
Tuan Brotoseno dan nyonya Lira mengantar kembali putri mereka yang telah tertukar setelah menekan rumah sakit tempat di mana nyonya Lira melahirkan putrinya.
Awalnya rumah sakit itu menolak untuk mengakui bahwa bayi nyonya Lira tertukar, tapi ketika diajak bicara baik-baik tanpa ada ancaman maupun tuntutan hukum untuk rumah sakit itu, membuat dokter Ambar selaku CEO rumah sakit itu bersedia bekerjasama untuk memberikan identitas sang orang tua kandungnya Aurelie.
Keduanya sangat syok, ketika mengetahui nyonya Rukmini dan pak Indarto yang merupakan besan dari tuan Syahrul.
"Astaga! bagaimana ini, papi?" Tanya nyonya Lira cemas.
"Ada apa, sayang?"
"Apakah papi tidak tahu bahwa Aurelia pernah menghina nyonya Rukmini yang merupakan ibu kandungnya Aurel sendiri?" Ucap nyonya Lira kuatir.
"Apa yang kamu takutkan? Justru aku sangat senang melihat gadis manja itu yang telah merendahkan orang kecil seperti nyonya Rukmini, di mana wanita yang dihinanya itu adalah perempuan yang telah melahirkan dirinya." Ucap tuan Brotoseno sambil tersenyum miring.
"Lho! Kenapa papi jadi senang begitu?"
"Karena dia akan kembali pada tempatnya dimana ia pernah menghina ibu kandungnya sendiri. Bukankah itu sangat menyenangkan? Gadis tidak tahu malu itu, tidak sadar dengan penghinaan nya. Aku ingin lihat reaksi gadis itu setelah mengetahui siapa orangtua kandungnya sendiri?" Ucap tuan Brotoseno yang merasa sudah melepaskan tanggung jawabnya sebagai ayah dari Aurelia.
Mereka kini sudah memasuki wilayah kota Solo. Sebentar lagi mereka akan tiba di kediaman kedua orangtuanya Aurelia.
"Sebenarnya aku ini mau di bawa ke mana mami?" Apakah orangtua kandungku juga sama kayanya dengan kalian?" Tanya Aurelia dengan hati was-was.
"Kamu lihat saja sendiri! dan nggak usah banyak tanya." Acuh nyonya Lira.
"Jika mereka bukan orangtua yang berada yang hanya memiliki status sosialnya dibawah standar, sebaiknya tidak perlu mengantar aku pulang pada mereka, karena aku tidak mau hidup bersama dengan mereka.
Lebih baik aku dikatakan anak yatim-piatu, daripada hidup bersama mereka yang akan memanfaatkan diriku untuk menjadi tulang punggungnya mereka." Ucap Aurelia sinis.
"Kami hanya menjalankan tugas kami sebagai orangtua yang merasa anaknya tertukar, dengan begitu kedua orangtuamu tidak penasaran dengan keberadaan putri kandungnya mereka, karena kami sudah mengembalikan kamu pada mereka dengan sehat walafiat. Jika kamu mau pergi dari hidup mereka, itu bukan urusan kami." Timpal tuan Brotoseno sarkas.
__ADS_1
"Sial!" Kenapa aku dibuat seperti putri pinjaman yang sudah tidak berguna lagi, lalu di kembalikan lagi pada pemiliknya." Umpat Aurelia membatin.
Akhirnya mobil mewah itu berhenti juga di depan rumah mewah milik pak Indarto yang sekarang makin jaya hidupnya semenjak mendapatkan modal besar dari Tuan Reno untuk mengelola tanah pertaniannya sendiri.
Aurelia tersenyum bangga ketika melihat keadaan keluarga kandungnya tidak seperti ketakutan dalam bayangannya sedari awal berangkat dari Jakarta menuju kota Solo hingga berakhir di rumah orangtua kandungnya.
Penjaga rumah itu membuka gerbang untuk raja, agar mobil mereka bisa parkir di dalam halaman luas itu dan dua mobil pengawal dibiarkan di luar untuk menjaga situasi sekitarnya karena mereka sedang membawa raja'.
Nyonya Lira turun saat pintu mobil dibuka oleh pengawalnya diikuti Aurelia yang berusaha tetap memperlihatkan kepribadiannya yang angkuh.
Saat tuan rumah keluar hendak menemui tamunya, betapa keluarga itu syok melihat siapa yang datang di rumah mereka.
Yang ada dipikiran mereka, mengira bahwa keluarga itu datang untuk meminta maaf atas kelakuan Aurel yang telah menghina ibu Rukmini tempo hari.
Sementara pupil mata Aurel melihat wajah kedua orangtuanya yang asli makin melebar dengan mulut terbuka, menatap syok pada ibu kandungnya yang pernah ia hina beberapa waktu yang lalu.
