Cinta Di Balik Pengkhianatan

Cinta Di Balik Pengkhianatan
35. Hati-hati!


__ADS_3

Haidar spontan menangkap tubuh Naura yang hampir jatuh membuat kedua pengawalnya mendekati istri bosnya itu namun Naura langsung mencegah keduanya agar tidak memperlihatkan diri mereka pada dosennya.


"Terimakasih pak!" Ucap Naura membenahi posisinya untuk kembali berdiri sempurna.


"Sama-sama Naura. Tapi mengapa kamu berjalan terburu-buru Naura?" Hampir saja kamu jatuh kalau bukan aku yang menahan tubuhmu." Ucap dosen Haidar yang ingin menjadi pahlawan pada gadis itu.


"Maafkan saya pak Haidar!" Saya hanya ingin secepatnya bertemu dengan suami saya yang sedang menunggu ditempat parkir. Permisi." Ujar Naura apa adanya.


Deggg..


Sementara Tuan Reno yang mendengar istrinya hampir jatuh segera berlari menemui Naura.


"Nauraaa!" Panggil Tuan Reno ketika gadis ini sedang bicara berdua dengan dosennya.


"Permisi pak Haidar!" Itu suami saya." Ucap Naura lalu berlari menghamburkan tubuhnya dalam pelukan suaminya seperti anak kecil yang baru ketemu ayahnya.


Melihat adegan romantis itu, dosen Haidar terlihat kecewa dan merasa sangat cemburu.


"Sial!" Aku kira gadis itu masih sendiri saat ini, tapi ia sudah memiliki suami yang sangat tampan. Rupanya nasibku belum mujur dan terlambat mengenal gadis itu." Gerutunya lalu berjalan menuju mobilnya.


Tuan Reno yang masih memeluk gadis liarnya ini membawa gadisnya ke mobil.


"Apakah tadi kamu hampir jatuh?"


"Apakah dua drone bernyawa itu sudah memberitahumu?"


"Ya siapa lagi kalau bukan mereka yang bisa aku andalkan untuk menjagamu yang selalu saja bersikap ceroboh. Hari ini kamu hampir membuat dirimu celaka dan itu akan berakibat pada bayi kita. Apakah kamu tidak sadar kalau saat ini kamu sedang hamil?"


"Maafkan aku mas!" Tadi aku buru-buru ingin bertemu denganmu karena babynya sangat merindukan mu."


"Babynya atau bundanya yang rindu?" Ledek Tuan Reno menggoda Naura yang terlihat malu.


"Cih!" Percaya diri sekali Daddy kamu sayang." Naura mengusap perutnya sambil mengulum senyumnya.


"Kita langsung pulang tuan?" Tanya Raka tanpa menoleh dan memiringkan spion dalam agar tidak melihat kemesraan dibelakang sana yang sedang bertukar Saliva.


"Langsung pulang Raka karena aku sudah tidak sabar menghukum gadis liar ini karena sudah membuat kita kuatir memikirkannya."


"Baik Tuan!"


"Aku juga merindukanmu sayang. Tidak usah malu mengakuinya."


Ciuman Tuan Reno lebih diperdalam menghisap kuat lidah Naura hingga gadis ini hampir kehilangan nafasnya.


Rupanya siang itu jalanan cukup macet. Naura yang melihat aneka kuliner sepanjang jalan itu membuat perutnya terasa lapar lagi.

__ADS_1


Tuan Reno melihat Naura yang sedang menatap lekat makanan yang menggugah seleranya.


"Apakah kamu ingi makan di kedai itu?"


"Hmm!"


"Raka!" Tolong menepi mobilnya kita makan disini.


Naura segera turun dan memesan bakso untuk mereka berempat.


"Untuk siapa bakso sebanyak itu?" Tanya Reno.


"Anak buahmu juga punya mulut kan?" Apa salahnya makan bareng dengan kita." Cuek Naura.


Raka mengulum senyumnya bangga karena Naura sangat memperhatikan ia dan rekannya Ruben.


Tuan Reno menarik nafas dalam melihat sikap Naura yang sangat peka pada orang lain.


"Naura!"


Maya dulu tidak pernah memikirkan anak buahku, tapi kamu selalu memikirkan nasib orang lain. Itu yang membuat aku suka padamu. Jiwa sosialmu begitu tinggi dan kamu tidak ingin membeda-bedakan status sosial mereka." Batin Tuan Reno.


