Cinta Di Balik Pengkhianatan

Cinta Di Balik Pengkhianatan
15. Rumah Untuk Mertua


__ADS_3

Rumah indah dengan model minimalis yang di bangun di atas tanah dua hektar itu, nampak megah yang di belakang rumah itu sendiri terbentang sawah yang sangat luas dengan di pinggir sawahnya ada pohon kelapa dan juga pohon pisang sebagai pembatas dengan sawah milik orang lain.


Naura dan keluarganya asyik mengintari rumah itu yang terdiri dari enam kamar tidur dengan masing-masing kamar mandi utamanya.


Ada juga ruang musholla, ruang keluarga yang menyatu dengan ruang tamu di padu dengan pintu belakang yang langsung di buka untuk bisa melihat pemandangan sawah yang terbentang indah di depan mata.


Tidak jauh dari situ ada meja makan dan dapur yang langsung menyatu dengan alam sehingga yang memasak tidak merasa lelah dan bosan.


"Nak Reno!" Ini terlalu mewah untuk kami tempati." Ucap pak Indarto malu.


"Ayah!" Ini tidak ada nilainya dibandingkan dengan harta ayah yang satu ini, yang akan ayah berikan kepadaku tiga bulan lagi." Ucap Tuan Reno terdengar tulus memuji sang ratunya.


Naura tersipu malu. Keluarga itu duduk di lesehan dengan tikar pandan sambil menikmati pemandangan sawah.


"Ayah cukup mengawasi para pekerja saat mereka merawat padi-padi ini yang baru saja keluar bulirnya.


Masih ada lagi kebun cabe dan bawang yang ada di sebelah sawah ini, itu milik ayah untuk ayah kelola jika mulai datang musim panen padi." Ucap Tuan Reno.


"Nak Reno!" Dulu saat ayah masih seumur kamu, ayah punya impian seperti itu. Tapi takdir tidak berpihak kepada ayah karena kemiskinan yang terus membelenggu kehidupan kami yang hanya jadi penggarap sawah milik orang lain.


Sekarang doa ayah di Kabulkan Allah dengan kedatangan kamu yang ingin menjadi bagian dari hidup kami.


Maafkan ayah karena ayah bukan mertua idaman orang kaya seperti kalian." Ucap pak Indarto dengan penuh ketawadhuan.


"Ayah, yang membedakan itu hanyalah manusia-manusia yang berpikiran dangkal dan berhati sempit, sementara Allah hanya membedakan hambaNya dengan nilai ketakwaan.


Aku juga kebetulan orang yang beruntung terlahir di keluarga kaya, tapi miskin iman. Jadi, aku mohon ayah jangan terlalu merendahkan diri ayah seperti itu supaya tidak gampang ditindas oleh orang yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi di bandingkan dengan ayah." Timpal Tuan Reno membuat ayah Naura mengerti maksud perkataan calon menantunya itu.


"Permisi Tuan Reno!"


Apakah mau makan siang sekarang?" Tanya Raka yang sudah membawa lauk pauk matang yang dipesannya di warung makan yang ada di kampung itu.

__ADS_1


"Serahkan ke nona Naura!"


Naura mengambil bungkusan itu dan ibunya membantunya menyiapkan makanan itu untuk mereka berempat.


Sedangkan untuk para pekerja di antarkan ke saung yang tidak jauh dari pematang sawah yang di bangun oleh Tuan Reno untuk tempat istirahat para pekerja.


Saung itu juga di lengkapi internet karena para pekerja rata-rata senang membuka konten YouTube untuk menghibur mereka entah itu lagu, ceramah maupun acara lawakan. Lagi pula banyak konten yang menarik dan lucu sebagai hiburan untuk mereka dikala sedang penat dan lelah.


Sesaat kemudian, semuanya sudah menikmati makanan mereka berupa ayam goreng, sayur SOP, lalapan dan ikan bakar serta tempe, tahu dan sambal.


"Wah tahu tadi kita bakal makan siang di sini, ibu dan Naura masak dulu untuk kita supaya tidak buang-buang uang." ucap ibunya Naura.


