Cinta&Luka PERJODOHAN

Cinta&Luka PERJODOHAN
74


__ADS_3

"Aku gak papa, Kean yang luka parah" tunjuknya pada Kean yang terpasang infus, lalu Nada menjauhkan tubuhnya pada Bintang, barulah mereka berdua mengalihkan pandanganya kepada Kean yang sudah kesal karena Bintang yang terlalu over kepada Nada.


Langit menyikut Bintang karena terlalu over pada istri orang. "mampus loh" lirihnya pada Bintang.


Cashel disana menyaksikan Bintang yang over pada mamahnya, dan Kean yang wajahnya mulai garang. "Om Bintang suka yah sama mamah?"


Deg


Semua tatapan jatuh pada Cashel lelaki yang menebak perasaan Bintang. Cashel memang seperti itu, ia tidak suka dengan lelaki yang perhatian kepada mamahnya berlebihan.


Dulu Varo, sekarang Bintang, apa kabar kalau ada Bara yah? Pasti Cashel bakalan kesel banget.


'lemes sekali mulut anak ini'


Mata Bintang dan Cashel beradu, tersirat sebuah tekad untuk membenci Bintang. Mereka saling diam, Kean melempar senyum mengejek pada Bintang.


"Sudah sudah, Cashel, kita lanjutkan makan ya nak, nanti kamu kesiangan!" ucap Nada mengalihkan pembicaraan. Lalu Nada dengan telaten mengambilkan makananya untuk Bintang dan Langit.


"Tang, Ngit, makan dulu, kalian pasti belum makan." tuturnya mengajak mereka untuk makan pagi bersama.


Bintang dan Langit menerima makanan yang diberikan oleh Nada. Lalu mereka makan dengan hikmat. Nada kembali menyuapi Kean, membuat beberapa tatap mata terfokus kembali pada mereka.


"Loe kenapa Key?" tanya Bintang ingin tahu. Gak cuma ingin tahu, ini mah ganggu aksi suap menyuap mereka.


"Kena musibah" ucapnya singkat setelah menerima suapan dari Nada.


"Hah, jadi yang.... Kean mengangguki ucapan Langit.


"Jadi yang semalem naik mobil Nada dan mobilnya meledak itu loe?" tanya Bintang kepada Kean lalu dijawab dengan anggukan kembali.


"Jangan bicara kalau lagi makan!" ucap Cashel membuat Bintang menatap tajam anak kecil yang wajahnya sangat mirip dengan Kean.


Brugh


Akhh


Langit menginjak kaki Bintang, membuat Bintang mengaduh kesakitan. Bintang memutus pandanganya dari Cashel kepada Langit. "Sial loe, sakit bego"


"Damai ngapa, dia anak kecil jangan loe ajak ribut!" perintah Langit pada Bintang,


'Bego emang Bintang, udah tahu dia anak Nada, mau di ajak ribut juga'


"Dia dulu"


"Diem....." seru Kean membuat mereka menatap Kean. "Keselek mati kal-" ucapan Kean dipotong oleh Cashel.


"Papah diem!" Pinta Cashel pada Kean. Kean bungkam, gak nyangka ternyata papahnya sendiri di skak mat


'Kena lagi deh'


"Mampus loe Key" lirihnya membuat Kean menatap Bintang kesal.


"Mah, aku mau berangkat" tuturnya lembut, lalu menyalami tangan mamahnya.


"Tang, Ngit anterin anak gue!" pinta Kean. Cashel menatap Bintang horor begitu juga dengan Bintang tak kalah horor.


"Aku sama om Langit aja" Langit tersenyum miring pada Bintang. Membuat Bintang ingin sekali menggaplok kepala Langit.


"Siap komandan, ayo kita berangkat!" ajak Langit pada Cashel. Cashel berjalan dengan tenang menggandeng Langit. Ia tidak menggubris Bintang yang sangat kesal kepada Cashel.


"Assalamualaikum mah pah" ucap Cashel pada mereka, tanpa melihat Bintang.


"Anak loe Key, nyebelin banget" lirihnya kepada Nada dan Kean.


"Cashel denger loh om, awas aja gangguin mamah aku" Cashel mengepalkan tanganya kepada Bintang. Langit dan Kean terkekeh melihat keduanya yang saling bermusuhan.


'bocah sialan'


Sesampainya di depan mobil Langit, Cashel berdecak kagum, mobilnya sangat keren, membuat Cashel benar benar dibuat takjub. "Wahh om, mobilnya bagus banget?" ucap Cashel.

