
"Bun.... Yah" Zela menengok asal suara Kean, di sana ada Nada yang sudah bersiap untuk menghadapi semuanya.
"Ya Ke....Nada" Zela beranjak, sang ayahpun ikut kaget mendengar Zela yang memanggil Nada.
"bunda...."
"Nada...."
Nada memeluk Zela dengan erat, tak berbeda jauh dengan Zela yang kini berhambur dalam pelukanya. "Nada hiks ...hiks... ini kamu sayang?" Nada mengangguk masih dalam rengkuhan sang bunda.
"Ia bunda ini Nada" ucapnya melepaskan pelukanya. Wajah Nada sudah berderai air mata. Wanita ini adalah wanita yang sangat ia sayangi, ia rindui, dan bahkan sangat ingin ia jumpai sejak lama.
"MasyaAlloh sayang, ini beneran kamu? Bunda gak mimpi kan, ini bukan mimpi kan sayang?" Zela tampak mencubit tanganya sendiri.
"Enggak bunda" Nada meraih tangan Zela yang sedang menepuk dan mencubit tanganya sendiri "Ini Nada, ini beneran Nada bunda, Nada putri bunda" Air mata itu terus mengucur, melepaskan segala rindu yang tertahan.
Jujur dalam lubuk hatinya Nada sangat rindu. Wanita yang dulu benar benar menganggap Nada seperti anak kecil, dan selalu memanjakanya setiap waktu, tapi harus Nada tinggalkan karna Kean.
Sebenarnya Nada tak sepenuhnya membenci bundanya. Sejauh apapun anak membenci ibundanya tetap hatinya akan runtuh ketika jauh, kehidupanya akan kacau jika tak mendapat restu dari beliau.
"Nada bunda kangen" Zela kembali memeluk Nada dan masih dengan air mata yang membasahi pundak Nada. Kenan di sampingnya pun sebenarnya ingin ikut menangis, tapi apalah daya, lelaki harus tegar dan menyimpan air matanya.
Kean disebelah sana pun sudah menahan sesak di dadanya, rasanya ingin ikut berpelukan. "Mamah...." panggil Cashel yang terbangun dalam gendongan Kean. Semua mata tertuju pada Cashel. Yah Cashel memang selalu mengganggu sebuah moment.
Kemarin merusak moment indah Kean dan Nada. Sekarang merusak moment kangen kangenan Nada dan bundanya. "Sayang" Nada melepaskan pelukanya, lalu mendekatkan dirinya pada Cashel.
"Ini di rumah siapa pah?" tanya Cashel. Zela dan Kenan mendekat menuju arah Kean yang masih menggendong Cashel.
"Ini...."
"Ini Cashel yah bun, cucu kalian" ucap Kean. Yah sejak tadi Kean tak mengucapkan sepatah katapun.
"Ya Alloh, Cashel kamu sudah besar?" tanya Zela yang ingin menggendong Cashel.
"No no no, jangan gendong Cashel oma, kata mamah Cashel berat, jadi Cashel gak boleh minta gendong oma dan opa" ucapnya membuat mereka tersenyum.
"Gak papa, opa masih kuat" jelasnya yang kemudian menggendong Cashel.
"Nanti cape opa, kata mamah Cashel berat, jadi jangan suka minta gendong, kan Cashel udah bisa jalan udah gede juga kata mamah." lagi lagi ucapan Cashel selalu ia ingat ketika digendong seseorang membuat Nada menjadi malu.
"Sekali yah, opa pengin gendong Ca-shel.... Ca-Shel ya siapa tadi namanya ?" tanya Kenan penasaran.
"Cashel oma opa" Cashel menyalami mereka dengan penuh santun. Lalu Kenan mengajak Cashel bercerita dan berkeliling di rumah tersebut.
"Nada bagaimana kabar kamu sayang?" Nada berjalan beriringan bersama bundanya, diikuti oleh Kean yang kemudian berakhir di sebuah sofa panjang di ruangan santai.
"Nada baik bunda, bunda gimana?" Terlihat wajahnya kini sudah mulai menua, walau masih terlihat cantik, tapi.....
'bunda kurusan'
'Dia seperti menanggung beban yang sangat berat'
"Bunda baik sekarang, karna seseorang yang bunda tunggu sudah kembali" ucapnya dengan suara berat, air matanya tumpah kembali membuat Kean prihatin dengan keadaan ibundanya.