"Tidak perlu ibu, sesekali ibu duduk istirahat dan menikmati masakan orang lain. Membantu warung makan di daerah ini menambah penghasilan mereka dan itung-itung beramal juga dengan orang yang membutuhkan." Timpal Tuan Reno.


"Ya Allah, kenapa ibu sampai tidak kepikiran ke situ ya. Maafkan ibu nak Reno." Ucap ibu Naura malu hati.


Usai makan siang dan sholat dhuhur berjamaah, Tuan Reno meminta ijin mau mengajak Naura ke Jakarta untuk melakukan fitting gaun pengantin mereka.


Pak Indarto tidak keberatan asal keduanya bisa jaga diri dan tidak melampaui batas sebelum terjadi pernikahan.


"Insya Allah ayah!" Ucap Naura dan Tuan Reno lalu mencium tangan keduanya untuk pamit ke Jakarta.


"Hati-hati nak Reno bawa mobilnya. Salam untuk kedua orangtuamu." Ucap ibunya Naura.


Mobil mewah itu segera menunju bandara untuk mengejar pesawat mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ ...


Naura tampak lelah dan tidur di sandaran bangkunya yang ada di pesawat. Tuan Reno menarik perlahan tubuh itu agar wanitanya tidur bersandar di dadanya.


Kepala Naura di jaga dengan tangannya agar tidak jatuh.

__ADS_1


Siang itu cuaca mendung dan juga gelap membuat pesawat terus bergetar. Naura mulai merasa terganggu tidurnya karena getaran itu cukup membuat jantungnya mau hampir berhenti berdetak.


"Mas!" Apa yang terjadi?" Kenapa sangat seram begini." Ujar Naura ketakutan.


"Teruslah berdoa sayang dan jangan banyak mengeluh, ada aku di sampingmu." Ucap Tuan Reno menenangkan kekasihnya.


"Tapi, aku tidak ingin cepat mati!" Naura mulai menangis dan juga penumpang yang lain menjerit ketakutan walaupun sudah ditenangkan oleh pramugari.


"Siapa yang mengijinkan kamu mati sayang?" Aku juga tidak ingin mati sebelum menikah denganmu." Ucap Tuan Reno.


"Kau ini..!" Masih saja bercanda ditengah orang kalut.


Baru saja Naura bicara, tiba-tiba pesawat kehilangan kendali hingga turun beberapa kaki dari atas permukaan laut hingga menjatuhkan cup oksigen secara otomatis.


Tuan Reno langsung memasang untuk Naura dan juga dirinya.


"Kepada penumpang yang terhormat, karena keadaan cuaca hari ini cukup ekstrim di harapkan kalian mengenakan pelampung kalian yang ada di bawah kursi.


Lakukan sesuai petunjuk yang telah kami ajarkan sebelum pesawat ini lepas landas.


Naura makin kelihatan pucat. Rasanya saat ini, ia ingin pingsan karena jantungnya tidak cukup memasok oksigen ke dalam darahnya.


Tuan Reno membantu Naura untuk memakaikan pelampung itu pada tubuh sang kekasih.


"Naura sayang, jangan pingsan!" Aku bersama denganmu sayang." Tolong lihat aku dan bersandar lah padaku." Ujar Tuan Reno lalu memeluk tubuh Naura yang sudah hampir kaku karena terlalu tegang.


Gadis ini tidak bisa berkata apa-apa karena lidahnya cukup kelu. Sementara pilot dan co-pilot masih berusaha untuk menyelamatkan pesawat dengan dua ratus penumpang di dalamnya.


Pilot terus melakukan kontak dengan menara ATC Jakarta. Pesawat itu sudah naik turun tanpa kendali.


Tuan Reno menatap wajah pucat sang kekasih." Naura!" Jika pesawat ini jatuh dan aku yang mati, aku ingin mengatakan aku sangat mencintaimu dan tergila-gila kepadamu.

__ADS_1


Aku ingin melihatmu mengandung anak-anakku. Tapi, rasanya itu tidak mungkin sayang!" Ucap Tuan Reno bersamaan dengan tubuh pesawat yang mulai menukik tajam ke bawah.


"Allahu Akbar!" Ucap Tuan Reno dan Naura bersamaan dengan saling berpelukan karena mereka akan jatuh ke dalam laut.


__ADS_2