__ADS_1


"Ini belum seberapa Shel, dibandingkan dengan papahmu, dia bisa beliin mobil kayak gini 10 kalau Cashel mau" jelasnya kepada Cashel.


"Wah serius om?" Langit menganggukan kepalanya pada Cashel. Lalu mulai memutar kunci hingga 3 kali, sehingga mobil sudah dalam keadaan star.


"Kitaaaa meluncurrrrr" ucap Langit membuat Cashel menatap takjub mobil yang perlahan membuka atap mobil.


"Ommm"


"hmmmm.... yah Shel, ada apa?" jawab Langit menatap Cashel sebentar lalu kembali fokus pada jalanan kembali.


"Om Bintang suka yah sama mama?" tanya Cashel penasaran. Langit menggeleng, ia ingat sebuah petuah


'jangan membumbui bara api dengan minyak'


"Dulu mereka sahabat Shel" jelasnya, sayangnya Cashel bukan anak yang mudah percaya.


"Di dunia ini tidak ada yang namanya sahabat murni tanpa rasa cinta om" Langit mendelik, ia tatapkan matanya fokus pada objek bocah yang sangat mirip sahabatnya.


'Ini beneran anak Kean kan? Kenapa berasa gue ketemu sama Kean versi jenius yah?'


"Bener kan om?" Langit buru buru mengangguk. "Achel tau, bagaimana tatapan laki laki yang suka naruh perhatian lebih sama mamah"


Langit menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia bingung mau menjawab apa, ucapan bocah kecil ini semuanua benar. "Di sana juga dulu mamah sering banget ada lelaki yang merhatiin mamah, tapi Cashel selalu gak suka sama mereka."


'glek'


'Mampus loe Tang, ngibarin bendera perang si loe'


'Mau gue tolongin, tapi sayangnya anaknya Kean terlalu pinter'


"Shel...." Cashel menatap Langit yang masih serius dengan stir bundar, membelok belokan setiran itu.


"Om Bintang emang suka sama mamah kamu, tapi inget satu hal Shel, mamah kamu hanya mencintai papah kamu juga sebaliknya, dan perlu kamu garis bawahi om Bintang itu sahabat karipnya papah kamu, jadi om Bintang gak pernah berniat buat memiliki mamah kamu"


Cashel mengangguk anggukan kepalanya. Pertanda ia mengerti apa yang diucapkan oleh Cashel. "Cashel masih mantau om"


'Anjir nie anak, gayanya udah kaya ABG aja'


"Nad, bantuin ganti baju bentar!" ajak Kean pada Nada, Nada berbalik mengangguk mengikuti Bintang.


"Gue aja Key" tawar Bintang, padahal sejatinya memang Bintang sedikit cemburu.


"Serius?" tanya Kean berbalik menatap Bintang yang tengah menyusulnya. Bintang mengngguk. Kean lalu memutarkan badanya dan mengangkat kaosnya yang menutupi punggungnya.


"Sekalian ganti ini mau?" tanya Kean yang memperlihatkan kasa basah bercampur darah.


"Astaga Key.... loe?" tanya Bintang memastikan dengan mendekati Kean yang punggungnya berbalut kassa.


"Iah gue Tang, yang kena ledakan gue, bukan Nada" tuturnya dengan intonasinyang jelas agar Bintang tersindir karna terlalu memperhatikan Nada.


"Ya udah Nad, obatin sana!" Nada hanya mengagguki ucapan Bintang lalu berjalan memasuki kamar Kean.


Sesampainya di kamar Kean, Nada membuka almari milik Kean, lalu mengambil bajunya yang adem dan mudah di pakai. Ia sempat terpanah melihat sebuah foto yang tertempel di balik pintu almari Kean.


Sebelah Kiri foto Cashel kecil yang dulu Nada kirim dengan email gadungan. Sebelah kanan tertempel foto Nada dengan ukuran yang sama besarnya.


Lalu di setiap sudut kamar Kean terdapat bingkai foto milik Nada. Nada tersenyum, ia sempat terharu, tapi ia juga masih belum mau memaafkan dan berdamai denganya, meski perlakuanya sudah tidak sekaku saat bertemu pertama.


"Nad...." Nada tersentak lalu kembali mengambil baju serta celana, lengkap dengan ****** ***** milik Kean.


"Kamu bisa mandi sendiri?" tanya Nada penasaran. Kean mengangguk, tersirat rasa ingin menjahilinya.


"Mau mandiin?" tanya Kean jahil. Nada meringsut, lalu berbalik membelakangi Kean.


"Gak Key" Kean terkekeh lalu memasuki kamar mandi, jika ditanya bisa atau tidak, jelas saja bisa. Nada telah mengganti selang infus dengan stoper, sehingga mempermudah Kean beraktivitas.


