Cinta Di Balik Pengkhianatan

Cinta Di Balik Pengkhianatan
63. Reaksi Publik


__ADS_3

Dalam satu bulan, berita Naura menjadi buah bibir di kalangannya sendiri. Entah itu tetangga maupun orang-orang yang pernah mengenal Naura masih membahas kedudukan gadis itu sebagai putri keraton.


Yang masih heboh terjadi pada tetangga Bu Rukmini yang menyanjung -nyanjung Naura yang awalnya mereka sudah mengira jika gadis itu bukan putri kandung pak Indarto dan Bu Rukmini.


"Tuh, aku bilang juga apa, Naura itu bukan anak kandungnya pak Indarto dan istrinya. Lihat saja wajah mereka yang sangat jauh berbeda. Sekarang ketahuan juga Naura itu siapa." Ujar Bu Erni.


"Yah, kalau tahu Naura itu putri seorang keraton, mungkin aku tidak akan berani menggunjing dirinya yang dulu kawin cerai. Mudah dapat suami laku bercerai dan kawin lagi." Sesal ibu Ida.


"Oh itu, Bu Rukmini lewat! Kita samperin yuk, mumpung dia di luar rumah, kalau sudah di dalam rumahnya sulit untuk ditemui." Timpal Bu Joko.


"Jeng Rukmini dari mana?" Tanya ibu Ida santun.


"Dari puskesmas, aku lagi kurang sehat." Ujar Bu Rukmini sambil sesekali batuk.


"Maaf jeng Rukmini, kalau boleh tahu, di mana putri kandungmu? kami belum melihatnya sama sekali, padahal di berita yang kami baca, putrimu Aurelia sudah dipulangkan ke keluarga aslinya." Ucap ibu Joko.


"Putri Aurelia tidak bisa tinggal di sini, karena ia masih kuliah di Jakarta. Mungkin kalau nanti liburan, kalian bisa menemuinya." Ucap Bu Rukmini mencari aman.


"Oh, pantesan nggak kelihatan, dikiranya gadis itu menolak mengakui kalian itu orangtuanya karena kelamaan tinggal dengan orangtua angkatnya yang keraton itu." Sindir Ibu Ida.


"Maaf semuanya, keadaanku kurang fit melayani nyinyiran kalian, aku pamit masuk dulu." Ucap ibu Rukmini kesal.


"Cih! Mungkin dia marah karena tambang emasnya sudah hilang. Bukankah selama ini, suami Naura yang telah membiayai hidup mereka?" Ucap ibu Ida lalu mengajak kedua temannya kembali ke rumah mereka masing-masing.


"Mereka kira, mereka itu siapa?" Selalu saja bergosip dan kepohin hidup orang lain, sepertinya mereka tidak punya kerjaan selain membuat orang kesal." Sungut ibu Rukmini.


"Ada apa Bu?"


"Biasa tetanggamu susah lihat orang senang, senang lihat orang susah." Jawab Bu Rukmini lalu merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di ruang keluarga.


"Tidak usah dipikirin gunjingan mereka. Kehidupan kita ini tidak ada yang benar menurut mereka, jadi baik atau salah sama saja di hadapan mereka. Sebaiknya ibu istirahat." Ucap pak Indarto menenangkan istrinya.

__ADS_1


"Ayah! ibu kangen sama Naura. Ibu ingin bertemu dengan putri ibu." Keluh ibu Rukmini.


"Ibu, yang harus ibu rindukan itu Aurelia bukan Naura. Lagian Naura bukan gadis bias lagi. Kehidupan pribadinya selalu di sorot oleh media, jadi jangan berharap untuk bertemu dengannya." Tegas pak Indarto.


"Ya Allah, ayah! Bagaimana pun juga hidup kita bisa layak seperti ini karena Naura. Jika tidak ada Naura dan suaminya, belum tentu kita bisa tidur di tempat yang nyaman seperti ini."


"Tapi, ibu selalu saja memiliki perasaan istimewa untuk Naura, tapi ini tidak pernah memberikan kesempatan untuk anak kandung sendiri berbakti."


'Bagaimana ibu bisa menyayanginya, jika sifatnya saja tidak sesuai dengan harapan kita. Di besarkan di lingkungan keraton harusnya lebih santun dan ramah, tapi yang kita lihat anak itu berubah menjadi manja dan liar." Ucap ibu Rukmini.