"Nada..." Zela menatap dalam iris mata kecoklatan itu. "Maafin bunda yah" Zela bersimpuh di kaki Nada membuatnya iba.
"Bunda jangan seperti ini" Nada menanting Zela yang tetap bersikukuh bersimpuh di hadapanya.
"Maaf nak, maafin bunda, semua salah bunda, bunda yang salah, bunda minta maaf karna udah gak percaya sama Nada. Coba dulu bunda percaya sama kamu pasti Nada gak ninggalin bunda."
"Enggak bunda, jangan seperti ini, bunda gak salah, Nada udah maafin bunda " Nada ikut berjongkok sama sama menangis, dan saling memaafkan.
"Bunda memang bukan bunda yang baik buat kamu hiks" masih dengan isaknya, dan masih selalu menyalahkan dirinya sendiri.
"Bunda...." Nada memejamkan matanya, kristalan bola itu kembali menggelinding. "Bunda masih bunda terbaik yang selalu Nada sayangi, bunda adalah wanita yang selalu Nada rindui, bunda adalah wanita yang sangat Nada sayangi dengan sepenuh hati" Nada memeluk kembali wajah cantik itu.
__ADS_1
"hiks...hiks..."
"Bunda..... bunda dengerin Nada yah, jangan nyalahin diri bunda, udah cukup bunda, Nada udah maafin bunda jauh sebelum ini, Nada sayang bunda, jadi Nada mohon jangan lagi berfikir kalau bunda yang bikin Nada pergi" Nada membingkai wajah ibundanya dengan lembut.
Kean mengedarkan pandanganya, air matanya hampir tumpah karna dua wanita yang sangat ia cintai. Ia berusaha tegar menghadapi dua wanita yang saling mencurahkan rasa rindunya.
"Nada .....Janji jangan tinggalin bunda lagi yah!" Nada mengangguk masih dengan tangis isaknya.
"Nada janji bunda, Nada gak akan tinggalin bunda lagi"
"Mamah.... Cashel laper" Suara Cashel mengatensi aktivitas mereka yang sedang mengungkapkan perasaan masing masing.
Nada dan ibundanya mengusap wajahnya, lalu tersenyum menatap lelaki tampan yang kini berada di pangkuan Nada. "Mamah kok nangis si.... papah juga" ucapan Cashel mampu membuat Nada menatap Kean, sayangnya Kean membuang mukanya.
"Pah...."Kean ikut berjongkok masih dengan sisa air mata yang tertinggal di pipi.
"Ia sayang" Ada Cashel di pangkuan Nada, dan Kean yang berada di depan Cashel membingkai wajah tampan putranya.
'Sungguh mereka sangat harmonis'
"Kata mamah cowo gak boleh nangis loh pah" Kean tersenyum kepada Cashel lalu mengusap kepala Cashel.
"Papah gak nangis, cuma kelilipan Shel" Nada menatap Kean yang sejak tadi memang membendung air matanya.
"Ayo makan, katanya tadi laper" ajak Kean Pada Cashel. Kean sengaja mengajak Cashel makan agar bundanya dan Nada berhenti dari mood melow nya.
"Ayo pah makan!" ajak Cashel yang memang dua sejoli ini sudah tidak bisa dipisahkan.
"Mas, mereka seperti pinang dibelah dua ya?" tanya Zela pada Kenan
"Ia bener Cashel itu mirip Kean kecil." Nada hanya mendengarkan percakapan mereka tanpa ingin mengimbuhi atau menimbrung.
Pada kenyataanya memang mereka sangat mirip, dan itu adalah salah satu hal kenapa Nada masih mencintai Kean. Tuhan itu adil, Ia menciptakan Cashel mirip sepertinya agar ikatan batin mereka berdua tetap terikat.
*
Nada meneliti kamarnya secara saksama, masih sama, masih bersih, dan masih tertata rapi. Entah siapa yang tidur disini tapi sepertinya Kean atau bunda yang sering kesini.
Ceklek
Nada keluar dari balkon, dan di balkon sebelahnya ada Kean di sana.
