura kini membuat suaminya sangat bangga bahwa ia telah menikahi putri dari seorang Raja. Sementara Naura sendiri merasa ini adalah mimpi untuknya.
Ia menerima ke-dua orangtuanya lagi bukan untuk mencari popularitas ataupun gelar atau nama besar, melainkan ia hanya ingin diakui sebagai putri kandung oleh ke-dua orangtuanya.
Kedua mertuanya pun tidak menyangka mereka memiliki seorang menantu anak dari raja Brotoseno. Padahal mereka bertemu Naura sudah jatuh cinta pada gadis itu karena aura gadis itu begitu kuat. Mungkin karena darah kebangsawanannya tidak bisa hilang begitu saja walaupun dibesarkan oleh keluarga tak mampu.
Untuk memperkenalkan Naura sebagai putri kandungnya, tuan Brotoseno mengundang wartawan untuk meliput berita tentang putrinya yang sudah mereka temukan dan kini sudah resmi diangkat menjadi seorang putri keraton dengan gelar Raden Ayu putri Naura Aulya.
Dalam waktu singkat, nama Naura menjadi buah bibir di kalangan masyarakat. Yang paling merasakan dampak dari pemberitaan ini adalah tuan Dandy, mantan suami Naura dan juga Maya.
"Apa-apaan ini..?" Gerutu tuan Dandy yang tidak percaya dengan berita tersebut, tapi iapun tidak menampilkan berita itu ketika wajah cantik Naura di sandingkan dengan wajah nyonya Lira saat masih seusia Naura dan juga laporan medis mengenai keabsahan Naura sebagai putri kandung tuan Brotoseno dan nyonya Lira.
"Astaga! Aku telah melepaskan seorang ratu sejagad di tanganku. Andai saja aku lebih sabar menjaganya dan tidak mengkhianati cinta Naura, mungkin akulah lelaki sekaligus suami yang paling bahagia di dunia ini sudah menjadi keluarga kerajaan, oh tidak maksudku suami dari seorang Ratu Jogja." Sesal tuan Dandy dengan penghianatan nya pada Naura.
Sementara Maya makin dendam dengan Naura yang mendapatkan segalanya setelah dia sedang berusaha untuk merebut kembali Tuan Reno dari tangan Naura.
"Ini tidak mungkin! mengapa wanita sialan itu malah mendapatkan semuanya saat Dandy mendepak dua dari hidupnya. Dia bukan hanya mengambil Reno dariku tapi dia juga telah menemukan kedua orangtuanya yang tidak di sangka-sangka adalah seorang raja. Dia adalah putri keraton pewaris tahta kerajaan Jogjakarta." Jerit Maya dalam keputusaanya karena tidak bisa lagi bersaing dengan Naura untuk mendapatkan lagi tempat di hati Reno, mantan suaminya.
"Sialan kau Dandy, andai saja tidak bertemu denganmu, hidupku tidak akan semerana ini." Keluhannya tak berkesudahan.
Penderitaan keduanya telah dibayar mahal oleh keduanya yang pernah meremehkan keberadaan Naura yang dianggap gadis lugu, bodoh dan miskin yang hanya mengandalkan kecantikan dan tubuhnya yang se*si.
...----------------...
__ADS_1
Kini kebahagiaan telah menyelimuti keluarga kecil Tuan Reno. Lelaki tampan ini mengajak keluarga kecilnya berwisata ke luar kota dengan penjagaan ketat oleh anak buahnya setelah mengetahui kedudukan Naura yang bukan lagi lagi rakyat jelata.
"Sayang, apakah kamu bahagia dengan status barumu sebagai seorang princess?"
"Tidak!"
"Kenapa?"
"Aku lebih bangga menjadi istrimu bukan seorang princess." Ujar Naura mantap.
"Benarkah?"
"Aku rela menanggalkan semua atribut baru yang melekat di namaku, tapi mereka harus mengetahui pangkat tertinggi seorang wanita adalah istri dari suaminya yang Sholeh karena suaminya lah yang akan menyelamatkan dirinya dari api neraka jika ia bisa melayani suaminya dengan baik selama di dunia ini.