"Tidak...!" Mereka bukan orangtua kandungku." Ucap Aurel sambil mundur beberapa langkah dengan perasaan ingkar pada keduanya.
"Ada apa ini? Tolong jelaskan kepada kami, apa tujuan kalian tuan dan nyonya bertamu ke gubuk kami!" Pinta pak Indarto.
"Silahkan duduk Tuan, nyonya!" Mohon maaf sampai lupa mempersilahkan kalian untuk duduk." Ucap ibu Rukmini dengan santun.
"Begini pak Indarto dan Bu Rukmini, mungkin kedatangan kami ini sangat membuat kalian bingung.
Tapi kami harus meluruskan sesuatu yang salah yang terjadi di masa lalu kita yang membawa kita kembali dipertemukan melalui keluarga besar tuan Sahrul dan nyonya Nunung yang sekarang sudah menjadi menantunya Naura." Ucap tuan Brotoseno mengawali opininya pada keluarga Aurel.
"Kesalahan masa lalu? apa maksudnya Tuan?" Tanya pak Indarto masih abu-abu.
"Kedua istri kita melahirkan di hari yang sama dan dalam waktu yang sama. Kedua bayi kita telah tertukar di rumah sakit atas kecerobohan suster yang bertugas di ruang bayi saat itu.
__ADS_1
Suster itu memungut gelang nama sang ibu yang jatuh dilantai karena ulah bocah berusia empat tahun yang masuk ke dalam ruang bayi dan menarik gelang itu dari kedua bayi kita.
Karena jatuhnya tidak sesuai dengan tempat tidur bayi, suster itu memasang lagi gelang nama sang ibu pada bayi kita yang rupanya sudah tertukar." Ucap tuan Brotoseno.
"Apa...?"Jadi putri kandung kami masih hidup dan.... tapi, tidak! pihak rumah sakit itu mengatakan putri kami telah meninggal dan kami membawa pulang putri dari seorang perempuan yang hamil di luar nikah, itu yang dikatakan mereka kepada kami, saat kami mengklaim pada rumah sakit itu." Ucap tuan Indarto sedih.
"Mereka bukan ingin membohongi kalian berdua, mereka takut saat mengetahui siapa pemilik bayi kandung yang kalian bawa." Ucap nyonya Lira.
"Bagaimana nyonya tahu kedua putri kita tertukar, bisa saja tertukar dengan bayi orang lain."
Karena hanya kita berdua yang melahirkan bayi perempuan malam itu di jam yang sama. Dan saya telah melakukan tes DNA pada sampel milik Naura untuk membuktikan kecurigaan saya bahwa Naura adalah putri kandung saya sejak saya bertemu pertama kali dengannya di suatu acara formal yang diundang oleh pejabat pemerintah, wajah mudaku sangat mirip dengannya." Ucap nyonya Lira.
"Jadi Naura putri kandungnya kalian dan Aurelia adalah putri kandungnya kami?" Tanya pak Indarto penuh haru.
Aurelia yang dipaksa duduk oleh pengawal pribadi tuan Brotoseno tidak terima begitu saja dengan kenyataan yang sebenarnya, sesuai fakta dan laporan medis diperkuat lagi oleh pernyataan rumah sakit berdasarkan laporan arsip dokumen pasien yang mereka simpan.
"Tidak..tidak!" Aku bukan putri kandungnya kalian. Andaipun itu benar, aku tidak mau menjadi bagian dari darah kalian. Aku tidak mau.
Papi, mami!Tolong bawa aku pulang bersama kalian! jadikanlah aku anak angkat kalian, aku tidak sudi menjadi putri kandung mereka!" Teriak Aurelia histeris.
"Maaf pak Indarto, ibu Rukmini. Kami permisi dulu. Kami tetap mengijinkan kalian bertemu dengan Naura dan berhubungan baik dengannya. Terimakasih banyak telah merawat putri kami dengan baik dan menjadikan dia putri yang sangat hebat dalam pembentukan akhlaknya." Ucap tuan Brotoseno bangga pada didikan pak Indarto dan ibu Rukmini pada putrinya Naura.
Ketika tuan Brotoseno memberikan cek pada pak Indarto sebagai rasa terimakasihnya, kedua orangtua angkat Naura ini menolak tegas dan membuat tuan Brotoseno sangat malu. Iapun menitipkan uang itu untuk membiayai hidup Aurel namun tetap ditolak juga oleh pak Indarto.
Akhirnya keduanya saling berpelukan dan berterima kasih satu sama lain.
Saat kedua orangtua angkatnya pulang, Aurelia kembali berulah.
"Baiklah!" Aku sudah di kembalikan kepada keluarga kandungku, sekarang aku minta kalian berdua untuk menukar tempat Naura saat ini. Aku inginkan suaminya Tuan Reno menjadi suamiku, ambillah putri kalian Naura dan berikan suaminya padaku." Ucapnya dengan sinis.
__ADS_1
Deggg....
"Kau..!"