Setelah selesai dengan aktivitas membersihkan tubuhnya, Kean keluar hanya dengan celana pendek dan tubuh polos tanpa handuk.


Nada mengambil alat ganti verban, ia sengaja menunduk karna Kean tidak memakai baju atasanya. "gemes" serunya melihat Nada yang menunduk "jadi pingin nyubit"

__ADS_1


Nada mengompres lukanya dengan kasa steril selama beberapa menit, lalu mengolesi dengan salep. Setelah selesai Nada memberikan kaos milik Kean. Kean dengan perlahan memakainya. "udah" ucap Nada pelan.


"Gak pengin peluk atau cium?"


"Kamu tuh yah Key.... mesum" Kekehan Kean terdengar. Nada beranjak memberesi kamar Kean.


"Key, woi, udah belum?" tanya Bintang yang rese merusak suasana. Jelas saja BT di rumah sepi, masa Bintang di tinggal sendirian.


ceklek


Kean keluar, disusul oleh Nada yang wajahnya menunduk. "Ikut gue ke ruang kerja!" ajak Kean yang wajahnya sudah mulai kesal kepada Bintang.


Nada menuju dapur ia membuatkan makanan dan minuman untuk Bintang dan Kean. Setelah selesai Nada membawanya ke ruang kerja Kean.


Sebelum masuk, Nada menarik nafasnya dalam, lalu membuangnya perlahan.


"Siapa menurut loe, yang berani mengusik Nada sejauh ini?" Kean, yah dia yang sedang menanyakan kepada Bintang. Nada disana mendengarkan percakapan meeeka.


"Bunga?" Kean diam, ia sedang berfikir dalam dalam. Kean menggelengkan kepalanya, kalau ia tidak setuju dengan Bintang.


"Bukan...."


"Siapa.... Mada gak punya musuh di sini selain Bunga?" Lagi Kean menggeleng.


"Memang bukan Bunga" jawabnya yakin.


"Loe masih cinta?" Kean terkekeh. Disana nampan yang Nada bawa hendak terjatuh.


'Benarkah Kean masih mencintai Bunga'


'Atau waktu itu Kean hanya berpura pura membenci Bunga'


"Gila loe, gak gitu Tang, tapi kalau menurut gue memang bukan Bunga" Seolah Kean membela Bunga, nampan yang Nada pegang mulai bergetar dan jatuh berserakan.


pyak


Kean menatap Nada yang berada tepat di depan pintu. "Nada....." Nada berlari meninggalkan Bintang dan Kean.


'sial'


'kenapa harus salah paham'


"Gue susul Nada dulu" Kean berlari keluar mengikuti Nada yang hendak memasuki kamar.


"Dengerin dulu Nad!" Nada tetap kekeh mau menutup pintunya. "Dengerin dulu"


"Keluar Key.... pergi kataku, akubgak mau dengerin kamu" pinta Nada yang sudah dengan sekuat tenaga mendorong pintu agar tertutp rapat.


Brak


Kean berhasil membuka pintu Nada, Nada masuk ke dalam kamarnya, lalu mengunci pintunya agar Nada tidak kabur. "Jangan salah paham Nad"


"Kamu memang masih cinta kan sama Bunga" Kean menggeleng, ia tidak mau Nada salah paham dan pergi lagi meninggalkan Kean.


"Gak"


"Nad"


"Lepasin Key!"


grep


Kean memeluk Nada erat, ia mengunci semua pergerakan Nada, terserah dengan lukanya yang terasa sakit kembali dan memanas, perih itu tak ia pedulikan demi apa demi Nada.


"Dengerin Nad, aku bukan bela Bunga, tapi karna memang bukan Bunga. Pelakunya sama dengan orang yang mengejar kita dan menyusup rumah kamu." Nada diam, Kean memang belum menceritakan tentang siapa orang yang menyusup rumah dan mengejar mereka waktu itu.


"...." Nada diam, tidak ada pergerakan pada Nada. Kean kembali memeluk Nada erat.


"Itu Fidan Nad, orang yang menyusup rumah kamu, dan orang yang mengejar kita lalu orang yang kemungkinan merusak mobil kamu adalah Fidan, karna memang mereka telah memberi pelacak pada mobil kamu." Nada diam, ia masih mendengarkan jeli ucapan Kean.

__ADS_1


"Aku sudah tidak mencintai Bunga, aku hanya mencintai kamu seorang Nad, hanya kamu, cuma kamu dan sampai kapanpun tetap kamu"


__ADS_2