Karena yang ditanyakan Allah nanti pada seorang wanita, bagaimana peranan sebagai istri lalu sebagai seorang ibu." Ujar Naura membuat Tuan Reno sangat terharu.
"Naura! Apakah kamu tidak menyadari bahwa Tuhan sudah menentukan jalan hidup kita dengan ujian yang cukup berat yang harus kita lewati untuk mencapai kebahagiaan sesungguhnya." Ucap Tuan Reno.
"Kita hanya dituntut untuk memerankan setiap adegan di dunia ini saja tanpa harus protes dengan ketetapan Allah karena ini sudah jalan dariNya.
Andaipun kita marah, kita bisa apa. Kita hanya krikil yang ada di hamparan batu besar yang tidak punya daya untuk bertahan namun harus mengikuti arus air sungai di mana kita akan berhenti di muaranya. Muara itulah yang sedang menunggu kita untuk mencapai puncak kebahagiaan." Ujar Naura.
Tempat wisata di daerah Nusa penida Bali yang saat ini menjadi tempat wisata Naura dan Tuan Reno bersama putranya Barra.
Baby Barra yang sudah terlelap dalam gendongan sang ayah di selimuti oleh ibunya karena angin pantai yang cukup kencang menerpa tubuh kecilnya.
__ADS_1
Sementara keduanya ingin menikmati matahari terbenam yang sudah mengeluarkan cahaya emasnya menghiasi langit Bali dengan hamparan laut yang menampung terpaan cahaya itu untuk melengkapi keindahannya.
Naura memeluk suaminya dari balik punggung kekar itu sambil menikmati panorama indah yang sedang memanjakan mata mereka.
Sementara penjagaan yang cukup ketat untuk pasangan itu cukup menyita pejalan kaki yang melintas tempat itu sebagai sesama wisatawan.
Naura sengaja memakai kaca mata hitam dan topi untuk melindungi wajahnya dari para pemburu berita yang sedang mengambil gambarnya.
Laporan dari anak buah Tuan Reno agar pasangan ini segera meninggalkan pantai agar tidak menimbulkan kekacauan karena paparazi sudah banyak berada di pinggir pantai itu yang sengaja menjadikan obyek matahari terbenam sebagai alsan mereka mengambil gambar tetapi mereka justru mengarahkan kamera ke arah keluarga kecil Tuan Reno.
"Ayo kita pulang ke hotel sayang! Kata Raka tempat ini sudah tidak aman. Lihatlah banyak sekali paparazi ingin mendapatkan keuntungan dari fotomu." Titah Tuan Reno sambil memeluk istrinya sementara satu tangannya menggendong si kecil menuju ke mobil mereka di mana Ruben sudah menunggu.
"Apakah mereka akan berbuat jahat dengan foto wajahku?"
"Wajahmu akan menjadi nilai jual tersendiri untuk media mereka dan itu sangat menganggu privasi kita."
"Berarti aku tidak bisa bebas lagi menjadi seorang Naura yang dulu?" Bisa melakukan apapun sebelum menjadi seorang princess?"
"Itu adalah bagian resiko menjadi bagian dari orang hebat seperti keluargamu." Ucap Tuan Reno cemas.
"Menjadi istri dari Tuan Reno juga tidak menjamin juga aku bisa hidup nyaman." Timpal Naura kesal.
"Apa maksudmu sayang dengan merasa tidak nyaman?"
"Karena aku bisa mati kapan saja saat para pengagum rahasia mu menginginkan nyawaku hanya untuk bisa mendapatkan kamu kembali, apakah kamu tidak menyadarinya dengan kejadian sebelumnya?" Ungkap Naura.
__ADS_1
Deggg...
"Makanya karena kamu terlalu berharga, jadi jagalah keselamatan dirimu sendiri demi kami berdua karena aku bisa mendampingi kamu setiap saat." Balas Tuan Reno agar istrinya lebih waspada.