Sementara di luar sana, panas terik matahari yang sempat memanggang bumi di bawahnya tampak mulai redup. Angin bertolak dari berbagai sisi untuk menghembuskan nafasnya menyisiri setiap insan yang sedang menikmati kehadirannya begitu sejuk


"Sayang!" Cepat habiskan makananmu!" Sebentar lagi akan hujan." Titah Tuan Reno.


"Kita kan naik mobil mas, kenapa mas kuatir?" Acuh Naura.


"Kita harus menyebrang ke tempat parkir dan kita tidak membawa payung di mobil.


Raka!" Apakah di mobil ada payung?"


"Tidak bos!"


Naura menghabiskan baksonya lalu bangkit dari duduknya. Baru saja beberapa langkah hujan langsung mengguyur bumi tanpa permisi. Naura yang hendak berlari ke arah mobil dicegah oleh suaminya karena gadis itu selalu ceroboh.


Ia lalu membuka jasnya dan menggendong istrinya melewati lampu merah di mana, semua mobil tampak berhenti menunggu giliran mereka.


Melihat Tuan Reno menggendong Naura sambil menutupi wajah dan tubuh gadis itu, para pengendara lain yang sedang berhenti di lampu merah tersebut, spontan menyaksikan pemandangan romantis itu, terutama para gadis yang langsung meleleh melihat Tuan Reno yang begitu melindungi istrinya.


Naura membelit tangannya ke leher kokoh milik suami sambil berlindung dari hujan deras yang membasahi Tuan Reno.


"Ahaaa!" Mauuu kaya gitu!" Ucap beberapa gadis yang sedang berada di mobil itu.


Raka membuka pintu mobil dan membiarkan Tuan Reno mendudukkan Naura di dalam mobil diikuti oleh dirinya.

__ADS_1


Naura melihat tubuh suaminya sudah basah kuyup dan rok miliknya juga.


"Kenapa tadi tidak menunggu dulu di dalam kedai itu sayang?" Protes Naura.


"Supaya para pengunjung lain menikmati kecantikanmu?" Sindiran pedas mulai kembali.


"Apakah kamu terus menerus menjadi posesif seperti ini?"


"Aku tidak ingin berbagi kecantikanmu dengan orang lain." Ketus Reno tanpa ampun.


Naura hanya menghembuskan nafasnya. Ia tidak tahu lagi bicara apa karena suaminya tidak akan berubah.


"Kenapa aku disuruh kuliah, kalau kau sendiri tidak rela melihatku bersama dengan orang lain. Dasar suami aneh!" Pingin istrinya pintar tapi ketakutan istrinya dilihat kaumnya." Batin Naura.


Tuan Reno mengambil selimut dan bantal di belakang jok mobil ia pun menyelimuti tubuh Naura yang terlihat kedinginan. Tuan Reno membuka kemejanya dan menggantikan dengan kemeja kering yang selalu ia bawa dan juga celana panjangnya.


"Mas Reno!" Aku masih kedinginan!"


Reno membawa tubuh Naura kedalam pelukannya dan menutupi tubuh mereka dengan selimut.


"Apakah sudah lebih baik sayang, hmm?"


"Masalahnya ujung rok aku basah jadi masih terasa dingin."


"Kalau kita hanya berdua di mobil, aku sudah mencopot rok mu itu dan membalutnya dengan selimut." Bisik Tuan Reno gregetan dengan Naura yang makin membuatnya pusing mendengar keluhannya.


"Mendingan dicopot dari pada aku kedinginan. Mana masih jauh lagi mansionnya, malah lebih dekat ke apartemen kita mas."


"Baiklah kita ke apartemen. Aku juga sangat rindu momen kita berduaan saja di apartemen itu."


"Benarkah kita ke apartemen?"


"Hmm!" Kecupan manis dihadiahi Naura untuk suaminya.


Tuan Reno menutup selimut itu sampai kepala mereka dan keduanya sedang menikmati rujak bibir dibalik selimut itu.


Hujan diluar makin menggila membuat pandangan Raka agak berkabut karena kaca mobil yang mengembun dari dalam.


"Mas Reno!" Jangan nakal tangannya." Bisik Naura saat tangan suaminya menyusup ke dalam punggungnya.


"Aku lagi cari kehangatan karena tanganku sangat dingin."


"Dasar modus!"


Bibir mereka kembali bertaut merasakannya suasana hujan ditengah kendaraan padat merayap.

__ADS_1


__ADS_2