Cinta&Luka PERJODOHAN

Cinta&Luka PERJODOHAN
10


__ADS_3

"Never allow someone to be your priority while allowing yourself to be their option."


Jangan pernah membiarkan seseorang menjadi prioritasmu ketika dia membiarkanmu menjadi pilihannya


* *


Sepersekian detik Kean mencerna apa yang didengarkanya. Hatinya ikut sakit mendengar ucapan temanya. Kean berlari keluar dari kelasnya, ia tidak peduli jika teman temanya menghujatnya, yang ada dalam fikiranya saat ini adalah Nada Nada dan Nada.


Ia melajukan motor matic bignya dengan kecepatan diatas rata rata. Tak butuh waktu lama ia sampai di IGD rumah sakit X.


"Brak" pintu IGD terbuka, membuat semua penghuni IGD dari perawat dokter dan pasien menatap nyalang wajah Kean.


" Maaf De, anda tidak bisa masuk sembarangan, disini banyak pasien sakit!" pinta salah satu perawat kepada Kean yang menerobos masuk pintu IGD. Ruang IGD ruangan yang penuh dengan dokter, resident, dan coas, disini ada juga spesialisnya.


Kean tidak menghiraukan ucapan perawat tersebut, ia berjalan masuk membuka khorden khorden berwarna merah. Sampailah di ruangang ujung di sana terdapat Nada yang berbaring, tidak diinfus, hanya mendapatkan perawatan luka. Nada dan Bara menatap malas lelaki didepannya.


"Nad kamu gak papa?" Bibirnya terkunci, sepertinya enggan mengucapkan kalimat sebagai tanda jawaban untuk Kean.


"Minggir!" Pinta Kean menggeser Bara yang masih disana. Kean menangkupkan kedua tanganya di wajah Nada lalu menatapnya. "Maaf" air mata yang tadi mungkin lupa caranya berhenti kini menetes lagi.


Diusapnya air mata di wajah Nada dengan pelan dan sayang, mesra satu kata yang ditangkap oleh Bara.


Merasa diabaikan Bara berniat untuk pergi, "Na, gue balik dulu ya, loe udah ada Kean ini" ucapnya mengalihkan perhatian kedua bola mata yang masih saling tatap, entahlah apa itu artinya.


Kean melepaskan tanganya karena ditepis oleh Nada. " Aku ikut pulang Bar!" yah kali ini kalimat Nada sukses bikin Kean menatap tajam Nada.


Bara terdiam, ia sebenarnya sangat ingin bersama Nada, tapi ada Kean, Bara tau, hubungan Kean dan Nada bukan hanya hubungan antara sepupu.


"Pulang sama aku Nad, tidak ada TAPI!" pintanya dengan suara berat dan khas. Kalau boleh tau itu adalah sebuah kalimat kepemilikan bukan sebuah ajakan.


" Gue balik aja Na, loe sama Kean tinggal bareng kan!" Bara masih dengan lesungnya, wajah tenangnya tidak membiarkan seseorang mengetahui bahwa ia cemburu. Bara berjalan meninggalkan area rumah sakit.


" Sus saya mau membawa pasien pulang!" ungkapnya memberitahu kepada perawat.


Perawat segera meminta Kean untuk membayar tagihan rumah sakitnya.


" De, nanti lukanya dibersihkan ya, jangan lupa diberi salp, dan minum obatnya rutin" ujung bibir Nada tertarik, mengiyakan keramahan perawat tersebut.


"Terus nanti kalau mimisan ade duduk tegak, sedikit condong ke depan, dan menutup kedua lubang dengan cara mencubit hidung selama 5 hingga 10 menit agar dapat membantu menghentikan mimisan. " ucapanya begitu ramah membuat Nada mendengarkan dan menatap saksama wajah cantik didepanya.


" Kalau masih mimisan sus?" tanya Nada ingin tahu


" tekan kedua lubang, karena proses menekan hidung itu bertujuan untuk menghentikan daerah pembuluh mana yang mengeluarkan darah!" Nada manggut manggut mendengar penjelasanya.


"Ia saya mengerti sus makasih!" ucap Nada ramah.


" Dengan senang hati ade" perawat tersebut hendak berjalan, namun ia kembali menatapkan wajahnya, nanti kalau masih mimisan dikompres es yang dibalut handuk atau kain ya Nada, karna suhu dingin dapat menghambat sirkulasi darah sehingga meringankan rasa sakit dan memar yang dialami"


" Sudah cramahnya sus?" ucap Kean membuat percakapan keduanya teralih kepada Kean. Wajah perawat tersebut ditekuk, kesal dengan watak Kean yang tidak sopan.


" Sudah" jawabnya jutek, Nada saja masih kesal, ditambah lagi wataknya yang nyebelin gak tau tempat. Kean memapah Nada dengan cepat, seperti Nada itu kapas.


Seujung perjalanan tidak ada percakapan diantara mereka. Hingga sebuah panggilan masuk menghentikan langkah mereka yang akan turun dari mobil, ya itu panggilan dari Bunga.

__ADS_1


📞 "Hallo Beb " jawabnya dengan penuh senyum, sedangkan Nada wajahnya sudah ditekuk.