'Kenapa harus ada Kean '
'Padahal sejak tadi aku ingin menghindar'
'Tapi ujung ujungnya masih dipertemukan'
"Belum tidur?" Tanya Kean yang tidak mengalihkan pandanganya dari langit luas itu.
"Belum" tuturnya lembut, Nada pun ikut menatap langit luar. Dulu yah dulu Nada sering sekali disini, dan tiba tiba Kean sudah berdiri di sampingnya. Itu hanyalah kenangan 7 tahun silam yang lalu.
"Bagaimana kabar Bunga?" Kean menggeleng, ia sudah tidak peduli lagi dengan Bunga.
"Kenapa kalian tidak bersama?"
'Kenapa harus bertanya perempuan yang telah memporak porandakan hubungan kita Nad?'
'Apa kamu tidak membencinya?'
"Karna aku mencintaimu Nad" ungkapnya jujur membuat jantung Nada berdegup sekencang kencangnya.
Kean menatap intens wajah di sampingnya. Ternyata Nada tidak menggunakan jilbabnya. Rambutnya hitam, terurai indah, bisa ia bayangkan betapa halus dan wangi rambut itu.
"Aku lupa seperti apa itu cinta Key" jelasnya yang masih menatap objek di atas.
__ADS_1
"Aku akan membuatmu kembali mencintaiku Nad!" Nada mengangguk mengiyakan. Kalimat ini sudah berulang kali Kean ucapkan.
"Tidak mudah Key" jelasnya yang menatap nanar wajah Kean.
"Akan aku hadapi Nad" Lagi lagi Nada hanya mengangguk. Keduanya saling diam, tidak ada yang bersuara. Hingga kini Kean mengeluarkan sebuah kotak berisi liontin.
"Milikmu" Nada menatap liontin itu, sungguh sakit rasanya jika mengingat masa lalu. Hanya mengingat masa lalu akan membuatnya sakit kembali. Nada mengambilnya lalu melemparkanya sejauh jauhnya.
Kean kaget, melihat Nada yang melempar liontin itu. "Aku membenci semua yang mengingatkanku pada masa lalu Key"
Brakk
Kean melompati balkon dari atas ke bawah untuk mencari liontin tersebut, membuat Nada semakin panik. Nada berlari keluar dari kamar menuju taman di bawahnya. Padahal di bawah kamar mereka banyak mawar berduri.
Sesampainya di sana Kean masih mencari liontin tersebut, membuat Nada panik. "Key" Kean masih mengobrak abrik taman tersebut.
"Key"
"Key" Bentak Nada pada Kean.
"Ketemu" ucap Kean yang kemudian berbalik menuju Nada lalu memberikan kembali liontin tersebut.
"Ini ...."
"Buang Key!" pinta Nada. Kean menggeleng.
"Kamu tahu Nad, liontin ini adalah benda yang pertama kalinya aku merasakan degupan kencang di dadaku saat aku memakaikanya di lehermu"
Deg
'Apa maksudnya'
'Kenapa waktu itu dia tidak jujur saat aku menanyakan perasaanya padaku?'
'Apa sebenarnya saat itu dia juga sudah mencintaiku?'
Kean menyodorkan liontin itu kembali kepada Nada. Tapi Nada tak bergeming. "Terima jika kamu masih mencintaiku Nad!"
'Aku masih mencintaimu Key'
'Sangat'
'Tapi....'
Nada berjalan melewati liontin itu, dan meninggalkan Kean yang membatu di depanya.
'Angkuh'
'Keras kepala'
'Tapi aku tidak akan menyerah Nad'
Kean berjalan mengikuti Nada, ia masih ingin memastiakn perasaan Nada pada Kean itu masih utuh.
Grep
Kean merangkulkan tanganya di tubuh Nada membuat Nada berhenti berjalan.
'Hangat'
'Nyaman'
Kean memasangkan liontin itu di leher Nada. "Sebentar saja Nad" ucapnya yang masih memeluk erat Nada dari belakang.
Nada menarik liontin itu dengan kasar hingga putus, dan membuat guratan panjang di leher. Kean syok melihat liontin itu Nada tarik hingga putus.
__ADS_1
"Kamu tahu ini apa artinya Key?" Nada melepas paksakan tangan Kean di leher Nada, lalu berbalik tepat di depan Kean.
"Aku membenci semua perasaan yang berhubungan denganmu"