"Kau selalu sama saja. Sedikitpun tidak memikirkan nasib putri kita padahal saat ini, hanya kita yang dia punya." Ucap pak Indarto yang masih tidak rela putrinya diusir oleh istrinya.


...---------------- ...


Di Jakarta, kehidupan Aurelia sudah mulai berubah. Dari gadis kaya yang mengandalkan kekayaannya kini berubah menjadi seorang gadis yang harus mengandalkan tubuhnya untuk bertahan hidup karena keinginannya yang ingin bertahan di kamar hotel tanpa mau bekerja berat. Ia harus menyamar dengan menggunakan identitas palsu untuk menjadi simpanan om-om. Kini ia berganti nama menjadi Alin.


"Alin, apakah kamu tidak memiliki keluarga hingga masih ingin bertahan di hotel ini?" Tanya Tuan Revan yang sedang memakai jasanya.


"Tapi, jika dilihat dari wajahmu, kamu mirip dengan wajah yang mirip di berita akhir-akhir ini yang dikatakan kedua bayi pernah tertukar oleh seorang bocah ..?"


"Itu bukan aku!" Tegas Aurelia yang tidak ingin membahas kejadian itu lagi.


"Tapi wajahmu sangat mirip dengan putri dari tuan Brotoseno. " Timpal tuan Revan.


"Hanya kebetulan, bukan kebenaran." Aurelia mencoba menguasai emosinya namun sulit untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan tuan Revan padanya.


"Sayang sekali, jika gadis itu adalah kamu sendiri, aku akan menjadikanmu istriku ke tiga, tapi sudahlah kau bukan gadis yang ada di berita itu." Ujar tuan Revan yang tidak mempersoalkan lagi identitas Aurelia.


"Cih!" Menjadikan aku istri ketiga, apa maksudnya coba?" Pasti dia punya niat jahat untuk memperalat diriku." Batin Aurelia.


Seperti biasa, tuan Revan hanya meniduri Aurelia dan iapun kembali lagi ke rumahnya untuk menemui istri pertamanya.

__ADS_1


Tapi tidak dengan Dandy yang ingin sekali bertemu dengan Naura saat ini. Ia ingin meminta maaf kepada mantan istrinya dengan tujuan tertentu.


Dan tepat di pagi hari itu, Naura sedang mengikuti ujian semester akhir. Naura yang tidak ingin mendapatkan pengawasan ketat oleh anak buahnya Tuan Reno, meminta suaminya agar tidak terlalu mengikatnya dengan peraturan yang cukup membuatnya terganggu.


Ibu satu anak ini, ingin kebebasannya seperti wanita lainnya.


"Sayang! Media belum berhenti mengejarmu, jadi aku mohon agar kamu tetap berada di bawah pengawasan Raka dan Ruben." Ujar Tuan Reno tegas.


"Tapi aku tidak mau mereka berada di kampus." Sungut Naura.


"Mereka hanya berada di luar kampus. Kalau kamu sudah selesai ujian, sebaiknya langsung ke hubungi Raka untuk menjemputmu saat keluar kelas."


"Tapi saya tidak enak dengan Desy yang seharusnya dia lebih diprioritaskan oleh Raka daripada aku."


"Desy sangat paham dengan situasi kamu sayang. Setidaknya kamu aman dulu bersamaku, baru Raka bisa menemani tunangannya Desy."


"Begini saja, jika aku pulang kuliah, aku ingin mas Reno sendiri yang menjemput aku di kelas, bukan Raka, bagaimana?"


"Sayang!" Masalahnya aku belum tentu menjemput kamu tepat waktu."


"Tidak apa, mas Reno, karena aku lebih bangga dijemput suami dari pada pengawal." Timpal Naura.


Tuan Reno menghela nafasnya berat lalu mengangguk pasti agar istrinya tidak lagi mengeluh.


Naura turun dari mobil suaminya. Ia berjalan menuju kelasnya untuk mulai ujian pertamanya hari di ini. Dalam waktu dua jam, Naura mampu menyelesaikan ujiannya. Teman-temannya satu persatu sudah meninggalkan kampus. Karena sudah terlihat lengang, Naura berjalan menuju tempat parkir berharap suaminya cepat menjemput dirinya.


Setibanya di tempat parkir, ia tidak melihat mobil suaminya diantara deretan mobil mewah yang terparkir.


"Selamat siang sayang!"


Naura menoleh ke arah suara dan ternyata...

__ADS_1


"Kau..!" Sentak Naura.


__ADS_2