'bab beb bab beb sok mesra'


📞" Gimana kabar Nada Key, baik baik aja kan?" tanya Bunga, yah Bunga ngerasa bersalah kepada Nada, dan sangat khawatir kepadanya.


📞" Nada gak papa, hanya luka lecet doang."


' luka lecet palamu, ini rasanya sakit banget, sakit luar dalem Key.'


Kean menyodorkan ponselnya kepada Nada, agar Bunga bisa langsung berbicara denganya. Sialnya emosi Nada malah memuncak.


"Brak" ponsel Kean Nada tepis hingga jatuh di dasbor mobil dan mengalami retak.


'retak seperti hatiku yang terus kau sakiti'


"Nad....kamu.... " protesnya kepada Nada, namun Nada langsung keluar dari mobil dan berlari ke dalam kamar dan menguncinya.


Sepi, rumah sebesar ini di jam jam pagi pasti sepi, gak mungkin kan mereka pada dirumah, jelas omanya Keyla berada di rumah sakit, Axel berada di kantor dengan Kenan, Cila disekolah. Zela mengembangkan restaurant yang sedang ia gandrungi.


Tok


tok


tok


tok


tok


tok


" Kamu kenapa si Nad?" ucapnya membuat Nada kaget, ia masih duduk di lantai depan pintu.


Bukanya menjawab Nada berjalan kekamar mandi. Sebelum pintu kamar mandi ditutup Kean dengan cepat menahanya.


" Kalau ditanya itu jawab, kenapa gak mau ngomong sama Bunga? bisa ngomong baik baik kan?" Kean tampak emosi, dia kesal karna mengabaikan panggilan Bunga yang repot repot menanyakanya.


'masih sempet memperdebatkan masalah Bunga, hatinya itu dimana si?'


"Awas" Nada mendorong pintu dengan kuat sayangnya kalah oleh Kean.


" Kalau ditanya itu jawab!" bentak Kean membuat air mata Nada meluncur bebas. Yah kali ini Kean akui, ia salah. Ia selalu lemah jika melihat air mata Nada. Air mata gadis itu mengingatkanya kepada kedua orang tuanya yang direnggut nyawanya.


"Maaf" Kean memeluk Nada dengan erat, menyalurkan kekuatan agar Nada berhenti dari rasa sedihnya.


" Kamu jahat"


"jahat"


" jahat" Nada memukulkan kedua tanganya di dada Kean.


" Maaf .... Maaf Nad, Maaf "

__ADS_1


*


tut.....tut....tut... nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi.


" Sialan, kemana si Abi, katanya mau jemput...... ighhh.... sebel."


Tak lama sebuah moge hijau berhenti. "Gue balik dulu ya!" ucap Cakra diangguki oleh Cila.


"Jangan telphon gue, gue mau kencan!" pesanya dengan logat tawanya, Cakra tau pasti abangnya itu gak bisa jemput.


"Iya Cakra, brisik banget si, sana pulang!"


Cakra menutup helm full face nya, lalu menstart mtornya.


"Yakin....?"


"Sekali lagi loe balik gue timpuk pake sepatu Kra." Cakra melajukan motornya dan mengeluarkan dua jari bertanda peace.


10 menit


15 menit


30 menit


tut... tut.... tut... nomor yang anda tuju tidak dapat dihuhungi


"Abi... nyebelin banget sie ni orang, bikin naik darah terus." gerutunya kesal, yah jalanan yang begitu padat dan panas membuat si cantik Cila tak tahan. Ia ingin menghubungi Cakra tapi udah terlanjur marah marah tadi.


"Derrick" Yah abangnya yang saat ini muncul di fikiranya.


Menyambungkan


Berdering


00.00


📞"Hallo bang, dimana?"


📞" Ia de, abang lagi sama temen." jawabnya lalu mengalihkan panggilanya ke panggilan vedeo." Loh de, kamu masih disekolah?"


📞" Ia mau minta jemput abang." ucapnya dengan mode manjanya.


📞" aduhh gimana ya, abang lagi ada acara ini, lumayan penting juga si." Jawabnya dengan mengedarkan ponselnya ke lain arah,


📞" Ya udah bang gak p....." matanya menangkap dua sejoli yang sedang duduk berdekatan, bukan cuma bermesraan, mereka layaknya seseorang yang sedang mengumbar kemesraan dan dimabok cinta. " Abang sama siapa?"


📞" Biasa Dilan dan Abi" lagi kamera Derrick difokuskan kepada Abi, bagaimana tidak naik darah lihat saja kelakuan sejoli yang tak tau malu memamerkan hasrat mereka. Itulah salah satu alasan kenapa Derrick menentang hubungan Abi dan adiknya itu. " Maaf ya de, abang gak bisa...."


tut


tut


tut

__ADS_1


Panggilan terputus, hancur sudah kepercayaan yang selalu ia tanamkan meskipun di dalam lubuk hatinya hancur. Air matanya ikut menetes, yah, meski gimana lagi, sudah cukup hatinya yang selalu disakiti dan dibohongi.


" Sudah nangisnya?" suara berat itu mengagetkan Cila. Tangisnya bertambah deras karna lelaki didepanya sudah berkali kali menasehatinya agar meninggalkan lelaki tersebut.


__ADS_2